Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?
Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Suasana hangat di dalam galeri itu mendadak pecah oleh suara getaran ponsel yang kasar di atas meja kayu. Andrew melirik layarnya yang menampilkan nama Siska, Sekretarisnya.
Ia mengabaikannya sekali. Namun, sedetik kemudian, ponsel itu berdering lagi dengan gigih.
Alana muncul dari balik sekat ruangan sambil membawa dua cangkir keramik yang masih mengepulkan uap. Aroma kopi tubruk yang kuat dan jujur sangat berbeda dengan kopi mesin di kafe seberang, aroma kopi itu memenuhi indra penciuman Andrew.
"Nih, kopi spesial buat penyelamat kanvas-kanvasku," ujar Alana dengan senyum lebar.
Andrew baru saja hendak menjangkau cangkir itu ketika ponselnya berbunyi untuk ketiga kalinya. Kali ini disertai pesan teks yang muncul di layar kunci: “Pak Andrew, Pak Hutomo sudah di lobby kantor. Beliau hanya punya waktu 15 menit sebelum ke bandara. Mohon segera kembali.”
Andrew terdiam. Ia menatap cangkir di tangan Alana, lalu menatap wanita itu. Ada pergulatan batin yang sangat konyol di kepalanya; antara kesepakatan bisnis bernilai miliaran atau secangkir kopi dari wanita yang baru dikenalnya lima menit yang lalu.
"Sorry, Alana," Andrew menghela napas, suaranya terdengar sangat menyesal, bahkan bagi dirinya sendiri. "Pekerjaan saya nggak bisa menunggu. Saya harus pergi sekarang."
Senyum Alana sedikit memudar, tapi ia tetap terlihat maklum. "Oh, urgent banget ya? Sayang banget, padahal ini biji kopi baru dari seorang temanku di Flores."
Andrew merapikan kemejanya yang masih terasa sedikit lembap, berusaha mengembalikan wibawa 'sang pewaris' yang sempat luruh. "Simpan saja buat kamu. Next time, saya pasti akan mampir buat menagih janji kopi ini."
Alana tertawa kecil, mengantar Andrew sampai ke pintu depan galerinya yang bercat putih. "Oke, Andrew. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut gara-gara Pak Bos kamu marah."
Andrew hanya tersenyum tipis, senyum yang menyembunyikan fakta bahwa dia adalah bosnya.
Saat ia melangkah kembali menembus hujan menuju mobilnya, Andrew tidak langsung masuk. Ia sempat berhenti sejenak, membalikkan badan, dan melihat Alana dari balik kaca galeri sedang menyesap kopi sendirian sambil memandangi hujan.
Di dalam mobil, suasananya terasa begitu hampa. Andrew mematikan musik di radio. Pikirannya tidak lagi tertuju pada Pak Hutomo atau kontrak yang harus ia selamatkan.
Ia justru teringat sentuhan singkat di tangan Alana tadi. Logikanya yang biasanya sekuat beton, kini mulai retak.
"Sial," umpatnya pelan sambil memukul kemudi.
Andrew tahu, dia baru saja melakukan kesalahan besar. Bukan karena meninggalkan kopi itu, tapi karena dia tahu persis bahwa dia ingin kembali ke sana. Bukan sebagai kakak Ares, bukan sebagai CEO Wijaksana Group, tapi hanya sebagai Andrew yang ingin menghabiskan sisa kopinya bersama Alana.
---
Malam itu, galeri Alana terasa jauh lebih tenang. Aroma cat minyak dan kopi yang tadi ditinggalkan Andrew masih tertinggal di udara. Alana sedang membereskan kuas-kuasnya ketika pintu galeri terbuka dengan dentingan lonceng yang riang.
"Kejutan!"
Ares muncul sambil membawa buket bunga matahari di tangannya dan senyum yang bisa menerangi seluruh ruangan. Tanpa canggung, ia langsung berjalan mendekat dan merangkul bahu Alana singkat. Dua bulan belakangan, kehadiran Ares sudah seperti rutinitas bagi Alana, energi pria itu selalu berhasil mengalihkan dunianya yang sunyi.
"Ares? Kok ke sini? Katanya ada photoshoot sampai malam," Alana tertawa, menerima bunga itu dengan wajah merona.
"Dibatalkan demi untuk ketemu kamu," Ares menyandarkan tubuhnya di meja kerja Alana. "Lan, Besok malam... kamu harus ikut aku. Ke ulang tahun perusahaan bokap. Semua orang bakal ada di sana."
Gerakan tangan Alana yang sedang mencuci kuas terhenti. Ia menoleh dengan tatapan ragu. "Res, kamu tahu kan aku nggak suka acara formal kayak gitu? Lagian, aku ini siapa? Aku cuma pemilik galeri kecil, nggak nyambung kalau harus berdiri di antara kolega bisnis keluarga kamu."
"Kamu itu tamu spesial aku, Lan. Itu udah cukup."
"Enggak, Res. Aku ngerasa belum siap. Duniamu... terlalu terang buat aku," Alana mencoba menolak dengan halus, rasa tidak percaya diri mulai menyelinap.
Ares terdiam sebentar. Ia menatap Alana dalam-dalam, lalu meraih kedua tangan wanita itu. Suasana yang tadinya santai mendadak berubah menjadi intens.
"Alana, dengerin aku," suara Ares merendah, kehilangan nada bercandanya. "Aku nggak mau kamu datang cuma sebagai teman atau tamu. Aku mau kamu ada di sana karena kamu adalah orang yang spesial buat aku."
Jantung Alana berdegup kencang. "Maksud kamu?"
"Aku sayang sama kamu, Lan. Lebih dari sekadar teman curhat atau teman makan malam," Ares menggenggam tangan Alana lebih erat. "Aku mau seluruh dunia tahu, terutama keluarga aku, kalau kamu adalah wanita yang aku pilih. Jadi, besok malam... mau kan kamu datang sebagai pacar aku?"
Alana terpaku. Pernyataan Ares begitu tiba-tiba, begitu berani, dan begitu jujur. Di satu sisi, ia merasa sangat dihargai oleh pria sesempurna Ares. Namun, di sudut pikirannya yang paling kecil, bayangan pria misterius bernama Andrew yang tadi membantunya mengangkat kanvas mendadak melintas. Pria yang hanya bertemu sebentar namun meninggalkan kesan yang aneh di hatinya.
Tapi, Alana segera menepis bayangan itu. Andrew hanyalah orang asing yang lewat, sementara Ares adalah pria yang selalu ada untuknya.
"Aku... aku nggak tahu harus bilang apa, Res," bisik Alana.
"Bilang 'iya', dan aku bakal jemput kamu jam tujuh malam dengan gaun paling cantik," Ares tersenyum penuh kemenangan, seolah tahu jawabannya.
Alana akhirnya mengangguk pelan. "Oke. Aku akan datang."
Ares bersorak pelan dan memeluk Alana erat.
----
Suasana makan malam di kediaman keluarga Wijaksana selalu terasa penuh kehangatan dan penuh dengan denting sendok yang beradu dengan piring porselen.
Papi Adrian duduk di ujung meja dengan wibawa yang tak tergoyahkan, sementara Mommy Revana, yang selalu tampil elegan bahkan ketika berada di rumah sendiri, sedang sibuk memastikan teh yang dituangkan berada pada suhu yang tepat. Andrew, seperti biasa, hanya fokus pada makanannya, pikirannya masih tertinggal pada tumpukan berkas di kantor dan... sisa aroma kopi di galeri Alana tadi sore.
"Mom, pi," Ares memecah kesunyian dengan nada suara yang terlalu bersemangat untuk suasana meja makan yang begitu tenang ini. "Besok malam di anniversary perusahaan, aku mau bawa seseorang."
Gerakan tangan Papi Adrian yang sedang memotong steak terhenti. Ia melirik Ares tajam. "Seseorang? Siapa lagi kali ini, Ares? Jangan bilang model majalah dewasa yang kemarin bikin skandal di kelab malam."
"Bukan, Pi. Kali ini beda," Ares membela diri, matanya berbinar. "Dia punya galeri seni. Namanya Alana. Dia... luar biasa. Dan aku serius sama dia. Aku bakal ngenalin dia secara resmi sebagai pacar aku besok."
Deg.
Andrew yang sedang menyesap air putih hampir saja tersedak. Ia meletakkan gelasnya dengan gerakan yang sedikit terlalu keras, menimbulkan bunyi tuk yang tertangkap oleh indra pendengaran Mommy Revana.
"Andrew? Kamu nggak papa?" tanya Mommy Revana lembut.
"Nggak papa, Mom. Hanya sedikit ngantuk," jawab Andrew datar, berusaha sekuat tenaga menjaga ekspresi wajahnya agar tetap seperti robot.
"Tuh, kan..Kak Andrew terlalu banyak kerja lembur, jadi kurang istirahat." Ares lanjut bicara tanpa menyadari perubahan raut wajah kakaknya. "Pokoknya besok Alana bakal datang. Aku harap Papi sama Mommy nggak langsung kasih tatapan interogasi kayak biasanya. Dia itu orangnya sensitif."
"Kalau dia memang wanita baik-baik dan bisa menjaga nama keluarga kita, Papi tidak keberatan," sahut Papi Adrian sambil kembali fokus pada makanannya. "Tapi kalau dia cuma mau pansos lewat kamu, kamu tahu sendiri konsekuensinya, Ares."
"Dia nggak kayak gitu, Pi! Dia bahkan nggak tahu kalau kita sekaya ini awalnya," bantah Ares antusias. Ia lalu menoleh ke arah kakaknya. "Ya kan, Kak? Lo juga udah lihat fotonya tadi malam. Dia beda banget, kan?"
Andrew merasakan tenggorokannya mendadak kering. Ia merasakan tatapan Mommy Revana dan Papi Adrian kini tertuju padanya, menunggu testimoni dari 'si anak emas' yang selalu jujur.
Andrew mengepalkan tangannya di bawah meja. Bayangan Alana yang tertawa di tengah hujan, rambutnya yang basah, dan tawaran kopi yang tadi ia tolak, mendadak berputar seperti film di kepalanya.
"Ya," jawab Andrew pendek, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Dia... terlihat berbeda."
"Tuh, denger kan! Kak Andrew aja setuju," Ares bersorak puas.
Makan malam berlanjut, tapi bagi Andrew, makanan di piringnya mendadak terasa hambar. Ada rasa sesak yang mulai menjalar di dadanya. Ia sadar, wanita yang tadi sore membuatnya merasa 'hidup' kembali, besok malam akan diperkenalkan sebagai milik adiknya di depan seluruh kolega bisnis mereka.
Andrew menatap Ares yang sedang asyik membalas chat, yang ia yakini pasti dari Alana, dengan senyum lebar.
Harusnya gue pergi lebih cepat dari galeri itu tadi, batin Andrew pahit. Atau lebih baik gue nggak pernah mampir ke sana sama sekali.
...🌼...
...🌼...
...🌼...
...Bersambung.......