NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:858
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. KUNCI KEJAHATAN YANG TERUNGKAP

Sebelum meninggalkan ruang arsip bersama Mira, Ridwan merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya di balik rak paling dalam—sebuah laci kecil yang tersembunyi di belakang beberapa kotak besar berlabel “ARSIP KEUANGAN 2018”. Dengan izin cepat dari Mira, dia mendekati rak tersebut dan membuka lacinya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah folder tebal dengan sampul hitam bertuliskan “PROYEK RAHASIA DEWI – HANYA UNTUK DIREKTUR UTAMA”.

Tanpa berlama-lama, Ridwan membuka folder tersebut dan melihat isi yang membuat darahnya membeku dan hati menjadi sangat sakit. Di dalamnya terdapat surat-surat antara Budi Santoso dengan seorang dokter bernama Dr. Herman Kusuma dari klinik swasta yang tidak dikenal, serta laporan laboratorium tentang zat berbahaya yang diberikan kepada Dewi Wijaya selama masa sakitnya.

Salah satu surat tanggal 15 November 2017 ditulis oleh Budi kepada Dr. Herman:

“Saudara Herman, seperti yang kita sepakati, berikanlah zat tersebut dalam bentuk obat penenang yang akan diberikan kepada Dewi setiap hari. Pastikan dosisnya cukup untuk membuat kondisinya memburuk secara perlahan namun tidak terlalu mencolok. Saya akan mentransfer pembayaran tambahan ke rekening Anda setelah proses selesai. Setelah Dewi tiada, kita akan menyatakan bahwa dia meninggal akibat penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan.”

Di bawahnya terdapat balasan dari Dr. Herman yang menyetujui rencana tersebut, serta laporan laboratorium yang menunjukkan bahwa zat beracun “thallium sulfat” telah ditemukan dalam sampel darah Dewi yang diambil beberapa minggu sebelum dia wafat. Ada juga catatan rinci tentang kapan dan bagaimana zat tersebut diberikan kepada Dewi—melalui obat penenang yang selalu diberikan oleh Ratna setiap hari.

Ridwan merasa tubuhnya gemetar dan mata mulai berkaca-kaca dengan air mata kemarahan dan kesedihan. Semua dugaan yang dia miliki selama ini ternyata benar—ibunya tidak mati karena penyakit alamiah, melainkan dibunuh dengan sengaja oleh Budi dan Ratna dengan bantuan dokter yang tidak bermoral.

“Tuhan…” bisik Mira dengan suara yang penuh dengan tidak percaya setelah melihat isi folder tersebut. “Mereka sungguh kejam melakukan hal seperti itu kepada Bu Dewi yang baik hati.”

Ridwan mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, kemudian segera menggunakan kamera tersembunyi untuk memotret setiap halaman dokumen penting tersebut. Dia juga menyalin seluruh isi folder ke dalam flashdisknya, memastikan bahwa tidak ada satu pun detail yang terlewatkan.

“Ini adalah bukti yang bisa membawa mereka ke penjara seumur hidup,” ujar Ridwan dengan suara yang penuh dengan tekad namun tetap tenang. “Tidak hanya mereka mencuri hak saya dan keluarga Wijaya, tapi mereka juga telah melakukan pembunuhan yang keji terhadap ibuku.”

Mira mengangguk dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan rasa kasihan. “Saya akan membantu Anda menyusun bukti-bukti ini menjadi kasus hukum yang kuat, mas,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Sebagai staf hukum perusahaan, saya tahu bagaimana cara menyajikan bukti ini di pengadilan agar tidak bisa ditolak oleh pengacara mereka.”

Sebelum mereka benar-benar siap untuk pergi, suara langkah kaki yang semakin dekat terdengar dari arah koridor. “Kita harus pergi sekarang, cepat!” bisik Mira dengan suara yang rendah namun tegas. Dia menarik lengan Ridwan dan membawanya melalui jalan pintas yang hanya diketahui oleh beberapa karyawan lama ke pintu keluar belakang gedung.

Setelah keluar dengan selamat, Ridwan langsung pergi ke rumah Pak Joko untuk menyimpan dokumen-dokumen penting tersebut dengan aman. Pak Joko sangat terkejut dan marah mendengar tentang apa yang ditemukan Ridwan. “Mereka benar-benar tidak memiliki hati nurani,” ujar Pak Joko dengan suara yang penuh dengan kemarahan. “Dewi telah mempercayai mereka dengan sepenuh hati, tapi mereka hanya melihatnya sebagai rintangan dalam jalan mereka untuk mendapatkan kekayaan dan kekuasaan.”

Dia kemudian mengambil sebuah kotak besi kecil dari bawah lantai tokonya dan membukanya. “Simpan semua bukti penting di sini,” katanya sambil memberikan kotak tersebut kepada Ridwan. “Kotak ini memiliki kunci ganda dan hanya bisa dibuka oleh Anda dan saya. Tidak ada orang lain yang bisa mengaksesnya tanpa izin Anda.”

Setelah menyimpan dokumen dengan aman, Ridwan menghubungi keluarga Wijaya melalui nomor telepon yang diberikan oleh Pak Joko. Ayah ibunya, Pak Wijaya, sangat emosional mendengar kabar bahwa Ridwan telah ditemukan dan telah mengumpulkan bukti-bukti penting tentang pembunuhan Dewi serta pencurian aset perusahaan.

“Kita akan bertemu besok pagi di rumah saya,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang penuh dengan tekad. “Bawa semua bukti yang Anda miliki, dan kita akan membahas langkah-langkah selanjutnya untuk membawa orang-orang yang bersalah keadilan. Keluarga Wijaya tidak akan tinggal diam melihat kejahatan yang dilakukan terhadap anak perempuan kita dan cucu kita.”

Pada pagi hari berikutnya, Ridwan datang ke rumah besar keluarga Wijaya yang terletak di kawasan Dago Atas. Di dalam ruang tamu yang luas dan penuh dengan kenangan tentang ibunya, dia bertemu dengan Pak Wijaya—ayah ibunya yang sudah tua namun masih memiliki wajah yang kuat dan penuh dengan tekad—serta Siti yang ternyata adalah sepupu ibunya.

Ridwan menunjukkan semua bukti yang dia miliki—surat wasiat asli ibunya, dokumen tentang perpindahan aset ilegal, dan surat-surat antara Budi dengan Dr. Herman tentang pembunuhan ibunya. Pak Wijaya melihat setiap dokumen dengan seksama, mata nya mulai berkaca-kaca dengan air mata kesedihan dan kemarahan.

“Dewi adalah anak perempuan saya yang tersayang,” ujar Pak Wijaya dengan suara yang sedikit gemetar. “Saya selalu merasa bahwa kematiannya tidak wajar, tapi saya tidak memiliki bukti untuk membuktikannya. Sekarang dengan bukti-bukti yang Anda kumpulkan, kita akan bisa memberikan keadilan yang dia pantaskan.”

Siti kemudian menunjukkan data yang dia kumpulkan dari sistem keuangan perusahaan. “Selain bukti pembunuhan, kita juga memiliki bukti yang kuat tentang pencurian aset perusahaan senilai miliaran rupiah,” katanya dengan suara yang jelas. “Mereka telah mengalihkan tanah, gedung, saham, dan hak kekayaan intelektual ke nama pribadi mereka tanpa izin resmi.”

Pak Wijaya mengangguk dengan tegas, kemudian melihat ke arah Ridwan dengan mata yang penuh dengan cinta dan penghargaan. “Anda telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, cucu saya,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan bangga. “Ibu Anda akan sangat bangga dengan apa yang telah Anda lakukan. Sekarang kita akan bekerja sama dengan pengacara terbaik untuk menyusun kasus ini dan memastikan bahwa orang-orang yang bersalah mendapatkan hukuman yang mereka pantaskan.”

Dia kemudian mengambil tangan Ridwan dengan erat. “Kita juga akan mengambil kembali perusahaan yang seharusnya menjadi milik Anda,” lanjutnya dengan suara yang jelas dan tegas. “Kita akan mengembangkannya sesuai dengan visi dan misi ibu Anda—membuat obat-obatan tradisional yang aman dan efektif untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.”

Ridwan merasa hati nya penuh dengan rasa lega dan harapan setelah bertahun-tahun hidup dalam kegelapan dan ketidakpastian. Dia tahu bahwa perjuangan hukum yang akan datang tidak akan mudah—Ratna dan Budi memiliki banyak uang dan hubungan yang bisa mereka gunakan untuk melindungi diri mereka. Tapi dengan bukti yang kuat yang dia miliki, dukungan dari keluarga Wijaya, Pak Joko, Mira, dan Siti, dia merasa bahwa kebenaran akhirnya akan menang dan ibunya akan mendapatkan keadilan yang pantas.

Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, Ridwan melihat ke arah foto ibunya yang terpampang di dinding ruang tamu. Di hatinya, dia berjanji bahwa dia akan melanjutkan warisan ibunya dengan penuh cinta dan penghargaan, serta memastikan bahwa nama Dewi Wijaya akan selalu dikenang sebagai orang yang benar-benar peduli dengan kesejahteraan masyarakat dan tidak akan pernah terlupakan karena kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan dan kekayaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!