NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Waktu Yang Terbatas

...Mustika yang sebenarnya adalah ketika cahaya ilmu masuk ke dalam sanubari....

...Ia merasuki, mengkurung nafsu, dan menjabarkan Kalam....

...Ia mengalir pada aliran darah, Terucap oleh lisan, dan tampak pada perbuatan....

Suara klakson bus antarkota memecah lamunan Jalal saat ia kembali melangkah di aspal Terminal Kali Deres. Namun, tujuannya kini bukan lagi alamat di Jakarta yang ia pegang sebelumnya. Setelah "mata batinnya" terbuka saat pengejaran di pasar tadi, ia merasakan sebuah tarikan energi yang sangat spesifik—sebuah getaran yang dingin namun murni, jauh di arah timur.

​"Sepertinya, mutiara itu ada di timur." gumam Jalal. Dalam pandangan batinnya terlihat cahaya menembus langit di kejauhan. "Aku harus segera, jangan sampai mutiara itu dikuasai oleh mata malaikat."

​Ia tidak mempedulikan kaki si ojek yang masih bengkak atau tatapan bingung orang-orang di sekitarnya. Jalal langsung menuju loket bus, tongkatnya mengetuk-ngetuk tanah membentuk suatu irama.

"Mbak, kalau tiket ke Jawa Timur, untuk nanti malam ada?" Jalal bertanya. Tangannya membuka kacamata dan mengelapnya.

Penjaga loket melihat mata Jalal yang terpejam keduanya. "Maaf, Mas ... Masnya buta ya?"

Jalal mengangguk, kacamatanya ia pasangkan kembali, "Iya Mbak, dari lahir. Itu jilbabnya miring."

Penjaga loket termenung, lalu melihat bayangannya di kaca. "Eh bener, miring," bisiknya pelan.

Jalal mengetuk-ngetuk kaca, "Jadi gimana, Mbak? Ada bus ke Jawa Timur untuk malam ini?

"Sebentar, Mas." Ia mengecek jadwal keberangkatan dan kursi yang tersedia di layar komputer. "Ada jam delapan ke Tuban, kalau ke Purbalingga jam sepuluh."

"Saya ambil yang ke Tuban saja," jawab Jalal.

"Semuanya jadi 285 ribu."

Jalal mengambil tiga lembar uang seratus ribuan di kantong jaketnya, lalu menyerahkan kepada penjaga loket. "Mushola sebelah mana, Mbak?"

Penjaga loket kembali tertegun beberapa saat, melihat jam tangannya, "Mas mau nunggu di sini? nanti bareng aja ke musholanya, saya sebentar lagi selesai."

"Begitupun, nggak apa-apa, Mbak." Jalal melangkah ke kursi panjang yang terletak di samping loket. Duduk sambil memegang tongkatnya.

----

​Di sisi lain, Satya Wijaya sedang berdiri di tengah ruangannya yang gelap. menghadap jendela yang terbuka, melangkah perlahan. Terdiam sejenak. Berjalan kembali ke meja.

"Reno," panggilnya.

​Reno, yang berdiri di sampingnya, segera menghampiri Satya. "Siap, Bos."

Satya memegang tongkat dengan kedua tangannya, jarinya mengetuk kepala tongkat berbentuk ular. "Sepuluh tahun yang lalu, adakah bencana tiba-tiba yang terjadi? kurasa kau sudah tahu sesuatu."

"Saya belum berani menyampaikan, Bos. Beberapa anak buah, sudah saya kirim kesana untuk menyelidiki." Kepala Reno tertunduk.

Satya terkekeh, "Tepatnya dimana?"

"Kabupaten Tuban, Bos? Ada laporan anomali di sana sepuluh tahun lalu. Sebuah banjir bandang yang terjadi, dikarenakan hujan yang tidak kunjung berhenti berhari-hari."

​Satya mengusap permukaan meja, dengan jari-jarinya yang pucat. "Cari anak yang lahir di titik itu. Jika Jalal sudah menyadari bahwa Mustika itu tidak ada di Jakarta, dia pasti sedang menuju ke sana sekarang."

​Alexa yang baru saja datang dari kantor, terhenti langkahnya. Satya menghirup udara dalam-dalam, "Kebetulan kau datang ibu, wangimu memang unik."

​"Kerahkan sebagian pasukan, Reno. Aku ingin kau sampai di Tuban sebelum bus yang dinaiki Jalal melintasi perbatasan provinsi." Satya menggeram, matanya yang buta tampak berkilat merah tertimpa lampu sorot ruangan.

Reno dan Alexa mengangguk, lalu segera berbalik badan, keluar dari ruangan Satya.

----

​Sementara itu, di Desa Kragan, sore mulai meredup menjadi senja yang jingga. Kirana baru saja menghabiskan nasi kucing pemberian Miranti. Ia menutup bungkus plastik itu dengan rapi, lalu menatap ke arah laut lepas.

​"Ibu kok lama ya..." bisiknya pelan.

​Tiba-tiba, Kirana merasakan bulu kuduknya berdiri. Tanah di bawah bangku bambunya terasa bergetar halus, seolah ada sesuatu yang besar sedang berjalan mendekat dari kejauhan. Bukan satu, tapi dua kekuatan yang saling bertolak belakang.

​Tanpa ia sadari, air di dalam gelas plastik di sampingnya mulai bergejolak, membentuk pusaran kecil meski tidak ada angin yang bertiup. Di langit, awan mulai berkumpul dengan cepat, membentuk pola yang menyerupai sepasang mata yang sedang mengawasi dunia.

​Kirana berdiri, tongkat kayu kecil yang biasa ia gunakan untuk bermain kini digenggamnya erat. Senyum cerianya menghilang, digantikan oleh tatapan waspada yang melampaui usianya.

Lalu senyumnya kembali, ketika melihat ibunya Darsih berjalan pulang, Kirana berlari berteriak. "Ibuuuu."

Darsih mengangkat kepalanya yang tertunduk, ada gurat kelelahan di wajahnya, ia memaksakan tersenyum. "Kirana, maafin ibu ya, kamu pasti lapar?" Setelah Kirana memeluk erat dirinya.

Kirana menggeleng, "Kirana sudah makan Bu, tadi Mbak Ranti, bawain Kirana sego kucing."

Darsih menghela napas, "Ya udah, kita masuk yuk. Nanti malam makan lagi, ibu tadi memetik kangkung di sawah."

Kirana melompat, "Hore, makan lagi," teriaknya.

Darsih memandang anak semata wayangnya dengan tatapan nanar. Setetes air mata jatuh, sebuah memori melintas dari benaknya.

Sepuluh tahun yang lalu, 09 September 2019

Langit bergemuruh, hujan hari itu seakan tidak akan berhenti. Kilat menyambar berkali-kali, menghiasi langit dengan cahaya biru.

Darsih berbaring, keringat sebutir jagung, keluar dari dahinya, deras. Mulutnya merintih, ia memegang perutnya yang terasa mulas.

"Mbok, anak ini belum keluar juga." Darsih bertanya kepada seorang dukun bayi yang sedang mengunyah sirih.

"Sabar, Darsih... bayinya masih betah di dalam," jawabnya setelah kembali mengecek dan memijat bagian bawah Darsih.

Darsih kembali berguling ke kiri, "Punggungku panas sekali, Mbok."

Sang dukun bayi mengusap punggung Darsih perlahan, sambil menembangkan nyanyian Jawa.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang, suara letusan terdengar dari kejauhan, gemuruh air terdengar seolah sedang mengamuk.

Seketika suara kentongan berbunyi dari pos ronda, dibarengi dengan teriakan warga. "Banjir ... Banjir!"

Dukun bayi menatap Darsih yang balas menatapnya. Rasa mulas datang kembali, kali ini berkali-kali lipat.

"M-mbok, kayanya si bayi mau keluar." Darsih merintih.

Dukun bayi kembali memeriksa, "Berbaring Darsih, lebarkan kakinya ... tekan!"

Darsih mengejan sekuat tenaga, "Aaaaaaaaaa."

"Owee... oweee." Suara bayi menangis terdengar. Dukun bayi segera membersihkan ari-ari. Ketika ia turun dari ranjang, air sudah menggenang semata kaki.

----

Darsih membukakan pintu, ia meletakkan karung berisi arit dan pisau. Duduk di atas kursi kayu.

Kirana muncul dari dalam, membawakan segelas air putih, "Bu, minum dulu, ucapnya.

Darsih mengucapkan terima kasih, sambil mengusap kepala Kirana. Ia tahu Kirana bukan anak biasa, di punggungnya ada tanda seperti cap berwarna merah. Para sesepuh waktu itu langsung terkejut melihatnya.

"Semoga kamu jadi anak baik," lirihnya. Darsih memejamkan mata.

Sementara jauh di ibu kota, Jalal baru saja naik bus jurusan Tuban. Ia merasa bahwa mustika yang diceritakan gurunya ada disana.

Jalal menyandarkan kepala, napasnya perlahan turun, ia pun tertidur.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!