NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

terharu

Setelah mereka pulang dari pantai dan sampai di kost, Devi dan Dewi mendekati Rohita yang sedang duduk di kursi dan masih terlihat murung. Kedua gadis itu berdiri di depan nya dengan wajah yang sedikit khawatir.

“Kak Rohita, kita mau bilang sesuatu nih,” ucap Devi dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Rohita mengangkat kepalanya dan melihat mereka dengan tatapan yang sedikit kosong. “Apa itu?” tanyanya dengan suara pelan.

Dewi yang biasanya pemalu akhirnya mengambil inisiatif untuk berbicara. “Kita… kita mau pamit ya Kak Rohita. devan dan Bintang mengajak kita untuk tinggal di rumah mereka masing-masing,” ucapnya dengan suara yang sangat lembut, menundukkan kepala karena merasa bahwa dia sedang menyakiti perasaan Rohita. Devi mengangguk dan melanjutkan perkataannya. “Ya Kak, mereka bilang kalau lebih baik kita tinggal bersama mereka karena lebih aman dan nyaman. Kita juga sudah setuju kok,” ucapnya dengan suara yang sedikit menyedihkan.

Rohita merasa seperti ada sesuatu yang menusuk hatinya saat mendengar kata-kata mereka. Dia menghela napas dalam-dalam dan kemudian tersenyum lembut meskipun hatinya merasa sangat kesepian. “Baiklah ya, kalau itu yang kamu mau berdua. Saya tidak akan menghalangi,” katanya dengan suara yang sedikit goyah, mencoba menahan air mata yang ingin keluar.

Devi segera mendekati dan memeluknya dengan erat. “Maaf ya Kak Rohita… kita tidak akan lupa sama kamu kok. Kita akan sering datang kunjungi kamu,” ucapnya dengan suara yang berkaca-kaca. Dewi juga menyertainya dan memeluk Rohita dari sisi lain, tidak bisa berkata apa-apa karena rasa malu dan kesedihan yang membuatnya menangis diam-diam.

Setelah beberapa saat pelukan hangat itu, Devi dan Dewi mulai mengemas barang-barang mereka. Rohita membantu mereka dengan diam-diam, menyusun baju dan perlengkapan mereka ke dalam tas dengan hati-hati. Saat semua barang sudah Terkemas dengan rapi, mereka berdiri di depan pintu kost dengan tas masing-masing.

“Kita pergi ya Kak Rohita. Jangan lupa makan dengan teratur ya, dan jangan terlalu sering marah lagi,” ucap Devi dengan senyum lembut namun penuh perhatian. Dewi juga mengangguk dan memberikan amplop kecil kepada Rohita. “Ini uang sedikit dari kita Kak, untuk beli kebutuhan kamu ya,” ucapnya dengan suara pelan. Rohita menerima amplop tersebut dengan tangan gemetar dan mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa.

Setelah itu, Devi dan Dewi berpamitan dan keluar dari kost, meninggalkan Rohita sendirian di kamar yang sekarang terasa sangat kosong dan sunyi. Rohita berjalan ke arah jendela dan melihat kedua temannya yang sedang naik ke dalam mobil devan dan Bintang yang sudah menunggu di luar. Setelah mobil mereka pergi dan menghilang dari pandangan, Rohita kembali ke dalam kamar dan duduk di atas tempat tidurnya, akhirnya menangis dengan bebas sambil merangkul bantal yang dulu sering mereka gunakan bersama. Kamar yang dulu selalu penuh dengan suara tawa dan candaan kini hanya diisi oleh suara tangisnya yang terdengar sangat menyedihkan.

Keesokan harinya, Rohita bangun dengan wajah yang masih sedikit bengkak karena menangis semalaman. Kamar kost yang dulu penuh dengan barang-barang Devi dan Dewi kini terasa sangat luas dan sunyi. Dia berdiri dengan perlahan dan berjalan ke arah meja makan, melihat piring dan gelas yang biasanya mereka gunakan bersama sekarang hanya tersusun rapi tanpa ada yang menggunakannya.

Rohita mulai menjalani hari nya seperti biasa namun dengan perasaan yang sangat berbeda. Dia pergi ke pasar untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari sendirian, sesuatu yang dulu selalu dia lakukan bersama Devi dan Dewi. Saat berjalan di pasar, dia seringkali melihat orang-orang yang sedang bersama teman atau keluarga mereka, membuat hatinya semakin terasa kosong. Dia hanya memilih barang-barang yang dia butuhkan dengan cepat, kemudian pulang ke kost tanpa berbicara dengan siapa pun.

Setelah sampai di kost, Rohita memasak makanan sendirian di dapur kecil yang dulu sering ramai dengan suara mereka berdua yang sedang membantu memasak. Meskipun makanan yang dia buat sama seperti biasanya, rasanya terasa hambar dan tidak enak. Dia makan dengan cepat di atas meja makan yang sepi, lalu membersihkan piring dengan diam-diam.

Hari demi hari berlalu dengan cara yang sama. Rohita bangun pagi, pergi ke pasar, memasak, membersihkan kamar, dan kemudian menghabiskan sisa hari nya dengan membaca buku atau hanya duduk diam di depan jendela melihat orang-orang yang lewat di luar. Kadang dia akan melihat foto-foto mereka berdua yang ada di meja nya, menyentuh wajah Devi dan Dewi di foto dengan tangan lembut sambil meratapi kesendiriannya.

Sifat pemarahnya bahkan semakin terlihat. Saat tetangga kost mengganggunya dengan suara yang sedikit keras, dia langsung marah dan menyuruh mereka diam. Akhirnya, beberapa tetangga mulai menjauhi dirinya, membuatnya semakin terisolasi. Namun dia tidak peduli, karena dia merasa bahwa kesendiriannya lebih baik daripada harus melihat orang lain yang bahagia bersama teman atau pasangannya.

Rohita juga mulai mengabaikan kebun kecil yang dia miliki di belakang kost. Tanaman-tanamannya yang dulu selalu dia rawat dengan baik mulai layu dan penuh dengan rumput liar. Dia tidak punya semangat lagi untuk merawatnya, karena kebun itu dulu sering menjadi tempat mereka berdua bermain dan membantu dia menyiram tanaman.

Saat malam tiba, kamar kost terasa semakin sunyi dan sejuk. Rohita hanya menyalakan lampu kecil di sudut kamar dan membaca buku sampai mata nya merasa lelah. Kadang dia akan mendengar suara tawa atau candaan dari kamar tetangga, membuatnya merindukan masa-masa ketika Devi dan Dewi masih ada di sana bersama dia.

Namun pada suatu hari pagi, saat Rohita sedang duduk di depan jendela sambil minum teh hangat, dia mendengar suara ketukan pintu yang cukup keras. Dia sedikit terkejut karena sudah lama tidak ada yang mengunjunginya. Dengan lambat, dia berdiri dan membuka pintu kost, lalu terkejut melihat wajah Devi dan Dewi yang sedang tersenyum lebar dengan tangan penuh oleh-oleh.

“Kak Rohita! Kami datang mampir lho!” seru Devi dengan suara yang ceria seperti biasanya, lalu langsung masuk ke dalam kamar bersama Dewi. Rohita hanya bisa berdiri dengan wajah terkejut dan mata yang mulai berkaca-kaca. “Kalian… kalian kembali?” ucapnya dengan suara yang gemetar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Setelah beberapa saat terkejut, Rohita akhirnya tersenyum lebar dan langsung memeluk Devi dan Dewi dengan erat. Air mata bahagia mulai menetes dari matanya saat dia merasakan kehangatan pelukan kedua temannya yang sudah lama tidak dirasakan. “Aku sangat merindukan kalian berdua!” ucapnya dengan suara penuh emosi.

Devi dan Dewi juga menangis pelan sambil memeluknya kembali. “Kami juga merindukan Kak Rohita banget!” ucap Dewi dengan suara lembut, sementara Devi mulai meletakkan oleh-oleh yang mereka bawa ke atas meja makan. “Kami bawa banyak makanan kesukaan Kak lho! Ada kue tradisional, keripik, dan juga makanan laut yang baru saja kami beli dari pasar dekat rumah kami,” ucap Devi dengan senyum lebar.

Setelah mereka selesai berpelukan, Rohita mulai melihat kondisi kedua temannya dengan cermat. Devi terlihat lebih cantik dan bahagia, sementara Dewi juga terlihat lebih ceria dari biasanya. “Kalian terlihat bahagia ya,” kata Rohita dengan senyum lembut. “Ya Kak, mereka sangat baik sama kami,” jawab Dewi dengan wajah yang sedikit kemerahan.

Setelah beberapa saat berbincang dan menikmati oleh-oleh yang mereka bawa, Rohita merasa semangatnya kembali muncul. Dia mengajak Devi dan Dewi untuk membantu merawat kebun kecil di belakang kost yang sudah mulai terlantar. Namun sebelum mereka bisa pergi ke kebun, tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan kost, kemudian seseorang mengetuk pintu dengan kuat.

“Devi sayang! Aku datang menjemput kamu!” suara pria yang dikenal Rohita sebagai devan terdengar dari luar. Devi langsung tersenyum lebar dan berlari untuk membuka pintu. devan masuk dengan wajah yang tampan dan tersenyum ramah kepada semua orang. “Halo Kak Rohita, Kak Dewi. Maaf ya ganggu,” ucapnya dengan sopan, kemudian mendekati Devi dan memberikan ciuman lembut di dahinya.

Rohita melihat mereka dengan tatapan yang sedikit iri. Dia melihat betapa mesra nya devan dengan Devi, bagaimana dia memperhatikan setiap gerakan Devi dan selalu siap membantu nya. Meskipun dia merasa senang untuk Devi, di dalam hatinya Rohita merasa sedikit kesedihan karena dia sendiri belum pernah merasakan kasih sayang seperti itu.

devan kemudian mengajak Devi untuk pergi jalan-jalan bersama, dan Devi dengan senang hati menyetujuinya. Setelah berpamitan dan memberikan pelukan kepada Rohita dan Dewi, Devi pergi bersama devan meninggalkan mereka berdua di kost. Rohita hanya menghela napas perlahan dan kemudian melihat ke arah kebun di belakang kost. “Ayo kita pergi merawat kebun aja ya Dewi,” katanya dengan nada yang sedikit lesu.

1
𝐍𝟏𝐬𝐡𝐢𝐦𝐮𝐫𝐚
ceritanya baguss , tp karna kalimat nya terlalu panjang, dan dialognya yang nempel, bkin ak jadi bingung hehe, semangat thor🙏
Jing_Jing22
Aduh, nyesek banget lihat Dewi nangis sendirian begitu. 🥺 Untung ada Rohita yang lewat. Walaupun awalnya kelihatan galak, ternyata Rohita peduli banget. Semoga Dewi mau cerita masalahnya ya!
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!