Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi Berdarah di Balik Cadar
Ketegangan di Istana Kedamaian Abadi berakhir dengan kekalahan telak Ibu Suri secara politik, namun atmosfer istana justru terasa semakin berat. Li Hua tahu bahwa Ibu Suri hanyalah sebuah tameng. Musuh yang sebenarnya sedang bersembunyi di balik senyum licik Selir Yue yang masih bebas berkeliaran di sudut aula.
Malam itu, Li Hua tidak bisa tidur. Ia duduk di meja riasnya, memandangi cermin perunggu yang kini telah utuh. Saat jemarinya menyentuh permukaan logam yang dingin itu, sebuah bayangan muncul di dalamnya.
Bukan bayangan dirinya, melainkan bayangan ribuan prajurit dengan panji berlambang Srigala Hitam—pasukan dari Kerajaan Utara yang terkenal kejam, musuh bebuyutan Kerajaan Li.
"Perang akan datang," bisik Li Hua. "Dan mereka punya orang dalam."
Paviliun Anggrek: Pertemuan Rahasia
Di saat yang sama, di sebuah paviliun tersembunyi, Selir Yue sedang berlutut di depan seorang pria bertopeng perunggu yang mengenakan jubah bulu srigala.
"Ibu Suri sudah tidak berguna," ucap Selir Yue dengan suara dingin. "Kaisar terlalu terobsesi dengan Permaisuri baru itu. Jika Anda ingin menguasai takhta Li, sekarang adalah waktunya, Jenderal."
Pria itu tertawa rendah. "Kami sudah menyiapkan sepuluh ribu pemanah di perbatasan. Tapi ada satu hal yang menggangguku. Bagaimana wanita 'buruk rupa' itu bisa berubah menjadi ahli strategi yang begitu hebat? Dia bukan Permaisuri Xuan yang kita kenal."
Selir Yue mengepalkan tangannya. "Tidak peduli siapa dia, dia akan mati bersama Kaisarnya. Aku sudah menaruh racun Napas Naga di dalam dupa ruang kerja Kaisar. Perlahan, kekuatannya akan melemah tanpa ia sadari."
Ruang Kerja Kaisar: Pengkhianatan yang Tak Terlihat
Li Hua bergegas menuju ruang kerja Tian Long setelah melihat penglihatan di cerminnya. Saat ia masuk, ia mencium aroma dupa yang terlalu manis. Tian Long sedang duduk di depan tumpukan dokumen, wajahnya tampak sedikit pucat dan ia sering terbatuk.
"kaisar! Padamkan dupa itu sekarang!" teriak Li Hua.
Tanpa menunggu jawaban, Li Hua menyiram tungku dupa perak itu dengan air teh. Asap hitam mengepul sesaat.
"Xuan? Ada apa?" Tian Long mencoba berdiri, namun kepalanya tampak pusing. Ia hampir terjatuh jika Li Hua tidak segera menangkapnya.
"Seseorang sedang meracunimu, kaisar. Selir Yue tidak bekerja sendirian. Dia telah berkhianat pada negara demi Kerajaan Utara," ujar Li Hua cepat.
Tian Long menatap istrinya dengan sisa kekuatannya. "Bagaimana kau tahu semua ini? Cermin itu... apakah itu memberimu penglihatan?"
Li Hua mengangguk. "Takdir membawaku kembali bukan hanya untuk membalas dendam pribadiku, tapi untuk menyelamatkan kerajaan ini dari kehancuran yang pernah kulihat sekilas di masa lalu."
Serangan Fajar
Belum sempat mereka memanggil pengawal, suara terompet perang menggema dari arah gerbang utara istana. Langit yang masih gelap memerah oleh percikan api. Jeritan para pelayan mulai terdengar.
"Mereka sudah di sini," bisik Tian Long. Ia mengambil pedang naga hitamnya, mencoba mengalirkan energi ke tangannya, namun racun Napas Naga telah menutup aliran kekuatannya. "Sial... aku tidak bisa menggerakkan pedangku sepenuhnya."
Li Hua menatap cermin perunggunya sekali lagi. Ia melihat sebuah jalan rahasia di bawah perpustakaan istana.
"Kita tidak bisa melawan mereka sekarang secara langsung. Kita harus memancing mereka ke tempat di mana kita punya kendali," ucap Li Hua. "Tian Long, ingatlah apa yang kau katakan padaku? Kau adalah kepalanya, dan aku adalah matamu. Biarkan aku yang memimpin strategi kali ini."
kaisar menatap mata Li Hua yang penuh tekad. Di saat genting seperti ini, ia tidak melihat seorang permaisuri yang lemah, melainkan seorang jenderal wanita yang tak gentar.
"Pimpin jalan, Permaisuriku," ucap kaisar Tian dengan senyum bangga meski tubuhnya lemah.
Li Hua memerintahkan Mei Lin untuk mengumpulkan sisa pengawal setia. Namun, saat mereka hendak melarikan diri melalui jalan rahasia, Selir Yue muncul di depan mereka dengan memegang busur panah.
"Mau lari ke mana, Li Hua?" ujar Yue dengan mata berkilat penuh kegilaan. "Hari ini, kecantikanmu akan terkubur bersama puing-puing istana ini!"
Anak panah dilepaskan tepat ke arah jantung Li Hua.