NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. MENEMUKAN RUMAH PANGGUNG

Beberapa hari setelah tiba di kampung halaman, Rian memutuskan untuk mengunjungi rumah panggung yang dulunya menjadi tempat tinggal orang tuanya sebelum mereka pindah ke rumah kayu yang sekarang ditempati oleh Nenek Siti. Rumah itu terletak di bagian dalam desa, di belakang hamparan sawah yang sudah mulai terbengkalai dan beberapa semak belukar yang tumbuh liar.

“Papa, rumah apa itu yang kamu mau kunjungi?” tanya Hadian dengan suara yang penuh rasa ingin tahu, sedang mengikuti ayahnya bersama Alea melalui jalan tanah yang berlubang-lubang dan penuh dengan rerumputan tinggi. Anak-anak sudah mulai akrab dengan lingkungan kampung, namun mereka belum pernah melihat bagian desa yang jauh dari pemukiman utama seperti ini.

“Itu adalah rumah tempat Papa tumbuh besar, Nak,” jawab Rian dengan suara yang penuh dengan kenangan. “Rumah panggung yang dulunya menjadi tempat tinggal Kakek dan Nenekmu sebelum mereka membangun rumah yang sekarang kita tempati. Aku ingin melihat apakah rumah itu masih berdiri atau sudah lenyap sama sekali.”

Alea memegang erat tangan kakaknya, matanya melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu namun juga sedikit takut. Jalannya semakin sulit ditempuh seiring mereka mendekat ke arah lokasi rumah panggung, dengan semak belukar yang harus mereka tempuh dan sungai kecil yang harus mereka lalui dengan menggunakan jembatan kayu yang sudah sangat tidak stabil.

Setelah berjalan sekitar sepuluh menit lagi, mereka akhirnya melihat sosok rumah panggung yang sudah sangat rusak berdiri di tengah lahan yang luas namun penuh dengan rerumputan tinggi. Rian merasa hati nya terasa berat dan mata nya berkaca-kaca melihat kondisi rumah yang dulu pernah menjadi tempat penuh dengan kebahagiaan bagi keluarganya kini hanya menjadi reruntuhan yang hampir tidak bisa dikenali.

Rumah panggung yang dulunya terbuat dari kayu jati yang kokoh kini tampak sangat rapuh. Atap jerami yang dulu tebal dan rapi sudah sebagian besar hilang, meninggalkan bagian atas rumah terbuka dan membuat sebagian besar lantai dalam rumah terkena hujan dan panas matahari secara langsung. Beberapa tiang penyangga rumah sudah mulai miring atau bahkan patah akibat usia dan serangan rayap yang parah.

“Wah, rumahnya rusak banget ya Papa,” ujar Hadian dengan suara yang penuh kesedihan, melihat sekeliling rumah dengan ekspresi wajah yang tidak percaya. Dia tidak bisa membayangkan bahwa ayahnya pernah tinggal di rumah yang sekarang tampak begitu mengerikan ini.

Rian mengangguk perlahan dan melangkah dengan hati-hati mendekati rumah. Ketika mereka memasuki area depan rumah, mereka melihat bahwa lantai kayu yang dulunya rata dan kokoh kini sudah tidak rata lagi, dengan beberapa bagian yang sudah roboh dan menciptakan jurang yang cukup dalam. Beberapa dinding kayu yang masih berdiri penuh dengan lubang akibat rayap dan cuaca yang tidak bersahabat, dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar yang dulu dibuat oleh Rian dan saudara-saudaranya ketika masih kecil masih bisa dilihat dengan jelas di beberapa bagian dinding yang masih utuh.

“Aku masih ingat bagaimana Kakek dulu mengajakku memperbaiki atap rumah ini setiap tahun sebelum musim hujan datang,” ujar Rian dengan suara yang bergetar, menyentuh salah satu tiang penyangga rumah yang masih berdiri dengan hati-hati. “Kita akan bekerja bersama-sama dari pagi hingga sore, dengan minum kelapa muda dan makan makanan yang dibuat oleh Nenek di bawah pohon mangga yang dulu tumbuh di depan rumah ini.”

Hadian melihat ke arah tempat yang disebutkan ayahnya, namun tidak ada satu pohon pun yang masih berdiri di sana – hanya rerumputan tinggi dan beberapa semak belukar yang tumbuh liar menggantikan tempat di mana pohon mangga besar itu pernah berdiri dan memberikan keteduhan bagi keluarga mereka.

“Ada apa di dalam rumah itu, Papa?” tanya Alea dengan suara yang lembut, menunjukkan ke arah pintu rumah yang sudah tidak memiliki pintu lagi dan hanya menjadi bukaan gelap yang mengarah ke dalam rumah.

Rian mengangguk dan mengajak anak-anak untuk memasuki rumah dengan sangat hati-hati, berhati-hati untuk tidak menjatuhkan diri ke bagian lantai yang sudah roboh. Di dalam rumah, kondisi nya jauh lebih parah dari yang mereka bayangkan. Lantai tidak rata dengan bagian-bagian yang sudah menurun atau bahkan hilang sama sekali, membuat mereka harus berjalan dengan sangat hati-hati. Atap yang bocor membuat sebagian besar area dalam rumah penuh dengan genangan air dan lumut yang tumbuh liar di lantai dan dinding.

Namun meskipun dalam kondisi yang sangat rusak, beberapa benda lama masih bisa ditemukan di dalam rumah. Rian menemukan lemari kayu kecil yang dulunya digunakan untuk menyimpan peralatan makan, beberapa benda keramik yang masih utuh meskipun sudah tertutup debu tebal, dan bahkan sebuah mainan kayu yang dia kenal sebagai mainan yang pernah diberikan oleh kakeknya ketika dia masih kecil.

“Ini adalah mainan yang Kakek buat untukku ketika aku berusia seperti kamu sekarang, Nak,” ujar Rian dengan suara yang penuh dengan emosi, memberikan mainan kayu itu kepada Hadian. “Aku sudah berpikir mainan ini sudah hilang sama sekali, tapi rupanya masih ada di sini.”

Hadian menerima mainan itu dengan hati-hati, membersihkannya dari debu yang menutupinya dengan lembut. Dia melihat mainan kayu yang berbentuk seekor kambing dengan mata yang dibuat dari batu kecil dengan penuh kagum. “Cantik banget ya, Papa,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Kakek memang pandai membuat mainan kayu ya?”

Rian mengangguk dengan senyum yang penuh dengan kenangan. Dia melihat sekeliling rumah yang sudah sangat rusak namun masih menyimpan banyak kenangan berharga baginya. Dia mulai membayangkan bagaimana rasanya jika rumah ini bisa diperbaiki dan kembali menjadi tempat tinggal yang layak – sebuah rumah yang bisa dia miliki sendiri bersama anak-anak, tanpa harus khawatir tentang sewa atau diusir oleh orang lain.

“Kita bisa memperbaiki rumah ini kan, Papa?” tanya Hadian dengan suara yang penuh dengan harapan, melihat ayahnya dengan mata yang bersinar. “Kita bisa membuatnya menjadi rumah baru kita yang lebih baik dari sebelumnya.”

Rian melihat ke arah putranya dengan senyum yang penuh dengan tekad. Dia tahu bahwa memperbaiki rumah panggung yang sudah rusak parah ini bukanlah hal yang mudah. Ia akan membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan uang yang mungkin tidak dia miliki saat ini. Namun melihat harapan yang ada di mata anak-anak dan merasakan hubungan yang mendalam dengan tempat yang dulu menjadi rumah orang tuanya, dia merasa bahwa usaha itu akan sebanding dengan hasil yang akan mereka dapatkan.

“Ya, Nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan keyakinan. “Kita akan memperbaiki rumah ini bersama-sama. Mungkin tidak akan mudah dan akan membutuhkan waktu yang lama, tapi aku yakin bahwa suatu hari nanti rumah ini akan kembali menjadi tempat tinggal yang nyaman dan penuh dengan kebahagiaan bagi kita semua.”

Alea tersenyum lebar mendengar kata-kata ayahnya, memeluk boneka Kiki-nya dengan erat. “Aku akan membantu Papa memperbaiki rumah ya,” ujarnya dengan suara yang ceria. “Aku bisa menyapu lantai dan membersihkan debu dari dalam rumah.”

Rian membungkus anak-anaknya dengan pelukan yang erat, merasa sangat bersyukur memiliki anak-anak yang begitu kuat dan penuh semangat meskipun mereka telah melalui banyak kesulitan dalam hidup. Mereka menghabiskan beberapa jam lagi di rumah panggung itu, mengumpulkan beberapa barang lama yang masih bisa digunakan dan membuat rencana awal tentang bagaimana mereka akan memperbaiki rumah itu sedikit demi sedikit.

Ketika matahari mulai bergeser ke arah barat dan memberikan warna jingga yang indah pada langit, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah Nenek Siti. Rian membawa beberapa barang lama yang masih bisa digunakan, sementara Hadian membawa mainan kayu yang dibuat oleh kakeknya dengan sangat hati-hati. Alea berlari-lari kecil di depan mereka, tertawa riang ketika melihat kelompok anak-anak desa yang sedang bermain bola di lapangan desa.

Saat mereka menyusuri jalan kembali ke rumah Nenek Siti, Rian merasa memiliki tujuan baru dalam hidupnya – untuk memperbaiki rumah panggung peninggalan orang tuanya dan membuatnya menjadi tempat tinggal yang layak bagi dia dan anak-anak. Meskipun jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah dan akan membutuhkan banyak usaha serta kesabaran, dia yakin bahwa dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka akan bisa mewujudkan impian itu dan memiliki rumah yang benar-benar menjadi milik mereka sendiri.

Di rumah Nenek Siti, mereka memberitahu tentang kondisi rumah panggung dan rencana mereka untuk memperbaikinya. Nenek Siti mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian memberikan senyum yang penuh dengan cinta dan dukungan. “Rumah itu adalah bagian penting dari keluarga kita, Rian,” ujarnya dengan suara yang lembut. “Jika kamu ingin memperbaikinya, aku akan membantu kamu dengan segala cara yang bisa aku lakukan. Bersama-sama, kita akan membuat rumah itu kembali menjadi tempat yang penuh dengan kebahagiaan seperti dulu.”

Dengan dukungan dari neneknya dan semangat yang membara dalam hati anak-anak, Rian merasa bahwa dia memiliki kekuatan untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang. Rumah panggung yang sudah sangat rusak itu mungkin tidak terlihat seperti banyak hal bagi orang lain, namun bagi dia dan anak-anak, itu adalah harapan baru untuk masa depan yang lebih baik – sebuah tempat yang akan mereka bangun dengan tangan sendiri dan menjadi bukti bahwa cinta dan tekad bisa mengatasi segala kesulitan yang ada.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!