Siti Alesia, anak jawara silat yang tewas konyol, terbangun di tubuh Permaisuri Alessia—wanita lemah yang dijadikan "mesin pembuat anak" dan ditindas hingga mati oleh selir licik.
Tapi mereka salah sasaran. Alesia bukan wanita yang bisa menangis! Dengan mulut pedas dan jurus Golok Seliwa, ia mengobrak-abrik aturan kolot istana. Selir yang meracuninya? Dibanting sampai encok! Ibu Suri yang galak? Dibuat kicep lewat diplomasi sambal terasi!
Raja Magnus yang sedingin es dan sekaku kanebo kering pun dibuat meleyot. Sang penguasa kini sadar; istrinya bukan lagi pajangan, melainkan macan betina yang siap membelah siapa pun yang berani menyentuh harga dirinya.
"Bang Magnus, jangan kaku-kaku amat! Mending latihan silat sama gue, biar otot lu kaga karatan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Rebutan Wilayah Kasur
Raja Magnus berdiri mematung di ambang pintu. Matanya yang tajam seperti elang menyapu seluruh sudut kamar, lalu berhenti tepat di wajah Alesia yang masih memegang gelas air putih dengan gaya santai—kaki satu diangkat ke atas kursi, persis seperti orang lagi nongkrong di warkop.
"Baru saja aku berpapasan dengan Rose," suara Magnus berat dan rendah, bergema di ruangan yang mendadak sunyi itu. "Dia menangis histeris sampai suaranya terdengar ke paviliun seberang. Katanya, kau mencoba membunuhnya dengan ilmu hitam?"
Alesia hampir tersedak air putihnya. Ia meletakkan gelasnya dengan bunyi thud yang keras di meja emas.
"Ilmu hitam mata lu soak, Bang!" semprot Alesia sambil mengelap bibirnya. "Itu namanya teknik bela diri, Bang Magnus yang ganteng tapi kaku! Dia duluan yang mau nampol gue, ya gue kasih 'hadiah' dikit biar pinggangnya makin aduhai. Lagian, itu cewek lu ya? Bilangin, kalau mau nampar orang, minimal latihan angkat beban dulu biar kaga lembek kayak tahu sisa semalem!"
Lily yang berdiri di pojokan sudah hampir pingsan. "Yang Mulia Permaisuri... hamba mohon... itu Baginda Raja..." bisiknya dengan suara gemetar.
Magnus melangkah masuk, menutup pintu besar itu dengan satu tangan. Auranya sangat menekan, membuat Lily buru-buru menunduk dan keluar dari kamar tanpa disuruh. Sekarang, hanya tinggal mereka berdua. Magnus berjalan mendekat, jaraknya kini hanya sejangkauan tangan dari Alesia yang masih duduk dengan pose "barbarnya".
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Alessia," ucap Magnus sambil mencondongkan tubuhnya, menatap lurus ke mata Alesia. "Tidak ada Permaisuri di dunia ini yang berani menyebut selir raja sebagai 'tahu sisa semalam', apalagi membantingnya ke lantai marmer sampai pingsan."
Alesia tidak gentar. Ia justru berdiri, membuat wajah mereka kini hanya berjarak beberapa senti saja. Bau parfum maskulin Magnus yang segar bercampur aroma kayu cendana sempat membuat hidung Alesia kembang-kempis. Duh, ganteng-ganteng kok galak banget sih nih kanebo kering, batinnya.
"Ya sekarang ada! Nih, di depan mata lu!" Alesia menunjuk dadanya sendiri dengan jempol. "Denger ya, Bang Magnus. Gue capek dibilang lemah. Gue capek dibilang mesin anak. Mulai sekarang, siapa pun yang naruh tangan di muka gue, bakal gue bikin mereka sujud syukur di ubin. Termasuk lu kalau berani macem-macem!"
Bukannya marah, Magnus justru merasakan desiran aneh di dadanya. Keberanian Alesia yang meledak-ledak ini jauh lebih menarik daripada Alessia yang dulu, yang selalu bicara dengan nada yang hampir tidak terdengar dan selalu menunduk ketakutan.
"Soal dupa itu..." Magnus menggantung kalimatnya. Ia merogoh sesuatu dari balik jubah hitamnya yang megah. Sebuah kantong kecil berisi sisa arang dupa yang tadi dibuang Alesia. "Aku sudah menyuruh tabib pribadiku memeriksanya secara rahasia. Dan kau benar. Ada kandungan Akar Darah yang dosisnya sangat tinggi. Itu bisa menyebabkan kontraksi hebat pada wanita hamil jika dihirup terlalu lama."
Mendengar itu, ekspresi Alesia melunak sedikit, berganti dengan sorot mata tajam penuh dendam. "Nah, kan! Gue bilang juga apa! Lu tuh Raja, Bang. Harusnya lu jagain bini lu, bukan cuma tau beres doang pas mau 'bikin' ahli waris. Lu tau nggak betapa menderitanya 'Alessia' yang dulu? Dia sedih, dia ngerasa gagal, padahal dia cuma korban dari gundik-gundik lu yang haus kuasa!"
Magnus terpaku. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menusuk hatinya. Selama ini ia memang terlalu fokus pada urusan perbatasan dan politik, menganggap urusan dalam istana adalah hal sepele yang bisa diselesaikan para wanita sendiri.
"Aku akan menghukum siapa pun pelayan yang membawa dupa itu ke kamarmu," ucap Magnus tegas.
"Hukum pelayannya doang? Dih, cetek amat pemikiran lu, Bang!" Alesia mencibir sambil berkacak pinggang. "Pelayan mah cuma kacung! Yang punya niat jahat itu majikannya. Lu kudu usut sampai ke akar-akarnya. Kalau perlu, geledah tuh kamar selir-selir lu satu per satu. Pasti ada barang bukti lain!"
Magnus menghela napas panjang. Ia berjalan menuju ranjang raksasa di tengah ruangan, lalu duduk di pinggirnya dengan angkuh. "Istana tidak sesederhana itu, Alessia. Ada politik di belakang mereka. Perdana Menteri, ayah Rose, adalah pendukung utamaku di dewan."
"Oalah... jadi lu takut sama mertua lu sendiri? Cemen amat jadi Raja!" Alesia tertawa meremehkan, membuat rahang Magnus mengeras. "Kalau lu takut, ya udah. Biar gue yang turun tangan pakai cara gue sendiri. Tapi jangan salahin gue kalau ntar istana lu ini jadi ring tinju!"
Magnus tiba-tiba berdiri dan dalam satu gerakan cepat, ia menangkap pinggang Alesia, menariknya mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan. Alesia tersentak, tangannya refleks menempel di dada bidang Magnus yang keras seperti batu kali.
"Kau menantangku, Permaisuri?" bisik Magnus tepat di depan bibir Alesia. Suaranya rendah dan penuh ancaman, tapi matanya menunjukkan ketertarikan yang dalam. "Kau pikir aku selemah itu sampai harus takut pada perdana menteri? Aku hanya butuh waktu untuk mencabut akarnya sampai habis."
"Waktu, waktu... keburu gue mati diracun lagi kalau nungguin waktu lu!" balas Alesia, meski jantungnya mulai dug-dugan kencang.
"Mulai malam ini, aku akan tidur di sini," putus Magnus tiba-tiba.
"APA?!" Alesia melotot sampai matanya mau keluar. "Eh, enak aja! Kagak bisa! Gue lagi masa iddah—eh, maksudnya gue lagi pemulihan! Kagak boleh ada aktivitas produksi dulu! Lagian lu baru dari kamar si Mawar kan?"
Magnus menyeringai tipis—senyum pertama yang dilihat Alesia di wajah kaku itu. "Siapa yang bilang mau 'produksi'? Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi dupa atau makanan beracun yang masuk ke kamar ini. Aku akan menjagamu sendiri."
"Nggak usah! Gue bisa jaga diri gue sendiri pakai jurus Golok Seliwa!"
"Aku tidak menerima penolakan, Alessia. Ini perintah Raja."
Magnus melepaskan pelukannya, lalu mulai melepas jubah luar dan kancing kemeja atasnya, memperlihatkan bahu lebar dan otot leher yang tercetak jelas. Alesia berdiri mematung di pinggir tempat tidur.
"Eh, Bang! Lu ngapain buka-buka baju? Ini kamar gue, ya wilayah kedaulatan gue! Lu tidur di sofa sono, atau balik ke kandang mawar lu tadi!" seru Alesia sambil menunjuk sofa beludru di pojok ruangan.
Magnus menghentikan gerakannya, menoleh dengan satu alis terangkat. "Seluruh jengkal tanah di kerajaan ini adalah milikku, termasuk ranjang ini. Dan kau... adalah istriku yang sah. Kenapa aku harus tidur di sofa?"
"Istri, istri... Lu baru inget gue istri pas mau tidur doang?" Alesia naik ke atas kasur, duduk bersila di tengah-tengah dengan gaya menantang. "Gak ada! Pokoknya gue kaga mau berbagi kasur sama laki yang kaga ada empati kayak lu! Kalau lu mau tidur di sini, lu kudu lewatin mayat gue dulu!"
Magnus menatap kaki mungil Alesia yang menghalangi jalannya. "Kau benar-benar bicara seperti orang dari negeri antah berantah. Apa itu 'cemen'? Apa itu 'kanebo'? Dan kenapa kau tidak punya sopan santun sama sekali?"
"Berisik! Pokoknya jangan lewat batas!" Alesia mengambil bantal, lalu meletakkannya di tengah kasur sebagai pembatas. "Ini namanya garis khatulistiwa. Sebelah sini wilayah Jakarta Barat, sebelah sono wilayah lu. Kalau lu lewat garis tengah, gue tendang lu sampai ke kutub utara!"
Magnus terdiam sejenak, lalu tiba-tiba ia menangkap pergelangan kaki Alesia. Dengan satu sentakan pelan namun bertenaga, ia menarik Alesia hingga wanita itu terbaring telentang di kasur. Dalam sekejap, Magnus sudah berada di atasnya, menumpu tubuhnya dengan kedua tangan di sisi kepala Alesia.
"Lu... lu mau ngapain, Tong?! Jangan macem-macem ya! Gue teriak nih!" ancam Alesia, meskipun wajahnya sudah merah padam.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan aneh. Dan berhenti melawan suamimu, Alessia," bisik Magnus. Matanya mengunci tatapan Alesia. "Kau pikir jurus 'silat' mu itu bisa mengalahkanku di atas ranjang ini?"
Alesia menyeringai, insting petarungnya bangkit. "Oh, lu nantangin? Belum tau lu kalau gue udah keluarin jurus 'Pitingan Leher'!"
Dengan kelincahan luar biasa, Alesia melingkarkan kakinya ke pinggang Magnus dan menggunakan lengannya untuk mengunci leher sang raja. Mereka berguling di atas kasur yang luas itu. Magnus mencoba melepaskan kuncian tangan Alesia yang tak disangka sangat kuat dan teknis.
"Lepas... kan... Alessia!" Magnus mengerang, setengah kesal setengah takjub karena baru kali ini ada wanita yang berani "bergulat" dengannya.
"Kagak mau! Lu tidur di sofa dulu, baru gue lepasin!" seru Alesia sambil terus mengunci leher Magnus.
Akhirnya, Magnus berhasil membalikkan keadaan dengan tenaga besarnya, mengunci kedua tangan Alesia di atas kepala wanita itu. Napas keduanya memburu. Rambut Alesia berantakan, sementara kemeja Magnus sudah hampir copot semua kancingnya.
"Kau benar-benar gila," ucap Magnus sambil menatap mata Alesia. "Tapi aku akui... kau jauh lebih hidup sekarang. Tidurlah. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari ini. Aku hanya ingin kau aman."
Magnus melepaskan kunciannya, lalu berbaring di sisi lain bantal pembatas. Alesia merapikan baju tidurnya sambil mendengus.
"Awas lu kalau ngorok! Gue sikut ginjal lu ntar!" gumam Alesia sambil menarik selimut.
Malam itu, untuk pertama kalinya, kamar Permaisuri yang biasanya penuh tangisan berubah menjadi medan pertempuran kecil yang penuh tawa dan amarah. Di balik sikap barbarnya, Alesia tahu... hidupnya di istana ini baru saja dimulai.
gx da lembut2ny ,, tp mantap laa Alessia ,, aq suka gaya muuu 🤟🤟🤟🤟🤟
semangat trus ya kak nulis ny
hai kak ,,
aq mampir ksniii