NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:770
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Peluru

Di BALLERINA MURDERER, pagi tidak pernah datang bersama cahaya.

Ia tidak mengenal matahari, tidak mengenal hangat.

Pagi di tempat ini selalu tiba dengan suara logam—dingin, berat, dan tanpa peringatan.

Duk.

Benda itu jatuh ke lantai lorong. Suaranya menggema panjang, menabrak dinding-dinding sempit dan merambat hingga ke setiap kamar. Tidak keras, namun cukup untuk membangunkan semua gadis dalam keheningan yang serempak.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada keluhan.

Tubuh-tubuh kecil dan remaja bergerak hampir bersamaan, seolah rasa takut telah lama dilatih untuk bangun lebih cepat daripada kesadaran. Mata terbuka, kaki menapak, napas ditahan. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menunda.

“Ke aula bawah.”

Suara Madam Doss terdengar dari balik pintu, datar dan tanpa emosi. Nada yang sama seperti setiap perintah lain—nada yang tidak meminta kepatuhan, melainkan menganggapnya sudah pasti.

Bella Shofie mengikuti barisan dengan langkah pelan. Kakinya masih menyimpan nyeri dari latihan hari-hari sebelumnya. Namun dibandingkan rasa sakit di tubuhnya, udara pagi itu terasa jauh lebih menekan. Ada sesuatu yang berbeda. Lorong yang mereka lewati tidak menuju ruang latihan biasa.

Aula bawah.

Nama itu sendiri sudah terasa seperti peringatan.

Lorong menuju ke sana lebih sempit, lebih gelap, dan tidak berlapis kayu seperti bagian lain bangunan. Dindingnya dingin dan lembap. Lampu-lampu kecil menggantung rendah, cahayanya kekuningan dan tidak stabil. Udara di sana berbau logam—bau yang asing namun menusuk. Besi, minyak, dan sesuatu yang lebih tua.

Sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan manusia: darah yang telah lama mengering.

Saat pintu besi di ujung lorong dibuka, langkah Bella Shofie terhenti sesaat.

Aula itu tidak seperti ruang apa pun yang pernah ia lihat di BALLERINA MURDERER.

Tidak ada cermin.

Tidak ada bar balet.

Tidak ada lantai kayu yang dipoles.

Yang ada hanyalah lantai semen dingin, meja panjang dari besi di tengah ruangan, peti-peti terbuka di sekelilingnya, dan deretan benda hitam mengilap yang disusun rapi di atas kain kasar.

Pistol.

Berbagai jenis pistol.

Sunyi.

Dingin.

Menunggu.

Beberapa gadis langsung pucat. Ada yang refleks mundur setengah langkah sebelum mengingat bahwa mundur bukan pilihan. Ada yang menahan napas terlalu lama, dadanya naik turun tidak teratur. Ada pula yang menunduk, seolah berharap jika mereka tidak melihat, semua ini akan menghilang.

Namun Bella Shofie tetap berdiri diam.

Matanya menatap meja besi itu tanpa berkedip. Tidak ada keterkejutan yang jelas di wajahnya. Tidak ada penolakan. Hanya keheningan yang aneh—keheningan yang terasa terlalu tenang untuk anak seusianya.

Madam Doss berdiri di depan meja. Tubuhnya tegak, ekspresinya sama dinginnya seperti dinding aula.

“Balet mengajarkan keseimbangan,” ucapnya, suaranya memantul di ruangan yang kosong.

“Namun dunia tidak selalu membunuhmu dengan keindahan.”

Ia mengambil sebuah pistol dari meja dan menjatuhkannya kembali. Suaranya keras, memantul tajam, seperti palu yang menghantam kesadaran mereka.

“Kadang,” lanjutnya, “dunia membunuhmu dengan keputusan.”

Catherine melangkah maju dan mulai membagikan penutup telinga. Tidak ada penjelasan. Tidak ada kata pengantar. Hanya gerakan efisien, seperti rutinitas yang telah dilakukan berkali-kali.

“Takut,” ujar Madam Doss sambil menatap satu per satu muridnya,

“adalah kematian paling lambat dan paling bodoh.”

Tatapannya berhenti tepat di depan Bella Shofie.

“Takut membuatmu mati,” katanya pelan namun menusuk.

“Ia melumpuhkanmu, membekukan langkahmu, dan mencabut seluruh keberanian yang kau miliki.”

Madam Doss memberi isyarat kecil.

Pistol-pistol mulai dibagikan.

Saat senjata itu sampai ke tangan Bella Shofie, sesuatu yang ganjil terjadi.

Tubuhnya tidak gemetar.

Napasnya tidak tersentak.

Tidak ada rasa panik yang melonjak.

Berat pistol itu terasa… familiar.

Dingin logamnya menyentuh telapak tangan Bella dengan cara yang hampir terlalu dikenal. Jarinya menggenggam gagangnya dengan mantap—terlalu mantap untuk anak seusianya.

Bukan karena ia berani.

Bukan pula karena ia tidak takut.

Melainkan karena kematian ayahnya telah lebih dulu membunuh reaksi itu darinya.

Dalam ingatan yang tak pernah benar-benar pergi, Bella melihat kembali malam itu.

Lantai dingin.

Cahaya lampu yang berkedip.

Tubuh ayahnya tergeletak tak bergerak.

Sebuah pistol berada tak jauh dari tangannya.

Ada teriakan. Ada bayangan yang bergerak cepat. Lalu suara itu—suara yang memecah segalanya.

Tembakan.

Satu tarikan pelatuk.

Satu tubuh terjatuh.

Sejak saat itu, ada sesuatu yang mati di dalam diri Bella. Rasa gemetar. Kepanikan. Ketakutan yang biasanya datang lebih dulu. Semua itu telah terkubur bersama darah yang mengering di lantai malam itu.

Madam Doss memperhatikan Bella lebih lama dari yang lain.

“Kau tidak gemetar,” ucapnya.

Bukan pertanyaan. Sebuah pengamatan.

Bella tidak menjawab. Ia tahu, ada bagian dari dirinya yang sudah rusak. Dan tempat ini—anehnya—terasa seperti rumah bagi bagian itu.

“Pegang,” perintah Madam Doss.

Bella menggenggam pistol itu lebih erat.

“Lihat ke depan,” lanjutnya.

“Bukan ke senjata. Bukan ke lantai.”

Bella mengangkat pandangannya ke target di depan. Lingkaran hitam di tengah papan kayu itu terasa kosong. Tidak hidup. Tidak mati. Hanya titik tanpa makna.

“Jari telunjuk lurus,” kata Madam Doss.

“Peluru bukan musuhmu. Keraguanmu adalah musuh.”

Di sisi lain ruangan, seorang gadis mulai menangis. Bahunya bergetar hebat. Tangannya tidak bisa berhenti gemetar.

“Taruh senjatanya,” perintah Madam Doss.

Gadis itu menurut, hampir menjatuhkannya.

“Berbalik.”

Gadis itu berbalik dengan langkah goyah.

“Kau masih hidup,” ucap Madam Doss tenang.

“Tapi kau tidak berani.”

Ia memberi isyarat pada Catherine.

Gadis itu ditarik keluar ruangan. Pintu besi menutup dengan suara berat.

Brak.

Tidak ada yang bertanya ke mana ia dibawa. Tidak ada yang berani.

Latihan berlanjut.

“Angkat.”

Bella mengangkat pistol. Lengannya stabil.

“Bidik.”

Ia fokus. Postur tubuhnya lurus, napasnya terkendali. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan dan tidak bisa dihindari:

Balet telah melatihnya untuk ini.

Disiplin.

Keseimbangan.

Kontrol tubuh.

Semua yang ia pelajari untuk menari kini berpindah fungsi.

“Turunkan.”

Bella menurunkan pistol.

“Bagus,” ucap Madam Doss.

“Takutmu tidak menguasaimu.”

Cella berbisik pelan dari samping,

“Di sini, itu yang paling berbahaya.”

Sebelum meninggalkan ruangan, Madam Doss berkata dingin:

“Besok, kalian akan menarik pelatuk.”

Malam itu, Bella Shofie duduk di kasurnya, menatap tangannya sendiri.

Tangan yang ingin menari.

Tangan yang pernah menembak.

Ia akhirnya mengerti.

BALLERINA MURDERER tidak mengajarkan cara membunuh orang lain terlebih dahulu.

Tempat ini mengajarkan cara membunuh rasa takut—dan memilih siapa yang sudah siap melangkah lebih jauh.

Bella menutup matanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, ia tidak tahu apakah hari esok akan menghancurkannya…

atau justru membangunkan sesuatu

yang selama ini terkubur dalam dirinya.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!