Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.
Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.
Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.
Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Yun Mailan.
Nama itu bukan nama asing. Sama sekali tidak asing.
“Tidak… tidak mungkin…” Yun Ma menggeleng cepat. Napasnya memburu, jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdengung.
Itu adalah nama tokoh utama wanita dalam novel yang ia baca selama beberapa hari sebelum jatuh ke sumur. Novel tragis yang membuatnya mengumpat sepanjang malam. Novel tentang seorang gadis bangsawan yang hidupnya lebih buruk dari pelayan. Novel tentang Yun Mailan si gadis bodoh yang mati sia-sia.
Ingatan itu menghantamnya tanpa ampun, semua yang terjadi berputar seperti kaset rusak
Putri sah seorang menteri, namun tidak pernah dicintai ayahnya. Selalu difitnah oleh putri angkat yang manis di luar, beracun di dalam. Tunangan yang dibencinya? Tidak. Justru ia yang dibenci.
Tunangan Yun Mailan, putra seorang jenderal besar, adalah pria yang ia cintai dengan sepenuh hati. Ia mengejarnya, mengorbankan harga diri, melakukan segala hal demi menarik perhatiannya. Dalam novel, Yun Mailan digambarkan seperti orang gila cinta menempel, memohon, menangis.
Dan apa balasannya?
Kebencian.
Pria itu mencintai putri angkat keluarga Yun. Sementara Yun Mailan sendiri hanya menerima tatapan jijik, kata-kata tajam, dan penolakan kejam. Kakaknya bahkan selalu berkata, “Kalau kau mati, dunia akan lebih tenang.” Ayahnya menutup mata. Ibunya telah lama meninggal. Para pelayan hanya berani menunduk.
Tidak ada yang memihaknya. Tidak satu pun.
Hingga akhirnya Yun Ma menelan ludah dengan susah payah.
Akhir hidup Yun Mailan adalah fitnah skandal besar, pengusiran dari kediaman menteri, ditinggalkan tunangan tanpa penjelasan, lalu mati tragis. Sendirian. Dalam hujan. Tanpa seorang pun menangisi jasadnya.
“Tidak…” bisik Yun Ma. Tubuhnya gemetar. “Ini bercanda… ini pasti mimpi.”
Ia mendongak menatap pelayan di hadapannya. “Aku… aku benar-benar Yun Mailan?”
Pelayan itu semakin pucat. “Nona… jangan menakut-nakuti saya. Tentu saja nona adalah Yun Mailan.”
Yun Ma menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dalam hati, ia berteriak histeris. "Aku mati jatuh ke sumur… lalu bereinkarnasi menjadi tokoh paling menyedihkan dalam nove? Tokoh yang tidak dicintai ayahnya, dibenci kakaknya, dikhianati tunangannya, dan mati tanpa pembela"
Air liurnya terasa pahit.“Gila…” gumamnya lirih. “Aku benar-benar sial.”
Perlahan, Yun Ma menurunkan tangannya. Tatapannya tak lagi kosong, melainkan dingin dan waspada. Jika ini memang tubuh Yun Mailan, jika ini memang dunia novel itu, maka satu hal pasti ia tidak akan mati seperti versi aslinya.
“Baik,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku mengerti.”
Pelayan itu menghela napas lega.
Namun Yun Ma tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak pernah ada dalam cerita novel. Di dalam kepalanya, tekad mengeras dengan janji di dalam hati, "Kalau semua orang ingin Yun Mailan mati, maka aku akan hidup sekeras mungkin. Aku akan membuat semua orang yang menyakitinya menyesal. Tapi sebelum itu, aku harus pergi dari sini. Aku tidak mau tinggal bersama orang-orang munafik ini. Aku harus hidup lebih baik, memiliki kekuatan, lalu menghancurkan mereka."
Ia menatap pelayan itu lagi.“Baiklah, terima kasih, Ayin. Aku sudah mengerti sekarang. Tapi… apa aku bisa mempercayaimu?”
“Tentu, nona,” jawab Ayin tanpa ragu. “Ayin akan selalu setia pada nona. Nona satu-satunya orang baik di sini. Nyonya Niang juga sudah menitipkan anda pada saya. Apa pun yang terjadi, Ayin akan selalu bersama nona.”
“Bagus.” Yun Ma mengangguk. “Kalau begitu cepat bereskan pakaianmu dan bawa barang berharga milikmu juga. Kita pergi dari sini malam ini. Aku tidak mau tinggal di sini lagi.”
“Apa?” Ayin terkejut. “Nona… apa yang baru saja nona katakan?”
“Sudah, jangan banyak tanya,” ujar Yun Ma tegas. “Kau mau ikut atau tidak? Kalau mau, cepat. Jangan banyak bicara. Nanti keburu pagi dan banyak orang.”
Mendengar itu, Ayin akhirnya mengerti. Ia pun patuh pergi keluar kamar untuk membereskan semuanya.
Sementara itu, Yun Ma merasa aneh. Tubuhnya terasa ringan, tidak seperti orang yang baru bangun dari koma. Ia mengambil barang-barang milik Yun Mailan dari ingatan pemilik tubuh asli.
Tangannya berhenti pada sebuah kalung peninggalan ibu Yun Mailan, yang selama ini disembunyikan. Ia mengusapnya perlahan, namun tanpa sengaja jarinya terluka. Setetes darah jatuh ke dalam liontin.
Tanpa disadari, darah itu terserap masuk ke dalam liontin. Yun Ma yang tidak menyadari apa pun hanya melanjutkan mengambil barang-barang lain yang terasa berguna saat genting.
Tak lama kemudian, Ayin kembali dengan membawa banyak barang.
“Ayin…” Yun Ma tertegun. “Apa yang kau lakukan? Kita ini mau kabur, bukan pindahan. Kenapa kau bawa barang sebanyak ini?”
“Hehehe… maaf, nona,” jawab Ayin kikuk. “Tapi ini semua penting. Sayang kalau ditinggalkan. Nanti bisa kita jual untuk beli tempat tinggal.”
Yun Ma terdiam, lalu tersenyum.“Wah, kau pintar juga. Baiklah. Ayo kita pergi dari neraka ini.”
Ia berhenti sejenak, lalu berkata santai, “Tapi sebelum itu, aku akan buat pesta api dulu di sini. Tidak lengkap rasanya neraka tanpa api. Jadi cepat keluar. Cari jalan pintas. Jangan lewat jalan utama.”
“Nona… maksudnya apa?” Ayin panik. “Jangan bilang anda mau membakar tempat ini?!”
“Tentu saja,” jawab Yun Ma ringan. “Sekarang cepat. Atau kau mau ikut terbakar?”
Ayin terkejut setengah mati. Tanpa berani membantah, ia segera berlari keluar menuju jalan kecil di belakang kediaman. Untungnya, bagian itu jauh dari kediaman utama dan tak ada siapa pun di sana.
Begitu Ayin pergi, Yun Ma langsung membakar kain-kain di ruangan itu. Api dengan cepat menyebar, menjilat dinding dan langit-langit.
Ia tersenyum puas menatap kobaran api.“Selamat tinggal,” gumamnya. “Aku akan kembali… setelah aku bisa menghancurkan kalian dengan tanganku sendiri.”
Ia pun pergi, meninggalkan api yang semakin membesar dan merambat ke seluruh bangunan.
Ayin menoleh ke belakang, menatap keberanian nonanya. Meski ada rasa khawatir, ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, nona yang selalu tertindas itu berani memutus belenggunya sendiri.
“Ayin,” ujar Yun Ma sambil melangkah pergi, “ayo kita mulai hidup baru. Kita pergi bukan karena kalah, tapi karena ini awal kebangkitan kita. Kita akan menentang dunia dan mencari kebahagiaan… sebelum aku menjadi badai bagi mereka yang menyia-nyiakan aku.”
Ayin tersenyum dan mengangguk mantap.“Ayin siap, nona.”
Yun Ma pun tersenyum. Dengan langkah ringan, mereka pergi meninggalkan masa lalu.
Sementara itu, di Kediaman Menteri Yun, kebakaran semakin besar. Orang-orang yang baru menyadarinya panik dan berteriak memanggil bantuan. Namun semuanya terlambat. Kediaman Yun Mailan telah habis terbakar, bahkan api merembet hingga membakar separuh gudang penyimpanan keluarga Yun.
Bersambung