NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas yang Menyakitkan

Dua minggu berlalu.

Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Raka. Hari-harinya berjalan monoton seperti mesin yang bergerak tanpa jiwa, tanpa perasaan, hanya mengikuti rutinitas yang sama setiap hari.

Pagi, ia bangun di apartemen yang sepi. Mandi. Berpakaian. Berangkat kerja.

Siang hingga sore, ia duduk di meja kantornya, menyelesaikan tumpukan dokumen dan tugas manajerial yang terus berdatangan. Tidak ada istirahat. Tidak ada makan siang. Tidak ada obrolan ringan dengan rekan kerja seperti dulu.

Sore hingga malam, ia ke rumah sakit. Duduk di samping Nadira yang masih terbaring koma. Berbicara padanya meski tidak ada jawaban. Memegang tangannya yang dingin. Berharap ada perubahan sekecil apapun.

Lalu tengah malam, ia pulang ke apartemen. Berbaring di kasur dengan mata terbuka, menatap langit-langit, tidak bisa tidur. Pikiran terus berputar tentang Nadira, tentang anaknya, tentang semua kesalahan yang ia lakukan.

Dan pagi harinya, rutinitas itu berulang lagi.

Seperti mesin. Tanpa henti. Tanpa istirahat.

Raka kurus. Wajahnya semakin pucat. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin gelap. Tubuhnya lemah, hampir tidak pernah makan dengan benar. Tapi ia tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanya tiga hal: Nadira, kerja, dan uang.

Uang untuk biaya pengobatan Nadira.

Uang yang terus habis setiap hari untuk perawatan ICU, obat-obatan, pemeriksaan medis.

Uang yang harus ia kumpulkan sebanyak-banyaknya, karena ia tidak tahu berapa lama lagi Nadira akan berada di sana.

Dan setelah Nadira sembuh nanti, karena ia yakin Nadira akan sembuh... ia akan memanjakan wanita itu. Ia akan memberikan segalanya. Apapun yang Nadira inginkan, ia akan penuhi. Ia janji.

Itulah yang membuat Raka terus bekerja... harapan itu.

---

Di kantor, Raka menjadi sosok yang berbeda. Rekan-rekannya sering meliriknya dengan tatapan bingung dan khawatir. Raka yang dulu ceria, suka bercanda, selalu ikut makan siang bersama, sekarang berubah menjadi sosok yang pendiam, dingin, dan terus bekerja tanpa henti.

"Raka nggak makan siang lagi?" tanya Doni pada Andi sambil melirik ke arah meja Raka.

Andi menggeleng. "Udah dua minggu ini dia nggak pernah ikut. Dia selalu bilang sibuk. Gue khawatir, bro. Dia kelihatan nggak sehat."

"Iya. Kurus banget. Pucat lagi. Kayak orang sakit."

Mereka menatap Raka yang duduk kaku di mejanya, mata fokus pada layar komputer, jari-jari mengetik cepat.

Tidak ada istirahat.

Tidak ada senyuman.

Hanya kerja, kerja, dan kerja.

Sinta sering mencoba mendekati Raka, mengajak makan siang, mengajak ngobrol, bahkan hanya sekedar bertanya kabar. Tapi Raka selalu menolak dengan lembut tapi tegas.

"Maaf, Sin. Aku sibuk."

"Maaf, aku nggak bisa."

"Lain kali saja ya."

Jawaban yang sama. Terus-menerus.

Sinta mulai frustrasi. Ia tidak mengerti kenapa Raka berubah drastis seperti ini. Ia ingin tahu. Ia ingin membantu. Tapi Raka seperti membangun tembok tinggi di sekitarnya, tidak membiarkan siapapun masuk.

Tapi hari ini berbeda.

Salah satu rekan kerja mereka, Dinaakan resign karena menikah. Sebagai ucapan perpisahan, Dina mengundang seluruh anggota divisi untuk makan bersama di sebuah restoran.

Raka, seperti biasa, tidak ingin hadir.

"Maaf, Dina. Aku ada urusan," ucap Raka saat Dina mengundangnya.

"Ayolah, Rak!" pinta Dina dengan nada memohon. "Ini terakhir kalinya kita semua kumpul bareng. Kamu harus datang!"

"Aku benar-benar tidak bisa.. "

"Raka, kumohon!" Dina hampir merajuk. "Kalau kamu nggak datang, nanti nggak rame. Kamu kan manajer kita. Kamu harus ada."

Raka menatap Dina dengan tatapan lelah. Ia ingin menolak. Ia ingin langsung ke rumah sakit setelah kerja selesai.

Tapi Dina terus memaksa. Rekan-rekan lainnya juga ikut membujuk.

"Iya, Rak. Ayo dong. Sebentar aja."

"Kamu jarang banget ikutan acara bareng kita."

"Masa nggak kasih waktu buat teman yang mau nikah?"

Akhirnya, dengan berat hati, Raka mengangguk. "Baik. Tapi aku nggak bisa lama."

Dina tersenyum lebar. "Makasih, Rak! Kamu yang terbaik!"

Sore hari, mereka berkumpul di parkiran kantor. Ada lima mobil,masing-masing membawa beberapa orang. Raka berjalan menuju mobilnya sendiri, berencana untuk pergi sendirian.

Tapi tiba-tiba pintu samping mobilnya terbuka, dan Sinta masuk dengan senyuman manis.

"Hai, Rak! Aku nebeng ya," ucap Sinta sambil memasang sabuk pengaman.

Raka mengerutkan dahi. "Sin, kamu..."

"Yang lain udah berangkat duluan. Aku nggak kebagian tempat. Jadi aku nebeng sama kamu aja." Sinta tersenyum polos... terlalu polos.

Raka menatap Sinta dengan tatapan datar. Ia tahu ini bukan kebetulan. Tapi ia terlalu lelah untuk berdebat.

"Baik," ucapnya singkat, lalu menyalakan mesin mobil dan keluar dari parkiran.

Perjalanan berlangsung dalam keheningan. Sinta sesekali melirik Raka, mencoba membuka pembicaraan, tapi Raka hanya merespons dengan jawaban singkat.

"Kamu baik-baik aja, Rak?"

"Iya."

"Kamu kelihatan capek."

"Aku baik-baik saja."

"Kamu mau cerita sesuatu?"

"Tidak."

Sinta menghela napas pelan. Ia tidak menyerah. Ia akan mencari cara untuk membuat Raka membuka diri.

Setelah menempuh perjalanan hampir 45 menit karena macet, mereka akhirnya sampai di restoran. Tempat yang cukup ramai dengan dekorasi hangat dan lampu-lampu kuning yang menenangkan. Rekan-rekan yang lain sudah duduk di meja panjang, berbincang riang sambil melihat menu.

Raka duduk di ujung meja, sedikit menjauh dari keramaian. Ia tidak pesan makanan, hanya minum air putih yang disediakan.

Sinta duduk di sampingnya, terus mencoba mengajak bicara, tapi Raka hanya merespons dengan singkat.

Dina berdiri, mengangkat gelas sebagai tanda ucapan terima kasih. "Guys, makasih ya udah datang! Ini berarti banget buat aku. Dan... ada satu hal lagi yang pengen aku sampaikan."

Semua orang menatap Dina dengan penasaran.

Dina tersenyum, lalu melirik Sinta sekilas. "Sebenarnya, acara ini nggak cuma buat perpisahan aku. Tapi juga... buat Sinta."

Raka mengerutkan dahi. Ia merasakan ada yang tidak beres.

Sinta tiba-tiba berdiri, wajahnya sedikit merah, malu tapi berani.

"Raka," panggilnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Raka menoleh, menatap Sinta dengan tatapan bingung.

"Aku... aku suka sama kamu," ucap Sinta, suaranya jelas meski gemetar. "Udah lama. Dari pertama kali kita kerja bareng. Aku suka cara kamu kerja. Aku suka cara kamu ketawa. Aku suka... semuanya tentang kamu."

Semua orang di meja terdiam, menatap dengan tatapan penasaran dan excited.

Raka membeku.

"Dan aku tahu... aku tahu kamu mungkin nggak pernah lihat aku lebih dari teman," lanjut Sinta, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi aku mau kamu tahu perasaan aku. Aku mau kamu tahu kalau aku... aku mencintaimu, Raka."

Keheningan.

Semua orang menunggu respons Raka.

Raka menatap Sinta dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada sesuatu di matanya.. bukan kebahagiaan, bukan terkejut senang. Hanya... kesedihan.

Ia berdiri perlahan.

"Maaf, Sin," ucapnya dengan suara pelan tapi tegas. "Aku tidak bisa menerima perasaanmu."

Sinta membelalak. "Ke-kenapa?"

"Karena aku sudah punya wanita yang sangat aku cintai."

Kata-kata itu keluar dengan jelas, tegas, penuh keyakinan.

Sinta menatap Raka dengan tatapan tidak percaya. "Si-siapa?"

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap Sinta dengan tatapan sedih.

"Maaf," ucapnya lagi. "Maafkan aku, Sin. Tapi aku mencintai dia. Sangat mencintainya. Dan aku tidak bisa, tidak akan mengkhianatinya lagi."

Lagi.

Kata itu terucap tanpa sengaja, tapi mengandung beban yang sangat berat.

Raka mengambil dompetnya, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja sebagai bagian pembayaran, lalu berbalik dan berjalan keluar dari restoran.

"Raka!" panggil Sinta, tapi Raka tidak berhenti.

Ia terus berjalan keluar dari restoran, masuk ke mobilnya, dan pergi.

Tujuannya jelas: rumah sakit.

Karena di sana, ada satu-satunya wanita yang ia cintai.

Wanita yang masih menunggunya, entah sadar atau tidak.

Raka sampai di rumah sakit dengan napas tersengal. Ia berlari melewati lorong, naik lift, dan berhenti di depan ruang ICU.

Ia menatap Nadira dari balik kaca, wanita yang terbaring lemah, tidak bergerak.

"Maaf aku terlambat, Dira," bisiknya dengan suara serak. "Tapi aku di sini sekarang. Aku di sini."

Ia masuk ke dalam ruang ICU saat waktu jenguk tiba, duduk di samping Nadira, menggenggam tangannya yang dingin.

"Aku baru saja menolak wanita lain," ucapnya pelan. "Karena aku hanya mencintaimu. Hanya kamu, Dira. Hanya kamu."

Tapi Nadira tetap diam.

Dan Raka tetap menunggu dengan harapan yang semakin tipis, tapi tetap ia pegang erat.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!