Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.
Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Mencekam
Dion berkata dengan tenang, “Anita memang ada benarnya.”
Mata Gerry langsung membelalak. Bukannya lega, ia justru merasa seperti sedang menunggu ajalnya mendekati.
Dion lanjut bicara, suaranya dibuat seolah-olah hanya menyatakan fakta, “Selene bahkan tidak pantas membawa sepatuku. Sampah seharusnya tetap di tempat sampah. Sementara aku dan Anita… dua orang gila, kombinasi yang sangat sempurna.”
Anita tidak bereaksi sedikit pun.
Bagaimana mungkin pria itu bisa seenaknya mengatakan hal seperti itu?
Meski putrinya jelas tersinggung, Gerry justru merasa lega dan buru-buru berkata, “Tuan Leach, Anda benar sekali. Jadi… soal Selene.....”
Suara Dion tiba-tiba turun beberapa derajat lebih dingin. “Orang-orangku akan tiba dalam waktu dua puluh menit. Suruh Nona Selene Lewis bersiap.”
Ia mengulang tanpa nada ragu, lebih tegas dari sebelumnya, “Dua puluh menit. Pastikan dia sudah siap.”
Gerry panik. “Tuan Leach...... tapi..... ”
Panggilan telepon langsung terputus.
Dion tidak sedang memberi ruang untuk tawar-menawar.
Selene menatap Suzanne dengan mata panik, nyaris menghentak keras lantai karena frustrasi. Namun Suzanne tetap diam.
Anita yang sejak tadi bermain ponsel hanya menoleh sambil tersenyum sinis. “Selamat. Selene akhirnya mencapai impiannya jadi calon ibu negara Kota F.”
Selene menggigit bibirnya. “Anita, aku bisa menikahkanmu dengan Dion, tapi aku sudah bertunangan dengan Joshua. Kalau aku pergi ke Dion sekarang… bukankah itu justru membuat Dion terlihat seperti perebut tunangan orang? Itu buruk untuk reputasinya, kan?”
Suzanne buru-buru menimpali, “Benar! Lagipula kau kan sudah bersama Dion tadi malam. Masa seorang pria berhubungan dengan dua saudara perempuan sekaligus? Itu sungguh gila!”
Anita mendongak sedikit. “Sejak kapan kalian yang berpikir waras berhak membahas reputasi orang gila?”
Lalu ia menatap Joshua. “Tuan Hodges, Selene mengajukan dirinya sendiri. Kalau Anda merasa sanggup mengambilnya dari keluarga Leach, silakan ambil saja ke arah mereka, bukan ke arah saya.”
Joshua menatap tajam, nadanya dingin, “Kalau kau tidak menekan Selene, dia tidak akan setuju.”
Karena tak berani menghadapi Dion, ia malah memilih menyalahkan Anita.
Wajah Gerry mengeras. Ia mengangkat suaranya, memerintah tajam pada Anita, “Katakan pada Dion bahwa kau sangat mencintainya. Bahwa kau tidak tega kalau Selene menggantikanmu. Katakan semua tadi hanya candaan!”
Itu satu-satunya jalan agar bisa dinegosiasikan ulang.
Ia tidak akan membiarkan Selene, putri kesayangannya, dinikahkan dengan pria gila itu dan dikirim menuju kematian.
Anita menatapnya dingin. “Aku bisa bilang begitu. Tapi hanya kalau kau menulis tiga pengakuan kotor tentang apa yang pernah kau lakukan padaku dan mengunggahnya. Kalau tidak, aku tidak akan menarik ucapanku.”
Suzanne dan Selene adalah manusia paling munafik yang pernah ditemuinya. Dulu saat Anita masih hidup sebagai Michelle Valen, ia mudah dibohongi. Kini tidak lagi. Topeng kemunafikan itu akan ia sobek satu per satu.
Gerry membentak, emosinya meledak, “Kalau kau menolak, angkat kaki dari rumah ini! Aku tidak mengakui punya anak sepertimu!”
Anita mengangkat bahu, santai. “Bagus. Karena aku pun tidak pernah menginginkan seorang ayah sepertimu.”
Saat hidup sebagai Michelle Valen dulu, ia adalah putri kesayangan. Ayahnya memperlakukan dia seperti permata.
Jika bukan karena terlahir kembali sebagai Anita, ia tidak akan tahu ada tipe ayah sekejam Gerry.
Karena pernah merasakan cinta ayah yang tulus, ia kini jijik dan meremehkan sosok seperti Gerry Lewis.
Ketika Anita membalikkan tubuh hendak naik ke lantai atas, Gerry kehilangan kendali. “Berani-beraninya kau menjerumuskan adikmu ke kematian? Hari ini kupastikan kau kapok! PEREMPUAN TAK BERHATI NURANI!”
Dengan kalap ia meraih kendi kaca di atas meja dan mengayunkannya keras ke arah belakang kepala Anita.
Namun Anita bahkan tanpa menoleh merasakan perubahan udara. Dalam sepersekian detik ia berbalik dan menendang tepat ke arah dada ayahnya dengan kekuatan penuh.
Gerry terhempas jauh…
BRUUKKK!
Kendi kaca di tangan Gerry terlepas dan jatuh menghantam lantai dengan suara pecahan yang keras.
Salah satu serpihan kaca terpantul dan menyayat betis Anita, meninggalkan luka yang langsung mengalirkan darah segar.
“Gerry!”
“Ayah!”
Suzanne dan Selene terkejut bukan main, mereka berdua spontan mundur lalu bergegas ke arah Gerry begitu sepenuhnya menyadari apa yang terjadi.
Anita menunduk, menatap darah yang menetes dari betisnya, lalu menyipitkan mata perlahan. Ada kilatan merah samar yang muncul di sorot matanya.
Suzanne bicara panik, seolah balik menyalahkan, “Anita, kalau kamu ada uneg-uneg, kamu tinggal bicara. Kenapa tega sekali sampai memukul ayahmu sendiri? Kamu ini benar-benar anak durhaka!”
Selene bahkan ikut histeris, “Anita, aku saja yang pergi! Jangan sakiti Ayah, kumohon! Jangan sakiti Ayah!”
Anita tetap diam. Ia hanya berjongkok tenang, memungut satu pecahan kaca tajam dari lantai lalu melangkah perlahan menuju Gerry.
Langkahnya berat, stabil, dan dingin.
Darah dari lukanya menetes dan membentuk jejak di sepanjang betisnya.
Tak ada aroma amis yang mencolok. Tapi aura Anita… seperti iblis yang baru keluar dari neraka.
Suasana membeku. Mereka semua refleks menggigil. Seolah kematian sedang berjalan ke arah mereka.
Anita kini sudah berdiri tepat di hadapan mereka tanpa emosi, tatapan mengunci pada Gerry.
Suzanne dan Selene panik, genggaman mereka pada Gerry terlepas. Gerry langsung jatuh ke lantai dengan bunyi keras.
Gerry pucat pasi. “A-Anita… kau mau apa? Aku ayahmu… AAAH!”
Sebelum ia menyelesaikan ucapannya , Anita langsung menempelkan pecahan kaca itu ke punggung tangannya, menekan hingga menyayat kulit.
Anita menunduk sedikit, menatap luka tipis di tangannya sendiri yang masih berdarah, lalu berkata datar, “Kau seharusnya bersyukur karena kau ayahnya Anita. Kalau bukan…”
Ia tidak melanjutkan perkataannya tapi jelas maksudnya: Gerry sudah mati sejak tadi.
Wajah Gerry memucat ekstrem. Tangannya bergetar keras. Rasa sakitnya luar biasa.
Tak ada satu pun dari yang lain yang berani bicara. Anita terlihat terlalu berbahaya.
Mereka yakin jika ada yang berani memotong ucapannya , mungkin akan ada mayat bergelimpangan saat itu juga.
Anita akhirnya mengangkat wajah dan menatap tajam ke arah Suzanne dan Selene. “Kalau kalian mau aku bilang semua tadi cuma candaan, lakukan seperti yang kuminta. Upload semuanya. Kalau tidak…” ia melirik ke arah luar, “tinggal tunggu Dion untuk menjemput Selene.”
Tanpa menoleh lagi, Anita naik ke lantai atas.
Tak seorang pun berani menghentikannya.
Begitu sosok Anita benar-benar menghilang, seisi ruangan serentak mengembuskan napas lega seperti baru selamat dari maut.
Mereka yakin, jika Anita satu detik lebih lama berdiri di situ, tulang mereka sudah hancur semua.
Selene gemetar. “Bu… apa aku benar-benar harus menikah dengan Dion yang gila itu? Aku nggak mau! Aku cuma cinta Joshua. Aku hanya akan menikah dengan Joshua!”
Keluarga Leach memang berkuasa, tapi Dion gila, menakutkan, tidak waras, dan bisa membunuh tanpa sadar.
Selene tidak sanggup hidup sebagai istri dari monster semacam itu.
Suzanne terdiam. “Kita bicarakan nanti… mungkin keluarga Leach cuma ingin menakut-nakuti kita…”
Kalau dulu, Anita pasti akan patuh dan pergi menikah.
Tapi Anita yang sekarang… benar-benar bukan sosok yang bisa mereka kendalikan lagi.
Mereka harus cari cara lain.
Namun tak sampai lebih dari dua puluh menit berlalu.
Gerry baru saja selesai membalut lukanya. Belum ada solusi, belum ada keputusan tapi sesaat suara mobil terdengar jelas dari luar.
Selene langsung berdiri gemetar.
Suzanne refleks hendak menenangkan dirinya tapi justru membeku kaku dan wajahnya pucat pasi ketika ia melihat apa — atau siapa — yang barusan tiba.
Wajah Gerry langsung memucat, bahkan tampak kesal dan shock melihat apa yang terjadi di luar rumah.
“Lihat itu...”
Mereka bertiga segera keluar.
Dari balkon lantai dua, Anita sudah berdiri sejak tadi dan tentu saja melihat lebih jelas dibanding mereka yang baru keluar pintu.
Sebuah iringan pemakaman memasuki halaman rumah. Penuh karangan bunga, dan mobil jenazah membawa peti kaca dingin seperti untuk persembahan mayat. Yang lebih mengerikan lagi adalah iringan itu justru diiringi musik upacara pernikahan, bukan musik duka.
Gerry dan yang lain ingin marah namun kaki mereka gemetar. Ini gila. Ini terlalu jauh.
Anita menunduk sedikit dan tersenyum kecil. “Dion memang tak pernah habis ide, dia penuh dengan kejutan.”
Dia sudah tahu sejak Dion setuju soal “penggantian”, maka situasinya tak akan sesederhana yang orang lain pikirkan.
Tapi ini? Inilah definisi balasan yang elegan sekaligus mengerikan.
Para pria yang datang mulai menurunkan peti es ke halaman, menyusun karangan bunga seolah-olah sedang menata altar kematian tetapi dengan penuh kegembiraan. Musik pernikahan terus mengalun seperti menyambut pengantin.
Gerry kehilangan kontrol, melangkah maju dan berteriak, “Hei!! Kalian siapa?! Apa yang kalian lakukan di sini?! Siapa yang menyuruh kalian masuk?! Kalian tau ini rumah siapa?!”
Namun sebelum amarahnya selesai, sebuah suara familiar memotong tajam:
“Tuan Lewis. Anda keberatan… dengan tindakan keluarga Leach?”
Gerry langsung menoleh dan wajahnya langsung berubah putih pasi saat mendapati Philip turun dari mobil paling belakang.
Seketika Gerry mengubah nada bicara. “T-Tuan Lee! Anda... datang menjemput Anita ya? Akan saya panggilkan segera!”
Philip Lee berjalan maju tapi yang menjadi arah pandangnya justru Selene.
Selene langsung bersembunyi di belakang Suzanne, tubuhnya gemetar, berharap keberadaannya tidak terlihat.
Gerry panik, menengadah ke balkon dan berteriak pada Anita, “Anita! Tuan Lee datang untuk menjemputmu! Turun sekarang! Jangan buat beliau menunggu!”
Anita hanya terkekeh pelan dari atas lalu akhirnya berbalik dan melangkah turun.
Philip masih tersenyum tipis. “Tuan Lewis… aku diperintahkan untuk menjemput Nona Selene.”
Selene langsung mencengkeram lengan Suzanne panik. “Mama… aku nggak mau… aku nggak mau pergi…”
Suzanne memberi sinyal halus agar diam.
Namun Gerry berusaha menyangkal sambil tersenyum kaku. “Tentu bukan Selene, Tuan Lee. Yang diminta Keluarga Leach kan Anita. Bukan Selene.”
Philip berhenti tersenyum aura langsung berubah dingin dan menakutkan.
“Gerry. Yang meminta ‘pertukaran’ itu kan Selene.” suaranya rendah, dingin. “Kalau dia yang minta, kenapa kami tidak boleh mengambilnya?”
Gerry sama sekali tidak siap. “T-Tidak , bukan begitu maksud sa......”
“Cukup,” Philip memotong tajam. “Reputasi tuan muda kami sangat buruk? Itu bukan urusanmu. Ini bukan giliran keluarga Lewis untuk bicara banyak.”
Tatapannya menajam ke arah Selene.
“Pilihannya sederhana. Hari ini Selene ikut kami. Atau besok, Lewis Group tiada.”
Philip berdiri dengan wibawa mengerikan meskipun ia hanya seorang kepala pelayan, semua orang tahu siapa sosok yang membelakanginya.
Keluarga Leach tidak sedang bercanda.
Tuan Leach yang tua sudah mendapatkan laporan penuh tentang bagaimana Anita (yang mereka pilih) diinjak oleh ibu tiri dan adik tirinya sendiri.
Dan hari ini… mereka tidak datang untuk menjemput Selene. Mereka datang untuk mempermalukannya.
Gerry mengusap keringat deras di dahinya, ia gemetar. “Tuan Lee… semua ini cuma candaan Anita. Dia memang tidak suka Tuan Dion. Tapi ini… tidak ada hubungannya dengan Selene…”
Philip memandang Gerry dengan sinis menahan amarah melihat sikap pilih kasihnya, lalu suaranya menjadi tegas, “Aku tak mau tahu ini cuma lelucon atau bukan. Selene sudah setuju. Dia harus masuk ke mobil sekarang. Bukan urusanmu untuk menolak.”
Gerry mencoba menangkis, “Tuan Lee, ini sebenarnya gara-gara Anita....”
Philip mengangkat tangan, memerintahkan langsung, “Bawa Nona Selene Lewis ke mobil.”
Empat pengawal yang ikut turun segera bergerak mendekati Selene begitu mereka mendapat perintah itu.
Selene ketakutan, menyelinap ke belakang Suzanne. Dengan suara gemetar ia memohon, “Ma, aku nggak mau pergi ke keluarga Leach. Aku nggak mau menikah dengan Dion yang gila itu.”
Philip, yang sejak lama mengenal Dion dan tumbuh bersamanya seperti melihat anak sendiri, mendengus marah mendengar kata-kata Selene. “Kalau memang tuan muda itu gila dan akan membunuhnya, lebih baik masukkan saja ke peti mati. Sekali jalan ke kremasi.”
Para pengawal tanpa banyak bicara mendorong Suzanne dan meraih Selene.
Ketakutan, Selene meraih lengan Joshua, “Joshua, tolong aku! Aku nggak mau dimasukkan ke dalam peti mati!”
Joshua membuka dirinya untuk melindungi Selene, menatap Philip penuh teguran. “Selene tunanganku. Hormati keluarga Hodges.”
Philip memandang Joshua dari atas ke bawah masih terlihat bekas luka dan memar akibat insiden anjing kemarin. Dengan nada menghina ia menjawab, “Sejak kapan keluarga Leach harus tunduk pada keluarga Hodges?”
Kemudian ia menyeru pengawalnya, “Pukul siapa pun yang menghalangi Selene masuk mobil hari ini.”
Dua pengawal langsung mencengkeram lengan Joshua dan memukul perutnya hingga ia menjerit. Selene meraung dan memohon, tapi pengawal lain menariknya ke arah peti mati.
Beberapa pengawal yang tersisa menahan dan memukuli Joshua sampai dia terjatuh, menjerit, dan tak sanggup melindungi tunangannya.
Gerry yang tak tega melihat anak perempuannya ada di ambang bahaya maju untuk menarik Selene dan menghentikan mereka, “Tuan Lee.....”
Sebelum ia sempat menyentuh Selene, seorang pengawal menendangnya, jelas memberi sinyal: siapa pun yang menghalangi akan dipukuli.
Suzanne ketakutan namun nekat maju, mencoba mencegah, “Tuan Lee, Selene punya tunangan, dan dia tidak cocok untuk Tuan Leach. Lagipula, bagaimana mungkin saudari merebut saudara ipar dari saudarinya sendiri?”
Philip menatap Suzanne, mengejek, “Kalau Nyonya Lewis tak ingin Selene pergi, bilang saja. Tak perlu pura-pura jadi ibu yang baik.”
Suzanne, mencoba menyelamatkan muka, malah mengklaim sedang ‘membantu’ Anita agar punya masa depan lebih baik sesuatu yang membuat Anita turun dari lantai atas dan mengejek sinis bahwa itu berkah untuk Selene.
Philip tampak puas dengan sikap Anita, karena ia bukan gadis yang mudah dikendalikan. Lalu ia memberi perintah terakhir tanpa ragu: “Masukkan Selene ke dalam peti mati.”
Selene diseret menuju peti mati. Ia memegang erat pinggirannya yang dingin dan menyakitkan, menolak untuk dilepaskan paksa.
Ia menjerit panik, “Anita, aku tidak mau menikah dengan Dion demi kamu! Dia gila, berumur pendek, dan menakutkan!”
Philip sudah tahu reputasi buruk Dion, tapi mendengar Selene mengucapkannya langsung di hadapannya jelas sangat keterlaluan.
Wajah Philip langsung mengeras. Dengan suara dingin ia memerintah, “Lempar dia masuk kedalam peti mati!”
Para pengawal kali ini lebih brutal. Mereka mencengkeram Selene, memaksa melepaskan tangannya, melemparkannya masuk ke dalam peti es, lalu menutupnya kembali.
Selene menjerit ketakutan sambil menahan tutup peti es dengan kedua tangannya agar tidak tertutup rapat. “Anita, tolong! Aku bersumpah akan lakukan apapun, asal jangan nikahkan aku dengan Dion!”
Kekuatan keluarga Leach sangat besar bahkan Joahua pun tak bisa berbuat apa-apa.
Selene benar-benar dipaksa masuk ke peti es seperti mayat.
Ia sudah ketakutan sampai hampir pingsan hanya ingin keluar dari sana secepat mungkin.
Anita menoleh pada Suzanne dan mencemooh, “Jadi kamu pilih Selene yang mati… atau aku yang mati, wahai ibu tiri berhati malaikat?”
Suzanne tampak panik menatap peti es yang hampir tertutup seluruhnya. Ia tahu keluarga Leach tidak pernah bercanda dalam ancaman. Tak ada yang bisa menantang mereka.
Tapi jika ia membatalkan ucapannya sekarang, reputasinya sebagai ibu tiri bijaksana yang ia bangun selama ini otomatis hancur.
Tepat sebelum tutup peti tertutup sepenuhnya, Suzanne menyerah, “Selamatkan Selene! Aku… aku akan menuruti maumu. Aku akan berkicau di twitan.”
Anita melirik ke arah Philip.
Philip hanya mengangkat tangan, memberi isyarat pada pengawal agar berhenti. “Tunggu sampai Selene benar-benar posting tweet-nya baru bebaskan dia.”
Anita menyuruh seseorang memberikan ponsel kepada Selene.
Dengan tubuh gemetar, Selene langsung meraih ponsel, membuka Twitter, dan mulai mengetik.
Ketakutannya pada peti es tempat mayat dibaringkan itu membuatnya sepenuhnya patuh.
Suzanne juga bersiap menulis , awalnya ia ingin menuliskan tiga hal remeh hanya untuk bersenang-senang.
Namun Anita menatap mereka dan memberi peringatan dingin, “Apa yang kalian tulis harus benar-benar memuaskanku. Jangan coba-coba nulis yang nggak penting.”
Suzanne mendongak, menatap Anita, mata gadis itu jernih seperti bintang namun tajam menusuk, seolah bisa membaca isi hati seseorang dengan mudah.
Anita bukan gadis polos yang mudah ditipu lagi.
Suzanne langsung menunduk dengan sorot bersalah. Ia sempat menulis tiga hal, lalu ragu menghapus semuanya dan menulis ulang.
Selene lebih dulu selesai. Ia menyerahkan ponselnya dengan takut-takut. “Sudah kuposting, Anita. Tolong segera bebaskan aku...”
Pengawal mengambil ponsel Selene dan menyerahkannya kepada Anita.
Isi tweet yang Selene posting:
Selene: Tiga dosa besar yang pernah kulakukan pada Anita:
Saat aku berumur 12 tahun, aku mencuri uang teman sekolah dan menyimpannya di tas Anita, membuat seluruh sekolah mengira dia pencuri.
Saat aku 16 tahun, aku membawanya ke bar, membuatnya mabuk, dan menyebarkan fotonya padahal dia tak kenal siapa pun di sana.
Di usia 18, akulah yang menukar surat cinta dan hadiah Anita untuk Joshua.
Tatapan Anita langsung berubah dingin saat membaca itu.
Ia memang mulai mendapat reputasi buruk sejak umur 12, sejak difitnah mencuri.
Di umur 16, foto skandal dirinya yang mabuk dan dikelilingi pria beredar luas, membuatnya dicap murahan, padahal faktanya tidak seperti itu.
Dan saat umur 18, surat cinta tulusnya kepada Joshua diganti menjadi kata-kata vulgar, dan hadiah kristal diganti menjadi kondom dan pil KB , membuat Joshua membencinya habis-habisan.
Ternyata semua itu… adalah ulah Selene.
Semua reputasi buruk Anita selama ini, ternyata didorong sampai ke titik terburuk oleh adik tirinya sendiri.
---
Bersambung....