Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sukamaju Yang Mulai Maju
Keberhasilan beruntun yang diraih Sukamaju membawa suasana baru yang jauh lebih hangat di kantor desa. Arka kini bukan lagi sosok asing yang dianggap sebagai kades titipan kota yang kaku. Ia telah menjadi bagian dari desa tersebut. Fokus Arka kini tertuju sepenuhnya pada pengembangan Wisata Teh Sukamaju.
Pasca obrolan mendalamnya dengan Zahwa di sela-sela festival teh beberapa waktu lalu, di mana Zahwa juga banyak memberikan masukan tentang konsep wisata yang ramah lingkungan dan berbasis edukasi, tekad Arka semakin bulat.
Bukan hanya soal proyek, tapi hatinya pun kian tertambat. Senyum malu-malu Zahwa saat festival kemarin menjadi bahan bakar semangat yang tak ada habisnya bagi Arka.
Perubahan paling mencolok terlihat di kantor desa. Jika dulu ruangan itu terasa formal dan dingin, kini suasananya hampir menyerupai rumah sendiri. Arka yang inovatif ternyata juga memiliki sisi kemanusiaan yang sangat kental.
Setiap kali Arka berkeliling meninjau progres pembangunan jalan setapak di kebun teh, warga selalu menyapa dengan antusias.
"Pak Kades, ini ada singkong baru cabut, bawa ya Pak!" teriak seorang petani dari kejauhan.
Arka seringkali menolak dengan halus, namun warga Sukamaju punya cara sendiri, mereka akan mengantarkan hasil panen itu langsung ke kantor desa menggunakan keranjang bambu.
"Pak Sugeng, ini hasil panen warga jangan ditumpuk saja," ujar Arka saat melihat tumpukan ubi dan jagung di pojok ruangan.
Arka kemudian meminta bantuan Bu Ita atau Bu Sari untuk mengolahnya. "Tolong direbus saja Bu, nanti kita makan ramai-ramai di jam istirahat," pinta Arka.
Maka, setiap sore, Balai Desa akan dipenuhi aroma harum jagung rebus atau singkong goreng. Arka tidak duduk di kursi kebesarannya, melainkan bergabung bersama staf desa, sopir ambulans desa, hingga warga yang kebetulan sedang mengurus administrasi.
Di atas meja kerja yang biasanya penuh tumpukan berkas, kini tersaji piring-piring berisi pisang rebus, singkong rebus atau jagung rebus.
"Pak, Bu... Silakan dicicipi jagung rebus nya" ucap Arka menawarkan kepada warga yang sedang menunggu administrasi.
"Terima kasih Pak Kades"
Arka sesekali memperhatikan kinerja staf nya, ia tidak ingin keluhan-keluhan atau keperluan warga terbengkalai.
"Baru kali ini ya kita ke balai desa, dijamu seperti ini" ucap salah satu warga.
"Ini baru namanya kepemimpinan" puji Pak Maman sambil mengunyah jagung. "Perut kenyang, hati tenang, warga senang, kerjaan pun jadi gampang."
Arka hanya tersenyum kecil, mendengar ucapan Pak Maman.
Di sela-sela canda tawa makan bersama itu, mata Arka seringkali mencuri pandang ke arah menara masjid pesantren yang terlihat dari jendela. Pak Sugeng, yang selalu jeli melihat gerak-gerik atasnya, hanya bisa tersenyum penuh arti.
"Jagung rebus nya manis ya, Pak? Semanis pemandangan di sebelah sana?" goda Pak Sugeng sambil menunjuk arah pesantren dengan dagunya.
Arka yang sedang memegang jagung rebus langsung tersedak kecil. "Saya hanya sedang memperhatikan cuaca, sepertinya bagus untuk pembangunan warung-warung warga besok."
"Cuaca di hati juga harus cerah, Pak," timpal Bu Sari yang ikut bergabung.
"Jangan tunggu lama-lama Pak Kades, nanti Neng Zahwa keburu ada yang melamar lagi, lho!"
Arka hanya tertawa, meski dalam hati ia membenarkan ucapan mereka. Kesuksesan pembangunan fisik desa memang penting, namun Arka sadar bahwa pembangunan masa depannya bersama Zahwa juga harus segera ia pondasi kan sebelum masa tugasnya di desa ini berakhir.
***
Di ruang kerja kepala desa yang jendelanya langsung menghadap ke arah perkebunan teh, suasana sore itu terasa begitu tenang. Arka menyandarkan punggungnya di kursi, sementara di hadapannya, Pak Sugeng duduk dengan sikap santai namun tetap penuh hormat.
Bagi warga luar, mereka adalah atasan dan bawahan. Namun di dalam ruangan itu, batasan jabatan seolah luruh. Arka memang tipe pemimpin yang tidak jemawa, jika para staf nya bisa mengikuti ritme kerjanya, ia akan menjadi sosok pemimpin yang bersahaja dan mengerti akan bawah nya, dan kali ini ia lebih sering meminta wejangan daripada memberi perintah. Ia sangat menyadari bahwa Pak Sugeng adalah kamus berjalan Desa Sukamaju yang memahami setiap jengkal tanah dan karakter warganya.
"Pak Sugeng, jujur saja... saya sedang gelisah," buka Arka sambil memutar-mutar bolpoin di tangannya.
Pak Sugeng tersenyum, senyum seorang ayah yang sudah paham betul apa yang mengusik hati anak laki-lakinya ini. Ia melepas kacamata tuanya dan menaruhnya di meja.
"Gelisah soal progres wisata teh, atau gelisah soal gadis yang ada di seberang sana, Pak Kades?" goda Pak Sugeng lembut.
Arka menghela napas panjang. "Dua-duanya, Pak. Tapi belakangan ini, fokus saya terbagi. Saya merasa ilmu saya belum cukup untuk melangkah lebih jauh ke pesantren. Saya takut kalau niat saya dianggap lancang oleh Kiai Hasan."
Pak Sugeng memperbaiki posisi duduknya, wajahnya berubah serius namun hangat. "Pak Arka... tapi maaf sebelumnya, anggap saya sebagai seorang ayah kalau kita sedang bicara begini. Saya sudah lama di sini, saya melihat banyak orang datang dan pergi. Tapi saya jarang melihat orang dengan ketulusan seperti Pak Arka."
Ia terdiam sejenak, menatap mata Arka dengan dalam.
"Kalau boleh saya memberi saran sebagai orang tua... jangan terlalu lama menunggu sempurna. Niat baik itu kalau dipendam terlalu lama bisa layu, atau lebih parahnya, bisa disalip orang lain. Neng Zahwa itu mutiaranya Sukamaju. Banyak mata yang memandang ke sana, Pak. Kalau ada pelamar lain yang datang membawa kemantapan hati sementara Bapak masih sibuk dengan rasa belum pantas, apa kamu sanggup melihat dia bersanding dengan orang lain?"
Kalimat Pak Sugeng seperti hantaman telak di dada Arka. Bayangan Zahwa dipinang pria lain membuat hatinya terasa mencelos.
"Tapi Pak, saya masih belajar mengaji, ilmu agama saya masih dangkal saja..."
"Kiai Hasan itu tidak mencari orang yang sudah jadi ulama untuk anaknya, Nak," potong Pak Sugeng cepat. "Beliau mencari orang yang punya kemauan untuk dibimbing. Dan saya melihat itu ada pada Pak Arka Segeralah temui Kiai. Bicara jujur, apa adanya. Jangan bicara sebagai Kepala Desa, tapi bicaralah sebagai laki-laki yang ingin menjaga amanah beliau. Percayalah, kejujuran itu lebih mahal harganya daripada tumpukan hafalan yang tidak diamalkan."
Arka terdiam, meresapi setiap kata-kata Pak Sugeng. Ada benarnya. Selama ini ia terlalu terjebak dalam rasa minder akademisnya, hingga lupa bahwa cinta dan pengabdian butuh keberanian untuk mengetuk pintu.
"Jadi, menurut Bapak saya harus segera ke sana?"
Pak Sugeng mengangguk mantap. "Besok sore, setelah urusan balai selesai. Jangan bawa jabatanmu, bawalah hatimu. Saya akan pasang badan di kantor kalau ada yang mencari. Bagaimana?"
Arka akhirnya tersenyum, sebuah senyuman yang penuh tekad.
"Terima kasih, Pak Sugeng. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada Bapak di sini."
"Sama-sama, Pak. Sekarang, habiskan kopimu. Besok adalah hari besar untuk masa depanmu," ujar Pak Sugeng sambil menepuk bahu Arka, meninggalkan sang pemimpin muda itu dengan pikiran yang kini mulai menemukan titik terangnya.
...🌻🌻🌻...