Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.
Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.
Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Cambuk
Genderang istana ditabuh bertalu-talu. Suara tersebut menggema di Aula Besar, menandai penyambutan resmi keluarga kekaisaran. Semua percakapan terhenti sejenak, lalu kembali hidup dengan riuh yang tertata. Para bangsawan mulai bergerak, membentuk lingkaran-lingkaran kecil. Ada yang tersenyum ramah, ada yang memamerkan perhiasan, ada pula yang menyebar gosip dengan suara rendah namun tajam.
Beberapa nona bangsawan menilai satu sama lain dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Siapa yang lebih cantik.
Siapa yang lebih berharga.
Siapa yang pantas dilangkahi.
Di balik senyum manis dan tawa pelan, tersimpan niat tersembunyi di belakangnya.
Di ujung aula, Wu Fanghua tampak berdiri anggun di samping seorang wanita berusia matang dengan riasan tebal dan sikap angkuh, Selir Li Hua. Keduanya mengenakan pakaian mewah, penuh perhiasan emas dan giok.
Wu Fanghua menoleh ke sekeliling aula dengan senyum puas, lalu mendekat ke ibunya.
“Ibu,” bisiknya dengan nada mengejek, “aku rasa si bodoh itu tidak berani datang kemari.”
Ia melirik sekeliling sekali lagi,
“Lihatlah,” lanjutnya, nada suaranya penuh kemenangan, “aku tidak melihat keberadaannya di sini.”
Li Hua menyipitkan mata, bibirnya melengkung sinis.
“Sepertinya memang begitu,” jawabnya pelan namun dingin.
“Sia-sia aku membayar orang itu untuk mengajaknya kemari.”
Wu Fanghua tertawa remeh, menutup mulutnya dengan kipas sutra.
“Setidaknya dia tahu diri.”
_____________________
Tak jauh dari mereka, Wu Zetian berdiri tenang dan jubahnya masih menutupi wajah. Ia menyaksikan semua itu tanpa ekspresi. Ia seperti paham pada setiap kata yang keluar dari mulut ibu dan anak itu.
Dan ia hanya tersenyum tipis.
Menarik.
Tiba-tiba, seorang gadis bangsawan melangkah cepat melewati sisi Wu Zetian. Langkahnya tergesa, dagunya terangkat tinggi, jelas tak memperhatikan sekitar.
Braak!
Tubuh mereka bertabrakan. Namun yang terjadi selanjutnya membuat banyak orang terbelalak. Bukannya Wu Zetian yang terjatuh, melainkan tubuh gadis itu yang justru terpental ke depan dan jatuh tengkurap di lantai marmer dengan suara keras.
Dugh!
Aula hening sesaat. Beberapa bangsawan refleks menutup mulut demi menahan tawa. Bahu mereka bergetar, namun tak seorang pun berani tertawa terang-terangan.
Karena gadis itu adalah Putri bangsawan Gu.
Gu Meilin.
Wajah Gu Meilin memerah hebat. Ia menahan rasa malu yang menyengat ketika puluhan pasang mata tertuju padanya. Tangannya mencengkeram lantai, lalu ia berdiri dengan kasar.
Gaunnya sedikit kusut dan rambutnya berantakan. Ia merasa harga dirinya dicabik-cabik saat itu. Ia mendongak dan menatap Wu Zetian dengan mata menyala marah.
“Apa yang kau lakukan, bodoh!!!” bentaknya nyaring.
“Apa kau sengaja menghalangi jalanku?!”
Suara itu memecah keheningan. Wu Zetian perlahan menoleh.
Dari balik jubah, sepasang mata abu-abu terang menatap Gu Meilin dengan tatapan dingin, tajam, dan penuh penghinaan. Ia berbicara dengan suara tenang, namun menusuk.
“Apa kau sedang membahas dirimu sendiri?” katanya ringan.
“Dan apa matamu buta?” lanjutnya sambil menatap Gu Meilin dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Nada suaranya datar dan setiap katanya seperti pisau. Beberapa orang terkejut dan beberapa lainnya menahan napas.
Gu Meilin ternganga, lalu wajahnya semakin memerah oleh amarah.
“Kau!!!”
Tanpa berpikir panjang, Gu Meilin mengangkat tangannya tinggi-tinggi, hendak menampar Wu Zetian.
Wu Zetian reflek bergerak. Tangannya menangkap pergelangan Gu Meilin dengan cepat. Sebelum siapa pun sempat bereaksi, ia memutar tangan itu ke arah yang tidak wajar.
Krek!
Suara tulang beradu terdengar jelas.
“Aaaaaaah!!!” Gu Meilin menjerit histeris.
“Tolong! Sakit! Lepaskan aku!!”
Wu Zetian mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah namun tajam.
“Jika kau tidak tahu cara berjalan,” bisiknya dingin,
“maka dari sekarang, belajarlah untuk merunduk.”
Ia melepaskan tangan Gu Meilin begitu saja. Gu Meilin jatuh terduduk, menangis sambil memegangi pergelangan tangannya.
“Ayah! Ayah!!!”
Dari arah depan aula, seorang pria paruh baya dengan jubah kebesaran bangkit dengan wajah murka.
Raja Gu Shao.
“Prajurit!!!” teriaknya marah.
“Tangkap wanita itu sekarang juga!”
Ia menunjuk Wu Zetian dengan tangan gemetar oleh amarah.
“Dia telah menyerang putriku! Hukum dia sekarang!”
Beberapa prajurit mulai melangkah maju.
Dan tiba-tiba,
“Berhenti.”
Suara itu tenang, namun berwibawa.
Putra Mahkota Tang Liwei melangkah maju satu langkah, wajahnya dingin.
“Akan terlihat bodoh, jika kalian menangkapnya.” Matanya menyapu kearah Raja Gu Shao dan kemudian menoleh ke arah Gu Meilin yang masih menangis.
“Kami tidak bodoh. Kami semua juga melihat dengan sangat jelas bahwa yang bersalah adalah putrimu.” katanya tajam.
Tang Liwei menyipitkan mata.
“Jadi, hentikan tingkah konyolmu itu, dan tidak usah berpura-pura menjadi korban.” lanjutnya tanpa basa-basi.
Aula kembali hening.
Raja Gu Shao terdiam, wajahnya merah padam.
Putra Mahkota lalu mengalihkan pandangannya ke arah Wu Zetian.
“Tapi,” katanya dingin,
“siapa dirimu?”
Matanya tajam, penuh selidik.
“Apa para prajurit tidak bekerja hari ini?” lanjutnya.
“Mengapa membiarkan orang asing masuk ke sini tanpa identitas yang jelas?”
Wu Zetian melangkah maju satu langkah dan membungkuk sopan.
“Permisi, Tuan,” ucapnya tenang.
“Saya Wu Zetian.”
Beberapa bangsawan saling pandang.
“Nona kedua dari keluarga Perdana Menteri Wu Zheng.”
Boom.
Wu Fanghua dan Li Hua membeku. Sementara Perdana menteri Wu Zheng menatap tidak percaya.
Mata mereka melebar, napas tertahan.
“Ti, tidak mungkin…” gumam Wu Fanghua.
Di sisi lain aula, Tang Ming membeku di tempatnya.
Matilah aku, batinnya.
Putra Mahkota mengangguk pelan, lalu berkata,
“Baik. Lalu mengapa kau menutup wajahmu dengan jubah itu?”
Wu Fanghua langsung maju selangkah, suaranya dibuat selembut mungkin.
“Ampun, Yang Mulia,” katanya cepat.
“Dia adalah saudariku.” Ia menunduk dalam-dalam.
“Dia menutup wajahnya karena sedang memiliki masalah dengan wajahnya,” lanjutnya penuh kepura-puraan.
“Mohon ampuni dia, Yang Mulia.”
Bisik-bisik kembali muncul.
“Ah… jadi benar rumor itu”
“Nona kedua Wu Zheng memang buruk rupa…”
“Kasihan”
Putra Mahkota menatap Wu Zetian.
“Apakah benar begitu, Nona Wu Zetian?”
Wu Zetian tersenyum.
Perlahan, lalu melepas jubahnya.
“Aku rasa, tidak” katanya lembut,
Suara itu mengalun indah, jernih, dan penuh percaya diri.
Aula terdiam total.
Wajahnya terungkap sepenuhnya. Cahaya lampu seolah menari di kulitnya. Kecantikannya membuat waktu terasa melambat. Para pria menatap dengan pipi memerah. Beberapa bahkan menelan ludah tanpa sadar.
Dia terlihat lebih cantik dari terakhir kali.
Ini benar-benar kecantikan dewi.
Gumam Tang Ming dalam hatinya.
Wu Zetian menyapu pandangan ke sekeliling.
“Apakah aku terlihat seperti yang kalian ucapkan?” tanyanya tajam. Lalu matanya berhenti pada Wu Fanghua.
“Dan kau, Nona Wu Fanghua,” lanjutnya dingin.
“Aku jadi penasaran, apakah orang yang menyebarkan rumor itu selama ini adalah kau.” Cercanya sambil menunjuk Wu Fanghua dan dibalas dengan keterdiaman.
Ia tersenyum tipis.
“Kurasa ini adalah kasus pencemaran nama baik,” katanya tegas.
“Aku harap seseorang bisa melihat dan memberikan keadilan untukku.”
Li Hua bangkit dengan wajah panik.
“Zetian! Akhirnya kau pulang, Nak!” teriaknya dramatis.
“Ibu sangat merindukanmu!”
Ia membuka tangan hendak memeluk namun Wu Zetian melangkah ke samping.
Li Hua pun kehilangan keseimbangan, dan
Brugh!
Ia terjatuh ke lantai.
“Dih,” kata Wu Zetian dingin.
“Memalukan.”
Karena merasa keluarganya dilibatkan dalam masalah ini, Wu Zheng akhirnya maju dengan wajah kaku.
“Mohon ampun, Putra Mahkota,” katanya tergesa.
“Maafkan kekonyolan anak-anak dan istriku. Aku akan mendisiplinkan mereka nanti.”
“Mendisiplinkan?” Wu Zetian tertawa dingin.
“Seperti apa mendisiplinkan yang kau maksud, Tuan?”
“Hahahaha,” lanjutnya sinis.
“Kau hanya ingin membebaskan mereka, bukan?”
Ia menatap seisi aula.
“Aku tidak percaya dengan kata ‘mendisiplinkan’ mu itu” ucapnya tegas.
“Aku hanya ingin keadilan.”
Wu Zetian melangkah ke depan Kaisar Tang Yao dan Permaisuri Xiao.
“Permisi, Yang Mulia,” katanya lantang.
“Hamba izin menghadap. Hamba memohon keadilan atas pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Wu Fanghua.”
Tang Yao mengangguk.
“Prajurit!” serunya.
“Tangkap Wu Fanghua!”
“Cambuk dia sepuluh kali di depan semua orang!”
“Baik, Yang Mulia!”
“Tidak! Aku tidak bersalah!” Wu Fanghua menjerit.
“Ampuni aku, Yang Mulia!!!”
Dan,
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Ctasss!
Hari ini, jeritan Wu Fanghua menggema di seisi aula kekaisaran.
______________
Yuhuuu~🌹
Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖
See youu~💓