Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13.
"Apa?" balas ku dingin. Karena aku sudah sangat muak dan sudah tidak ingin melihat wajah teman teman satu geng ku.
"Ayok ikut ..., Kita semua mau shopping nih!" titah Aurora penuh harap dan di sebelah nya ada Reva, Qiandra, Tiara dan Yuwen.
"Gak, gue mohon sama kalian plis jangan ganggu gue lagi" ucap ku sembari meninggalkan ke empat teman ku yang malah terlihat mematung.
Sudah 3 bulan hubungan persahabatan ku dengan mereka itu renggang. Bukan mereka sih yang menjauh. Lebih tepat nya aku yang menjauh dan menghindar dari teman teman ku.
"Cherly gue mohon maafin kita ya, kita semua cuman mau nunjukin sebuah rasa yang nikmat yang biasanya di sebut dengan surga dunia," ucap Yuwen dengan tatapan memohon bahkan matanya terlihat berkaca kaca, ia nampak memegang tangan ku untuk mencegah langkah ku yang berjalan menjauh dari mereka.
Jujur, orang yang paling aku benci dan ingin aku hindari sekarang ini adalah Yuwen. Dia adalah dalang yang mempengaruhi semua anggota geng untuk melakukan dosa besar yang di larang di agama manapun. Yaitu pembuktian cinta dengan melakukan hubungan suami istri. Ntah apa yang sebenar nya ada di otak kecil Yuwen.
Kenapa dia punya pikiran untuk membuat kami semua melakukan hubungan terlarang yang hal itu sungguh membuat kami rugi, karena kami semua sudah rusak dan tidak bersegel lagi.
"Iya tapi lo yang membuat hidup gue itu hancur, Wen. Elo tau karena elo gue kehilangan Liam hiks hiks hiks," kata ku dengan air mata yang menetes di ke dua pipiku.
Air mata untuk kematian Liam. Dan air mata karena merutuki ke b*dohan ku sendiri. Bukankah sebagai seorang perempuan? Aku harus menjaga kesucian ku, menjaga segel ku yang selama ini juga di jaga oleh ke dua orang tua kum
"Tapi bukanya lo yang dari dulu ingin putus dengan Liam!" celetuk Qiandra sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
karena aku akui, dulu ber kali kali aku memang curhat. Jika aku ingin sekali putus dengan Liam kepada semua anggota geng ku itu.
"Gue akui emang dari dulu, gue eneg dan bosan dengan Liam. Dia gue sakitin tetep aja sabar dan malah menjaga gue. Tapi caranya bukan harus menghancur kan harga diri gue. Dengan memberikan kesucian gue kepada Aron." kilah ku dengan nada marah.
"Kalian semua tidak akan tahu. Dalam tradisi keluarga gue kesucian sangat lah berharga. B*doh nya gue yang mau tertipu dengan mulut manis Yuwen. Kalian tahu. Dia itu membohongi kita semua. Dia itu di ruda p4ksa oleh pacar nya Joseph. Apa kalian tahu Joseph lah yang mengambil kesucian Yuwen. Dan dia dengan otak yang sangat jahat membujuk, memperdaya otak kita dengan kenikmatan surgawi dan menipu kita agar kita seperti dia. Kehilangan kesucian kita," jelas ku dengan mata berkaca kaca karena baru aku tahu pentingnya soal kesucian. Emang di sekolah dan di lingkungan rumah. Para orang dewasa tidak pernah meng edukasi masalah seks.
Mata ku memicing melihat ke arah Yuwen yang terlihat mematung, mungkin dia seperti itu karena terkejut dengan perkataan ku barusan.
Tentang aku tahu dari mana, jika Joseph telah melakukan hal yang sangat buruk padanya.
Tiba tiba Reva mencengkram pergelangan tangan ku.
"Cherly lo itu kenapa sih? Kenapa malah nyalahin sesuatu hal yang memang sudah berlalu. Yuwen sahabat kita semua sejak SMP. Tidak mungkin dia punya niat jahat untuk menghancur lkan kita. Dia cuman berbagi pengalaman tentang surga dunia. Dan waktu itu kan emang lo ngebet banget ingin putus dengan Liam dan ingin sekali mendapat kan hati Aron, bukankah saat itu Aron emang sangat kecewa berat sama lo? Karena lo itu nerima perjodohan yang di lakukan oleh keluarga lo. Kenapa sekarang elo malah nyalahin kita semua sih. Elo harus nya Beruntung kita selalu ada buat lo dan membantu apa pun yang lo minta," jelas Reva dengan suara kesal, bahkan dia juga memberikan tatapan tajam pada ku.
"Itu dulu, tapi sekarang gue menyesal. Ternyata rasa suka gue ke Aron. Cuman rasa kagum dan sayang biasa karena dari kecil emang kita selalu bersama. Apalagi Aron yang memang selama ini selalu ada buat gue. Tapi kalian malah merusak hidup gue. Menghilangkan kesucian yang gue punyai, sampai rasa nya sekarang ini, gue ingin menghilang saja dari dunia ini," ucap ku, lalu setelah selesai mengatakannya aku berlari meninggalkan teman teman ku.
Sungguh aku tidaklah percaya dengan apa yang mereka ucapkan. Kenapa mereka semua menganggap remeh tentang sebuah kata kesucian alias segel yang di miliki setiap perempuan.
Di sekolahku sekarang ini memang sudah sangat sepi, karena sudah lebih dari satu jam yang lalu bel sekolah berbunyi.
Aku berjalan gontai menuju ke parkiran. Di mana sudah ada supir ku yang menungguku di sana.
Aku sudah di sambut supir ku dengan membuka kan pintu mobil untuk ku.
Supir pun mulai melajukan mobil mewah merek luar negeri Porsche warna hitam metalik.
Di bangku belakang, sekarang ini aku masih menangis sesenggukan meratapi kebodohan ku.
Dan setelah sadar dan otak ku itu bisa aku buat untuk berpikir jernih, aku sungguh merasa menyesal. Kenapa tadi malah menyalahkan teman teman ku?
Harusnya sebelum aku berbicara, aku berpikir dulu. Mungkin sekarang ini teman teman ku semakin marah pada ku, ya Tuhan.
Aku yang memang sudah lapar seketika mata ku berbinar. Saat melewati restoran seafood favorit Liam.
"Pak kita putar arah. Aku mau ke restoran seafood Kasih," ucap ku dengan nada dingin ke arah supir ku.
Hatiku berdenyut nyeri, jika teringat aku sering menyakiti Liam dengan kata kata yang kasar.
Akhirnya mobil yang di kemudikan sopir ku pun sampai di restoran yang aku maksud.
Sungguh sekarang ini wajah tampan Liam terus menerus berputar di dalam otak ku. Memang kalau sudah kehilangan, baru terasa.
Supir pun membuka kan pintu mobil untuk ku, setelah mobil sudah terparkir sempurna.
Karena berjalan sembari melamun, tanpa sadar aku menabrak perempuan memakai segaram sekolah dengan kekasihnya yang sedang bergandengan tangan.
Mata ku membulat sempurna saat melihat laki laki yang sedang bersama perempuan itu.
"Liam," panggil ku, mulutku nampak terbuka lebar, sungguh apakah ini kenyataan atau mimpi. Karena sekarang ini aku tidak percaya, jika Liam masih hidup dan berada di depan ku.
Bahkan perempuan yang bersama Liam pun terlihat bingung.
** Kembali ke POV author **
Liam pun membukakan pintu mobilnya untuk Naura.
Lalu ke duanya berjalan bersama, Liam begitu erat memegang pergelangan tangan Naura.
Sebenarnya Naura merasa risih, dia tidak terbiasa untuk bersentuhan fisik dengan seorang lawan jenis.
Namun, mengingat jika sekarang ini sudah menikah dengan Liam. Akhirnya dirinya pun benar benar tidak ada pilihan lain.
Saat berjalan bersama Naura tidak sadar menabrak punggung seorang gadis yang seumuran dengannya.
"Liam," panggil gadis yang baru saja Naura tabrak dengan mata yang berkaca kaca saat melihat ke arah Liam, suaminya.