NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Tipis yang Tak Bisa Ditarik Mundur

Hujan turun sejak sore, perlahan tapi konsisten, seperti sesuatu yang memang berniat bertahan lama. Dari balik jendela mobil, Carmela menatap lampu-lampu jalan yang memantul di aspal basah. Setiap pantulan terasa seperti bayangan hidupnya sendiri—tidak utuh, terpecah, dan bergerak tanpa arah yang jelas.

Matteo menyetir dengan satu tangan. Tangannya yang lain bertumpu di setir, jari-jarinya mengetuk pelan, ritmenya tidak teratur. Ia tidak berbicara sejak lima belas menit lalu. Bukan karena marah—Carmela sudah cukup mengenalnya untuk tahu perbedaannya—melainkan karena pikirannya sedang berada jauh di tempat lain.

“Kalau kamu mau turun di sini juga nggak apa-apa,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.

Carmela mengalihkan pandangannya dari jendela. “Kenapa?”

“Ini bukan tempat yang aman,” jawab Matteo singkat. “Aku nggak mau kamu ikut terseret ke urusan yang seharusnya bukan milikmu.”

Carmela menghela napas. Kalimat itu lagi. Selalu itu. Seolah hidupnya bisa dipilah sesederhana hitam dan putih.

“Kamu terus bilang begitu,” katanya pelan. “Tapi kamu juga terus mengajakku tetap di sini.”

Matteo mengerem sedikit lebih keras dari yang diperlukan, lalu memarkir mobil di pinggir jalan yang sepi. Mesin dimatikan, dan keheningan langsung menyergap, hanya diisi suara hujan.

Ia menoleh. Tatapan mereka bertemu—dan bertahan.

“Aku sedang berusaha melindungimu,” ucap Matteo, suaranya lebih rendah sekarang.

“Dari siapa?” tanya Carmela. “Dari dunia kamu, atau dari dirimu sendiri?”

Pertanyaan itu mengenai sasaran. Matteo menegang, rahangnya mengeras. Ada kilatan emosi di matanya—sesuatu antara kesal dan terluka.

“Kamu nggak tahu semua yang aku hadapi,” katanya.

“Benar,” Carmela mengangguk. “Karena kamu tidak pernah benar-benar menceritakannya.”

Keheningan kembali turun. Kali ini lebih berat.

Matteo menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menutup mata sebentar, seolah menimbang sesuatu yang sangat mahal harganya.

“Ada orang yang sedang mencariku,” katanya akhirnya. “Bukan untuk berbicara.”

Dada Carmela mengencang. “Masa lalu?”

Matteo tersenyum tipis, tanpa humor. “Masa lalu tidak pernah benar-benar lewat, Carmela. Ia cuma menunggu.”

Hujan di luar terdengar semakin keras.

“Aku sudah lama hidup dengan risiko,” lanjutnya. “Aku tahu bagaimana caranya bertahan. Tapi kamu… kamu bukan bagian dari dunia ini.”

“Lalu kenapa kamu membiarkanku masuk?” suara Carmela bergetar, bukan karena takut, tapi karena emosi yang menumpuk.

Matteo membuka mata dan menatapnya. Kali ini tidak ada jarak. Tidak ada topeng.

“Karena aku egois,” katanya jujur. “Karena bersamamu, aku merasa seperti orang biasa. Dan aku ingin itu. Terlalu ingin.”

Kata-kata itu meluruhkan sesuatu di dada Carmela. Ia tidak bergerak, tapi hatinya melangkah terlalu dekat.

“Aku tidak meminta kamu menjadi orang biasa,” katanya lembut. “Aku hanya ingin kamu berhenti menyingkirkanku seolah aku beban.”

Matteo menghela napas panjang. Tangannya terangkat, ragu, lalu berhenti di antara mereka—tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuat udara terasa hangat.

“Kamu tahu apa yang paling berbahaya?” tanyanya lirih. “Bukan orang-orang yang mengejarku. Tapi fakta bahwa aku mulai peduli apakah kamu terluka atau tidak.”

Carmela menelan ludah. “Bukankah itu… normal?”

“Tidak di hidupku.”

Ia tertawa kecil, getir. “Orang yang peduli adalah orang yang bisa digunakan untuk menjatuhkanku.”

Kata itu seperti pisau. Tapi Carmela tidak mundur.

“Kalau begitu,” katanya, “berhentilah berpura-pura kamu bisa sendirian.”

Tatapan Matteo mengeras, lalu perlahan melembut. Sesuatu runtuh di sana—sesuatu yang sudah terlalu lama ia pertahankan.

Ia meraih tangan Carmela. Bukan menarik. Hanya menggenggam. Hangat. Nyata.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya menjalani ini dengan aman,” katanya pelan.

“Aku juga tidak,” jawab Carmela jujur. “Tapi aku tahu aku tidak mau pergi.”

Hening. Tapi bukan hening yang canggung. Ini hening yang dipenuhi keputusan.

Matteo mengangguk kecil. “Kalau kamu bertahan, kamu harus tahu satu hal.”

“Apa?”

“Akan ada hari di mana kamu membenciku karena membiarkanmu sedekat ini.”

Carmela menggenggam balik tangannya. “Dan akan ada hari di mana kamu membencimu sendiri kalau kamu melepas aku sekarang.”

Matteo menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak menyangkal.

Malam itu, mereka tidak pulang ke tempat biasa. Matteo membawa Carmela ke sebuah rumah kecil di pinggiran kota—sunyi, sederhana, jauh dari hiruk pikuk. Tempat singgah, katanya. Tempat aman sementara.

Di dalam, lampu redup menyala. Udara berbau kayu dan hujan. Carmela berdiri di tengah ruang tamu, merasakan kelelahan akhirnya turun ke tubuhnya.

“Kalau kamu mau tidur di kamar belakang—” Matteo belum selesai bicara ketika Carmela menoleh.

“Jangan terus menyisakan jarak,” katanya pelan. “Aku capek berdiri di ambang.”

Matteo terdiam. Lalu mengangguk. “Baik.”

Mereka duduk berhadapan, jarak di antara mereka tidak lagi selebar ketakutan, tapi juga belum sepenuhnya hilang. Percakapan mereka malam itu pelan, terputus-putus, tapi jujur—tentang masa kecil, tentang kesepian, tentang hal-hal yang tidak pernah mereka ceritakan pada siapa pun.

Carmela mendengarkan, dan untuk pertama kalinya, Matteo tidak menyembunyikan sisi rapuhnya.

Dan di tengah keheningan itu, Carmela sadar satu hal:

Ia telah melewati garis yang tidak bisa ditarik mundur.

Bukan karena Matteo memaksanya.

Tapi karena ia memilih untuk tinggal.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!