Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Menipu
Kabut pagi masih menggantung rendah ketika Gao Lian datang.
Lin Feiyan sedang duduk di beranda kecil kamarnya, memandangi halaman sekte yang perlahan terbangun. Udara dingin menusuk ringan ke kulit, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Ia memegang cangkir teh yang sudah dingin, jari-jarinya sedikit gemetar—entah karena udara pagi, atau karena sisa kegagalan yang belum benar-benar hilang dari dadanya.
Langkah kaki terdengar pelan di jalan batu.
Feiyan menoleh, sedikit terkejut saat melihat Gao Lian berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu mengenakan jubah sederhana berwarna pucat, rambutnya diikat longgar. Wajahnya tampak tenang seperti biasa, dengan senyum kecil yang selalu membuat orang merasa lebih aman dari seharusnya.
“Pagi,” ucap Gao Lian lembut.
Feiyan buru-buru berdiri. “P-pagi, Kakak Gao.”
Tatapan Gao Lian menyapu wajahnya sejenak. Ia tidak berkata apa-apa, namun Feiyan merasakan seolah setiap kelelahan, setiap retakan kecil dalam dirinya terlihat jelas oleh wanita itu. Ada sesuatu dalam cara Gao Lian memandangnya—bukan menghakimi, bukan iba, tapi penuh perhatian yang membuat dadanya menghangat tanpa alasan.
“Kau terlihat belum pulih,” kata Gao Lian akhirnya. “Aku dengar… kondisimu tidak stabil beberapa hari ini.”
Feiyan menunduk sedikit. “Aku baik-baik saja. Hanya… sedikit lelah.”
Gao Lian tidak membantah. Ia melangkah lebih dekat, jaraknya kini cukup dekat hingga Feiyan bisa mencium aroma herbal lembut dari pakaiannya. “Aku tahu sebuah tempat,” katanya pelan. “Sebuah kuil latihan lama di dalam wilayah sekte. Sunyi, aman, dan… cocok untuk seseorang yang butuh menenangkan diri.”
Feiyan ragu. Ia teringat kegagalan breakthrough, rasa dingin di dadanya, bayangan aneh yang masih menghantui pikirannya. Nalurinya berbisik agar ia berhati-hati.
Namun senyum Gao Lian tetap ada, hangat dan stabil.
“Latihannya ringan,” lanjut Gao Lian, seolah membaca keraguannya. “Tidak ada tekanan. Hanya untuk menstabilkan napas dan aliran qi. Kau tidak perlu memaksakan apa pun.”
Feiyan mengangkat kepala, menatap mata Gao Lian. Di sana tidak ada paksaan. Tidak ada nada perintah. Hanya ketenangan yang membuatnya merasa… diselamatkan.
Ia mengangguk pelan. “Baik.”
Perjalanan menuju kuil memakan waktu cukup lama. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang jarang dilewati murid lain, melewati pepohonan tua dan batu-batu berlumut. Kabut perlahan menipis, digantikan cahaya pagi yang lembut dan tidak menyilaukan.
Feiyan berjalan sedikit di belakang Gao Lian, mengikuti langkahnya. Setiap kali ia hampir tertinggal, Gao Lian akan melambat tanpa berkata apa-apa. Hal kecil itu membuat Feiyan merasa diperhatikan dengan cara yang tidak mencolok.
Kuil itu akhirnya muncul di balik pepohonan.
Bangunannya kecil, terbuat dari batu abu-abu yang sudah termakan usia. Ukiran-ukiran kuno menghiasi dindingnya—pola awan, garis-garis melingkar, dan simbol-simbol yang tidak sepenuhnya Feiyan pahami. Pintu kayunya bersih, seolah masih dirawat meski jarang digunakan.
Begitu mereka melangkah masuk, Feiyan langsung merasakan perubahan.
Udara di dalam kuil terasa lebih sejuk, lebih ringan. Ada tekanan halus yang menyelimuti tubuhnya, bukan menekan, melainkan seperti tangan lembut yang menahan agar segala sesuatu bergerak lebih pelan. Nafasnya tanpa sadar menjadi lebih dalam.
“Formasi lama,” jelas Gao Lian sambil menutup pintu perlahan. “Dulu digunakan untuk latihan dasar dan pemulihan. Ia menyaring qi berlebih dan menenangkan aliran yang kacau.”
Feiyan mengangguk, merasa sedikit kagum. “Rasanya… nyaman.”
Gao Lian tersenyum tipis. “Itu pertanda baik.”
Mereka duduk berhadapan di tengah ruangan. Lantai batu terasa dingin, namun tidak menusuk. Cahaya masuk dari celah kecil di atap, jatuh tepat di antara mereka, menciptakan suasana hening yang hampir sakral.
“Latihan hari ini sederhana,” kata Gao Lian. “Ikuti napasku. Jangan pikirkan ranah, jangan pikirkan kekuatan. Anggap saja… kau sedang beristirahat.”
Feiyan menurut.
Ia menutup mata, mengikuti arahan Gao Lian. Tarik napas perlahan. Tahan sejenak. Hembuskan. Gerakan tangannya sederhana, hampir seperti ritual kecil yang tidak memiliki teknik khusus. Tidak ada dorongan qi yang berat. Tidak ada rasa sakit.
Justru sebaliknya.
Feiyan merasa dadanya menghangat. Pikirannya yang biasanya penuh keraguan menjadi lebih sunyi. Setiap kali ia bernapas, rasa tegang di bahunya sedikit demi sedikit menghilang.
“Bagus,” suara Gao Lian terdengar dekat. “Kau melakukannya dengan baik.”
Pujian itu membuat sudut bibir Feiyan terangkat tanpa sadar. Sudah lama ia tidak mendengar kata-kata seperti itu tanpa embel-embel harapan atau tuntutan.
Waktu berjalan pelan.
Latihan itu terus berulang—napas, gerakan tangan, duduk diam. Feiyan tidak tahu berapa lama sudah berlalu. Hanya saja, meski latihannya ringan, tubuhnya mulai terasa aneh. Ada keringat dingin di pelipisnya. Dadanya terasa sedikit berat saat menarik napas.
Ia mengerutkan kening, namun segera mengabaikannya. Mungkin ini bagian dari proses. Gao Lian tidak terlihat khawatir. Wajahnya tetap tenang, matanya terpejam, seolah sepenuhnya tenggelam dalam latihan.
Shackled Heart Seal di dalam diri Feiyan berdenyut lembut.
Bukan rasa sakit—lebih seperti belaian halus yang menenangkan. Setiap kali muncul sedikit keraguan, perasaan itu ditekan perlahan, digantikan rasa percaya dan pasrah yang hangat.
Feiyan terus melanjutkan.
Tanpa ia sadari, aliran qi di tubuhnya perlahan berubah. Seperti air yang mengalir melalui pasir halus, sebagian energinya tersaring keluar, diserap oleh ukiran dan formasi kuno di kuil. Prosesnya begitu lembut hingga hampir mustahil dirasakan secara langsung.
Yang Feiyan rasakan hanya satu hal: lelah.
Namun bahkan kelelahan itu terasa wajar. Tidak menyakitkan. Tidak menakutkan.
“Aku… baik-baik saja,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Gao Lian membuka mata sedikit, melirik Feiyan dari balik bulu matanya. Tatapannya lembut, penuh perhatian—dan bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
“Teruskan,” katanya dengan suara menenangkan. “Sedikit lagi.”
Feiyan mengangguk, meski kepalanya terasa ringan.
Ia tidak melihat bagaimana senyum Gao Lian perlahan berubah. Masih lembut. Masih hangat. Namun ada kedalaman lain di sana—sesuatu yang tidak bisa disebut niat jahat, namun juga bukan sepenuhnya kebaikan.
Latihan berlanjut, dan qi Feiyan terus mengalir keluar, setetes demi setetes, tanpa ia sadari.
Feiyan tidak tahu kapan tepatnya tubuhnya mulai benar-benar kehilangan kekuatan.
Awalnya hanya sensasi ringan—seperti setelah berjalan terlalu lama. Namun seiring waktu, rasa itu merambat menjadi kelelahan yang dalam, melekat pada tulang dan napasnya. Setiap tarikan udara terasa sedikit lebih berat dari sebelumnya, meski iramanya tetap pelan dan teratur seperti yang diajarkan Gao Lian.
Gerakan tangannya mulai melambat.
Keringat dingin mengalir di punggungnya, membasahi jubah tipis yang ia kenakan. Dada Feiyan naik turun lebih jelas sekarang, namun ia tidak membuka mata. Ia takut jika ia berhenti, latihan ini akan gagal—dan ia akan mengecewakan satu-satunya orang yang terlihat benar-benar peduli padanya hari ini.
“Bagus,” suara Gao Lian kembali terdengar. “Kau bertahan dengan baik.”
Kata-kata itu seperti benang yang menahan kesadarannya agar tidak runtuh. Feiyan mengangguk kecil, meski lehernya terasa berat. Shackled Heart Seal di dalam dirinya berdenyut pelan, menenangkan gelombang lelah dan keraguan sebelum sempat berubah menjadi kewaspadaan.
Di bawah lantai batu kuil, formasi kuno berpendar samar.
Tidak terang. Tidak mencolok. Hanya garis-garis tipis cahaya yang bergerak perlahan, menyelaraskan diri dengan napas Feiyan. Setiap hembusan napas membawa keluar sedikit qi—begitu halus, begitu bersih, hingga tubuhnya tidak memprotesnya sebagai kehilangan.
Dari luar, semuanya tampak sempurna.
Namun di dalam, fondasi tubuh Feiyan mulai kosong.
“Apa kau pusing?” tanya Gao Lian lembut.
Feiyan ragu sejenak sebelum menjawab. “Sedikit… tapi tidak apa-apa.”
Gao Lian tersenyum. Ia bangkit perlahan dan melangkah ke belakang Feiyan. Tangannya terangkat, lalu berhenti beberapa jari dari punggungnya—tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk mempengaruhi aliran qi.
“Ini wajar,” katanya pelan. “Tubuhmu sedang menyesuaikan. Percayalah padaku.”
Dan Feiyan memang percaya.
Kehangatan dari kehadiran Gao Lian membuat pikirannya terasa aman. Bahkan saat penglihatannya mulai berkunang di balik kelopak mata tertutup, ia tidak merasa takut. Yang ada hanya rasa ingin bersandar, ingin berhenti berpikir.
Qi-nya terus mengalir keluar.
Sedikit demi sedikit.
Hingga akhirnya, napas Feiyan tersendat.
Tubuhnya condong ke depan tanpa sadar, keseimbangannya runtuh begitu saja. Ia tidak sempat membuka mata sebelum sebuah tangan menahan bahunya, lalu lengan lain menopang punggungnya.
“Cukup,” ucap Gao Lian.
Suara itu masih lembut—namun sekarang tegas.
Feiyan terengah pelan saat Gao Lian membantunya duduk bersandar pada tiang batu kuil. Dunia terasa jauh dan ringan, seolah ia baru terbangun dari mimpi yang terlalu dalam.
“A-aku minta maaf…” gumam Feiyan lemah. “Aku… terlalu lemah.”
“Jangan bicara seperti itu,” kata Gao Lian sambil berlutut di hadapannya. Ia menyerahkan sebuah cawan kecil berisi air spiritual. “Minumlah.”
Air itu terasa hangat saat menyentuh bibir Feiyan. Sedikit tenaga kembali padanya, cukup untuk membuat kepalanya tidak lagi terkulai. Ia menatap Gao Lian dengan mata yang masih berkabut, lalu tersenyum kecil.
“Terima kasih,” katanya tulus. “Kalau bukan karena Kakak Gao… aku tidak tahu harus bagaimana.”
Gao Lian tidak langsung menjawab.
Ia memandangi Feiyan dalam diam. Wajah pucat itu. Napas yang masih belum sepenuhnya stabil. Aliran qi yang jelas melemah—namun hatinya tetap jernih, nyaris terlalu bersih untuk dunia seperti ini.
Shackled Heart Seal berkilau samar di balik dada Feiyan, beresonansi dengan kondisi rapuh itu.
Ada denyut konflik di dalam diri Gao Lian.
Ia telah melakukan apa yang ia anggap perlu. Metode ini aman. Terkontrol. Tidak akan menghancurkan Feiyan—hanya membuatnya lebih bergantung, lebih mudah diarahkan, lebih jauh dari bahaya yang tidak ia pahami.
Itu seharusnya benar.
Namun saat Feiyan tersenyum seperti itu, tanpa curiga, tanpa pertahanan, ada sesuatu yang menusuk lebih dalam dari yang Gao Lian perkirakan.
Ia mengangkat tangan dan menyentuh rambut Feiyan, menyelipkan helai yang basah oleh keringat ke belakang telinganya. Sentuhannya lembut, hampir penuh kasih.
“Beristirahatlah,” bisiknya. “Kau sudah melakukan yang terbaik hari ini.”
Kelopak mata Feiyan terasa berat. Tubuhnya menyerah pada kelelahan yang selama ini ia tahan. Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam, ia sempat merasakan kehangatan aneh di dadanya—seperti sesuatu yang berdenyut perlahan, mengikuti detak jantungnya.
Void Crack.
Garis hitam tipis itu bergetar pelan di dalam jantungnya, hampir tak terasa, seolah merespons suara dan sentuhan terakhir yang ia terima.
Feiyan tertidur dengan senyum kecil di wajahnya.
Gao Lian berdiri, menatapnya dari atas. Senyumnya masih ada—lembut, tenang.
Namun kali ini, di balik ketenangan itu, tersembunyi penilaian yang dingin dan rasa penyesalan yang tak sepenuhnya bisa ia akui.
“Kau terlalu baik,” bisiknya hampir tanpa suara.
“Sayang sekali.”
Di kuil sunyi itu, formasi perlahan meredup.
Dan denyut hitam di dalam dada Feiyan terus berlanjut—pelan, sabar, menunggu.