Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang tersembunyi
“TASYA!!!” pekik Ivone begitu suara Dimas terdengar meninggi di balik panggilan video.
Wajah Tasya dan Nina yang berdiri di sisi Dimas seketika kehilangan rona. Tatapan Ivone di layar mengeras, rahangnya mengatup kaku—pertanda badai sedang dikumpulkan.
Bibir Tasya bergerak tanpa suara, komat-kamit sambil melirik tajam ke arah Dimas. Ada amarah, ada panik, dan ada rasa tak percaya karena pria itu berani berbicara dengan nada setinggi itu kepada ibunya.
“Maaf, Tante.”
Dimas bergerak cepat. Ia menarik ponsel dari tangan Nina, suaranya turun—tenang, terukur. “Perkenalkan, saya Dimas. Partner yang ditugaskan Pak Sasongko untuk menyelesaikan skripsi.”
Dengan satu tangan memegang ponsel, tangan lainnya membuka laptop yang masih tergeletak di sampingnya. Layar menampilkan data penelitian—grafik, catatan lapangan, dan draf Bab I yang hampir rampung.
“Oh… jadi kamu,” suara Ivone meninggi, dingin tanpa basa-basi. “Anak yang selama ini bikin onar dan memperlambat skripsi anak saya.”
Dimas terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, ekspresinya menggelap—bukan marah, lebih seperti menahan sesuatu yang tak ingin ia lepaskan. Lalu, perlahan, ia membuka folder lain.
“Tenang, Tante,” ucapnya datar namun mantap. “Materi sampai Bab Tiga sudah saya siapkan. Kalau mau, kita bisa ikut seminar lebih awal.”
Ia menyunggingkan senyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum profesional yang penuh perhitungan.
Untuk pertama kalinya, Ivone kehilangan kata. Tatapannya di layar berubah—bukan melunak, tapi goyah. Selama ini ia selalu merasa tahu segalanya tentang Tasya, bahkan menugaskan orang untuk mengawasi setiap geraknya di Jakarta. Namun pria di hadapannya kini berdiri sebagai variabel yang tak ia perhitungkan.
Tanpa ucapan perpisahan, panggilan video itu terputus.
Dimas mengembalikan ponsel ke tangan Tasya, sikapnya kembali dingin.
“Lo gila!” Tasya menarik ponsel itu kasar. Suaranya bergetar—antara marah dan cemas.
“Harusnya lo berterima kasih,” balas Dimas singkat. Ia menutup laptop, lalu melangkah masuk untuk merapikan barang-barangnya.
“DIM—!”
Teriakan Tasya terhenti. Tangan Nina lebih dulu menutup mulutnya.
“Sya… please,” bisik Nina di telinganya, menahan Tasya agar amarahnya tak meledak lagi. Namun sorot mata Tasya masih menyala, belum sepenuhnya reda.
Dimas keluar dengan tas di pundaknya. Tanpa menoleh, ia melangkah menuju rumah kepala desa untuk berpamitan. Tasya dan Nina mengikuti di belakang, langkah mereka berat, sunyi.
Sesampainya di lapangan, Dimas berhenti di depan mobil.
“Biar gue yang nyetir,” katanya dingin, sambil menarik kunci dari tangan Tasya.
Tasya tak membantah. Ia menyerahkan kunci itu, lalu duduk di kursi samping tanpa sepatah kata pun.
Perjalanan menuju Jakarta berlangsung dalam diam. Jalanan panjang terasa lebih panjang. Nina beberapa kali mencoba membuka percakapan, tapi udara di dalam mobil terlalu tegang untuk ditembus.
Tak satu pun dari mereka berbicara—seolah setiap kata hanya akan memperlebar jarak yang barusan tercipta.
BEEP!!
Suara pesan whatsaap terdengar dari ponsel Tasya, dari ujung layar terlihat nama Ivone dengan teks yang berderet seperti penulis novel yang sedang menuangkan kekesalannya.
“Mami nggak mau kamu terlalu dekat sama orang kampung kayak dia.”
“Ingat, Sya. Kita ini keluarga terpandang. Kamu harus jaga kehormatan dan lingkaran hidup kamu—jangan sampai jadi liar.”
Pesan-pesan itu jatuh seperti palu di dada Tasya. Ia berdecak pelan, lalu menyelipkan ponselnya ke dalam tas tanpa membaca sisa notifikasi yang terus bermunculan. Tangannya sedikit gemetar sebelum akhirnya mengeratkan resleting.
Dimas menangkap gerakan itu lewat sudut matanya. Ia tak bertanya—tekanan di wajah Tasya sudah cukup bicara. Dari spion, Nina menatapnya singkat, memberi isyarat halus agar ia tak memancing api.
“Di depan ada warung kopi langganan gue,” celetuk Dimas, nada suaranya dibuat ringan sambil menambah injakan gas.
“Gue mau sampai Jakarta lebih cepet,” balas Tasya dingin. Pandangannya lurus ke depan, menembus kaca yang mulai disaput rintik hujan.
Dimas menghela napas. “Gue ngantuk, Sya. Daripada celaka, mending berhenti bentar. Ngopi doang.”
Tak ada jawaban. Hanya gelengan kecil—setengah pasrah. Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di sebuah warung kopi sederhana di perbatasan kota.
Begitu Dimas turun, aroma kayu basah bercampur kopi menyeruak dari bangunan semi permanen itu.
“Kang Dimas!” sapa seorang perempuan muda berkebaya cokelat dengan samping senada.
“Anti,” balas Dimas sambil melambaikan tangan. Matanya sempat melirik ke mobil—Tasya masih duduk kaku di dalam, sementara Nina condong ke depan, membujuk tanpa suara.
“Wah, Kang Dimas makin ganteng aja,” goda Anti, centil, jemarinya mencubit ringan dagu Dimas.
“Ibuk ke mana, Ti?” tanya Dimas sambil menoleh ke dalam warung. Tak ada sosok perempuan tua yang biasanya sibuk meracik kopi.
Anti menunduk. Senyum yang tadi tergantung di bibirnya luruh begitu saja.
“Ti?” suara Dimas melunak, ada kehati-hatian di sana.
Pintu mobil terbanting cukup keras. Tasya akhirnya turun bersama Nina, wajahnya kusut, langkahnya tegang.
“Selamat datang di warung kami, Teh. Silakan pilih tempat,” ucap Anti cepat, berusaha mengembalikan ekspresi ramah saat melihat keduanya masuk.
Tasya mengangguk singkat, lalu mendekat ke Dimas. “Tiga puluh menit,” bisiknya tegas. “Habis itu kita jalan.”
Anti melirik Tasya sekilas—blazer rapi, kacamata hitam, aura dingin yang tak ramah. Ia hendak melangkah ke dapur, tapi Dimas lebih dulu menahan lengannya.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, Ti.”
Anti terdiam. Pandangannya bergeser ke arah kebun bambu di samping warung. Daun-daun bergesek pelan tertiup angin, seperti membisikkan sesuatu yang tak ingin diucapkan. Kelopak matanya berkilat, menahan air yang hampir jatuh.
Dan di sana, tanpa sepatah kata pun, Dimas mengerti—ada sesuatu yang sudah tak sama lagi di tempat ini.
“Gue mau ke sana sebentar,” kata Dimas singkat sambil menunjuk deretan bambu di seberang warung. Tangannya sudah lebih dulu menarik pergelangan Anti. “Lo berdua tunggu di sini.”
Kalimat itu seperti percikan api.
“Oh,” Tasya terkekeh tanpa tawa. “Jadi ini maksudnya? Maksa berhenti biar bisa enak-enakan sama dia?”
Nada suaranya meninggi. Otot di lehernya menegang, rahangnya mengeras.
Dimas berhenti melangkah. Tangannya mengepal sebelum akhirnya ia berbalik.
“Jaga mulut lo, Sya.”
“Ngopi, katanya,” Tasya mendengus, dagunya terangkat, jarinya menunjuk Anti. “Ternyata—”
“Gue mau ziarah.”
Suara Dimas jatuh berat, memotong kalimat Tasya. Dadanya naik-turun cepat.
“Ke makam Bu Asna.” Tatapannya tajam, nyaris membakar. “Dan jangan pernah lo samain semua perempuan yang kenal sama gue sama hal-hal murahan di kepala lo.”
Hening.
Kata-kata itu mendarat tepat sasaran. Tasya terdiam, bibirnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar.
Anti menunduk, lalu meraih lengan Dimas, mengalungkannya erat seolah menjadi jangkar. Perlahan, ia menarik Dimas menjauh dari hadapan Tasya dan Nina, meninggalkan udara yang masih bergetar oleh amarah.
“Sya,” suara Nina nyaris berbisik. Tangannya menyelusup, menggenggam jemari Tasya yang dingin. “Gue tahu lo lagi penuh.”
Tasya tak menjawab. Bahunya bergetar. Air mata jatuh satu, lalu menyusul yang lain. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, napasnya terputus-putus.
Nina langsung memeluknya, menahan tubuh Tasya yang seolah kehilangan penyangga.
“Gue capek, Na,” suara Tasya pecah di sela isak. “Kenapa hidup gue harus sesempit ini sih?”
Nina mengendurkan pelukannya, lalu menurunkan tangan Tasya perlahan. Jarinya mengusap pipi yang basah, mengangkat dagu Tasya supaya menatapnya.
“Gue masih di sini,” katanya lembut, disertai senyum kecil yang dipaksakan. “Dan gue ngerti. Tapi jangan sampai amarah lo malah nyeret orang lain.”
Ia menyelipkan rambut Tasya ke belakang telinga.
“Terutama Dimas.”
Nina melirik ke kejauhan. “Tapi… jujur aja,” bisiknya sambil menunjuk samar ke arah Dimas yang kini berjalan berdampingan dengan Anti, “lo cemburu nggak?”
Wajah Tasya memanas seketika. Pandangannya cepat berpaling, tapi warna merah di pipinya keburu mengkhianati perasaannya.