Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Denyut Di balik Kabut
Pukul sembilan malam di Navasari bukan sekadar angka yang tertera di atas jam dinding kayu ruang tengah. Di sini, pukul sembilan adalah sebuah upacara penyerahan diri pada sunyi. Cahaya lampu jalan yang hanya ada satu setiap seratus meter mulai meredup, seolah kalah tenaga oleh kabut tipis yang turun dari puncak bukit seperti selimut sutra yang lembap dan dingin.
Alana duduk di beranda belakang, sebuah balkon tua dengan lantai kayu yang mulai retak-retak. Sesuai instruksi dalam surat misterius itu, ia mematikan seluruh lampu. Awalnya, kegelapan itu terasa mencekik, seolah-olah dunia baru saja dihapus dari pandangannya. Namun, perlahan pupil matanya melebar, dan keajaiban itu dimulai.
Dunia di sekitarnya tidak lagi hitam legam. Ia mulai bisa melihat siluet pepohonan pinus yang bergoyang pelan seperti raksasa yang sedang berbisik. Permukaan kotak pos kuningan di halaman memantulkan cahaya samar dari benda-benda di atas sana. Dan ketika ia mendongak ke arah Utara, Alana seolah lupa cara bernapas.
Di sana, di antara hamparan beludru hitam cakrawala, sebuah bintang bersinar dengan intensitas yang ganjil. Ia tidak hanya berkelip; ia tampak berdenyut, seolah-olah memiliki jantung yang berdetak di kejauhan jutaan tahun cahaya. Warnanya biru berlian yang sangat tajam, berdiri sendiri seolah rasi bintang di sekitarnya sengaja memberi ruang bagi sang protagonis malam itu.
"Apa yang ingin kau ceritakan padaku?" bisik Alana, suaranya parau tertelan angin gunung.
Ia teringat kata-kata kakeknya dulu. “Alana, bintang sebenarnya adalah mesin waktu paling jujur. Cahaya yang kau lihat malam ini mungkin dikirim jutaan tahun lalu, baru sampai ke matamu sekarang.” Apakah surat biru semalam juga seperti itu? Sebuah pesan dari masa lalu yang baru menemukannya saat ia hancur?
Tanpa sadar, Alana tertidur di kursi rotan itu dengan selimut melilit tubuh. Ia bermimpi tentang tinta perak yang mengalir dari langit, membentuk jembatan yang menghubungkan berandanya dengan bintang biru itu.
Keesokan paginya, Alana terbangun dengan leher kaku. Hal pertama yang ia ingat bukan rasa lapar, melainkan kotak pos itu. Setelah membasuh wajah dengan air gunung yang terasa seperti es, ia memutuskan pergi ke desa. Ia harus tahu siapa yang bermain-main dengan logikanya.
Di kedai kopi desa yang merangkap kantor pos, ia bertemu Bu Ratna, pemilik kedai yang matanya selalu tampak tahu segalanya.
"Ah, kau pasti cucunya Pak Surya? Pak Surya itu orang baik, meski sedikit aneh," ujar Bu Ratna sambil menyodorkan teh hangat. "Dia selalu bilang dia sedang menunggu kiriman dari langit. Kami pikir dia cuma bercanda."
"Kiriman dari langit?" Jantung Alana berdegup kencang.
"Iya. Dia sering berdiri di depan kotak posnya saat badai sekalipun," sela seorang pria tua di sudut kedai. "Katanya, kalau kita cukup sabar, langit akan mengirimkan jawaban. Kami pikir itu cuma hobi orang pintar yang terlalu lama kesepian."
Saat Alana hendak pulang, seorang pemuda masuk memanggul karung kopi. Tubuhnya tegap, kulitnya terbakar matahari, namun matanya memiliki binar yang sangat tenang terlalu tenang.
"Itu Elian," bisik Bu Ratna. "Dia yang dulu sering membantu kakekmu. Dia tahu setiap jengkal bukit ini seperti telapak tangannya sendiri."
Alana berpapasan dengan Elian. Pemuda itu hanya memberikan anggukan sopan, namun Alana merasakan sesuatu yang aneh. Aroma baju Elian bukan hanya bau kopi, melainkan ada semburat bau ozon bau yang biasanya muncul setelah petir menyambar atau bau udara di ketinggian yang ekstrem.
Kembali ke rumah, Alana nekat. Ia mengambil pulpen dan menulis di secarik kertas:
Terima kasih untuk bintang birunya. Bagaimana kau tahu namaku? Jika kau memang 'Langit', beri aku tanda yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.
Ia memasukkan surat itu ke kotak pos. Sore itu, kabut turun sangat tebal, memangkas jarak pandang hingga hanya beberapa meter. Kotak pos itu hilang ditelan dinding putih. Ketika kabut menghilang satu jam kemudian, Alana berlari keluar.
Kotaknya sudah terbuka. Suratnya hilang.
Sebagai gantinya, ada sebuah benda kecil yang membuat Alana hampir jatuh terduduk. Sebuah batu hitam legam, berbentuk geometris sempurna, dan terasa sangat hangat di telapak tangannya seolah-olah baru saja menembus atmosfer.
Di bawah batu itu, ada secarik kertas baru:
Logika adalah penjara bagi mereka yang takut pada keajaiban, Alana. Jangan mencari pengirimnya di tanah. Carilah jawabanmu di tempat yang tak tersentuh bayangan.
Alana menatap batu meteorit yang masih berdenyut hangat itu. Namun, keheranannya berubah menjadi kengerian saat ia melihat ke arah tanah. Di sekitar kotak pos yang dikelilingi rumput basah itu, tidak ada satu pun jejak kaki. Tidak ada jejak ban motor. Tanah di sekelilingnya mulus sempurna, seolah benda itu benar-benar jatuh dari angkasa tepat ke dalam kotak.
Alana menoleh ke arah menara observasi di atas rumah. Di sana, di jendela kaca yang buram, ia melihat sebuah pantulan cahaya. Bukan lampu, melainkan sepasang mata yang bersinar redup sedang memperhatikannya dari balik kegelapan ruangan kakeknya yang seharusnya terkunci rapat.
Alana terpaku, kakinya seolah berakar ke tanah yang lembap. Sepasang mata di jendela menara itu tidak berkedip, hanya berpendar redup seperti sisa bara api di kegelapan. Namun, saat Alana mencoba memfokuskan pandangannya, kabut tipis kembali melintas cepat, dan dalam sekejap, bayangan itu hilang. Jendela menara kembali kosong, hanya menyisakan pantulan langit abu-abu yang muram.
"Aku pasti sudah gila," bisiknya, suaranya gemetar. Tangannya yang menggenggam batu meteorit itu berkeringat. Hangat dari batu itu kini merambat naik ke pergelangan tangannya, memberikan sensasi kesemutan yang aneh, seolah-olah benda itu mencoba berkomunikasi melalui aliran darahnya.
Ia tidak berani masuk melalui pintu belakang. Dengan langkah seribu, Alana memutar menuju pintu depan, mengunci setiap slot pintu yang ada, dan menyandarkan punggungnya di daun pintu yang dingin.
Rumah itu terasa berbeda sekarang. Keheningan yang tadinya ia anggap sebagai obat, kini terasa seperti pemangsa yang sedang menahan napas, menunggunya lengah.
Alana berjalan menuju meja kayu di ruang tengah, meletakkan batu meteorit itu tepat di tengah cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela. Di bawah sinar terang, batu itu tidak tampak seperti batuan angkasa biasa. Permukaannya memiliki serat-serat halus berwarna perak yang bergerak hampir tak terlihat setiap kali Alana bernapas di dekatnya.
Ia mengambil surat kedua dari 'Langit' dan membacanya berulang kali.
...Carilah jawabanmu di tempat yang tak tersentuh bayangan.
"Tempat yang tak tersentuh bayangan?" Alana memijat keningnya yang berdenyut. "Di mana ada tempat tanpa bayangan di rumah yang penuh sudut gelap seperti ini?"
Pikirannya melayang pada ruang observasi kakeknya. Di sana, di puncak menara, terdapat kubah teleskop dengan atap kaca yang bisa terbuka sepenuhnya. Jika matahari tepat berada di puncaknya, atau jika cahaya bintang jatuh tegak lurus, mungkinkah itu tempatnya?
Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya. Sosok Elian.
Alana teringat anggukan sopan pemuda itu di kedai kopi. Elian tahu setiap jengkal bukit ini. Elian sering membantu kakeknya. Dan yang paling mencurigakan adalah bau ozon itu—aroma yang sama yang kini samar-samar tercium dari batu meteorit di atas mejanya.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar dari pintu depan.
TOK. TOK. TOK.
Bukan ketukan keras yang menuntut, melainkan ketukan yang ritmis dan tenang. Alana membeku. Ia tidak mengharapkan tamu. Ia tidak memiliki tetangga dalam radius satu kilometer.
Ia berjalan mendekat, mengintip lewat lubang kunci yang sudah tertutup debu. Di luar sana, berdiri seorang pemuda dengan jaket kanvas berwarna cokelat tua. Elian.
Pria itu berdiri dengan tangan di dalam saku, kepalanya sedikit menunduk seolah sedang menunggu dengan sabar. Alana ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Ia membuka pintu sesenti.
"Ada apa?" tanya Alana ketus.
Elian mendongak, matanya yang tenang menatap Alana tanpa prasangka. "Bu Ratna bilang Anda mungkin butuh bantuan untuk memperbaiki pompa air. Katanya rumah ini sudah lama tidak dialiri air bersih."
Alana baru sadar sejak tadi pagi ia memang belum bisa menyalakan keran. Tapi, apakah itu hanya alasan? "Bagaimana kau tahu aku ada di rumah?"
Elian menunjuk ke arah kotak pos di halaman dengan dagunya. "Saya lewat tadi, dan saya melihat Anda berdiri cukup lama di sana. Saya pikir, orang yang baru pindah ke rumah ini pasti sedang bingung dengan banyak hal."
Alana menyipitkan mata. "Kau melihatku? Kenapa kau tidak menyapa?"
"Karena Anda tampak seperti sedang berbicara dengan langit," jawab Elian tenang, sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. "Dan di Navasari, mengganggu orang yang sedang bicara dengan langit adalah perbuatan yang tidak sopan."
Alana terdiam. Kalimat itu terdengar seperti sebuah pengakuan, atau mungkin sebuah peringatan.
"Masuklah," ujar Alana akhirnya, memberikan jalan. "Pompanya ada di ruang bawah tanah, lewat dapur."
Saat Elian melangkah masuk melewati meja di ruang tengah, langkahnya mendadak melambat. Matanya tertuju pada batu meteorit yang tergeletak di sana. Namun, Elian tidak tampak terkejut. Ia hanya menatap batu itu selama satu detik terlalu singkat untuk seseorang yang melihat benda asing lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Batu yang bagus," gumam Elian tanpa menoleh. "Pak Surya dulu juga punya banyak koleksi seperti itu. Tapi yang satu itu... sepertinya dia masih sangat 'aktif'."
Alana membeku di tempatnya berdiri. Aktif? Bagaimana seorang pemuda desa biasa bisa tahu istilah itu untuk sebuah batu meteorit?