NovelToon NovelToon
Menantu Tanpa Restu

Menantu Tanpa Restu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romansa Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: biru🩵

"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Jarum jam di dinding toko seolah-olah bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Rasanya aku baru saja memulai shift pagi, namun kini angka sudah menunjukkan pukul dua siang. Inilah saat yang paling aku takuti. Waktunya pulang. Waktunya melepas topeng "Aira si karyawan teladan" dan kembali menjadi "Aira yang berdosa" di hadapan keluarga.

Aku membereskan barang-barangku di loker dengan gerakan yang kaku. Tanganku gemetar saat melepas rompi seragam, menyisakan baju longgar yang kini terasa begitu berat. Di depan cermin loker yang kusam, aku menatap bayanganku sekali lagi. Wajah itu tampak begitu layu, kontras dengan cerahnya sinar matahari di luar sana. Aku merapikan hijabku, menarik napas panjang, dan berusaha menguatkan kaki yang rasanya seperti jeli. Setiap langkah menuju pintu keluar terasa seperti langkah menuju tiang gantungan.

"Duluan ya, Mbak Selfi, Ren," pamitku dengan suara yang kupaksakan agar tidak bergetar.

"Iya, Ra. Hati-hati ya. Salam buat Bapak," sahut Mbak Selfi tanpa melepaskan pandangannya dari layar komputer.

Salam buat Bapak. Kalimat itu seperti belati yang menusuk ulu hatiku. Jika Mbak Selfi tahu apa yang akan terjadi saat aku bertemu Bapak nanti, dia pasti tidak akan sanggup mengucapkan kalimat sesantai itu.

Aku melangkah keluar, menyusuri selasar toko menuju parkiran depan. Sinar matahari siang itu terasa begitu menyengat, membakar kulit namun tidak mampu menghangatkan hatiku yang sedingin es. Saat aku baru saja mengeluarkan kunci motor dari saku, sebuah bayangan muncul di sampingku. Ali.

Laki-laki itu tidak berkata apa-apa. Ia langsung meraih helm yang tergantung di spion motorku. Dengan gerakan yang sangat lembut gerakan yang sudah sering ia lakukan namun kali ini terasa seribu kali lebih menyesakkan,ia mengenakan helm itu di kepalaku. Jemarinya yang hangat sesekali bersentuhan dengan kulit daguku saat ia mengancingkan talinya dengan teliti.

Aku hanya bisa diam membeku, menatap dadanya karena tak sanggup mendongak menatap matanya. Ketulusan Ali adalah beban tambahan yang membuat dadaku kian sesak.

"Hati-hati di jalan ya, Ra," ucap Ali pelan setelah memastikan helmku terpasang sempurna. Ia menundukkan kepalanya agar bisa menatap mataku yang kusembunyikan di balik visor helm. "Jangan ngebut. Pikiranmu lagi nggak di sini, aku tahu itu. Tetap semangat ya, Ra."

Aku mencoba menelan gumpalan pahit di tenggorokanku. "Makasih, Al."

Ali terdiam sejenak, seolah ada kalimat yang tertahan di ujung lidahnya. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan tangannya di setang motorku. "Ingat ya, Ra... kalau butuh apa-apa, kalau ada masalah yang nggak bisa kamu tanggung sendiri, aku ada. Aku selalu ada buat kamu. Jangan merasa sendirian."

Kalimat itu benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahananku. Aku ingin sekali berteriak di depannya, memberitahunya bahwa aku tidak pantas mendapatkan kebaikannya. Aku ingin bilang bahwa aku adalah perempuan yang sudah merusak kepercayaannya, perempuan yang membawa nyawa laki-laki lain di rahimku. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah anggukan lemah.

"Iya, Al. Duluan ya," ucapku sembari menghidupkan mesin motor.

Aku memacu motorku meninggalkan area toko tanpa berani menoleh ke belakang. Di spion, aku bisa melihat sosok Ali yang masih berdiri mematung di parkiran, menatap kepergianku sampai aku menghilang di tikungan jalan.

Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Ali terus terngiang. "Aku selalu ada buat kamu." Sebuah janji indah yang datang di waktu yang salah. Aku merasa menjadi manusia paling jahat karena membiarkan laki-laki sebaik Ali tetap menyimpan harap, sementara aku sedang menuju rumah untuk mengakui noda yang paling kelam di hadapan Bapak.

Angin siang menerjang wajahku, namun tidak mampu menghilangkan rasa panas di mataku. Dalam beberapa kilometer lagi, aku akan sampai di rumah. Aku akan melihat wajah Bapak yang sangat kurindukan, namun juga wajah yang paling kutakuti. Aku bersiap untuk kemungkinan terburuk diusir, dipukul, atau bahkan tidak dianggap anak lagi. Aku siap menerima konsekuensinya, karena bagaimanapun, pelarian ini harus berakhir hari ini.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku benar-benar penuh, sesak oleh berbagai kemungkinan buruk yang terus berputar-putar seperti kaset rusak. Setiap putaran roda motorku terasa seolah-olah membawaku semakin dekat ke arah jurang. Siap atau tidak siap, aku harus menghadapinya hari ini. Aku tidak bisa lagi berlari, tidak bisa lagi bersembunyi di balik seragam kerja atau kebohongan-kebohongan kecil yang selama ini kususun. Pelarian enam bulan ini menemui jalan buntu tepat di depan pagar rumahku.

Begitu aku memasuki halaman, jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Di sana, terparkir rapi motor Mas Dika, menandakan bahwa ia menepati janjinya untuk datang lebih awal. Dan tepat di teras rumah, sosok yang paling kurindukan sekaligus paling kutakuti itu sudah berdiri. Bapak. Beliau tampak lebih kurus dengan kulit yang semakin legam terbakar matahari perantauan, namun sorot matanya masih tetap tajam dan penuh wibawa. Di samping kakinya, tas ransel besar dan kardus-kardus oleh-oleh masih tertumpuk, tanda bahwa beliau memang baru saja menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.

"Aira... anak wedokku sudah pulang," suara Bapak menggelegar, suara yang biasanya membuatku merasa aman, namun kali ini justru terasa seperti petir yang menyambar telingaku.

Aku turun dari motor dengan kaki yang gemetar hebat, seolah tulang-tulangku baru saja berubah menjadi kapas. Aku berusaha mengatur napas, merapatkan jaket tebal yang kupakai meski keringat dingin mulai membasahi punggungku. Aku berjalan mendekat, menunduk dalam, tak berani menatap langsung ke arah mata Bapak yang saat ini sedang memancarkan binar kebanggaan.

"Pak..." ucapku lirih, nyaris tak terdengar. Aku segera meraih tangan Bapak dan menciumnya lama, menyembunyikan wajahku yang mungkin sudah pucat pasi. Aroma keringat dan debu perjalanan dari tubuh Bapak menyeruak, mengingatkanku betapa kerasnya beliau bekerja di sana demi masa depanku yang kini justru kuhancurkan sendiri.

"Lho, kok kamu pucat sekali, Nduk? Kerja capek ya? Ini tadi Dika bilang mau jemput kamu tapi kamu sudah berangkat duluan," ucap Bapak sembari mengusap kepalaku dengan telapak tangannya yang kasar. Beliau tersenyum lebar, senyum yang begitu tulus hingga membuat hatiku semakin perih.

Mas Dika berdiri tak jauh di belakang Bapak. Wajahnya tegang, matanya menatapku dengan sorot yang penuh kekhawatiran dan rasa bersalah yang sama besarnya. Di teras itu juga ada Mbah Neni dan Ibu yang hanya berdiri mematung di ambang pintu. Suasana yang seharusnya menjadi reuni keluarga yang hangat, kini terasa begitu kaku dan mencekam karena ada rahasia besar yang siap diledakkan.

"Ayo masuk dulu, Ra. Ganti baju, terus kita duduk bareng. Bapak kangen sekali mau dengar cerita kalian, apalagi katanya kalian mau menikah secepatnya," ajak Bapak dengan nada riang, sembari menepuk bahu Mas Dika dengan akrab. Bapak sama sekali tidak menaruh curiga. Beliau menganggap kedatangan Dika yang mendadak adalah bentuk keseriusan untuk melamarku.

Aku hanya bisa mengangguk lemah, mengikuti langkah kaki Bapak yang masuk ke dalam rumah dengan semangat. Di setiap langkahku melintasi ambang pintu, aku merasa seolah-olah sedang memasuki ruang eksekusi. Aku menatap punggung Bapak yang mulai membungkuk dimakan usia, dan seketika itu juga bayangan tentang kehancuran dan amarah Bapak nanti sore membuat pandanganku mengabur oleh air mata.

Ini adalah detik-detik terakhir sebelum dunia Bapak runtuh. Aku tahu, setelah aku melepas jaket ini dan kejujuran itu terucap, senyum Bapak tidak akan pernah sama lagi. Aku siap untuk diusir, aku siap untuk dianggap mati, karena dosaku memang tak terampuni.

1
🍓
yang ikhlas al😭
🍓
ikutan sakit ati gue thorrr😭
langit senja: sama banget besssss😭😭
total 1 replies
bening☘️
lu bener-bener ya dik🫵👊
langit senja: bikin emosi kan😭
total 1 replies
bening☘️
😭nyesek banget thorr
langit senja
sama😭😭😭
langit senja
masih kerja di toko 🤭
🍓
kabarnya si Ali gimana thorr?
🍓
besok-besok nggak usah masak Ra🤭
bening☘️
lama-lama aku yang tekanan batin sih ini 😭
bening☘️
dika ini siap banget ya jadi suami 🤭
bening☘️
jangan takut ra, sekali-kali lawan iparmu 🤭
🍓: harus di lawan sih,biar nggak seenaknya kalau bicara😄
total 1 replies
bening☘️
bagus banget alurnya,cerita ini related sama kehidupan,di luar sana yang menikah tanpa restu selagi suami selalu berada di pihakmu duniamu akan baik-baik saja,semangat terus nulisnya thorr🥳
langit senja: thank you bes,🥺
total 1 replies
🏜️
keren
🍓
pengalaman pribadi kah thor?
🍓
cerita ini bagus,alurnya sesuai dan bikin sesek napas setiap baca per babnya,
🍓
orang tua Dika kenapa nggak suka sama Aira thorr?🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!