NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:999
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah Yang Harus Dijalankan

Hujan deras mengguyur atap rumah Kakek Sembilan yang terbuat dari daun ijuk, membuat suara gemericik yang terus menerus mengisi udara hutan yang sepi. Udara di dalam rumah terasa dingin dan lembap, dengan aroma ramuan obat yang semakin kuat karena Kakek Sembilan sedang berbaring lemah di atas ranjang kayu yang telah menemani dia selama puluhan tahun.

Ridwan duduk di sisi ranjang, membersihkan dahi Kakek Sembilan dengan kain basah yang dingin. Kulit kakek yang biasanya bersinar karena kerja keras di bawah sinar matahari kini tampak pucat dan kusam, napasnya pendek dan tidak teratur. Sudah tiga hari sejak kakek tiba-tiba jatuh sakit setelah mereka menemukan kotak kayu berisi surat wasiat dan bukti-bukti penting milik ibunya.

“Kakek, tolong makan sedikit lagi,” ujar Ridwan dengan suara yang lembut namun penuh dengan kekhawatiran, menyodorkan mangkuk kecil berisi bubur beras dan ramuan obat yang telah dia siapkan dengan hati-hati. “Kamu perlu makan agar tubuhmu bisa kuat lagi melawan penyakit ini.”

Kakek Sembilan membuka mata yang sudah mulai kabur dengan susah payah, melihat wajah Ridwan yang penuh dengan kesedihan dan perhatian. Dia menggeleng-geleng kepala perlahan, tangan kanannya yang lemah mencoba meraih tangan Ridwan. “Cukup saja, nak,” katanya dengan suara yang sangat lembut, hampir tidak terdengar di tengah suara hujan. “Aku sudah cukup makan. Lebih baik kamu beristirahat saja—kamu sudah merawat aku tanpa berhenti selama tiga hari ini.”

Ridwan meraih tangan Kakek Sembilan dengan erat, merasa bagaimana kulitnya yang biasanya hangat kini terasa dingin dan kurus. Air mata mulai menggenang di matanya, tapi dia berusaha keras untuk menahannya. “Tidak ada yang bisa aku lakukan selain merawatmu, Kakek,” katanya dengan suara yang sedikit gemetar. “Tanpamu, aku sudah tidak ada di dunia ini. Aku tidak bisa kehilanganmu juga.”

Kakek Sembilan hanya tersenyum lembut, menggunakan kekuatan yang tinggal sedikit untuk memeluk tangan Ridwan. “Aku sudah hidup cukup lama di dunia ini, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan kedamaian. “Aku telah melihat banyak hal, mengalami banyak perjuangan, dan mendapatkan banyak kebahagiaan—terutama sejak aku menemukanmu di pinggir sungai delapan tahun yang lalu. Kamu telah menjadi seperti anakku sendiri, dan aku sangat bangga dengan orang yang telah kamu jadikan hari ini.”

Dia mengambil napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan hal-hal penting yang harus dia ucapkan. “Aku tahu bahwa kamu sudah siap untuk pergi ke Bandung, nak. Kamu memiliki semua yang kamu butuhkan—surat wasiat, bukti-bukti penting, dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi apa pun yang akan kamu temui di sana. Tapi aku juga tahu bahwa kamu tidak ingin pergi meninggalkanku dalam kondisi seperti ini.”

Ridwan mengangguk dengan terpaksa, meneteskan air mata yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. “Aku tidak bisa pergi saja meninggalkanmu, Kakek,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan kesedihan. “Aku harus merawatmu sampai kamu sembuh. Kita bisa pergi ke Bandung bersama setelah kamu sehat kembali.”

Kakek Sembilan menggeleng-geleng kepala perlahan, matanya melihat jauh ke arah jendela yang ditutupi oleh tirai bambu basah. “Waktu tidak akan menunggu kita, nak,” katanya dengan suara yang semakin lembut namun tetap jelas. “Aku merasa bahwa waktu aku di dunia ini sudah hampir habis. Dan sebelum aku pergi, aku memiliki satu permintaan terakhir padamu.”

Ridwan mendekatkan wajahnya ke arah Kakek Sembilan, ingin mendengar setiap kata yang akan dia ucapkan dengan jelas. “Apa saja yang kamu inginkan, Kakek,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan kesediaan. “Aku akan melakukan segala yang bisa aku lakukan untuk memenuhinya.”

“Pergilah ke Bandung sekarang juga, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan tekad meskipun tubuhnya sudah sangat lemah. “Jangan tunggu aku sembuh atau tunggu apa pun lagi. Kamu harus pergi dan menyelesaikan apa yang sudah harus kamu selesaikan—memberikan keadilan bagi ibumu, menemukan keluarga Wijaya, dan mengambil kembali hakmu yang telah dirampas.”

Dia menjepit tangan Ridwan dengan kekuatan yang tinggal sedikit. “Aku sudah menyediakan segala sesuatu yang kamu butuhkan untuk perjalanan tersebut,” lanjutnya. “Ada uang yang aku simpan di dalam kotak kayu kecil di bawah tempat tidurku, cukup untuk membayar tiket dan biaya hidupmu di Bandung sampai kamu menemukan keluarga Wijaya. Aku juga telah menulis surat untuk Pak Wijaya—ayah kandung ibumu—memberitahukannya tentang keberadaanmu dan tentang semua yang telah kita temukan.”

Ridwan merasa hatinya seperti akan hancur berkeping-keping. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya untuk pergi meninggalkan Kakek Sembilan yang sudah seperti ayah bagi dirinya dalam kondisi sakit parah seperti ini. Tapi dia juga tahu bahwa apa yang dikatakan kakek adalah benar—waktu tidak akan menunggu mereka, dan dia harus segera pergi jika dia ingin memberikan keadilan bagi ibumu dan menemukan keluarga Wijaya sebelum terlambat.

“Tapi siapa yang akan merawatmu jika aku pergi, Kakek?” tanya Ridwan dengan suara yang penuh dengan kekhawatiran. “Aku tidak bisa pergi saja dan membiarkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini.”

Kakek Sembilan hanya tersenyum lembut, menunjuk ke arah pintu rumah. “Aku telah memberitahu beberapa teman dekatku di desa dekat hutan tentang kondisiku,” katanya dengan suara yang pelan. “Mereka akan datang merawatku setelah kamu pergi. Mereka adalah orang-orang yang bisa aku percayai, dan mereka akan menjagaku dengan baik sampai aku sembuh atau sampai waktu aku tiba.”

Dia kemudian mengambil napas dalam-dalam sekali lagi, matanya kini penuh dengan harapan dan cinta. “Jangan pernah lupa apa yang telah kujarkan padamu, nak,” ujarnya dengan suara yang jelas dan penuh dengan makna. “Jangan pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan, selalu berpegang pada kebenaran, dan jangan pernah lupa bahwa kamu adalah orang yang kuat dan berharga. Ibumu akan selalu mengawasimu dari surga, dan aku juga akan selalu ada di hatimu, di mana pun kamu berada.”

Ridwan mengangguk dengan terpaksa, menghapus air mata dari pipinya dengan lengan bajunya. Dia tahu bahwa ini adalah keputusan yang sulit namun benar yang harus dia buat. Dia harus pergi ke Bandung dan menyelesaikan misi yang telah diberikan padanya oleh ibumu dan Kakek Sembilan.

“Baiklah, Kakek,” jawabnya dengan suara yang sudah kembali tenang dan penuh dengan tekad. “Aku akan pergi ke Bandung besok pagi seperti yang kamu katakan. Aku akan menemukan keluarga Wijaya, memberikan keadilan bagi ibumu, dan mengambil kembali hakku yang telah dirampas. Dan aku akan kembali untukmu sesegera mungkin setelah semuanya selesai.”

Kakek Sembilan mengangguk dengan penuh penghargaan, merasa lega karena Ridwan akhirnya menyetujui permintaannya. Dia tahu bahwa Ridwan akan menjadi orang yang sukses dan akan mampu menyelesaikan semua yang harus dia selesaikan di Bandung.

“Sekarang istirahatlah sebentar, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan kasih sayang. “Kamu akan membutuhkan kekuatan untuk perjalanan besok pagi. Dan ingat—kamu tidak akan pernah sendirian dalam perjalanan ini. Aku selalu ada untukmu, dan keluarga Wijaya juga akan membantumu dengan sebaik-baiknya.”

Ridwan mengangguk, mencium dahi Kakek Sembilan dengan lembut sebelum berdiri dari kursinya. Dia menutup tirai bambu dengan hati-hati agar kakek bisa tidur dengan nyaman, kemudian keluar dari kamar untuk menyiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan untuk perjalanan besok pagi. Di luar, hujan masih terus mengguyur hutan dengan deras, tapi di dalam hatinya, Ridwan merasa bahwa ada cahaya yang mulai muncul di akhir terowongan kegelapan—cahaya yang akan membantunya menemukan jalan menuju kebenaran dan keadilan.

Malam semakin larut, dan suara hujan semakin meriah mengiringi napas Kakek Sembilan yang mulai menjadi lebih tenang dan stabil. Ridwan duduk di luar kamar, mengemas barang-barangnya dengan hati-hati sambil sesekali melihat ke arah kamar di mana kakek sedang beristirahat. Dia tahu bahwa perjalanan yang akan dia tempuh besok pagi tidak akan mudah, bahwa dia akan menghadapi banyak rintangan dan bahaya di jalan. Tapi dengan dukungan Kakek Sembilan, cinta ibumu yang selalu ada di hatinya, dan tekad yang kuat untuk menemukan kebenaran, dia merasa bahwa dia memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!