"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah dari penantian
Satu bulan berlalu sejak Jacob mengkhianati janji sucinya pada Yasmin, dengan seorang wanita bernama Mutiara.
"Jacob tidak membalas pesanku lagi, sepertinya dia masih marah." Lirih Yasmin dengan nada kecewa.
Seakan ingin balas dendam akan penolakan Jacob akan ajakannya untuk bercinta di hari aniversary pernikahan mereka dengan alasan lelah. Hingga saat ini Yasmin selalu menghindar setiap kali Jacob mendekat dan meminta haknya sebagai seorang suami.
Yasmin selalu berhasil menemukan alasan. Kadang dengan alasan lelah, kadang ada pasien yang butuh perhatian. Tapi yang paling parah adalah, aroma tubuh Jacob yang dulu selalu menjadi candunya, dan sekarang malah membuatnya merasa mual.
Hal itu menjadi penyebab pertengkaran kecil yang selalu mewarnai pernikahan mereka. Dan puncaknya adalah hari ini, sejak bangun tidur tadi pagi, Jacob tidak berkata sepatah katapun terhadap Yasmin. Entah ke mana perginya semua kata-kata cinta yang biasanya selalu mewarnai hari-hari Yasmin dan Jacob.
Sebagai seorang dokter kandungan, Yasmin tentu menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya, tanda-tanda tersebut juga sering Yasmin temukan dari beberapa pasien yang berkonsultasi kepadanya. Tapi Yasmin tidak berani berharap terlalu tinggi. Selama 13 tahun lamanya, Yasmin selalu mengharapkan keajaiban ini terjadi padanya, Yasmin tidak mau kecewa lagi.
"Aku tidak boleh seperti ini terus, kalau tidak aku akan mati karena penasaran." Yasmin tidak bisa membiarkan dirinya terus terjebak dalam rasa gelisah.
Saat waktu senggang tiba dan tidak ada seorangpun di ruang praktek tersebut selain dirinya. Yasmin memberanikan diri untuk membuka kotak tespack yang biasa ia gunakan pada pasiennya, tangan Yasmin gemetar saat mengambil tabung urine dan alat tesnya. Langkah dokter cantik itu melesat cepat menuju kamar mandi, tak sabar untuk segera mencoba alat tes kehamilan tersebut.
"Kenapa hasil tesnya lama sekali?" tanya Yasmin tidak sabaran.
Jantung Yasmin berdebar semakin kencang saat menunggu hasil tesnya. Detik demi detik terasa seperti abad bagi wanita cantik itu. Senyum Yasmin mengembang ketika tespack dalam genggamannya menunjukan dua garis biru yang jelas dan tebal.
"Akhirnya aku berhasil hamil." Seru Yasmin dengan netra berkaca-kaca. Semua upaya, semua doa, semua kecewa selama 13 tahun, kini terbayarkan.
"Ini kabar spesial, harus dikatakan pada hari spesial juga."
Yasmin memegang alat tes itu erat, seperti memegang rahasia yang tidak boleh bocor. Ia tidak akan memberitahu siapapun tentang kabar kehamilannya. Tidak sampai waktunya tiba. Bahkan pada Jacob meskipun dia adalah ayah dari janin di dalam rahimnya.
Yasmin membungkus tespack tersebut dengan selembar sapu tangan, menyimpannya di tas yang selalu ia bawa. Kemudian, ia melihat kalender di atas meja kerjanya.
"Lima hari lagi adalah hari ulang tahun Jacob. Di hari itulah aku akan memberitahukan kabar kehamilanku pada seluruh dunia." Gumam Yasmin dengan wajah berbinar.
"Tapi apakah Jacob akan senang?" Yasmin menghela napas panjang. Ada keraguan yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Jam istirahat Yasmin sudah habis setengahnya, dokter cantik itu berjalan menuju lemari, menyusun dokumen pasien dengan tangan yang sedikit bergetar. Rasa mual seperti ibu hamil muda pada umumnya mulai Yasmin rasakan, tapi Yasmin tidak merasa terganggu sedikitpun. Sebaliknya, Yasmin malah begitu menikmati rasa mualnya. Rasa mual itu adalah bukti bahwa janin di dalam rahimnya sedang bertumbuh. Sebuah harapan baru di tengah kehampaan yang menyelimuti pernikahannya.
"Dokter Yasmin, makan siang Anda sudah datang," panggil perawatnya dari luar.
"Simpan saja di atas meja, nanti akan aku makan. Sekarang, panggil pasien selanjutnya." ucap Yasmin penuh semangat.
Wajah Yasmin berbinar, di dalam hatinya ia mulai membayangkan bagaimana wajah sang anak saat lahir nanti.
"Kira-kira kamu akan mirip dengan siapa ya? Mama atau Papa?" Yasmin mengelus perutnya yang masih rata.
Bersambung...