NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Ruang kerja Papi Adrian terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Aroma kayu jati dan cerutu mahal yang biasanya menenangkan, kini terasa menyesakkan bagi Andrew. Papi Adrian duduk di balik meja besarnya, menatap putra sulungnya dengan mata elang yang sudah puluhan tahun membaca lawan bicara di meja negosiasi.

​"Duduk, Andrew," perintah Papi singkat.

​Andrew duduk dengan kaku. Ia menatap deretan buku di rak belakang papinya, menghindari kontak mata langsung.

​"Jelaskan pada Papi. Apa yang sebenarnya terjadi?" Papi Adrian melipat tangannya di atas meja. "Kamu bukan tipe orang yang kehilangan kendali hanya karena masalah sepele. Kamu selalu dewasa penuh logika. Tapi tadi... kamu terlihat ingin menghancurkan adikmu sendiri."

​Andrew menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suaranya yang masih bergetar. "Aku cuma lagi capek, Pi. Akhir-akhir ini audit perusahaan menguras banyak tenaga."

​"Hanya karena audit?" Papi menaikkan satu alisnya, tidak percaya. "Ares bilang kamu marah setiap kali dia menyebut nama Alana."

​Andrew mengepalkan tangannya di bawah meja. "Ares tidak tahu waktu. Dia datang pukul satu pagi saat aku sedang ingin tenang, lalu dia terus-menerus memaksaku mendengarkan drama percintaannya. Aku lagi nggak punya energi untuk mengurusi masalah dia yang nggak becus mengatur waktu antara karir dan pacar. Itu saja."

​Papi Adrian diam selama beberapa saat, mencoba mencari celah kebohongan di wajah Andrew. Andrew adalah 'produk' terbaiknya, pria yang paling bisa menyembunyikan emosi. Namun, Papi Adrian merasakan ada sesuatu yang lebih gelap di balik alasan 'lelah' itu.

​"Hanya itu? Kamu tidak punya masalah pribadi dengan wanita itu?" tanya Papi lagi, suaranya lebih rendah, hampir seperti peringatan.

​"Tidak ada, Pi. Aku bahkan hampir tidak mengenalnya," dusta Andrew. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. "Aku hanya ingin dia dan Ares menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa membawa-bawa aku. Aku punya perusahaan yang harus diurus, bukan jadi konsultan cinta mereka."

​Papi Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau begitu, perbaiki sikapmu. Ares itu adikmu satu-satunya. Jangan sampai urusan wanita, atau urusan sepele apa pun, merusak hubungan kalian. Keluarga kita butuh kalian berdua tetap solid."

​"Aku mengerti, Pi."

​"Satu lagi," Papi menahan Andrew yang hendak berdiri. "Jika benar kamu merasa terganggu dengan kehadiran Alana di rumah ini, Papi bisa bicara pada Ares untuk tidak membawanya terlalu sering ke rumah ini."

​"Nggak usah, Pi," potong Andrew cepat. "Jangan bikin masalah jadi lebih besar. Aku yang akan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor kalau perlu."

​Andrew keluar dari ruang kerja itu dengan sisa keberanian yang ia punya. Saat ia kembali ke koridor, ia melihat Mommy Revana sedang menunggunya dengan wajah cemas.

​"Andrew, sayang..." Mommy mencoba menyentuh pipinya, tapi Andrew menghindar dengan halus.

​"Aku nggak apa-apa, Mi. Aku cuma butuh tidur."

​Andrew masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan langsung menyandarkan tubuhnya ke balik pintu. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Kebohongan yang baru saja ia katakan pada Papi Mommy-nya terasa seperti beban yang sangat berat.

​Ia tidak hanya mengkhianati adiknya, tapi sekarang ia mulai membohongi ayahnya. Dan yang paling menyedihkan, ia menyadari bahwa ia membentak Ares bukan karena lelah, tapi karena ia cemburu setengah mati. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus mendengar betapa rindunya Ares pada Alana, sementara ia sendiri harus berjuang mati-matian untuk tidak berlari ke galeri itu dan memeluk wanita yang sama.

----

Setelah Andrew masuk ke kamarnya, Mommy Revana beralih ke Ares yang masih terduduk di sofa dengan wajah kesal. Dengan kelembutan seorang ibu, Mommy duduk di samping putra bungsunya itu, mengusap punggungnya perlahan untuk meredakan emosi yang masih tersisa.

​"Res, dengarkan Mommy," suara Mommy Revana tenang, sangat kontras dengan keributan tadi. "Kakakmu itu tidak pernah mengeluh, tapi tanggung jawab yang dia pegang itu luar biasa besar. Dia harus memastikan ribuan karyawan kita tetap bisa makan, dia yang menjaga nama baik keluarga di dunia bisnis yang keras."

​Ares menunduk, mulai memainkan naskah film di tangannya. "Aku tahu, Mom. Tapi tadi itu keterlaluan. Aku cuma mau cerita."

​"Mommy tahu. Tapi terkadang, orang yang paling kuat pun punya titik jenuh," Mommy Revana tersenyum kecil, menatap mata Ares. "Andrew itu pilar rumah ini. Bayangkan kalau pilar itu sedang retak karena kelelahan, dan kamu terus-menerus memberikan beban tambahan. Dia bukan tidak sayang padamu, dia hanya butuh ruang untuk dirinya sendiri."

​Ares terdiam cukup lama. Ia teringat bagaimana Andrew selalu ada untuk membereskan masalah-masalahnya, bagaimana Andrew selalu mendukung karirnya meskipun dunia hiburan sangat berbeda dengan dunia bisnis. Rasa bersalah mulai muncul di hati Ares.

​"Aku yang salah ya, Mom? Aku terlalu egois cuma mikirin kangenku sama Alana, padahal Kak Andrew mungkin lagi pusing mikirin perusahaan," gumam Ares lirih.

​Mommy Revana mengangguk pelan. "Minta maaflah besok pagi. Kak Andrew tidak akan pernah marah lama padamu. Kalian adalah dua sayap keluarga ini, kalau satu patah, kita tidak bisa terbang."

​"Iya, Mom. Besok pagi aku akan minta maaf sama dia sebelum dia berangkat ke kantor."

​Keesokan Harinya, ​Andrew baru saja hendak masuk ke dalam mobilnya di garasi ketika ia mendengar langkah kaki terburu-buru mendekat ke arahnya. Ia menoleh dan mendapati Ares berdiri di sana, tanpa gaya perlente seorang bintang film, hanya seorang adik yang tampak menyesal.

​"Kak," panggil Ares pelan.

​Andrew berhenti, tangannya masih memegang pintu mobil. Wajahnya datar, namun matanya yang letih menunjukkan bahwa ia juga tidak menikmati pertengkaran semalam.

​"Sori buat semalam," Ares mendekat, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Gue nggak tahu kalau lo lagi secapek itu. Gue terlalu banyak nuntut perhatian lo buat drama gue sama Alana. Gue sadar kerjaan lo jauh lebih berat dan penting."

​Andrew terdiam sesaat. Mendengar Ares meminta maaf justru membuat luka di hati Andrew semakin perih. Bagaimana mungkin ia tega merasa cemburu dan memiliki perasaan pada kekasih dari adik yang setulus ini?

​"Nggak apa-apa, Res," jawab Andrew, suaranya lebih lembut dari semalam namun tetap terasa ada jarak. "Gue juga minta maaf karena sudah ngebentak lo. Gue memang sedang banyak pikiran."

​Ares tersenyum lega, ia menepuk bahu Andrew dengan akrab. "Siap, Bos! Lo kerja yang bener ya, jangan sampai tipes. Soal Alana, gue bakal coba selesaiin sendiri masalah waktunya. Gue nggak bakal ngeribetin lo lagi."

​Andrew hanya mengangguk kecil. Saat mobilnya mulai melaju meninggalkan rumah, ia melihat Ares melambaikan tangan dengan ceria dari kaca spion.

​Andrew membuang napas panjang. Permintaan maaf Ares seharusnya membuat segalanya lebih baik, tapi baginya, itu justru menjadi pengingat yang menyakitkan: Semakin baik Ares memperlakukannya, semakin besar rasa bersalah yang harus ia tanggung karena telah mencintai wanita milik adiknya.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!