NovelToon NovelToon
Milikku Di Atas Net

Milikku Di Atas Net

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Martha Wulan

Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.

Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.

"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."

Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.

Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: MACET, SATE, DAN SINYAL BERBAHAYA

Flyover Pancoran – 22:40 WIB

Jakarta malam itu tidak sekadar macet; ia sedang sekarat. Lampu rem mobil di depan mereka berderet seperti barisan bara api yang diam namun memanggang aspal kelabu. Udara di luar pengap oleh jelaga knalpot, namun di dalam sedan hitam milik Rangga Adiwinata, dunianya berbeda seratus delapan puluh derajat.

Kabin mobil itu kedap, menyisakan keheningan yang mahal dan intimidatif. Aroma kulit jok baru bercampur dengan wangi kayu cedar dari parfum Rangga—kombinasi aroma yang bersih, maskulin, dan sangat berkuasa. Livia menyandarkan kepalanya, blazer tipisnya tersingkap sedikit, memperlihatkan bahu kuning langsat yang masih menyimpan sisa panas dari acara gala di Ritz-Carlton tadi.

"Cinere itu jauh, Ngga," gumam Livia, suaranya sedikit serak, efek dari sampanye dan kelelahan emosional. "Turunin di stasiun depan saja. Aku bisa pesan taksi online."

Rangga terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang getarannya terasa hingga ke dada Livia. "Terus membiarkan Papi kamu berpikir aku tipe cowok yang lepas tanggung jawab di tengah jalan? Enggak, Liang. Aku antar sampai depan gerbang."

Livia mendengus, mencoba membuang muka ke jendela. "Konsisten banget ya, menjaga image calon menantu idaman."

"Ini bukan soal pencitraan," jawab Rangga santai sembari memindahkan persneling dengan gerakan tangan yang presisi. "Ini soal standar. Dan kamu tahu betul, standar itu yang bikin kamu merasa aman malam ini."

Keheningan jatuh kembali, kali ini terasa lebih padat. Livia menggeser posisi duduknya, membuat paha mereka nyaris bersentuhan melalui kain sutra yang tipis. Ia sadar betul akan jarak itu, dan Rangga jelas lebih sadar lagi. Ada tegangan listrik yang seolah meloncat di antara ruang sempit di antara kursi mereka.

"Aku masih kepikiran," kata Livia akhirnya. "Kenapa kamu nekat banget bahas nikah di depan kamera tadi? Itu gila, Ngga."

Rangga tersenyum tipis. Bukan senyum ramah wartawan, tapi senyum seorang predator yang tahu persis kartu apa yang sedang ia mainkan.

"Karena tadi kamu lagi emosi, lagi nggak mikir panjang, dan hampir melakukan hal bodoh gara-gara Mateo," sahut Rangga telak. "Aku cuma menarik rem darurat sebelum kamu terjun ke jurang."

"Rem?" Livia tertawa kecil. "Kamu justru bikin tensi satu Indonesia naik."

"Justru itu." Rangga menoleh saat mobil terhenti total di kemacetan. Tatapannya tajam, mengunci manik mata Livia. "Aku bikin kamu aman dari skandal, sekaligus bikin kamu penasaran sama aku."

Livia ingin membantah, tapi lidahnya mendadak kelu. Dominasi Rangga di ruang sekecil ini terasa begitu nyata.

"Ngomong-ngomong... kenapa sih kamu suka sama Mateo?" tanya Rangga tiba-tiba.

Livia tersentak. Pertanyaan itu datang tanpa aba-aba, menusuk tepat di ulu hatinya.

"Jujur saja," lanjut Rangga tenang. "Aku mau dengar langsung dari kamu. Bukan dari gosip murahan."

Livia menarik napas panjang. "Karena dia yang pertama."

Rangga tidak berkedip. "Pertama...?"

"Pertama yang bikin aku merasa diinginkan sebagai perempuan, bukan cuma sebagai mesin pencetak medali keluarga Liang," jawab Livia jujur. "Dia orang pertama yang aku kasih kepercayaan penuh. Kita backstreet lama, Ngga. Aku nggak bodoh, aku cuma... percaya."

Livia hampir saja mengatakan dia jatuh cinta pada Mateo, bahwa setiap sentuhan pria itu terasa seperti pelarian yang ia butuhkan. Namun, ia tidak ingin terlihat tak berdaya di depan Rangga.

Keheningan mengental. Rangga tidak menghakimi. Reaksi datarnya justru membuat Livia merasa lebih "telanjang" dari biasanya.

"Jadi itu alasannya?" Rangga berkata, suaranya turun satu oktav. "Kamu kasih segalanya buat bocah yang cuma tahu cara main api tapi kabur begitu melihat asap?"

Rangga mematikan mesin mobil di tengah Flyover Pancoran yang macet total. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Livia, memerangkap gadis itu dengan auranya.

"Lihat aku, Livia."

Itu bukan permintaan. Itu perintah halus. Livia menoleh, dan jarak mereka kini sangat dekat. Ia bisa melihat kilat gelap di mata Rangga—sesuatu yang lapar namun terbungkus rapi oleh kendali diri.

"Kamu merasa panas karena aku menahan diri," bisik Rangga. Tangannya naik, menyentuh dagu Livia. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Livia dengan gerakan posesif. "Mateo kasih apa pun yang kamu mau karena dia nggak peduli nasib kamu besok. Tapi aku beda."

Rangga mendekat hingga bibir mereka hampir bersentuhan. "Kalau aku sentuh kamu lebih jauh, aku nggak mau setengah-setengah. Aku nggak cuma mau mampir, Livia. Aku mau menetap."

Livia bergidik. Bukan karena dingin, tapi karena intensitas suara pria itu.

"Dan itu sebabnya kamu menahan diri?" bisik Livia impulsif.

Rangga tersenyum, jenis senyum yang membuat jantung Livia berulah. "Dan itu sebabnya kamu nggak bakal bisa berhenti memikirkan aku malam ini."

Lampu merah berganti hijau. Mesin menyala kembali. "Aku lapar. Sate enak sepertinya," Livia berujar cepat, berusaha menguasai dirinya yang nyaris runtuh.

Rangga mengangguk. "Pilihan yang aman."

"Terlalu aman," tantang Livia.

"Buat malam ini, iya," balas Rangga penuh arti.

Depan Rumah Keluarga Liang – 00:20 WIB

Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang tinggi rumah Livia.

"Satenya enak. Makasih ya," kata Livia pelan saat ia bersiap keluar.

Rangga menatapnya lama. "Aku lihat postingan Mateo barusan."

Livia melirik ponselnya. Mateo mengunggah foto lama dengan caption pahit penuh ego yang terbakar. Livia tersenyum tipis. "Bagus kalau dia merasa kehilangan."

"Hati-hati," balas Rangga. "Pria yang egonya tersinggung itu bisa nekat. Tapi sekarang kamu nggak sendirian menghadapinya."

Livia memandangi pria ini. “Thanks sudah mau membantuku, Ngga. I appreciate it. I owe you big time.”

Rangga hanya mengangguk, menyaksikannya masuk ke rumah sebelum ia menginjak gas.

Kamar Livia – 00:45 WIB

Mengenakan piyama satin tipis, Livia merebahkan diri di kasurnya. Pikirannya masih dipenuhi aroma kayu cedar dan tatapan Rangga di mobil tadi.

Drrtt.Ponselnya bergetar.

Rangga:Sudah tidur? Jangan lupa kompres kaki. Besok latihan jam 9 pagi.

Livia tersenyum. Jemarinya menari di atas layar.

Livia:Baru selesai mandi. Badan masih panas banget, Ngga. Kayaknya pijatan kamu di mobil tadi kurang lama.

Balasan datang lebih cepat dari yang ia duga.

Rangga:Aku bisa ke sana sekarang kalau kamu mau.

Rangga:Tapi ingat, Liang. Sekali aku masuk kamarmu, opsinya cuma dua:

Rangga:Kita cari cincin besok pagi...

Rangga:Atau kamu nggak bakal kuat berdiri buat latihan besok.

Livia memejamkan mata, jantungnya berpacu hebat. Rangga benar-benar tahu cara memainkan tensi ini.

Rangga:Tidur. Simpan energinya.

Rangga:Kamu pantas dapat pria sejati, bukan sekadar kenangan buruk.

Livia menjatuhkan ponselnya ke bantal. Ia sadar, ia tidak lagi sedang mengejar api yang membakar. Ia sedang dijinakkan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sebuah ketenangan yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!