Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Masih Sempurna
...Selamat membaca semuanya.....
...---------...
...---------...
Dari kejauhan Boris hanya bisa menatap Rania sedang berbincang dengan Kim Do Woo sambil tertawa renyah. Dia kembali merasakan bahwa dirinya memang tidak pantas bersanding dengan wanita secantik dan sepintar Rania.
Daya tarik wanita itu bisa membuat pria lain merasa nyaman mengobrol dengannya. Tapi, dia juga harus selalu memantau disekelilingnya aman dari orang-orang yang mencurigakan.
Dia melihat Kim Do Woo bersalaman dengan Rania dan membungkukkan tubuh memberi salam hormat, berjalan pergi meninggalkan area itu. Boris mendekati Rania yang masih memandangi kepergian Do Woo.
"Dia seterkenal itu?" Rania mengangguk menatap Boris yang terlihat bermuka masam.
Rania menepuk-nepuk bahu Boris, "kita mendapat kerja sama dengan aset berlian Negara ini. Perlakukan dia dengan baik, Ris. Akan menguntungkan untuk Perusahaan Papah. Aku sudah gali karakter dari dia, dia sedikit berbahaya jika sedang tersinggung. Jadi, jangan sampai dari orang kita melakukan kesalahan." Boris tidak menyangka bahwa Rania tadi bukan hanya sekedar berbincang, tapi menggali karakter dari Kim Do Woo.
...ΩΩΩΩΩΩ...
"Pah... Pengen pulang. Papah sengaja ya memesan kamar hotel untukku dan Boris hanya satu." Rania sedang menelpon Frederik dan mengomeli Papahnya tersebut.
"Tapi Pah, Aku dan Boris belum menikah, masa sih harus tidur sekamar. Aku percaya dengan Boris, tapi Pah.. bisa-bisa Rania kehabisan darah kalau setiap hari harus tidur dengan dia. Rania tidak kuat.." Gelak tawa di seberang sana membuat Rania semakin kesal.
"Ihh.. Papah! Kami belum menikah! Sudahlah, mengadu dengan Papah yang ada aku justru disuruh untuk membuat anak kembar. Mati muda aku yang ada, sudah dulu Rania tutup teleponnya. I love you, Papah." Rania kesal dengan Papahnya tapi tetap saja ungkapan cinta anak ke Papahnya juga tidak ketinggalan.
Boris yang sedari tadi memejamkan mata di atas sofa menguping pembicaraan Rania yang sedang menelepon Frederick. Wajahnya berubah memerah dan itu membuat Rania sadar bahwa pria itu masih bangun.
"Aku tahu kamu belum tidur, Ris." Rania mendengus kesal, Boris perlahan membuka matanya dan duduk bersandar pada sofa ke arahnya.
"Terima kasih, Nona sudah percaya dengan saya." Rania tidak menjawab dan tiba-tiba mendekati Boris dan memposisikan dirinya duduk di paha pria itu. Tanganya dia kalungkan di leher Boris. Tentu Boris membulatkan matanya terkejut, dengan detak jantungnya yang kembali berpacu sangat cepat.
"No-nona, apa yang nona lakukan?" dengan suara gugupnya membuat Rania semakin merapatkan wajahnya pada leher Boris. Memeluk erat tubuh gagah pria itu.
"Aku percaya padamu."
Sepuluh menit posisi tidak berubah. Boris yang sekuat tenaga menahan untuk tidak bertindak lebih jauh, akhirnya mendengar napas Rania yang sudah berubah teratur.
"Non.." tidak ada respon, barulah dia tersadar wanita itu sudah terlelap di pelukannya. Perlahan Boris menggendong tubuh Rania dan memindahkannya di atas ranjang.
"Jawabanmu sangat berbeda saat menelpon Tuan Frederick dan bersikap denganku. Berpura-pura polos, padahal nakal sekali." Boris terkekeh saat mengingat obrolan Rania saat menelpon dengan sikapnya yang tidak terduga tadi. Dia mencolek pelan hidung bangir milik Rania.
"Dasar.." Pria tampan itu masih tersenyum dan menikmati kecantikan wajah Rania. Dia melihat air liur yang turun melalui sudut bibirnya. Semakin membuat Boris menahan tawanya. Dia meraih tisu di meja dekat ranjang, menghapus bekas air liur itu.
"Masih sempurna," gumamnya mengelus kepala Rania dengan lembut.
...Bersambung......
Terima kasih semuanya yang sudah mampir untuk sekedar membaca.. Jangan lupa like dan komen ya jika tidak keberatan.. Tunggu bab selanjutnya.. 😚🤭🤗