NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Celina merasa bosan setengah mati di dalam ndalem. Yang hanya mendengar pembicaraan serius soal pembangunan gedung asrama dan proyek-proyek lainnya. Yang malah membuat telinganya panas. Ia butuh pengalihan.

Langkah kakinya membawanya menuju dapur umum santriwati. Meskipun gayanya tengil—dengan rambut yang dijepit asal dan pashmina yang hanya disampirkan di leher—Celina sebenarnya punya satu bakat tersembunyi yang jarang orang tahu yakni dia sangat jago masak.

Begitu sampai di dapur, suasana yang tadinya riuh rendah langsung senyap. Para santriwati yang sedang memotong sayur dan mencuci beras mendadak kaku.

"Eh, santai aja kali Brow. Nggak usah kayak liat pengawas ujian," ucap Celina sambil nyengir lebar. Ia mendekat ke arah kuali besar. "Ini mau dimasak apa? Sayur lodeh? Hambar banget. Sini, gue bantuin."

Awalnya para santriwati ragu, tapi keramahan Celina yang ceplas-ceplos ternyata menular. Beberapa santriwati mulai berani mengajak ngobrol, bahkan tertawa saat Celina mengajari mereka teknik memotong bawang yang lebih cepat. Suasana dapur menjadi hidup. Celina tampak sangat menikmati momen itu, ia terlihat sangat lebih bahagia dengan hal itu.

Namun, suasana hangat itu mendadak mendingin saat Sarah muncul di ambang pintu dapur. Sarah menatap Celina dengan tatapan penuh selidik dan tidak suka.

"Rajin sekali, Ning Celina," sindir Sarah sambil berjalan mendekat. "Tiba-tiba turun ke dapur santriwati... kamu bantu-bantu masak begini pasti karena mau mengambil hati Gus Zuhair, kan? Supaya dia lihat kalau kamu sudah 'berubah'?"

Celina berhenti mengaduk sayur. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya.

Lah, sianying... gue aja istrinya! Ngapain gue caper sama laki gue sendiri pake cara beginian? batin Celina gemas.

Celina mematikan kompor, lalu berbalik menatap Sarah dengan spatula masih di tangan. Ia memasang wajah paling santai.

"Duh, Mbak... kejauhan deh mikirnya," sahut Celina enteng. "Gue cuma masak kali. Ini anak orang segini banyak kalau nggak makan ya kasihan, bisa pingsan mereka pas ngaji nanti. Makan tuh kebutuhan dasar manusia, bukan karena gue mau caper sama si 'Gus' lo itu."

Celina melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Sarah, membuat wanita itu sedikit mundur.

"Nggak semua hal yang gue lakuin di sini ada hubungannya sama dia. Gue punya kehidupan sendiri, dan sekarang, hidup gue lagi pengen makan enak bareng adek-adek santri ini. Jadi, daripada Mbaknya sibuk nyari masalah yang iya-iya, mending bantuin sini. Tuh, bawang merahnya masih sebakul belum dikupas," sambung Celina sambil menunjuk tumpukan bawang dengan dagunya.

Para santriwati di sana langsung menunduk, mencoba menahan tawa mendengar keberanian Celina menyemprot senior sekelas Sarah. Sarah hanya bisa berdiri mematung dengan wajah memerah menahan malu sekaligus kesal karena tidak berhasil memojokkan Celina di depan para santri.

"Lanjut, Dek! Masukin garemnya, jangan pelit-pelit biar gurih!" seru Celina kembali ke kualinya, mengabaikan Sarah yang masih berdiri seperti patung di tengah dapur.

Tak berselang lama Zuhair ternyata sudah berdiri tidak jauh dari pintu dapur. Ia tidak sengaja lewat saat hendak menuju kantor asrama, namun langkahnya terhenti ketika mendengar keriuhan yang tidak biasa dari arah dapur santriwati. Ia melihat Celina dari kejauhan—perempuan itu tampak sangat berbeda saat sedang memegang spatula, terlihat lebih lepas, meski tetap dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

Zuhair hanya diam memperhatikan, ada kilat tipis di matanya yang menunjukkan rasa takjub yang tersembunyi. Ternyata, istrinya punya sisi lembut yang peduli pada orang banyak.

Sarah, yang menyadari kehadiran Zuhair, segera melangkah keluar dapur dengan wajah yang dibuat sedih, seolah habis dizalimi. Ia mendekati Zuhair sambil merapikan jilbabnya yang sebenarnya sudah sangat rapi.

"Gus Zuhair," panggil Sarah dengan suara pelan. "Saya hanya ingin mengingatkan... Gus itu orang terpandang di sini, panutan kami semua. Rasanya tidak pantes jika Gus harus terus-terusan bersabar dengan perempuan yang punya latar belakang tukang maksiat seperti Ning Celina."

Sarah melirik ke arah dapur dengan tatapan merendahkan sebelum kembali menatap Zuhair. "Mending cari yang pasti-pasti saja, Gus. Yang sudah jelas akhlaknya, yang bisa membantu perjuangan Gus di pesantren ini, bukan yang malah menjadi beban dan membawa pengaruh buruk setiap hari."

Zuhair menarik napas panjang. Ia menatap Sarah dengan pandangan yang tetap tenang, namun ada ketegasan yang membuat Sarah langsung terdiam. Zuhair tidak terpancing untuk membela Celina secara berlebihan, tapi ia juga tidak membiarkan kata-kata Sarah terus bergulir.

"Sudah, sudah," potong Zuhair pendek. "Lebih baik kamu masuk lagi, bantu masak saja di dalam."

Sarah tersentak. Ia mengira Zuhair akan setuju atau setidaknya memberikan ceramah soal kesabaran, tapi jawaban Zuhair yang menyuruhnya membantu masak—tugas yang baru saja ia kritik—terasa seperti tamparan halus bagi harga dirinya.

"Tapi Gus—"

"Tugas kita di sini adalah melayani santriwan dan santriwati, bukan menilai masa lalu orang lain," tambah Zuhair tanpa menoleh lagi, ia langsung melanjutkan langkahnya.

Sementara itu di dalam dapur, Celina yang sebenarnya sempat mendengar sayup-sayup percakapan itu dari balik dinding, tersenyum miring. Ia kembali mengaduk sayurnya dengan semangat yang lebih membara.

Gus lo ternyata nggak semudah itu diprovokasi, Mbak, batin Celina puas.

Saat Sarah kembali masuk ke dapur dengan wajah menekuk dan sisa malu, Celina langsung menyodorkan sebuah pisau dan satu wadah besar berisi bawang merah.

"Nah, pas banget. Pak Bos tadi bilang suruh bantuin, kan? Nih, kupas sampai habis ya, Mbak. Jangan lupa, kupasnya pakai hati, jangan pakai dengki, biar nggak pedas di mata dan di hati" ucap Celina tengil sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Sarah yang sekarang benar-benar ingin meledak.

Kesabaran Sarah benar-benar sudah mencapai batasnya. Harga dirinya sebagai senior yang disegani di pesantren hancur berkeping-keping dan terinjak hanya karena "perempuan kota" itu. Baginya, Celina adalah saingan yang harus segera singkirkan dari pesantren. Dengan begitu ia dapat dengan leluasa mendekati Zuhair.

Sambil mengupas bawang dengan kasar—sesekali menyeka air mata yang entah karena pedas bawang atau pedas hati—otak Sarah mulai berputar menyusun rencana.

"Lihat saja kamu nanti Celina! dasar Ning-ningan nggak tau malu. Sudah dibesarkan sebagai anak Kyai harusnya dia bangga. Bukan malah bermaksiat di luaran sana!"

Sore harinya, saat suasana pesantren mulai santai menunggu waktu Maghrib, Sarah mengumpulkan beberapa santriwati junior yang sangat tunduk kepadanya di belakang aula.

"Kalian tahu kan, Ning Celina itu sebenarnya belum tahu apa-apa soal aturan dasar di sini?" bisik Sarah dengan nada serius. "Gus Zuhair terlalu baik untuk menegurnya, tapi kita tidak bisa membiarkan kesucian pesantren ini tercoreng terus."

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!