NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: DEBU YANG MENGHANCURKAN DUNIA

​Pagi itu di Puncak Awan Tersembunyi, persaingan antara Lin Meier dan Jian Chengyue telah mencapai puncaknya. Jika kemarin mereka hanya berebut menyeduh teh dan membelah kayu, hari ini mereka seolah sedang memperebutkan gelar "Pelayan Terbaik Sejagad".

​Lin Meier sedang sibuk membersihkan jendela dengan kain yang sudah dibasahi air sumur (air roh dewa), sementara Jian Chengyue, Putri dari Klan Pedang yang sombong, kini sedang berjongkok dengan serius sambil memetik rumput liar di sekitar ladang ubi. Setiap helai rumput yang ia cabut, ia lakukan dengan niat pedang yang sangat presisi, seolah sedang memotong nadi musuh bebuyutannya.

​Ye Xuan keluar dari pondok dengan wajah yang sangat mengantuk. Ia mengucek matanya dan melihat pemandangan yang membuatnya merasa sangat bersalah.

​Duh, aku benar-benar keterlaluan, batin Ye Xuan. Dua gadis secantik ini, yang satu putri klan pedang dan yang satu murid sekte suci, malah kujadikan pembantu. Kalau orang tua mereka tahu, mungkin kepalaku akan dipajang di gerbang kota. Aku harus menghentikan kegilaan ini sebelum mereka bosan dan memukuliku karena merasa dieksploitasi.

​"Ehem, Nona Lin, Nona Jian... kalian tidak perlu melakukan ini semua," ucap Ye Xuan dengan nada yang sangat rendah hati (dan sedikit ketakutan). "Duduklah, beristirahatlah. Aku merasa tidak enak melihat kalian berkeringat."

​Lin Meier menoleh dengan wajah yang merona merah. "Senior, tidak perlu khawatir! Melap jendela ini membuat pemahamanku tentang Hukum Transparansi meningkat pesat! Ini adalah kehormatan bagiku!"

​Jian Chengyue tidak mau kalah. Ia mengangkat segenggam rumput liar dengan bangga. "Senior! Mencabut rumput ini telah menajamkan kontrol energiku! Setiap akar yang kutarik adalah ujian bagi jiwaku! Tolong jangan hentikan latihan ini!"

​Ye Xuan hanya bisa mematung. Hukum Transparansi? Kontrol energi? Mereka benar-benar sudah tercuci otaknya oleh udara gunung ini. Apa mungkin ada jamur halusinogen yang tumbuh di sekitar sini?

​Ia menghela napas panjang dan berjalan menuju sebuah pohon tua di samping pondok. Di sana, tergantung sebuah karpet bulu tua yang sudah sangat berdebu.

​"Baiklah, kalau kalian bersikeras... aku akan melakukan pekerjaan laki-laki saja," gumam Ye Xuan. Ia mengambil sebatang rotan panjang yang biasa ia gunakan untuk mengusir ayam. "Aku akan memukul debu dari karpet ini. Sudah setahun tidak dibersihkan, rasanya sudah bau apek."

​Sementara itu, di cakrawala yang jauh, awan hitam pekat mulai bergulung menuju Puncak Awan Tersembunyi. Aura darah yang sangat kental menutupi cahaya matahari, membuat seluruh binatang buas di kaki gunung melolong ketakutan.

​Ini adalah Penatua Agung Chi Xue dari Sekte Bayangan Darah. Ia bukan lagi sekadar ahli ranah Foundation Establishment seperti anak buahnya yang pecundang tempo hari. Chi Xue adalah seorang monster di puncak ranah Nascent Soul, hanya selangkah lagi menuju ranah Spirit Severing.

​"Siapa pun yang berani menghancurkan kultivasi saudaraku dan menahan Lin Meier, aku akan membakar jiwanya selama sepuluh ribu tahun!" suara Chi Xue menggelegar, merobek udara dengan tekanan yang luar biasa.

​Di belakangnya, ratusan murid Sekte Bayangan Darah terbang di atas tandu tulang dan pedang darah, menciptakan formasi tempur yang sanggup meratakan sebuah kerajaan kecil dalam hitungan jam.

​"Lihat! Itu pondoknya!" salah satu murid menunjuk ke arah gubuk Ye Xuan yang tampak tenang.

​Penatua Chi Xue mendengus. "Gubuk kecil itu? Tidak ada fluktuasi energi sedikit pun. Hanya sebuah tipu muslihat! Semuanya, aktifkan Formasi Lautan Darah Pemusnah Jiwa! Aku ingin gunung ini menjadi rata dengan tanah!"

​Ratusan murid sekte iblis itu mulai merapal mantra. Langit berubah menjadi semerah darah, dan sebuah pusaran energi raksasa mulai terbentuk tepat di atas kepala Ye Xuan.

​Ye Xuan, yang sedang berdiri di depan karpet berdebu, tiba-tiba merasa cuaca menjadi sangat panas dan sesak. Ia melihat ke atas dan melihat langit menjadi merah.

​Waduh, ini pasti fenomena El Nino yang ekstrem, pikir Ye Xuan dengan logika Bumi-nya yang kacau. Atau mungkin ada badai pasir yang datang? Sial, kalau badai datang, karpet ini akan makin kotor! Aku harus segera membersihkannya sebelum badai itu sampai di sini!

​Ye Xuan merasa kesal. Ia benci sekali jika pekerjaannya diganggu oleh cuaca buruk. Dengan wajah yang sedikit merengut karena kesal, ia mengangkat tongkat rotannya tinggi-tinggi.

​"Debu-debu sialan! Pergi kalian!" teriak Ye Xuan sambil memukul karpet itu sekuat tenaga.

​PLAK!

​Suara pukulan rotan ke karpet itu terdengar biasa saja di telinga Ye Xuan. Namun, bagi dunia luar, itu adalah "Lonceng Kematian Surga".

​Saat rotan menyentuh karpet, gelombang kejut transparan yang tak terlihat meledak keluar. Setiap butir debu yang terbang dari karpet itu tiba-tiba berubah menjadi "Bintang Penghancur". Jutaan butir debu itu melesat ke langit dengan kecepatan yang melampaui cahaya.

​Di langit, Penatua Chi Xue baru saja akan melepaskan serangan terkuatnya. Namun, tiba-tiba matanya membelalak. Ia melihat jutaan bintik cahaya kecil melesat dari arah pondok.

​"Apa itu? Pasir? Hahaha! Kau ingin melawanku dengan pasir—"

​Kalimatnya tidak pernah selesai.

​BUM! BUM! BUM!

​Setiap butir debu yang mengenai formasi darah mereka meledak dengan kekuatan yang setara dengan jutaan ton peledak. Formasi Lautan Darah yang dianggap tak terkalahkan itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang dilempar batu.

​"Arghhh! Ini bukan pasir! Ini adalah Hukum Kehancuran tingkat tinggi!" teriak Chi Xue saat sebutir debu mengenai bahunya dan langsung melenyapkan seluruh tangan kirinya hingga menjadi abu.

​Murid-murid sekte iblis di belakangnya lebih malang lagi. Mereka yang terkena "debu" Ye Xuan langsung menguap seketika, bahkan jiwa mereka tidak sempat melarikan diri untuk reinkarnasi.

​Ye Xuan, yang merasa karpetnya masih kotor, memukul lagi dengan lebih emosi.

​PLAK! PLAK! PLAK!

​Setiap pukulan menciptakan badai energi yang menyapu langit. Awan darah yang menutupi matahari tersapu bersih, digantikan oleh langit biru yang sangat cerah. Ratusan kultivator iblis itu jatuh dari langit seperti lalat yang disemprot pestisida.

​Penatua Chi Xue, yang kini hanya tinggal setengah badan, tergantung di udara dengan mata penuh kengerian. Ia melihat ke bawah dan melihat Ye Xuan sedang mengibaskan karpetnya dengan santai, seolah-olah baru saja melakukan kegiatan olahraga ringan di pagi hari.

​Mengerikan... dia menghancurkan seluruh sekte kami... hanya sambil membersihkan perabotan rumah tangganya? batin Chi Xue sebelum jantungnya berhenti berdetak karena ketakutan yang teramat sangat.

Setelah pukulan terakhir yang membuat karpetnya terlihat sedikit lebih bersih, Ye Xuan berhenti dan menyeka keringat di dahinya. Ia menengadah ke langit, merasa sedikit bingung. Langit yang tadinya merah pekat dan menyesakkan, kini berubah menjadi biru kristal yang sangat jernih—bahkan jauh lebih jernih daripada sebelum "badai pasir" itu datang.

​"Wah, anginnya kencang sekali tadi. Sampai-sampai semua awan merah itu hilang," gumam Ye Xuan. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sebelum cuaca benar-benar memburuk. "Lihatlah, matahari jadi bersinar lagi. Alam memang sulit ditebak."

​Namun, di sampingnya, Lin Meier dan Jian Chengyue sudah jatuh berlutut. Tubuh mereka gemetar hebat, dan wajah mereka sepucat kertas.

​Di mata mereka, apa yang baru saja terjadi bukanlah "membersihkan karpet". Itu adalah eksekusi massal tingkat kosmik. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rotan kayu di tangan Ye Xuan memancarkan cahaya yang membelah dimensi, dan bagaimana debu-debu itu menjadi proyektil maut yang menghapus ratusan kultivator tingkat tinggi dari eksistensi dunia ini.

​"Senior... itu tadi..." suara Jian Chengyue tercekat. Sebagai seorang jenius pedang, ia merasa teknik pedang clans-nya selama ribuan tahun tidak lebih dari permainan anak kecil jika dibandingkan dengan ayunan rotan Ye Xuan. "Teknik Pemisah Langit Sembilan Awan? Tidak, itu lebih tinggi... itu adalah Kehendak Primal!"

​Ye Xuan menoleh, melihat kedua gadis itu bersujud di tanah. "Lho, Nona Jian, Nona Lin? Kenapa kalian sujud lagi? Apakah angin tadi membuat kalian pusing?"

​Ye Xuan segera mendekat dengan panik. Aduh, jangan-jangan mereka asma karena debu karpet yang kutebah tadi! Sialan, aku lupa kalau mereka ini gadis-gadis kota yang mungkin alergi debu!

​"Maaf, maaf ya! Aku tahu debunya sangat banyak," ucap Ye Xuan sambil mencoba membantu Lin Meier berdiri. "Aku seharusnya tidak memukul karpet itu di dekat kalian. Lain kali aku akan melakukannya di balik bukit."

​Debunya sangat banyak?! Lin Meier ingin menangis karena syok. Yang Senior maksud 'debu' itu adalah mayat para tetua sekte iblis yang hancur menjadi partikel atom! Beliau meminta maaf karena membunuh ratusan monster itu di depan kami?!

​"Se-Senior... Anda baru saja memusnahkan Sekte Bayangan Darah..." bisik Lin Meier dengan suara yang nyaris tak terdengar.

​"Hah? Sekte apa?" Ye Xuan menggaruk kepalanya. "Nona Lin, kau bicara apa? Tadi itu cuma badai pasir merah. Mungkin ada pabrik kimia yang meledak di bawah gunung. Jangan terlalu banyak membaca novel fantasi, itu bisa merusak logika."

​Tepat saat Ye Xuan sedang berusaha "menyadarkan" kedua gadis itu dari halusinasi mereka, suara deru pedang terbang kembali terdengar dari kejauhan. Kali ini, jumlahnya lebih banyak.

​Jenderal Long mendarat dengan tergesa-gesa, melompat dari pedangnya bahkan sebelum alat terbang itu benar-benar berhenti. Wajahnya penuh keringat, dan ia langsung tersungkur di depan pagar Ye Xuan.

​"Senior! Senior Ye! Mohon ampun atas kelambatan kami!" Jenderal Long berteriak dengan nada penuh penyesalan. "Kami mendengar Sekte Bayangan Darah mengirimkan pasukan besar untuk menyerang puncak ini. Kami datang untuk membantu, tapi... tapi..."

​Jenderal Long melihat ke langit yang bersih, lalu melihat ke tanah di sekitar pagar. Di sana, ia menemukan potongan kecil kain jubah merah milik Penatua Chi Xue yang kini sudah tidak berbentuk. Ia menelan ludah dengan susah payah.

​"Senior... apakah mereka sudah...?"

​Ye Xuan mendengus kesal. Ah, Jenderal ini lagi. Dan sekarang dia membawa lebih banyak tentara. Apa mereka benar-benar ingin merazia rumahku karena masalah debu?

​"Sudah hilang!" jawab Ye Xuan dengan nada ketus karena merasa terganggu. "Angin tadi menyapu semuanya. Kalau kalian datang hanya untuk melihat badai, kalian telat. Sekarang, tolong jangan berisik di sini, aku sedang ingin memasak sup ubi untuk makan siang."

​Jenderal Long merasa hatinya mencelos. Angin menyapu semuanya? Beliau menganggap pembantaian satu sekte iblis besar hanya sebagai 'angin lalu'? "Ba-baik, Senior! Kami akan segera membersihkan sisa-sisanya!" Jenderal Long segera memberi komando pada pasukannya. "Kalian semua! Cepat kumpulkan setiap butir debu yang tersisa! Jangan biarkan kotoran sekte iblis mengotori halaman suci Senior Ye!"

​Ye Xuan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat para prajurit itu mulai memunguti ranting dan debu dengan sangat teliti menggunakan pinset dan kain sutra.

​Tentara jaman sekarang benar-benar teliti dalam menjaga kebersihan lingkungan, batin Ye Xuan. Baguslah, setidaknya halaman rumahku jadi bersih tanpa perlu aku sapu sendiri.

​Ia berbalik menuju pondok, meninggalkan Lin Meier yang masih bengong dan Jian Chengyue yang kini sedang menatap rotan kayu Ye Xuan yang tersandar di pohon dengan pandangan penuh gairah spiritual.

​"Nona Lin, Nona Jian, ayo masuk," panggil Ye Xuan dari pintu. "Jangan terlalu lama di luar, udara setelah badai biasanya tidak sehat. Aku akan buatkan sup ubi spesial. Oh ya, Jenderal Long! Kau mau ikut makan? Tapi jangan bawa semua prajuritmu, ubi di dapurku terbatas!"

​Jenderal Long merasa seolah mendapat lotre surga. "Makan siang... bersama Senior? Benarkah?! Suatu kehormatan yang tak terhingga!"

​Hari itu, di sebuah gubuk kecil yang dianggap Ye Xuan sebagai tempat pengungsian yang menyedihkan, seorang Jenderal besar, seorang Putri klan pedang, dan seorang jenius sekte suci, duduk melingkari meja kayu tua. Mereka menatap semangkuk sup ubi bening dengan tatapan seolah-olah itu adalah jantung naga yang bisa memberi mereka kekuatan abadi.

​Sementara itu, Ye Xuan duduk di pojok, menyeruput supnya dengan murung.

​Sial... ubi ini benar-benar kurang garam. Kenapa tidak ada satu pun dari mereka yang membawakanku bumbu dapur? Kenapa mereka malah memberiku cincin mainan dan batu-batu bercahaya yang tidak bisa dimakan? Hidup di dunia lain ini benar-benar menguji kesabaran, batin sang "Ahli Agung" dengan penuh kesedihan.

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!