Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.
Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.
Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.
Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.
Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Calon Suami Yang Ditinggalkan
Bab 2: Calon Suami Yang Ditinggalkan.
Lift berhenti di lantai dua. Shafiya keluar. Tetap diikuti Winda dan dua orang petugas yang lain. Mereka melewati koridor yang cukup panjang dan hening. Lalu sebuah pintu ruang rawat terlihat di depan. Pintunya terkuak sedikit. Shafiya berhenti, beberapa langkah di depan pintu. Ia menarik napas sejenak, sebelum mengucap salam.
Assalamualaikum.
"Waalaikumsalam."
Terdengar jawaban dari dalam. Tidak keras. Dan seperti bukan hanya dari satu suara.
Shafiya meraih gagang pintu. Mendorongnya pelan. Ia lalu melangkah masuk.
Aroma obat langsung menyambut.
Di dalam, beberapa orang menoleh.
Ada dua orang bibinya. Sepupunya. Dan dua orang santri yang biasa membantu di pesantren.
Semuanya adalah wajah-wajah yang ia kenal.
Wajah-wajah yang… kini terasa sedikit berbeda.
“Shafiya…” suara bibinya lirih, tapi jelas terdengar lega.
Shafiya tersenyum tipis. “Bagaimana Abi?"
“Sudah lebih baik. Tadi sempat turun tensinya, tapi sekarang sudah stabil.”
Shafiya mengangguk pelan.
Langkahnya mendekat ke ranjang.
Kyai Fakih terbaring tenang. Sepasang matanya terpejam. Wajahnya pucat, tapi tidak setegang yang ia bayangkan.
Shafiya duduk di sampingnya. Perlahan dan hati-hati--seolah takut gerakannya akan menyakiti sang abi.
Tangannya kemudian terulur, menyentuh punggung tangan kyai Fakih dengan hati-hati.
Terasa hangat.
Alhamdulillah…
Dadanya sedikit lega. Ia menunduk, mencium punggung tangan itu berulang-ulang. Menahan rasa campur aduk yang menyerang. Rindu. Takut. Lega. Serta rasa bersalah yang datang.
Shafiya kembali duduk tegak. Mengerjapkan sepasang matanya, agar bulir bening itu tidak jatuh.
“Baru datang, Nduk?”
Salah satu bibinya mendekat. Tersenyum, sedang tatapannya mengamati.
“Iya, Bi. Ma'af." Kabar itu sampai padanya tadi malam. Tapi ia tak segera datang untuk melihat kondisi abinya. Adinata Residence 3 tempatnya tinggal, dipenuhi aturan yang tak serta merta bisa ia langgar.
"Kamu sehat, Nduk?"
"Sehat." Shafiya menjawab singkat.
"Sedikit pucat. Sudah periksa?"
Pertanyaan itu ringan. Terdengar wajar.
Namun entah kenapa, jari Shafiya sedikit mengencang.
“Sudah, Bi. Saya baik-baik saja."
Bibinya mengangguk. Tak lanjut bertanya.
Seperti yang ia tahu… keluarganya tidak terbiasa menggali cerita terlalu dalam.
Tapi itu bukan berarti mereka tidak bertanya.
Hanya saja... caranya yang berbeda.
Pandangan lain menyusul.
Dari sepupunya. Menatap Shafiya sedikit lebih lama. Lalu bergeser ke satu tempat.
Tepatnya ke luar pintu.
Dua orang santri yang berdiri di sudut, juga melihat ke arah yang sama.
Ke arah Winda dan dua petugas yang berdiri rapi. Diam dan menunggu.
Shafiya putri kyai. Penampilannya tertutup dan Syar'i. Namun kali ini ia ditemani wanita yang memang berpakaian rapi, tetap sopan meski tak sepenuhnya menutup aurat seperti Shafiya.
Lalu dua orang lelaki yang berpakaian sama--yang lebih tepat disebut sebagai pengawal pribadi.
Itu terlalu tidak biasa.
Wajar, jika tatap mereka bertanya.
Shafiya menelan semua itu dalam diam. Tak ingin menjelaskan apapun.
“Dari tadi mereka menunggu di luar?” tanya sepupunya akhirnya, dengan nada hati-hati.
“Iya,” jawab Shafiya.
“Orang kantor, Mbak?"
Hanya menyimpulkan sesaat, mungkin karena melihat pakaian mereka.
“Orang rumah," jawab Shafiya. Ia pikir itu jawaban paling aman. Ternyata malah terdengar menggantung. Tidak menjelaskan apa pun.
Tapi justru… membuka banyak kemungkinan, dan beberapa pertanyaan lain.
“Rumah…” ulang bibinya pelan. Heran.
“Alhamdulillah,” sambungnya kemudian, mencoba tetap hangat. Karena Shafiya tetap diam. “Berarti kamu sudah ada yang menjaga.”
Shafiya mengangguk.
Namun di dalam dadanya--ada sesuatu yang terasa berat. Ia tahu apa yang mereka pikirkan, meski tidak diucapkan.
Tentang pernikahannya yang tiba-tiba gagal.
Tentang calon suami yang ditinggalkan.
Tentang dirinya yang tak lagi tinggal di pesantren. Dan… yang kini datang dengan pengawalan.
Dan semua itu--tanpa satu pun penjelasan.
Kyai Fakih bergerak pelan.
Matanya terbuka.
“Shafa…”
Suara itu lemah, tapi cukup membuat seluruh ruangan kembali fokus.
Shafiya langsung bangkit sedikit. “Abi…”
Tangannya menggenggam lebih erat.
“Sudah datang…” bisik beliau.
“Iya." Shafiya mengangguk berkali-kali.
Pandangan Kyai Fakih turun perlahan.
Ke arah perut Shafiya. Menatap sesaat.
Namun cukup membuat peremuan itu menahan napas.
Beliau tidak berkata apa-apa.Tidak bertanya.
Hanya menutup mata sejenak… lalu menghela napas panjang. Tapi justru itu yang membuat Shafiya seakan dihantam beban berat.
"Abi... ma'af." Suara Shafiya nyaris pecah.
Kyai Fakih membuka mata. Menatap Shafiya teduh. Tersenyum tipis.
Bukan senyum yang ringan... tapi senyum yang menenangkan, sekaligus menguatkan.
"Abi sakit apa?" Pertanyaan Shafiya dengan suara yang setengah terbata.
"Sebentar lagi, Mbak." Sepupunya yang menjawab. "Gus Ilzam sedang mengambil hasil pemeriksaan Paman."
"Gus Ilzam." Shafiya mengulang nama itu pelan.
“Iya, calon suamimu,” jawab bibinya refleks. Terucap dengan cepat. Tanpa nada sengaja. Secepat itu pula, bibinya yang lain memberi tatapan peringatan.
Namun kata itu… sudah terlanjur jatuh.
Shafiya tidak langsung menanggapi.
Wajahnya tetap tenang.
Namun tidak dengan perasaannya.
“Itu dulu,” ucapnya pelan.
Langkah kaki terdengar dari luar.
Langkah yang tenang, terdengar mendekat.
Beberapa orang kemudian menoleh.
Pintu ruang rawat itu terbuka.
Gus Ilzam masuk dengan map hasil pemeriksaan Kyai Fakih di tangannya.
“Paman…”
Suaranya rendah, penuh hormat.
Ia mendekat. Menyalami Kyai Fakih dengan takzim. Sedikit menunduk seperti biasa. Tidak ada yang berubah dengan sikapnya.
Namun saat ia mengangkat wajah--pandangannya bertemu dengan Shafiya.
Dan saat itu, waktu… seolah terhenti.
Tidak ada sapaan.
Tidak ada senyum.
Hanya tatapan sekilas. Namun menyimpan terlalu banyak hal yang tak sempat diselesaikan.
Shafiya refleks berdiri perlahan.
“Gus…”
Hampir tak terdengar.
Ilzam menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk tipis. “Ning Shafiya.”
Suaranya tenang. Nadanya terjaga, seolah semuanya memang sudah selesai.
Namun tidak bagi Shafiya. Dadanya terasa sesak. Bukan karena rindu. Tapi karena ia yang pergi meninggalkan tanpa memberi cukup alasan. Dan semua hal tersebut, belum sempat ditutup dengan baik.
“Bagaimana hasilnya?” tanya sepupu Shafiya.
Ilzam mengalihkan pandangan. Kembali pada perannya.
“Alhamdulillah, tidak ada yang mengkhawatirkan. Paman hanya kelelahan dan tekanan darah yang sedikit menurun. Jadi perlu istirahat penuh.”
Beberapa orang mengangguk lega. Shafiya langsung melafalkan hamdalah.
Suasana pun mencair.
Namun sebenarnya hanya di permukaan.
Shafiya kembali duduk.
Kali ini, ia tidak lagi menatap ke arah Ilzam.
Dan Ilzam… Tatapannya juga lurus, tidak mencari Shafiya. Mereka sama-sama terlihat biasa.
Ilzam kemudian menyerahkan map hasil pemeriksaan pada Shafiya. Gesturnya sopan. Shafiya menerima dengan bahasa tubuh yang sepadan. Keduanya sama-sama tahu cara menghargai satu sama lain.
Dan Ilzam, sekalipun mungkin pernah ada rasa sakit hati. Tapi penghormatannya pada Shafiya tidak pernah dikurangi.
"Mereka sebenarnya pasangan yang serasi."
Suara itu terdengar pelan. Nyaris seperti angin lewat.
"Tapi tidak ditakdirkan... Ning Shafiya meninggalkan gus Ilzam."
Shafiya tidak menoleh. Namun jemarinya perlahan mengencang di atas map yang ia pegang.
padahal bumil ingin di manja² lih..
Ayo Elara kamu dulu yg bermanja2 udh sah kok🤭