Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Richard
Hening yang mencekam hanya dipecahkan oleh suara lembaran kertas yang dibalik dan detak jam dinding yang berat. Sophie tenggelam dalam tumpukan laporan keuangan Lutz-Logistics selama berjam-jam, sementara Max duduk di hadapannya, berpura-pura sibuk dengan tabletnya meski matanya lebih sering tertuju pada puncak kepala Sophie daripada layar di tangannya.
Tiba-tiba, jemari Sophie berhenti bergerak di atas sebuah tabel audit tahunan. Matanya menyipit, meneliti deretan angka yang seolah berteriak padanya. Ia mengambil bolpoin, melingkari sebuah anomali pada kode transfer bank, lalu membandingkannya dengan memo internal dari sepuluh tahun yang lalu.
"Max," suara Sophie memecah keheningan.
Max mengangkat wajahnya, ekspresinya tetap dingin dan angkuh. "Sudah menyerah, Nona Adler?"
Sophie mengabaikan sindiran itu. Ia memutar salah satu map ke arah Max dan mengetuk jarinya di atas sebuah kolom angka. "Lihat ini. Ini adalah arus kas keluar dari proyek ayahku sepuluh tahun lalu. Sistemnya mencatat bahwa dana itu ditransfer melalui kunci otoritas digital ayahku di jam 03.00 pagi. Tapi coba lihat laporan audit Lutz-Logistics yang kau berikan ini."
Max mengerutkan kening, rasa penasaran mengalahkan egonya sejenak. Ia condong ke depan, memperhatikan dokumen itu.
"Di waktu sama," lanjut Sophie, suaranya bergetar karena emosi yang mulai membuncah, "ada deposit masuk ke akun bayangan milik Richard Hoffmann dengan jumlah yang identik. Lihat stempel waktunya. Transfer dari akun ayahku membutuhkan waktu verifikasi 15 menit, sementara deposit ke akun ayahmu sudah tercatat sebelum transfer itu benar-benar selesai. Secara teknis, ini mustahil kecuali sistem tersebut sudah di-bypass sebelumnya."
Sophie menatap mata Max, mencari secercah pengakuan. "Hanya ada dua orang yang bisa melakukan bypass pada sistem keamanan itu tanpa memicu alarm: Ayahku dan ayahmu. Di jam segitu ayahku sudah tidur. Jadi, menurutmu siapa yang sedang memegang kendali sistem di kantor pada jam 3 pagi?"
Max terdiam. Otak jeniusnya mulai bekerja secara otomatis, merangkai data yang baru saja disodorkan Sophie. Logikanya berteriak bahwa Sophie benar. Selama bertahun-tahun, ia percaya ayahnya adalah pahlawan yang menyelamatkan perusahaan dari pengkhianatan Hans Adler, namun bukti di depannya menunjukkan sebuah sabotase yang sangat rapi—terlalu rapi untuk dilakukan oleh orang asing.
Ada keraguan besar yang mulai merayap di hati Max, meruntuhkan pilar-pilar keyakinan yang ia pegang seumur hidup. Ia menatap Sophie, melihat kejujuran yang murni di mata wanita itu.
Namun, saat ia melihat Sophie seolah-olah "menang" dalam perdebatan ini, gengsi Maximilian Hoffmann yang setinggi langit kembali membentengi dirinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan wanita yang baru saja ia tuduh sebagai penipu.
Max bersandar kembali ke kursinya, melempar map itu dengan kasar ke atas meja. "Analisis yang menarik, Nona Adler. Tapi itu hanya spekulasi tentang stempel waktu. Bisa saja terjadi kesalahan sistem, atau ayahmu yang sengaja mengatur keterlambatan itu untuk mengelabui auditor."
"Kesalahan sistem selama tiga bulan berturut-turut?" Sophie berdiri, suaranya naik satu oktav. "Max, lihatlah kenyataannya! Kau terlalu pintar untuk tidak menyadari bahwa ayahmu telah membohongimu seumur hidupmu!"
"Cukup!" bentak Max, meski suaranya terdengar tidak seyakin sebelumnya. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan kilat keraguan di matanya. "Kau hanya melihat apa yang ingin kau lihat karena kau penuh dendam. Simpan teori konspirasimu itu dan lanjutkan saja pekerjaanmu."
Max berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke hutan gelap, membelakangi Sophie. Tangannya mengepal kuat di balik saku celananya. Ia tahu Sophie benar. Kebenaran itu terasa seperti racun yang mulai menjalar di nadinya. Ia menyangkal bukan karena ia tidak percaya, tapi karena ia belum siap menghadapi kenyataan bahwa dunia yang ia bangun bersama ayahnya hanyalah istana pasir di atas kebohongan yang berdarah.
"Jangan pernah berpikir bahwa kau sudah menang," bisik Max tanpa menoleh, suaranya dingin namun bergetar.
Sophie menatap punggung tegap itu dengan tatapan pahit. Ia tahu ia telah berhasil menanamkan benih keraguan di pikiran Max. "Aku tidak mencari kemenangan. Aku hanya mencari keadilan untuk ayahku yang sedang sekarat karena perbuatan seseorang yang paling menginginkan kehancuran Adler.”
...****************...
Lampu kristal di ruang kerja Richard Hoffmann bergetar saat pria itu menghantamkan tinjunya ke atas meja mahagoni. Kabar yang ia terima adalah sebuah pengkhianatan yang tak terbayangkan.
Maximilian, putra tunggal yang ia persiapkan sebagai pewaris takhta, tidak hanya menyelamatkan tikus-tikus Adler dari kobaran api, tetapi juga menyembunyikan mereka di sebuah lokasi yang berada di luar jangkauan radar Richard.
"Kau melawanku, Max?" desis Richard. Suaranya bukan lagi suara seorang ayah yang kecewa, melainkan suara seorang predator yang merasa otoritasnya terancam. "Kau memilih putri dari wanita jalang itu daripada ayahmu sendiri?"
Wajah Richard tampak mengerikan di bawah cahaya temaram. Otot-otot rahangnya menegang, dan matanya memancarkan kegilaan yang dingin. Baginya, Maximilian bukan lagi seorang putra. Di mata Richard yang sudah dirasuki iblis obsesi, Max kini hanyalah hambatan. Dan setiap hambatan, tak peduli seberapa mahal harganya, harus disingkirkan sebelum kebenaran tentang sabotase masa lalu terkuak.
Ia meraih telepon satelit yang tak terlacak dan menekan satu tombol cepat.
"Gagal di apartemen itu adalah kesalahan pertamamu," Richard bicara tanpa basa-basi saat suara di ujung telepon menyapa. "Dan itu adalah kesalahan terakhir yang akan kumaafkan."
"Maaf, Tuan, tapi Tuan Muda Maximilian kemungkinan berada di lokasi yang sama dengan target. Kami tidak bisa bergerak tanpa risiko melukai putra Anda," suara si pembunuh bayaran terdengar datar namun penuh perhitungan.
Richard terdiam sejenak. Ia menatap potret keluarga di dinding, lalu pandangannya beralih pada sebuah foto tua Eleonor yang ia simpan di dalam laci tersembunyi—foto yang telah ia remas berkali-kali. Kebenciannya pada Hans Adler telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih luas. Jika Max berada di pihak Adler, maka Max adalah bagian dari penyakit yang harus diamputasi.
"Dengarkan aku baik-baik," ucap Richard, suaranya kini tenang secara mematikan. "Status Maximilian sebagai putraku telah berakhir saat dia memilih melindungi mereka. Tidak ada pengecualian lagi. Cari lokasi mereka. Jika kau menemukannya, habisi keluarga Adler... dan habisi juga Maximilian."
Ada keheningan panjang di ujung telepon. "Anda yakin, Tuan? Menghabisi pewaris Hoffmann?"
"Dia bukan pewarisku jika dia menjadi musuhku," Richard menutup telepon dengan gerakan mantap.
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela besar, menatap kegelapan malam Berlin yang luas. Richard tahu bahwa dengan perintah ini, ia baru saja membakar jembatan terakhir menuju kemanusiaannya. Namun baginya, mempertahankan kebohongan besar yang telah ia bangun selama sepuluh tahun adalah harga mati. Iblis di dalam dirinya sudah menang; ia lebih memilih melihat putranya mati sebagai pahlawan yang gagal daripada melihat dirinya sendiri hancur sebagai pecundang di tangan seorang Sophie Adler.
"Selamat tinggal, Maximilian," gumamnya dingin sambil menyesap sisa wine pahit di gelasnya.
Gelas perak berisi minuman yang dibawa Beatrice gemetar hebat di tangannya. Di balik pintu kayu jati yang tebal itu, ia baru saja mendengar vonis mati yang dijatuhkan Richard—bukan untuk musuh mereka, tapi untuk putra kandung mereka sendiri.
Wajah Beatrice pucat pasi, matanya membelalak tak percaya. Ia segera berbalik, melangkah dengan terburu-buru namun berusaha tetap sunyi, menjauh dari ruang kerja yang kini terasa seperti sarang monster. Minuman yang ia bawa ditinggalkan begitu saja di atas meja lorong. Di dalam kamarnya, Beatrice mengunci pintu dan langsung menyambar ponselnya.
Jarinya yang gemetar menekan nomor Maximilian. Namun, tak ada jawaban. Max sengaja mematikan pelacak dan membatasi akses komunikasi demi keamanan.
Beatrice terduduk di pinggiran ranjang, napasnya tersengal. Pikirannya berputar liar. Selama ini, ia mendukung setiap langkah Richard untuk menghancurkan keluarga Adler. Baginya, Hans Adler adalah pengkhianat yang hampir meruntuhkan kekaisaran bisnis yang dibangun suaminya dengan peluh darah.
Namun, mengincar nyawa Max? Itu di luar nalar.
"Ada apa denganmu, Richard?" bisik Beatrice pada kesunyian kamar. "Dendam macam apa yang kau simpan sampai kau tega mengorbankan darah dagingmu sendiri?"
Insting seorang ibu mulai bekerja melampaui logika seorang istri. Ia menyadari satu hal: kebencian Richard pada Hans bukan sekadar soal korupsi atau pengkhianatan bisnis. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap dan bersifat pribadi—sesuatu yang membuat Richard kehilangan akal sehatnya.
Beatrice tahu ia tidak bisa memercayai Richard lagi. Ia harus bertindak. Ia mencari kontak lain di ponselnya hingga menemukan nama Lucas. Ia tahu Lucas sangat setia pada Max, bahkan melebihi kesetiaannya pada Richard.
Setelah beberapa nada sambung, panggilan itu akhirnya diangkat.
"Halo, Nyonya Hoffmann?" suara Lucas terdengar waspada dan rendah.
"Lucas…” Beatrice memotong sebelum Lucas sempat bertanya lebih jauh. Suaranya bergetar namun tegas. "Aku tidak akan bertanya di mana kalian berada. Aku tahu Max memerintahkanmu untuk merahasiakannya dariku dan Richard. Tapi kau harus memberitahu Max sekarang juga..."
Beatrice menjeda, setetes air mata jatuh di pipinya yang dingin. "Katakan padanya untuk segera pergi dari tempat itu. Richard baru saja memerintahkan pembunuh bayaran untuk melenyapkan semua orang di sana... termasuk Maximilian."
Di seberang telepon, Lucas terdiam. Beatrice bisa mendengar embusan napas tajam dari tangan kanan putranya itu.
"Apa Anda yakin dengan apa yang Anda dengar, Nyonya?" tanya Lucas, suaranya kini berubah menjadi sangat serius dan dingin.
"Aku mendengarnya dengan telingaku sendiri, Richard sudah gila. Dia menganggap Max sebagai ancaman. Tolong... selamatkan putraku. Bawa dia sejauh mungkin dari jangkauan Richard," isak Beatrice.
"Saya mengerti, Nyonya. Terima kasih informasinya," jawab Lucas singkat sebelum memutus sambungan.
Beatrice melempar ponselnya ke atas ranjang dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ia baru saja mengkhianati suaminya untuk menyelamatkan putranya. Kini, ia hanya bisa berdoa agar peringatan itu tidak terlambat sampai ke telinga Maximilian.