Winny adalah seorang gadis preman yang pekerjaannya selalu berhubungan dengan nyawa. Malam itu dia berada di sirkuit balap mobil, ketika dia hendak sampai di garis finis tiba-tiba mobilnya mengeluarkan api di bagian mesin. suara ledakan terdengar begitu keras, cahaya putih tiba-tiba muncul dan membawa Winny pergi ke suatu tempat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.Di kejar preman
“Gimana ini, Winny?!” Jimmy panik sambil menoleh ke sekeliling.
Winny mengerutkan dahi, lalu berkata santai, “Ya kabur, lah. Ngapain kita bertahan? Masa mau dikeroyok mereka? Kalian tahu kan, muka kalian sudah enggak tampan, eh, dihajar pula. Mau jadi apa kita?” Tanpa menunggu jawaban, Winny melangkah cepat menuju motor yang terparkir di pinggir jalan.
“Motor siapa, ya, ini?” gumamnya sambil mengambil kuncinya yang masih menempel.
Jimmy dan Chen-li mengikuti langkah Winny, bingung tapi tak punya pilihan lain. Winny menghidupkan motor dengan mudah, senyum tipis merekah di bibirnya. “Pegang yang erat, ya!” seru Winny dengan suara lantang.
Jimmy dan Chen-li segera berpegangan erat. Jantung mereka berdetak kencang, tapi di balik kecemasan itu muncul secercah keberuntungan yang tak terduga.
“Wah, kita bener-bener beruntung banget, ya,” gumam Winny sambil melempar senyum penuh arti ke arah teman-temannya.
“Aaaaaa!!!” Jimin dan Chen-li berteriak keras, tangan mereka saling mencengkeram erat, seolah takut terlepas satu sama lain.
“Winny, pelan, dong! Mulutku sudah komat-kamit nggak jelas begini!” teriak Jimmy, suaranya hampir hilang tertiup angin kencang dari motor.
“Kalau nggak melaju kencang, kalian mau dihajar rame-rame sama preman selai strawberry itu?!” Winny membalas tanpa menurunkan kecepatannya sedikit pun.
Teriakan Jimmy semakin kacau. “Aduh, nanti nyawa kita malah nyangkut di tiang listrik, Win! Santai, santai...”
“Santai? Gila kamu, Jim! Santai nggak bakal selamat kita!” Winny membalas sambil memelintir gas motor lebih dalam.
Angin kencang membuat mulut Jimmy dan Chen-li benar-benar tak karuan, seperti hendak melepaskan kata-kata tapi cuma bunyi komat-kamit yang keluar.
“Cepetan deh, kita udah dikejar, nih!” teriak Winny lagi, matanya fokus menatap jalan ke depan.
Jimmy cuma bisa menelan ludah, berharap kecepatan ini bisa menyelamatkan mereka.
"Iya, nyawa kita bisa-bisa nyangkut di tiang listrik!" teriak Chen-li dengan suara menggema, gemuruh yang seolah menembus udara malam yang tegang. Tangannya mencengkeram erat Winny seolah takut jika dalam sekejap dia terlepas dan jatuh terperosok ke jurang maut di bawah sana. Jantungnya berdegup seolah hendak meledak, napasnya tersengal dalam kegelapan yang memeluk mereka tanpa ampun.
Di sisi lain, Jimmy memeluk Chen-li dengan genggaman kuat, wajahnya tegang penuh kecemasan. "Ya Tuhan... tolong selamatkan kami sampai tiba di tujuan. Aku tak mau nyawaku tiba-tiba melayang, direnggut setan jalanan ini yang tiba-tiba muncul dan menelan kami tanpa ampun." Suaranya serak, dihiasi takut yang mengakar dalam hati.
Chen-li menengadah, menatap tajam ke depan, seolah berperang melawan nasib. Pelukan semakin erat saat motor melesat di antara bayang-bayang preman yang mengintai, melaju dengan kecepatan yang menantang maut, meninggalkan bahaya dan rasa takut di belakang mereka, namun dengan harapan tipis agar semuanya bisa selamat.
"Aaaaaa!!!!" suara teriakan Jimmy dan Chen-li.
Di sebuah tempat Winny menghentikan motornya, dia menghela nafas sedikit dalam. sedangkan dua penumpang yang ada di belakangnya wajah mereka sudah pucat pasi dengan perut yang benar-benar mual luar biasa. Jimmy dan Chen-li turun dari motor setelah itu mual yang hebat mereka rasakan.
"Kamu benar-benar kurang ajar Winny, kamu memang ingin membunuh kami ya." ucap Jimmy.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Winny, dia hanya menunjukkan senyumnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Winny berdiri di pinggir sirkuit balap yang berderu dengan suara mesin-mesin beringas. Ia mengenakan pakaian balap berwarna merah menyala yang pas melekat di tubuhnya, helm hitam terselip di bawah lengannya. Napasnya teratur, wajahnya tampak tegas, namun ada kilatan kecemasan yang bersembunyi di balik sorot matanya.
Jimmy, yang berdiri tak jauh darinya, terus menatap Winny dengan penuh keraguan. "Kamu yakin mau melakukan ini, Winny?" tanyanya lagi, suaranya bergetar sedikit, seperti mencoba menahan kekhawatiran yang dalam.
Winny menghela napas panjang, lalu tanpa menoleh menjawab, "Ya, tentu saja yakin. Kalau nggak yakin, aku nggak akan ada di sini." Tangannya cekatan menarik resleting jaket balapnya sampai rapat, menandakan kesiapan yang tak bisa diganggu gugat.
Sirkuit itu mulai ramai, suara mesin-mesin lain semakin membahana, membuat jantung Winny berdegup kencang. Namun, di balik semua itu, dia menatap lurus ke lintasan, membayangkan garis finish yang harus dia taklukkan. Detik-detik menuju balapan tinggal hitungan, dan Winny berdiri penuh tekad, siap menantang segala risiko yang menanti di depan.
Jantung Jimmy dan Chen-li berdebar begitu kencang ketika mereka berdua melihat Winny melajukan mobilnya di sirkuit balap dengan kecepatan yang begitu luar biasa. ketika Winny yang akan sampai ke laju finish, tiba-tiba saja mesin mobilnya mengeluarkan asap, hal itu membuat para penonton nampak langsung berdiri begitu pula dengan Jimmy dan Chen-li.
Asap putih pekat mengepul dari kap mesin mobil Winny, membumbung tinggi dan menyebar cepat ke udara. Suara gemuruh mesin yang tadinya meraung penuh tenaga mendadak berubah menjadi dengungan lemah dan serak. Di tribun penonton, riuh rendah berubah menjadi hening sesaat, lalu bergemuruh dengan sorak cemas.
Jimmy menggenggam erat pegangan kursinya, wajahnya memucat, matanya terpaku pada mobil yang mulai melambat tanpa kendali. Chen-li, yang duduk di sampingnya, menahan napas, kedua tangannya meremas erat ujung bajunya hingga keriput. Di lintasan, Winny terlihat berusaha menahan kemudi, wajahnya tegang penuh konsentrasi, keringat membasahi dahinya. Namun, asap yang semakin tebal memaksa mobil itu perlahan berhenti sebelum garis finish, meninggalkan bayangan kemenangan yang menguap bersama asap itu.
Jantung Jimmy dan Chen-li berdegup seperti hendak meledak, campuran antara kekhawatiran dan ketakutan membekap dada mereka, sementara kerumunan penonton berdiri serentak, suara-suara panik dan bisik cemas memenuhi udara.
Winny duduk tegap di balik kemudi, tatapannya fokus meski kepulan asap putih membumbung dari kap mobil yang sudah mulai panas. Tanpa sedikit pun ragu, dia menekan pedal gas hingga ke lantai, menggeber mesin dengan suara meraung yang memecah keheningan. Namun, tiba-tiba dari asap itu muncul percikan api kecil yang berkelip-kelip seperti bintang liar di malam gelap. Seketika, suara ledakan dahsyat mengguncang udara, membuat tanah bergetar dan membuat semua penonton terhenti dalam keheningan sesaat, mata mereka melebar penuh ketakutan dan tak percaya.
Mobil itu meledak dengan kobaran api yang membumbung tinggi, cermin dan serpihan logam beterbangan menghiasi langit, sementara Winny terlempar ke depan, tubuhnya menahan getaran keras yang membuat jantung berdegup kencang. Namun, di balik kepulan asap dan api yang berkobar, ada keberanian membara dalam matanya, sebuah nyala jiwa yang tak pernah padam meski menghadapi maut.
Winny yang berada di dalam mobil meledak itu tentu saja dia tidak akan mungkin selamat, tak ada yang bisa dikatakan namun sebuah cahaya putih telah menarik jiwanya membawanya ke sebuah tempat yang tidak akan pernah dia pikirkan selama ini.
Di sebuah tempat seorang wanita hanya bisa meringkuk, tidak ada kata, mulutnya terdiam seribu bahasa dengan tangan yang telah terluka dan bibir berwarna putih.
"Sudah aku katakan bukan, jangan pernah berani menyentuh selir ku!" teriak seorang pria dengan amarah yang begitu luar biasa, tangannya masih memegang cambuk, tanpa ampun pria itu terus mencambuk si wanita hingga wanita itu memuntahkan darah dan kehilangan nyawa.
*Bersambung*
semangat berkaryaa