NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sonya duduk termenung di halte, memandangi jalan yang sepi. Bus yang ia tunggu tak kunjung datang, seakan melambangkan kebuntuan pikirannya sendiri. Tawaran atau lebih tepatnya penolakan yang dibalut hinaan dari Yudha terus berputar di benaknya. Namun entah kenapa, di tengah semua itu, ia justru merasa seolah sedang ditawari sesuatu.

"Apa aku harus menerimanya?" gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Tatapannya jatuh pada ponsel tua di tangannya, yang sejak tadi ia mainkan untuk mengalihkan pikiran. "Kalau tidak, bagaimana Sasa bisa bertahan?" bisiknya lagi, suaranya tercekik oleh kebimbangan. Jari-jarinya ingin sekali mengetikkan pesan pada Yudha untuk mencoba bernegosiasi, tapi hatinya ragu. Setiap langkah menuju Yudha selalu terasa seperti mengkhianati dirinya sendiri.

Di tengah lamunannya, suara mesin mobil mengganggu keheningan. Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh darinya. Kaca mobil perlahan turun, dan suara lembut yang begitu dikenalnya menyapa, "Tante, apa yang tante lakukan di sini?"

Sonya menoleh dan tersenyum. Setiap kali melihat Arya, hatinya terasa hangat, seolah ada sesuatu yang lebih dari sekadar pertemuan biasa. Namun, ia buru-buru menepis perasaan itu. Arya adalah anak Yudha, bukan miliknya. Dan ia tidak boleh merasa terlalu nyaman pada anak itu.

Sonya mendekat ke jendela, mengabaikan sosok Yudha yang duduk di samping Arya di bangku belakang, matanya menatap lurus ke jalan tanpa sedikit pun melirik dirinya. "Tante nunggu bus, mau pulang," jawabnya lembut.

"Tante bareng kami saja. Ayah pasti mau nganterin tante," Arya dengan polosnya langsung menoleh ke Yudha, matanya penuh harap. "Iya kan, Yah?"

Namun sebelum Yudha sempat menjawab, suara tajam datang dari kursi depan. "Arya, mobilnya sudah penuh. Lagi pula, arah kita beda. Kamu butuh istirahat, jangan memaksakan diri," kata Serly, suaranya terdengar dingin.

Arya, yang tak menyerah, menjawab, "Bibi, Arya sudah sehat kok. Gak apa-apa."

"Arya kamu kenapa selalu membantah Bibi!" balas Serly, emosinya memuncak. "Kamu itu akan jadi anak Bibi. Belajarlah mendengarkan!"

Sonya memperhatikan ketegangan itu, hatinya miris melihat bagaimana Arya diperlakukan. Ia bisa merasakan ketidaknyamanan anak itu, bahkan dari caranya melirik Yudha, meminta perlindungan tanpa berkata-kata.

"Ayah, boleh ya," Arya akhirnya memohon pada Yudha, sepenuhnya mengabaikan Serly.

Namun sebelum Yudha sempat menjawab, Sonya memutuskan untuk mengakhiri ketegangan itu. "Arya, gak apa-apa, Tante naik bus saja. Sebentar lagi pasti datang."

Yudha mengerutkan dahinya, menatap Sonya dengan ekspresi sulit ditebak. Dalam diamnya, ia kembali teringat betapa rendah hati Sonya sejak dulu. Tidak seperti anak pewaris keluarga kaya lainnya, Sonya selalu tampak sederhana. Maka tidak heran jika dulu ia jatuh cinta pada Sonya karena disangka sepadan dengannya. Tapi, setelah tahu siapa Sonya sebenarnya, ia mulai merasa tak pantas. Namun, Sonya justru terus memperjuangkan hubungan mereka, hingga semuanya berakhir dalam kehancuran malam itu.

Suara Yudha dingin ketika akhirnya ia berbicara, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Sonya. "Apa kamu sengaja melakukan ini untuk mengambil hati Arya?"

Sonya tertegun, tangannya mengepal di sampingnya. Lagi-lagi, Yudha menuduhnya. Tuduhan yang entah kenapa selalu menusuk lebih dalam daripada kata-kata lainnya. Apakah ia tak pernah berpikir bahwa ini semua hanya kebetulan? Bahwa ia tak punya niat tersembunyi?

"Kenapa kamu selalu berpikir aku seperti itu, Yudha?" Suara Sonya akhirnya keluar, pelan tapi penuh emosi yang tertahan. Matanya bertemu dengan Yudha lewat pantulan cermin mobil. Namun, seperti biasa, tatapan itu hanya membentur dinding dingin yang tak bisa ditembus.

Yudha mendengus pelan, nadanya tetap tajam saat berkata, "Lalu, kamu ingin aku percaya bahwa ini semua hanya kebetulan?"

Arya, yang berada ditengah-tengah, merasakan ketegangan yang menyelimuti udara. Ia menatap ayahnya dengan ekspresi bingung, lalu beralih pada Sonya yang tampak terguncang. "Ayah, kalau memang tidak bisa, biar Arya minta maaf ke Tante. Arya nggak tahu kalau menawarkan hal ini malah jadi masalah."

Yudha terdiam sejenak, matanya melirik Arya lewat kaca spion. Anak itu baru empat tahun, tapi sering kali berbicara seperti orang dewasa. Kadang Yudha bertanya-tanya, gen macam apa yang menciptakan anak secerdas ini?

"Masuklah," akhirnya Yudha berkata dingin pada Sonya, suaranya nyaris seperti perintah.

Serly, yang duduk di kursi depan, langsung memutar tubuhnya, wajahnya menyiratkan rasa kesal. Namun, Sonya tetap tak bergeming.

"Aku nunggu bus saja," jawabnya, mencoba terdengar tegas meskipun ada keraguan dalam nadanya.

Yudha menghela napas pendek, nadanya mulai kehilangan kesabaran. "Kamu ingin Arya berpikir aku ini ayah yang tidak baik karena membiarkanmu di sini?"

Sonya terkesiap, mencoba membalas. "Bukan begitu, aku hanya—"

Namun, sebelum kalimatnya selesai, Arya menyela dengan suara kecilnya yang polos namun sarat makna. "Sudah naik saja, Tante. Selagi Ayah memberikan kesempatan."

Sonya mematung, hatinya bergetar mendengar kata-kata Arya. Sesederhana itu, tapi cukup untuk membuat semua keraguannya runtuh. Setelah menimbang beberapa detik, ia akhirnya menarik napas dalam dan membuka pintu mobil.

Arya dengan sigap bergeser lebih dekat ke arah ayahnya, memberi ruang bagi Sonya di kursi belakang. Senyuman kecil anak itu seakan menjadi jembatan di antara ketegangan yang menggantung di udara. Sonya masuk dengan ragu, sementara Yudha tetap memandang lurus ke depan, tatapannya tak terbaca. Dengan suara tegas, ia memberi perintah pada sopir, "Pulang ke rumah lebih dulu, baru antarkan dia."

"Baik, Pak," jawab sopir dengan nada hormat.

Keheningan merayap di dalam mobil. Yudha tampak sibuk dengan ponselnya, alisnya sedikit berkerut, menandakan fokus pada pekerjaan yang seolah menjadi pelariannya. Serly, di kursi depan, mengalihkan rasa kesalnya dengan membalas pesan di grup ponselnya, jemarinya bergerak cepat di layar.

Sementara itu, di belakang, Arya memandang Sonya dengan mata penuh rasa ingin tahu. Tangan kecilnya bermain di pergelangan tangan Sonya, membuat wanita itu teralihkan dari pikiran-pikirannya yang berat. Ada senyum kecil di wajah Arya yang begitu tulus.

"Tante, ini pergelangan Tante bekas luka apa?" tanya Arya polos, nadanya ringan tetapi membawa kedalaman yang tak terduga.

Sonya tersentak sejenak, menundukkan pandangannya ke arah bekas luka, jujur saja ia pun lupa dengan bekas itu. Luka itu adalah bekas goresan masa lalu, sisa dari sebuah keputusan putus asa yang nyaris merenggut segalanya. Namun, Sonya benar-benar tidak mengingat apapun, "Sepertinya dulu tergores pisau," jawabnya dengan lembut.

Yudha, yang semula tampak tenggelam dalam dunianya sendiri, melirik ke arah Sonya. Pandangannya singkat namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia mendengar. Matanya menatap pergelangan tangan itu dengan sorot yang sulit diartikan.

"Oh, tergores pisau. Apa itu sakit?" Arya bertanya lagi, kali ini lebih pelan, seolah mencoba memahami apa yang ia lihat.

Sonya menelan ludah, berusaha menenangkan dirinya. Ia tersenyum, meskipun hatinya sedikit bergetar. "Tante sudah lupa rasanya, Arya. Maaf ya, Tante nggak bisa cerita banyak."

Arya memandang Sonya dengan serius untuk beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Nggak apa-apa, Tante," katanya lembut, senyumnya merekah lagi seperti sinar matahari yang menembus kabut.

Sonya terdiam, merasakan sesuatu yang hangat namun rapuh mengisi hatinya. Kepolosan Arya dan caranya memberikan kenyamanan tanpa syarat membuat Sonya merasa dihargai, sesuatu yang sudah lama ia rindukan.

"Tante, Ayah, Arya ngantuk. Apa Arya boleh tidur?" tanya Arya polos, suara kecilnya memecah keheningan yang terasa seperti ruang tertutup rapat.

"Iya," jawab Yudha singkat, nada suaranya sedikit bingung. Ia melirik sekilas ke sampingnya, tampak berpikir bagaimana membuat Arya tidur dengan nyaman di ruang sempit mobil. Namun, sebelum Yudha sempat menyusun rencana, Arya sudah mengambil tindakan.

Anak kecil itu dengan santai mengatur posisi tidurnya, meletakkan kepalanya di pangkuan Sonya sementara kakinya bersandar di pangkuan Yudha. Gerakannya begitu natural, seolah ia tidak menyadari betapa aneh situasi itu.

Yudha dan Sonya terdiam, tatapan mereka bertemu sesaat dan saling membaca emosi yang sulit diterjemahkan. Dalam keheningan itu, Yudha tiba-tiba berdeham pelan, mencoba mengalihkan perhatian. Namun, Sonya tahu, ada sesuatu di matanya yang sulit ia sembunyikan.

Saat mobil melaju tenang di jalanan yang semakin lengang, Sonya menatap Arya yang tertidur lelap di pangkuannya. Ada kedamaian di wajah anak itu yang terasa begitu jauh dari semua kekacauan yang melibatkan mereka.

Namun, kedamaian itu terusik ketika Sonya tanpa sadar menyentuh pergelangan tangannya sendiri, merasakan bekas luka itu lagi. Di saat yang sama, tatapan Yudha kembali jatuh ke arah tangannya. Sorot matanya kini lebih tajam, hampir seperti ingin mengatakan sesuatu atau menuntut jawaban.

"Bekas luka itu," suara Yudha akhirnya terdengar, rendah namun penuh makna. Ia tak lagi berpura-pura sibuk dengan ponselnya, seolah menunggu penjelasan.

Sonya membeku. Apakah ia harus menjawabnya? Atau mengalihkan perhatian? Tapi sebelum ia sempat memutuskan, mobil berhenti mendadak. Serly menoleh tajam ke arah mereka, wajahnya dipenuhi kekesalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!