NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB ENAM BELAS

Gerbang besi tinggi perlahan terbuka otomatis ketika mobil hitam itu mendekat. Lampu sensor menyapu halaman luas, menyingkap taman rapi dengan patung batu marmer di tengahnya. Kediaman Rakha menjulang anggun, arsitektur modern dengan kaca tinggi dan pilar putih, tampak dingin sekaligus angkuh.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama. Dua bodyguard berbadan tegap sudah menunggu, jas hitam mereka rapi, telinga dipasangi earpiece, wajah tanpa ekspresi. Salah satu segera membuka pintu untuk Maharani.

"Selamat malam, Nona Maharani. Silakan turun, tempat ini sudah kami diamankan sepenuhnya," ucap salah satu dengan suara rendah, penuh wibawa.

Maharani menatap sekeliling dengan ragu, tangannya gemetar saat Siska meraih dan menuntunnya keluar. Malam itu dingin, namun hawa di rumah Rakha terasa lebih dingin lagi. Entah karena udara atau karena tekanan suasana yang membungkam.

Begitu ia melangkah turun, bodyguard lainnya menghampiri Maharani.

"Atas instruksi Pak Rakha, mulai malam ini kediaman ini akan menjadi tempat perlindungan Nona Maharani. Semua akses keluar masuk dipantau, dan tidak seorang pun diperbolehkan mendekat tanpa izin langsung."

Maharani hanya mengangguk kecil, suaranya tercekat.

"Terima kasih..."

Siska menepuk lembut punggung Maharani, lalu berbisik menenangkan.

"Kita aman di sini, Maharani ani. Setidaknya untuk sementara."

Bodyguard kemudian melanjutkan, tatapannya lurus menhujami Maharani.

"Mohon maaf, sesuai arahan Pak Rakha, semua perangkat elektronik akan tetap ditahan sementara. Ini demi keamanan dan untuk mencegah kebocoran informasi. Bila Nona ma membutuhkan sesuatu, kami akan siapkan."

Maharani menghela napas, seakan pasrah, lalu mengangguk pelan. Ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Interior rumah menyambutnya dengan kemewahan yang sunyi. Lantai marmer putih berkilau memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang bergemerlap. Dinding-dindingnya dipenuhi lukisan abstrak berbingkai emas, yang memang terlihat cocok dengan kepribadian Rakha yang dingin.

Langkah Maharani terasa berat. Ia menoleh sebentar pada Siska, yang tersenyum tipis, berusaha menguatkan.

Bodyguard itu berjalan di depan, lalu menunjuk sebuah lorong yang menuju kamar tamu di lantai dua.

"Kamar Anda sudah disiapkan. Semua kebutuhan tersedia di sana. Silakan beristirahat, Nona Maharani. Pak Rakha akan memberi instruksi lebih lanjut besok pagi."

Suasana semakin mencekam bagi Maharani, rumah itu terlalu sunyi, terlalu teratur, terlalu asing. Seolah ia dipindahkan dari satu kurungan ke kurungan lain. Namun di balik rasa takutnya, ada sesuatu yang samar berbisik: bayangan Rakha kini makin dekat dalam hidupnya.

Keheningan kamar terasa menyesakkan. Maharani duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah tirai tebal yang menutupi jendela. Sesekali ia menarik napas panjang, tapi tetap saja dadanya terasa berat.

Ia melepas selendangnya, meletakkannya di kursi, lalu rebah di atas kasur yang empuk. Namun, empuknya ranjang tidak mampu memberikan kenyamanan. Justru semakin ia memejamkan mata, semakin jelas wajah-wajah wartawan, blitz kamera, dan pesan ancaman yang tadi masuk ke ponselnya.

Maharani membuka mata lebar-lebar, lalu bangkit duduk. Pandangannya berkeliling ruangan yang berdinding cream, lemari kaca, dan cermin besar di sudut ruangan. Bayangan dirinya sendiri di cermin terasa asing, seolah bukan dirinya.

Tiba-tiba terdengar suara samar dari luar jendela. Seperti langkah kecil, lalu hening lagi. Maharani terlonjak, matanya menatap tajam ke arah tirai. Tangannya gemetar meraih bantal, memeluknya erat.

Ia berbisik pada dirinya sendiri, suara parau.

"Tenang, Ran... itu cuma pikiranmu. Ini rumah aman... ada penjaga di luar..."

Tapi suara samar itu kembali terdengar entah hanya angin, atau memang ada seseorang di luar. Maharani segera turun dari ranjang, berjalan pelan ke arah tirai. Tangannya terulur, hampir menyentuh kain tebal itu, tapi berhenti di tengah jalan.

Hatinya berdebar kencang.

"Aku... aku nggak berani," ucapnya lirih.

Ia mundur beberapa langkah, lalu bergegas ke ranjang lagi. Tubuhnya ia selimuti rapat-rapat, meski hawa kamar sama sekali tidak dingin.

Di luar kamar, samar terdengar suara langkah berat seorang pengawal. Tapi bagi Maharani, bunyi itu tidak cukup menenangkan. Ada perasaan lain, perasaan seakan seseorang-entah siapa-sedang mengawasinya dari balik bayangan kamar mewah itu.

Air matanya kembali menetes, membasahi bantal.

"Papa... aku takut sekali..." bisiknya pelan, sebelum akhirnya ia memejamkan mata, terhanyut dalam gelisah yang membuat tidur terasa mustahil.

***

Ruang TV yang luas itu temaram, hanya cahaya lampu lantai berwarna kekuningan yang menerangi sudut ruangan. Maharani duduk seorang diri di atas sofa kulit panjang. Tubuhnya tampak ringkih, punggungnya sedikit membungkuk. Rambut panjangnya terurai berantakan, menutupi sebagian wajah yang sembab karena terlalu lama menangis.

Di layar televisi besar, berita tengah malam masih menyiarkan berita gosip tentang dirinya. Ia tidak sanggup mendengar lebih lama, lalu meraih remote dan mematikan layar itu. Seketika ruangan terasa lebih sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang ritmis, semakin menekankan rasa sepi yang menusuk.

Maharani menunduk, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Matanya kosong, sesekali berkaca-kaca. Hatinya berulang kali bertanya-tanya, mengapa semua ini harus menimpanya begitu cepat. Ia merasa terjebak dalam ruang asing, di rumah seseorang yang bahkan baru ia kenal, sementara seluruh dunia di luar sana tampak ingin menelannya hidup-hidup.

Tiba-tiba terdengar suara pelan: tap tap tap. Seperti langkah kecil di lantai marmer. Maharani mendongak dengan sedikit terkejut. Dari arah koridor, seekor kucing Scottish Fold berwarna abu-abu keperakan muncul. Bulu tebalnya tampak bersih, matanya bulat besar menatap lekat ke arah Maharani.

Kucing itu berjalan pelan, ekornya bergoyang lembut. Tanpa ragu, ia melompat ringan ke sofa, tepat di samping Maharani. Perempuan itu terdiam, seolah tak percaya ada makhluk sekecil ini yang tiba-tiba hadir di tengah keterpurukan.

Kucing itu duduk manis, lalu menggesekkan kepalanya ke lengan Maharani. Gerakan sederhana, tapi hangatnya menyentuh jauh ke dalam hati yang resah. Maharani akhirnya mengulurkan tangan gemetar, menyentuh bulu lembut di kepala kucing itu.

Air mata yang semula tertahan, justru jatuh tanpa suara. Maharani tersenyum tipis di tengah isaknya.

"Hei... kamu lucu sekali, siapa namamu kucing Gemoy," bisiknya lirih.

Kucing itu mengeong pelan, suaranya nyaring namun menenangkan, lalu menggeliat manja di sampingnya. Maharani mengusapnya dengan hati-hati, merasakan ketenangan yang selama ini hilang. Untuk pertama kalinya sejak skandal itu pecah, ia bisa merasakan sedikit kehangatan yang tidak dipenuhi prasangka atau tatapan menghakimi.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!