NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Murid Buangan

Energi di telapak tangan kultivator itu jatuh.

Namun serangan tidak pernah mencapai sasaran.

Xu Tian bergerak di detik terakhir. Tubuhnya menerobos masuk, bahunya menghantam lengan kultivator itu dari samping. Benturan itu tidak elegan, tidak bersih. Keduanya terhuyung, sepatu Xu Tian menggesek tanah berlumpur, napasnya langsung berantakan.

“Kurang ajar!” teriak kultivator itu.

Cambuk menyambar ke arah Xu Tian. Ia mengangkat lengan untuk menahan. Ujung cambuk menghantam kulitnya, rasa panas langsung menyebar. Tubuhnya terpental setengah langkah, tulang lengannya bergetar.

Sakit.

Nyata.

Ia tidak mengeluh.

Xu Tian memutar tubuhnya, berdiri di antara pemuda itu dan dua kultivator bebas. Tubuhnya kurus, pakaiannya lusuh, tidak ada aura yang bisa dibanggakan. Namun matanya dingin dan waspada.

“Pergi,” katanya singkat.

Dua kultivator itu terdiam sesaat. Mereka menilai cepat—kekuatan Xu Tian, pakaiannya, tidak adanya tanda sekte. Salah satu dari mereka mencibir.

“Hanya orang tak bertuan,” katanya. “Berani ikut campur?”

Xu Tian tidak menjawab.

Ia tahu jika pertarungan berlanjut, ia tidak di posisi unggul. Namun tatapannya tidak bergeser. Kaki depannya sedikit maju, posturnya rendah, siap menerima serangan berikutnya.

Beberapa detik berlalu.

Orang-orang fana mulai menjauh. Tidak ada yang ingin terseret. Tidak ada yang ingin diingat.

Kultivator dengan cambuk mendengus. “Menyusahkan.”

Ia meludah ke tanah, lalu mundur selangkah. “Bawa bangkai itu. Kita buang di luar kota.”

Namun sebelum yang lain bergerak, ia melirik Xu Tian sekali lagi. Tatapannya penuh ancaman yang malas. “Kalau dia mati, itu bukan urusanmu lagi.”

Mereka berbalik dan pergi, langkah kaki mereka menjauh, suara tawa tipis menghilang di lorong sempit.

Kerumunan segera bubar.

Tidak ada yang berterima kasih. Tidak ada yang peduli. Dunia kembali berjalan seperti semula.

Xu Tian berdiri diam beberapa saat. Napasnya berat, dadanya naik turun pelan. Rasa perih di lengannya masih terasa, kulitnya sobek tipis.

Ia menoleh ke bawah.

Pemuda itu tergeletak di tanah, tubuhnya meringkuk, kedua tangan menutupi kepala. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, napasnya pendek-pendek seolah masih menunggu pukulan berikutnya.

“Sudah pergi,” kata Xu Tian.

Pemuda itu tidak langsung merespons.

Beberapa detik kemudian, ia mengintip di antara jari-jarinya. Matanya merah, pupilnya mengecil. Ketika ia menyadari hanya ada Xu Tian di sana, wajahnya berubah kosong.

“Hidup…?” suaranya serak. Hampir tidak terdengar.

Xu Tian berjongkok. Ia tidak menyentuhnya langsung.

“Ya.”

Pemuda itu menelan ludah. Bahunya jatuh, seluruh tubuhnya seperti kehilangan penyangga. Ia terduduk lemas, punggungnya bersandar ke dinding yang kotor. Darah masih mengalir tipis dari pelipisnya, bercampur debu.

“Kenapa…?” katanya lirih. “Kenapa kau ikut campur?”

Xu Tian tidak segera menjawab.

Ia mengambil kain lusuh dari sakunya—sisa kain yang dulu ia simpan untuk membalut tangannya sendiri. Ia melemparkannya pelan ke arah pemuda itu.

“Tutup lukamu.”

Pemuda itu ragu, lalu menurut. Tangannya gemetar saat menekan kain ke pelipis.

“Mereka bilang kau mencuri,” ujar Xu Tian.

Pemuda itu tertawa kecil, pahit. “Aku hanya mengambil roti keras. Yang sudah jatuh ke tanah.”

Xu Tian mengangguk pelan.

Ia pernah melihat alasan serupa dijadikan vonis.

“Aku tidak punya rumah,” lanjut pemuda itu. “Tidak punya siapa-siapa.”

Kata-katanya keluar datar, seolah sudah terlalu sering diucapkan hingga kehilangan beratnya.

Xu Tian bersandar ke dinding seberang. Ia merasakan dingin dari batu lembap meresap ke punggungnya.

“Namamu?” tanyanya.

Pemuda itu terdiam lama. Seolah nama adalah sesuatu yang tidak lagi berguna.

“Chen… Chen Yu,” jawabnya akhirnya.

Xu Tian mengingat nama itu.

Tidak istimewa. Tidak berkilau. Nama yang mudah tenggelam.

“Kau pernah diuji?” tanya Xu Tian.

Chen Yu mengangguk. Matanya tertuju ke tanah. “Tiga tahun lalu. Mereka bilang… saluranku bengkok. Qi tidak mengalir benar. Tidak bisa diperbaiki.”

Tangannya mengepal pelan. “Ayahku menjual satu-satunya ladang untuk biaya tes itu.”

Xu Tian menutup mata sejenak.

Ia bisa membayangkan kelanjutannya tanpa perlu diceritakan.

“Mereka bilang aku beban,” lanjut Chen Yu. “Kalau tetap tinggal, adik-adikku akan kelaparan.”

Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka. “Jadi aku pergi.”

Xu Tian membuka mata.

Ia melihat dirinya sendiri berdiri di hadapan para tetua, mendengar keputusan yang sama, dengan kata-kata berbeda.

“Kalau aku mati hari ini,” kata Chen Yu pelan, “tidak akan ada yang kehilangan.”

Angin sore bertiup melalui gang sempit. Bau darah dan sampah bercampur, berat di hidung.

Xu Tian berdiri.

“Bangun,” katanya.

Chen Yu menatapnya dengan bingung, namun mencoba berdiri. Kakinya lemas, hampir jatuh kembali. Xu Tian menahan lengannya, menopangnya sebentar sebelum melepaskan.

Sentuhan itu singkat.

Nyata.

“Kalau kau tetap di sini,” kata Xu Tian, “mereka akan kembali.”

Chen Yu menunduk. “Aku tahu.”

Xu Tian melirik ke ujung gang. Cahaya senja merayap turun, bayangan memanjang di tanah.

“Kalau kau ikut denganku,” lanjutnya, “aku tidak menjanjikan apa pun.”

Chen Yu mengangkat kepala. Matanya kosong, tapi di baliknya ada sisa keinginan yang nyaris padam.

“Ke mana?” tanyanya.

Xu Tian tidak menjawab dengan nama tempat.

“Menjauh,” katanya.

Chen Yu terdiam lama. Lalu ia mengangguk pelan.

“Baik.”

Xu Tian melangkah lebih dulu. Langkahnya tidak cepat. Tidak menoleh untuk memastikan.

Beberapa detik kemudian, langkah ringan terdengar di belakangnya.

Panel sistem bergetar samar di sudut pandangnya.

Masih tanpa suara.

Namun satu baris indikator berubah warna, menandai keberadaan yang baru.

Xu Tian terus berjalan.

Sore perlahan tenggelam, meninggalkan gang sempit itu dengan darah kering dan jejak kaki yang segera tertutup debu.

....

Langit telah menggelap ketika mereka meninggalkan batas kota.

Lampu-lampu minyak jarang, cahaya kuningnya tertinggal di belakang seperti sisa dunia yang tak ingin mereka bawa. Jalan tanah berubah menjadi jalur sempit, penuh batu tajam dan rumput liar. Setiap langkah Chen Yu tertatih. Darah di pelipisnya telah mengering, tapi napasnya masih berat.

Xu Tian berhenti di bawah sebatang pohon tua. Dedaunannya jarang, bayangannya tipis. Ia menunjuk tanah yang relatif datar.

“Duduk.”

Chen Yu menurut tanpa bertanya. Ia bersandar pada batang pohon, lututnya ditarik mendekat. Tangan kirinya gemetar saat menahan nyeri di sisi rusuk.

Xu Tian berjongkok. Ia meraih pergelangan tangan Chen Yu, jari-jarinya menekan titik-titik tertentu dengan kehati-hatian. Tidak ada kilau, tidak ada ledakan. Hanya tekanan yang tepat.

Chen Yu meringis. Rahangnya mengeras, tapi ia tidak bersuara.

Xu Tian merasakan ketidakteraturan yang jelas. Aliran di bawah kulit itu tidak mengikuti pola yang ia kenal. Ada bagian yang menyempit, ada yang bercabang aneh, seperti sungai yang dipaksa berbelok oleh batu besar.

Ia melepaskan tangan Chen Yu.

“Berdiri,” katanya.

Chen Yu mencoba. Tubuhnya goyah. Ia menghela napas, memaksa kakinya menahan beban. Setelah beberapa detik, ia berdiri—tidak stabil, tapi tegak.

“Angkat tanganmu.”

Chen Yu mengangkat kedua tangan. Jarinya kaku.

“Turunkan.”

Ia menurunkan.

Xu Tian mengamati dengan tenang. Gerakannya terlambat setengah denyut. Setiap perubahan posisi membutuhkan usaha berlipat.

“Duduk lagi,” kata Xu Tian.

Chen Yu duduk. Bahunya jatuh, seperti beban lama kembali menekan.

“Kau tahu apa yang salah denganmu,” ujar Xu Tian.

Chen Yu tertawa pendek. “Semua orang tahu.”

Xu Tian mengambil batu kecil dari tanah. Ia melemparkannya pelan ke depan Chen Yu. Batu itu bergulir, berhenti di antara kaki mereka.

“Ambil.”

Chen Yu menatap batu itu, lalu mengambilnya. Tangannya sedikit gemetar.

“Lempar.”

Chen Yu melempar. Batu itu melayang pendek, jatuh tak jauh dari tempatnya semula.

Xu Tian tidak berkomentar.

Ia berdiri, melangkah beberapa langkah menjauh, lalu kembali. Setiap gerakannya efisien, tidak ada yang terbuang.

“Kau tidak cocok dengan cara umum,” katanya.

Chen Yu menunduk. “Aku tahu.”

Keheningan menggantung. Angin malam menyapu dedaunan kering, menggesek tanah dengan suara serak.

“Aku tidak punya sekte,” lanjut Xu Tian. “Tidak punya tempat. Tidak punya jaminan.”

Chen Yu mengangguk. “Aku tidak berharap.”

“Kalau kau ikut,” kata Xu Tian, “kau akan jadi beban.”

Chen Yu mengangkat kepala. Matanya kosong, tapi tidak terkejut. “Aku sudah terbiasa.”

Xu Tian menatapnya lama. Tatapan itu tidak hangat, tidak menghibur.

“Dan aku tidak akan memanjakanmu.”

“Tidak perlu,” jawab Chen Yu cepat. “Aku hanya… tidak ingin ditinggalkan di jalan.”

Xu Tian berbalik, memandang ke kegelapan di luar jangkauan cahaya bulan. Tanah kosong terbentang, sunyi, tak bertuan. Tidak ada tanda perlindungan. Tidak ada jejak orang lain.

Panel sistem menyala redup di sudut pandangnya.

Baris baru muncul.

Status: Entitas Terobservasi

Kondisi: Tidak Sesuai Jalur Standar

Evaluasi: —

Tanda hubung itu bertahan lebih lama dari biasanya.

Xu Tian mengerutkan kening.

Baris berikutnya menyusul, tanpa suara.

Potensi Non-Konvensional: Terdeteksi

Kriteria Tradisional: Tidak Berlaku

Chen Yu memperhatikan perubahan di wajah Xu Tian. “Ada… apa?”

Xu Tian tidak menjawab. Matanya mengikuti perubahan indikator yang perlahan menata ulang.

Syarat Misi:

— Murid Pertama: Belum Terpenuhi —

Garis itu bergetar, lalu berubah warna.

— Kandidat: Teridentifikasi —

Nama muncul.

Chen Yu

Chen Yu terdiam. Ia melihat ke sekeliling, lalu kembali menatap Xu Tian. “Itu… aku?”

Xu Tian menutup panel dengan satu gerakan. Cahaya redup itu menghilang.

“Kau tidak perlu tahu,” katanya.

Chen Yu menelan ludah. “Aku tidak mengerti.”

“Tidak perlu mengerti sekarang.”

Xu Tian mengambil tas kecilnya, mengeluarkan sepotong roti kering. Ia mematahkannya menjadi dua, menyerahkan separuh pada Chen Yu.

“Makan,” katanya.

Chen Yu menerima dengan tangan bergetar. Ia menggigit perlahan, seolah takut roti itu akan menghilang jika dimakan terlalu cepat.

Setelah beberapa suapan, ia berhenti. “Kenapa aku?”

Xu Tian duduk di seberangnya. “Karena kau masih berdiri.”

Chen Yu terdiam.

“Aku tidak mencari yang terbaik,” lanjut Xu Tian. “Aku mencari yang tidak berhenti.”

Angin menguat sesaat. Ranting kering jatuh, menghantam tanah dengan bunyi patah.

Chen Yu menatap roti di tangannya. “Kalau aku gagal?”

Xu Tian menjawab tanpa ragu. “Kau akan tetap gagal, ke mana pun kau pergi.”

Chen Yu mengangkat kepala. Di matanya ada sesuatu yang berbeda—bukan harapan, bukan keyakinan. Hanya penerimaan yang keras.

“Baik,” katanya.

Xu Tian berdiri. “Besok kita bergerak.”

“Ke mana?”

Xu Tian memandang ke tanah kosong di hadapan mereka. “Mencari tempat yang tidak mengusir kita.”

Chen Yu tersenyum tipis. Senyum itu cepat menghilang, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar.

Malam semakin dalam. Xu Tian duduk bersila, punggungnya lurus. Chen Yu berbaring tidak jauh, tertidur dengan napas berat.

Panel sistem menyala sekali lagi, sangat singkat.

Peringatan:

— Murid Pertama dalam Kondisi Risiko Tinggi —

— Kegagalan Berantai: Kemungkinan —

Xu Tian membuka mata.

Ia menatap Chen Yu, lalu tanah kosong, lalu kegelapan di kejauhan.

“Kalau dunia membuangmu,” gumamnya pelan, “maka kita berdiri di luar dunia.”

Panel itu meredup.

Malam berlalu tanpa mimpi.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!