NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Sumpah di Gerbang Sekte

Xu Tian berdiri di depan gerbang luar Sekte Awan Giok. Angin senja menerpa wajahnya, membawa debu dan aroma pepohonan yang jauh dari kemegahan puncak gunung.

Tubuhnya masih terasa nyeri, setiap tarikan napas membawa ingatan luka fisik dan mental. Darah kering menempel di pakaiannya, menjadi pengingat akan duel dan pengusiran yang baru saja terjadi.

Matanya menatap gerbang yang tinggi dan megah di belakangnya. Batu ukir naga dan awan bersinar redup di bawah cahaya senja, menegaskan dominasi sekte yang telah menghancurkannya.

Bayangan gerbang memanjang ke tanah, seakan menghalangi jalan hidupnya. Xu Tian merasakan tekanan yang menekan dada—bukan karena gerbang itu menahan tubuhnya, tetapi karena simbol kekuasaan yang berdiri tegak dan tak tergoyahkan.

Ia menutup mata sebentar, membiarkan bayangan masa lalu membanjir pikirannya. Duel yang mustahil dimenangkan, tatapan jijik Lin Ruo’er, senyum dingin Zhao Heng, semua itu muncul berlapis-lapis, membungkusnya dalam rasa malu dan hampa.

Setiap memori terasa seperti belenggu, mengekang pikirannya dari kebebasan, dari rasa manusiawi yang tersisa.

“Hampa…” pikirnya. “Aku hampa sampai ke tulang.”

Angin membawa bisikan dari kejauhan, suara murid yang menyebut namanya, bisikan ejekan yang tidak terdengar jelas, namun menembus ke kesadarannya.

Ia merasakan bahwa dunia lama, tempat yang seharusnya menjadi rumah, tidak pernah benar-benar memberinya tempat.

Semua upaya, semua pengharapan, semua loyalitas, sia-sia. Dunia itu tidak memberi ruang bagi yang lemah.

Xu Tian menelan ludah. Tubuhnya sakit, tapi rasa sakit itu kini terasa ringan dibandingkan kehampaan yang menyesaki pikirannya. Ia bergulat dengan emosi—malu, marah, frustrasi, dendam yang lambat tapi pasti mengendap dalam dada.

Setiap napas menguatkan kesadaran: dirinya tidak memiliki tempat lagi, dan dunia ini tidak memiliki belas kasihan bagi mereka yang tidak mampu.

Ia membuka mata, menatap gerbang megah itu untuk terakhir kali. Di sana, segalanya yang pernah ia anggap penting kini tampak palsu.

Keindahan yang dulu mengagumkan kini menjadi simbol kekejaman, simbol bahwa dunia yang ia huni selama ini hanyalah jebakan yang menunggu untuk memusnahkannya.

“Tidak ada lagi… yang tersisa,” pikirnya dengan dingin. “Tidak ada harapan. Tidak ada keadilan. Tidak ada rumah.”

Senja perlahan berubah menjadi bayangan gelap. Cahaya yang menyentuh batu gerbang memudar, meninggalkan siluet hitam yang menegaskan kesendirian Xu Tian.

Ia berdiri sendiri, kaki tertatih, tubuh lelah, namun matanya menyala dengan sesuatu yang lebih tajam dari rasa sakit. Sebuah kesadaran mulai terbentuk, keras dan tak kenal kompromi.

“Jika dunia lama tidak memberiku tempat,” pikirnya, “maka aku tidak akan pernah kembali. Aku tidak akan lagi mengharap belas kasihan.”

Rasa dendamnya mengalir perlahan, berubah menjadi energi yang lebih nyata dari rasa takut yang sebelumnya membekapnya.

Setiap ingatan tentang ejekan, penghinaan, pengusiran, menjadi bahan bakar bagi sesuatu yang baru: tekad. Sebuah tekad yang tidak akan membiarkan siapa pun menindasnya lagi.

Ia menutup mata sekali lagi, merasakan setiap luka di tubuhnya, setiap rasa malu yang menempel di hati, setiap tatapan dingin yang pernah menembusnya.

Rasa sakit itu kini tidak lagi melemahkan. Sebaliknya, itu mengajarkannya satu hal: kekuatan adalah satu-satunya cara untuk menentukan nasib.

“Dunia lama… Sekte… Mereka hanya akan mengingat satu hal: yang lemah tidak berhak bertahan,” bisiknya lirih, namun dengan nada tegas.

Angin malam mulai menyapu lereng gunung. Bayangan panjangnya jatuh di tanah di depan Xu Tian, menyatu dengan bayangan gerbang yang ia tinggalkan.

Ia menatap ke depan, melihat jalan yang gelap, tidak pasti, namun terbuka. Jalan itu tidak aman, tidak mudah, dan tidak ramah. Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa tidak ada yang menahannya.

Tubuh yang lemah tetap berdiri. Napas yang tersengal perlahan menjadi ritme yang stabil. Kepala yang tadinya tertunduk kini tegak. Mata yang pernah dipenuhi kesedihan kini menyalakan kilatan kemarahan dan tekad.

“Aku akan bangkit,” kata Xu Tian di dalam hati. “Dan dunia ini… akan melihatku sebagai yang terkuat. Tidak lagi ada yang akan menginjakku. Tidak ada yang akan menghina atau menolak keberadaanku.”

Ia menarik napas panjang, merasakan udara malam yang dingin dan keras di paru-parunya. Setiap tarikan napas terasa seperti pengisian energi baru.

Setiap detik yang berlalu semakin menegaskan satu hal: masa lalu telah mati. Sekarang hanya ada dirinya, tubuhnya, pikirannya, dan tekadnya.

Xu Tian menatap gerbang megah itu untuk terakhir kali. Bayangan gelapnya melingkupi tanah, seolah menahan dunia lama tetap di tempatnya, sementara ia menatap ke depan, ke arah jalan yang harus ditempuh sendirian.

Satu kata muncul di bibirnya, nyaris berbisik, namun keras dalam maksudnya:

“Sekte Terkuat…”

Tidak ada gema. Hanya sunyi di sekeliling.

Tangan Xu Tian mengepal, tubuhnya lelah tapi tidak goyah. Matanya menyala, tidak lagi dipenuhi harapan atau kasih sayang, tetapi dengan tekad mutlak.

“Aku akan membangun Sekte Terkuat. Aku akan menundukkan dunia yang menolak aku. Tidak ada lagi tempat bagi yang lemah… karena aku akan menjadi yang terkuat.”

Sunyi malam menelan kata-kata itu, namun di udara yang gelap dan berat, tekad Xu Tian terpatri seperti batu. Ia menatap gerbang satu kali lagi, lalu menoleh ke jalan gelap di depannya.

Langkah pertama diambil. Kemudian langkah kedua. Lalu dia terpeleset , Dan langkah demi langkah, Xu Tian berjalan ke arah dunia baru yang harus ia taklukkan.

Di belakangnya, Sekte Awan Giok tetap megah, tertutup, dan tak tergoyahkan.

Di depan, jalan terbuka. Gelap, keras, dan penuh ketidakpastian.

Tetapi di dalam dirinya, cahaya tekad telah menyala, dan tidak akan padam lagi.

Langit semakin gelap di atas kepala Xu Tian. Senja telah berubah menjadi malam tipis, namun bayangan gerbang Sekte Awan Giok masih menjulang di belakangnya, seperti monumen tak tergoyahkan dari masa lalunya.

Setiap batu ukir, setiap pilar, setiap ukiran naga dan awan, kini hanyalah pengingat kejam akan tempat yang telah menolaknya.

Tubuhnya lelah, sendi-sendinya kaku, darah yang mengering di pakaiannya mengingatkannya pada kekalahan demi kekalahan yang baru saja ia alami.

Namun rasa sakit itu kini tidak menguasai pikirannya. Di balik rasa lelah dan kehampaan, ada bara yang mulai menyala—barak emosi yang lama terkubur oleh malu dan ketidakberdayaan.

Xu Tian menutup mata, mengingat tatapan Lin Ruo’er terakhir kali. Dingin. Jijik. Tanpa sisa kelembutan. Setiap kilatan tatapannya menusuk lebih dalam daripada kata-kata tetua dan ejekan murid-murid.

Ia ingat Zhao Heng, tenang, dominan, penuh keyakinan, seolah dunia ini telah menunggu kedatangannya untuk menindas orang seperti Xu Tian.

Semuanya itu memicu sesuatu di dalam dirinya. Bukan rasa takut, bukan tangisan, bukan penyesalan—tetapi kemarahan yang membara, hitam dan pekat.

Ia merasakan dendam dan frustrasi berkumpul di dadanya, membentuk tekad yang tidak bisa lagi dipadamkan.

“Cukup,” bisiknya lirih, suaranya hampir tenggelam oleh angin malam.

Namun kata itu bukanlah suara putus asa. Itu adalah pengumuman pertama bagi dirinya sendiri: cukup bagi dunia lama untuk menahan, menindas, dan menolak.

Ia membuka mata, dan cahaya malam menyorot mata yang mulai berubah.

Kilatan dingin dan tajam terpancar dari bola matanya. Tubuh yang dulu rapuh dan lemah kini terasa seperti inti dari sesuatu yang akan tumbuh menjadi kekuatan yang tak terbendung.

“Dunia ini… tidak akan menempatkanku,” pikirnya. “Tidak ada yang memberi ruang bagi yang lemah. Maka aku tidak akan lagi menjadi yang lemah.”

Bayangan gerbang di belakangnya menjadi simbol dari semua yang telah ia tinggalkan. Gedung megah, para tetua, Zhao Heng, Lin Ruo’er—semua itu kini hanyalah masa lalu yang tak lagi memiliki kekuasaan atasnya.

Setiap batu, setiap ukiran, menjadi lambang dunia lama yang gagal membentuknya, dunia yang akan segera ia lawan dengan kekuatan mutlak.

Xu Tian menelan ludah, merasakan setiap ketegangan dalam tubuhnya. Tubuhnya lemah, namun pikirannya tajam.

Tubuhnya terluka, namun tekadnya tak pernah sekuat ini. Ia menarik napas panjang, udara dingin malam menembus paru-parunya, memberi sensasi nyata akan hidup yang tersisa.

“Kalau dunia lama menolak aku… maka aku akan membuat dunia baru,” bisiknya. “Sebuah dunia di mana yang lemah tidak lagi dibiarkan hidup tanpa harga.

Sebuah dunia di mana aku berdiri sebagai yang terkuat. Sebuah sekte yang lebih besar, lebih kuat, yang tidak bisa ditundukkan oleh siapa pun.”

Suara angin berdesir di sekelilingnya, seakan menegaskan setiap kata yang keluar dari bibir Xu Tian.

Ia membayangkan Sekte Terkuat yang akan dibangunnya, tidak lagi seperti sekte yang telah menolaknya, tetapi sebagai kekuatan yang mutlak, tak tersentuh, menundukkan semua yang menertawakannya, menghapus hinaan, dan menancapkan namanya di puncak dunia.

Tangan Xu Tian mengepal. Tubuhnya yang lemah tetap berdiri, menahan setiap rasa sakit, menahan setiap gemetar dari tubuh yang kelelahan.

Tubuhnya mungkin rapuh, namun keuletan mentalnya lebih keras daripada batu. Mata yang tadinya dipenuhi kesedihan kini menyala dengan kemarahan dan tekad, tidak lagi dirundung rasa takut.

“Aku… akan menjadi yang terkuat,” gumamnya keras, suaranya nyaris bergema di udara malam. “Tidak ada yang akan menolak aku lagi. Tidak ada yang akan menindas aku lagi. Dunia ini akan mengingat satu nama: Xu Tian. Aku akan membangun Sekte Terkuat, dan aku akan menundukkan dunia lama yang menolakku!”

Langkah pertama diambil. Ia menatap gerbang sekali lagi, lambang masa lalu yang telah memusnahkannya.

Sunyi menyelimuti sekelilingnya. Tidak ada yang menanggapi kata-katanya. Tidak ada yang menolong. Hanya bayangan panjang malam dan suara angin.

Langkah kedua diambil. Dan langkah demi langkah berikutnya, Xu Tian berjalan ke arah jalan gelap yang terbentang di depannya—jalan yang penuh ketidakpastian, tantangan, dan kemungkinan kematian.

Namun di dalam hatinya, bara tekad telah menyala menjadi nyala api yang tak bisa dipadamkan.

“Dunia lama menolak aku… maka aku akan menaklukkannya. Tidak ada lagi tempat bagi yang lemah. Aku… akan menjadi yang terkuat!”

Sunyi malam menelan kata-kata itu. Namun aura tekad Xu Tian terasa membara, gelap tapi penuh energi, menegaskan bahwa kebangkitan ini hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar, lebih brutal, dan lebih tak terhentikan.

Malam menutup gerbang di belakangnya, namun di depan, dunia terbuka—keras, dingin, dan penuh tantangan.

Dan Xu Tian berjalan di dalamnya sebagai seseorang yang lahir kembali dari kehancuran total, dengan satu tujuan: membangun Sekte Terkuat dan menaklukkan semua yang menolaknya.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!