NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingatan

Kesunyian kembali menyelimuti ruangan itu setelah jeritannya mereda. Udara terasa berat, seolah ikut menekan dada Lilian—atau siapa pun dirinya sekarang. Ia masih berdiri terpaku di depan cermin, kedua tangannya mencengkeram tepi meja di sampingnya. Dadanya naik turun pelan, napasnya belum sepenuhnya stabil. Jantungnya masih berdetak cepat, seperti belum siap menerima kenyataan yang barusan menamparnya tanpa ampun.

Pantulan di cermin masih sama. Wajah pucat, kusam, dengan mata sayu yang menyimpan kelelahan mendalam. Wajah yang asing, namun kini tak lagi sepenuhnya terasa asing.

Lilian memejamkan mata.

“Tenang…” bisiknya pada diri sendiri, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan.

“Tenang… pikirkan baik-baik.”

Ia menarik napas dalam-dalam, meski udara yang masuk terasa dingin dan menusuk paru-parunya. Ia mencoba mengatur detak jantungnya, mencoba menenangkan pikiran yang bergejolak seperti ombak di tengah badai.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ia berusaha mengingat. Menggali kembali malam sebelum semua ini berubah. Malam saat ia masih menjadi Lilian Zetiana Beatrixia, mahasiswi biasa yang kelelahan karena proposal penelitian.

Tidak ada yang aneh di malam itu.

Ia ingat dengan jelas. Laptop. Jam dua dini hari. Proposal selesai. Tubuhnya jatuh ke ranjang kos dengan sisa tenaga terakhir. Tidak ada kecelakaan. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada rasa sakit yang tiba-tiba.

Ia hanya… tertidur.

Lilian membuka matanya kembali. Dahi berkerut dalam kebingungan yang semakin dalam.

“Kalau begitu…” gumamnya lirih, suaranya serak.

“Kenapa aku bisa ada di sini?”

Tangannya terangkat, jari-jarinya yang kurus dan pucat menekan pelipisnya. Ia memejamkan mata sekali lagi, memaksa ingatannya bekerja lebih keras. Seolah dengan kemauan saja, ia bisa menarik kembali potongan ingatan yang hilang.

Namun semakin ia berusaha, kepalanya justru terasa semakin panas.

Awalnya hanya rasa tidak nyaman, seperti tekanan ringan. Lalu perlahan berubah menjadi nyeri yang jelas, menjalar dari tengkuk ke belakang kepala, naik hingga ke ubun-ubun. Sensasinya seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam, memaksa keluar.

“Akh…”

Keluhan itu terlepas tanpa sadar. Tubuhnya terhuyung, lututnya melemas. Ia nyaris jatuh jika tidak cepat berpegangan pada meja di samping ranjang. Detak jantungnya semakin cepat, berdentum keras di telinganya sendiri. Pandangannya menggelap sejenak, seperti tirai hitam yang turun lalu terangkat kembali.

Dan kemudian,

Ingatan itu datang.

Bukan satu. Bukan dua.

Melainkan banyak.

Terlalu banyak.

Potongan-potongan gambar berkelebat di benaknya, datang bertubi-tubi tanpa memberi waktu untuk bernapas. Seperti lembaran presentasi yang tergulir terlalu cepat, tak bisa dihentikan, tak bisa dipilih.

Ia melihat halaman kediaman luas dengan bangunan megah berornamen kayu. Mendengar suara tawa para wanita, lembut namun mengandung ketajaman tersembunyi. Aroma dupa yang menenangkan sekaligus menyesakkan. Langkah kaki para pelayan yang teratur. Pintu kayu berat yang tertutup rapat dengan bunyi duk pelan seolah memutus dunia luar.

Ada dingin ranjang yang sama persis dengan yang kini ia duduki.

Ada rasa sakit yang samar namun terus-menerus.

“Apa… semua ini…?” Lilian terengah, kedua tangannya kini memegangi kepalanya. Napasnya tersengal, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Ingatan-ingatan itu tidak berhenti.

Ia merasakan kesedihan yang bukan miliknya. Ketakutan yang asing, namun terasa nyata. Kesepian yang menekan dada hingga sulit bernapas.

Dan di tengah kekacauan itu, satu nama muncul, jelas, tegas, dan tak terbantahkan.

Wu Zetian.

Nama itu bergema di benaknya.

Bukan namanya.

Namun… tubuh ini mengenal nama itu dengan sangat baik. Seolah nama itu telah tertanam jauh sebelum kesadarannya terbangun.

Wu Zetian.

Seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun. Nona Kedua dari Kediaman Perdana Menteri Wu Zheng. Salah satu pejabat tertinggi di Kekaisaran Dinasti Tang. Putri sah. Anak satu-satunya dari istri resmi.

Namun terabaikan.

Gambaran seorang gadis muda muncul jelas di benaknya. Tubuh kurus yang sering terbaring di ranjang. Wajah pucat yang jarang tersenyum. Tatapan kosong yang lebih sering menatap langit-langit kamar daripada dunia luar.

Ibunya meninggal sepuluh tahun lalu.

Sejak hari itu, kehidupan Wu Zetian perlahan runtuh, sedikit demi sedikit, tanpa ada yang benar-benar peduli.

Ayahnya, Wu Zheng, tenggelam dalam urusan istana. Kesedihannya atas kematian istri sah berubah menjadi jarak. Jarak yang semakin lama semakin tak terjembatani. Kediaman perdana menteri yang megah berubah menjadi tempat penuh intrik, senyum palsu, dan bisikan beracun.

Wu Zetian memiliki dua saudara tiri.

Wu Wei, putra dari selir pertama, Bao Yu. Anak laki-laki yang tumbuh dengan perlindungan penuh dan ambisi besar. Wu Fanghua, putri dari selir ketiga, Li Hua. Cantik, lembut di luar, namun licik di dalam.

Sedangkan selir kedua, Zhen Zu sampai saat ini belum dikaruniai anak.

Ingatan itu terus mengalir, semakin jelas, semakin menyakitkan.

Sejak kecil, Wu Zetian hidup di tengah ketegangan yang tak pernah benar-benar mereda. Kediaman itu megah, namun dingin. Indah di luar, namun rapuh di dalam.

Dan di balik tirai sutra, di balik senyum anggun para selir, kematian ibu sah Wu Zetian bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil dari kerja sama keji Bao Yu dan Li Hua.

Kesadaran itu menghantam Lilian atau Wu Zetian dengan keras. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, melainkan karena kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu.

Namun di antara ingatan-ingatan pahit itu, ada satu sosok yang terasa berbeda.

Hangat.

Zhen Zu.

Selir kedua ayahnya. Seorang wanita lembut dengan tatapan penuh kasih. Sejak ibu Wu Zetian meninggal, dialah satu-satunya yang memperlakukan gadis itu seperti manusia, bukan sekadar bayangan di kediaman megah.

Ia selalu memastikan makanan Wu Zetian diantarkan. Ia duduk di sisi ranjang saat gadis itu sakit. Ia berbicara lembut, seolah Wu Zetian adalah darah dagingnya sendiri.

Namun bahkan kasih itu pun tercemar.

Tanpa disadari siapa pun, pelayan yang mengantarkan makanan ternyata adalah mata-mata selir pertama. Racun perlahan diselipkan. Dosis kecil. Tidak mematikan. Hanya cukup untuk melemahkan tubuh, hari demi hari.

Dan perhatian Zhen Zu menjadi awal petaka lain.

Bao Yu dan Li Hua tidak menyukai kedekatan mereka.

Dengan senyum lembut dan kata-kata manis, mereka menyuruh pelayan setia menyelipkan racun yang sama ke dalam makanan Zhen Zu.

Selama dua tahun terakhir, tubuh Zhen Zu perlahan runtuh. Ia sakit-sakitan, tak mampu keluar dari kamarnya. Dan bersamaan dengan itu,

Wu Zetian pun dilupakan sepenuhnya. Tanpa perlindungan dan tanpa perhatian dari siapapun. Melalui fitnah keji Bao Yu dan Li Hua, perdana menteri Wu Zheng menjatuhkan hukuman pengasingan kepada Wu Zetian di sebuah rumah kecil di tengah hutan yang lebat.

Dan akhirnya, Wu Zetian berakhir di rumah ini. Terbaring lemah di ranjang, hari demi hari nyaris tak ada yang datang menjenguk. Seolah ia sudah mati, hanya saja tubuhnya belum dikuburkan.

Ingatan itu berhenti mendadak.

Kepala Lilian terasa berat, namun panasnya perlahan mereda, meninggalkan keheningan yang mencekam. Ia terduduk di sisi ranjang, napasnya terengah, tubuhnya masih gemetar.

“Jadi…” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.

“Ini… tubuhmu.”

Wu Zetian.

Ia menatap tangannya sendiri. Tangan Wu Zetian yang tampak kurus dan rapuh. Kulit pucat itu kini terasa nyata di bawah pandangannya.

Kini ia mengerti.

Mengapa tubuh ini begitu lemah. Mengapa wajah ini begitu kusam. Dan mengapa tak ada seorang pun yang peduli.

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, satu pemikiran muncul jelas, tegas, dan penuh tekad di benaknya.

“Jika aku kini berada di tubuhmu…”

“…maka aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir sama seperti sebelumnya.”

Matanya menyipit pelan.

Kali ini, Wu Zetian tidak akan mati dalam diam.

---

Yuhuuuu, author balik~

Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa like, vote, dan komen ya 🤍

Terima kasih sudah membaca.

See you di chapter selanjutnya!

1
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!