Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 006 : Apa Kalian Tahu Permainan Kagome Kagome? (Mari Bermain!)
Keheningan Jukai bukanlah kekosongan suara, melainkan sebuah tekanan berat yang menyumbat gendang telinga, seolah-olah oksigen di tempat ini telah digantikan oleh cairan kental yang dingin dan berbau tanah mati.
Cahaya senter taktis milik Peterson membelah kabut yang merayap, namun sinarnya seolah terpotong oleh kegelapan yang memiliki massa padat di depan mereka. Hutan ini seakan menolak untuk diterangi.
"Rachel, kompas magnetiknya benar-benar mati. Jarumnya tidak menunjuk arah, dia hanya... berputar-putar seperti sedang menari," lapor Peterson dengan suara rendah yang pecah di udara lembap.
Ia mencoba menggoyang-goyangkan perangkat digitalnya, namun layarnya hanya menampilkan garis-garis statis yang kacau.
Rachel tidak segera menjawab. Ia berhenti sejenak, memejamkan matanya rapat-rapat. Jimat zamrud di lehernya berpendar hijau pekat, memberikan sedikit cahaya pada wajahnya yang sepucat porselen di tengah kegelapan rimba.
"Jangan mengandalkan alat buatan manusia di tanah ini, Peterson. Di sini, arah mata angin ditentukan oleh penyesalan dan keputusasaan, bukan magnet bumi," sahut Rachel dingin.
Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Tiba-tiba, suara nyanyian anak-anak perempuan yang tadi mengiringi mereka terhenti secara serentak.
Kesunyian yang datang begitu mendadak itu jauh lebih menakutkan daripada nyanyian tadi.
Rara berhenti melangkah, tubuhnya menegang hebat, tangannya yang memegang tali penanda bergetar hingga menimbulkan bunyi gesekan kecil pada sarung tangannya.
"Rachel... suaranya hilang. Tapi sekarang, ada bisikan lain," bisik Rara.
Matanya yang sangat sensitif terhadap dunia astral mulai memerah dan berair, tanda bahwa tekanan ghaib di tempat ini sudah melampaui batas kewajaran.
"Mereka bicara dalam bahasa yang tidak kumengerti, tapi rasanya seperti duri yang menusuk langsung ke pusat otakku."
Sesosok bayangan putih, tinggi dan kurus dengan leher yang meliuk-liuk panjang seperti ular, muncul secara perlahan dari balik pohon cemara yang batangnya melintir tidak alami.
Sosok itu membuka mulutnya yang lebar, hitam, dan tak bergigi, mengeluarkan suara parau yang menyayat:
"Nande... nande mada iki o shiteru no...?"
(Kenapa... kenapa kalian masih bernapas?)
"Dia bicara apa, Rachel? Kau mengerti?" tanya Melissa dengan wajah ketakutan, ia merapat ke punggung Peterson, mencari perlindungan di balik tubuh kekar pria itu.
Rachel membuka matanya. Pupil matanya tampak sedikit melebar, memancarkan aura kehijauan yang tipis.
Sebagai medium tingkat tinggi, Rachel tidak lagi mendengar kata sebagai bunyi, melainkan sebagai impuls energi yang diterjemahkan langsung oleh batinnya.
"Dia bertanya... kenapa kita masih berani bernapas di tanah yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah berhenti bernapas. Dia bilang, Tuan Sato sudah mencicipi 'teh' mereka, dan sekarang mereka sedang menyiapkan perjamuan tanah untuk kita semua," jelas Rachel.
"Kau mengerti bahasa mereka tanpa perantara?" tanya Peterson takjub sekaligus ngeri.
"Aku tidak mendengar kata-katanya dengan telinga, Peterson. Aku mendengar niatnya. Di dunia ghaib, bahasa hanyalah bungkus yang tidak berguna.
Rasa haus akan nyawa adalah bahasa universal yang bisa dipahami oleh siapa pun yang memiliki koneksi ke sana," jelas Rachel singkat.
Tiba-tiba, Cak Dika yang berada di posisi paling belakang berteriak, suaranya mengandung nada panik yang jarang ia tunjukkan.
"Tali! Talinya putus!"
Semua orang menoleh serentak. Tali nilon jingga yang seharusnya menjadi jalur penyelamat tunggal mereka kini menjuntai lemas di atas lumut.
Ujungnya tidak tampak putus karena tarikan atau sayatan pisau, melainkan tampak hancur, basah, dan hancur berantakan—seperti habis dikunyah dengan rakus oleh deretan gigi manusia yang tumpul namun bertenaga besar.
"Talinya... dimakan?" gumam Bella, suaranya naik satu oktav karena ngeri.
"Rachel, bagaimana kita bisa keluar dari sini tanpa tali penanda?! Kita akan terjebak selamanya!" teriak Bella lagi.
'Nduk, sing tenang! Koe Ki luweh kuat!'' bisik Nyai Ratu pada Rachel.
"Jangan panik! Tetap dalam barisan!" bentak Rachel.
"Jika kalian membiarkan rasa takut menguasai pikiran, frekuensi astral kalian akan turun dan hutan ini akan menarik kalian masuk ke dalam tanah secara fisik! Jukai hanya memangsa mereka yang menyerah!" tutur Rachel.
Namun peringatan Rachel terlambat bagi Teguh. Di bawah kaki Teguh, lumut hijau yang tebal itu mendadak menggeliat seolah-olah ada sesuatu yang hidup di bawahnya.
Akar-akar pohon yang menyerupai jemari mayat dengan kuku-kuku kayu mencuat dari balik tanah lava, melilit pergelangan kaki pria malang itu dengan kecepatan kilat.
"Aaaarrgh! Sesuatu menarikku! Rachel! Peterson! Tolong!" teriak Teguh saat tubuhnya terseret jatuh, terperosok ke sebuah celah gelap di antara akar pohon raksasa yang tampak seperti mulut yang siap menelan.
"Teguh!" Peterson menerjang maju secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Teguh tepat sebelum pria itu tertelan sepenuhnya oleh rongga tanah.
"Dika! Bantu aku tarik dia ke atas! Sekarang!"
Cak Dika menghunus parangnya yang sudah diberkati dengan rajah pelindung, menebas akar-akar yang melilit kaki Teguh dengan kekuatan penuh.
Crat!
Bukan getah bening yang keluar dari luka pohon itu, melainkan cairan hitam kental yang sangat busuk, berbau amis seperti darah yang sudah membusuk selama puluhan tahun. Cairan itu memuncrat ke wajah Peterson, membuatnya mengerang jijik.
"Bau apa ini?! Ini bukan bau pohon, ini bau bangkai yang cair!" teriak Peterson sambil menyeka wajahnya dengan lengan jaket, berusaha tidak muntah karena aroma yang memuakkan tersebut.
"Jangan berhenti atau melihat ke belakang!" perintah Mas Suhu sambil merapal doa perlindungan.
"Hutan ini sedang lapar. Mereka menganggap kita adalah 'kiriman' baru yang sengaja datang untuk mengisi kekosongan jiwa di sini." tutur Mas Suhu lagi memberitahukan. Khodam pangeran miliknya sudah mencerna segala permainan astral busuk dalam hutan ini.
Saat mereka berhasil menarik Teguh kembali ke permukaan, kabut di sekeliling mereka mendadak menebal secara tidak wajar, membatasi jarak pandang hingga hanya satu meter.
Suara tawa anak-anak yang tadi menghilang kini kembali terdengar, namun kali ini nadanya jauh lebih cepat, lebih agresif, seolah-olah mereka sedang merayakan kemenangan kecil.
"Nigiyaka de... nigiyaka de... KOKO WA DARE MO KAERENAI!"
(Begitu meriah... begitu meriah... DI SINI TIDAK ADA YANG BISA PULANG!)
"Rachel! Mereka mengepung kita dari segala arah!" teriak Rara, menunjuk ke arah kabut.
Dari balik pepohonan yang merapat, muncul puluhan sosok anak kecil berpakaian kimono merah yang luntur dan compang-camping.
Mereka tidak lagi merangkak seperti serangga, melainkan berdiri melingkar, bergandengan tangan dengan posisi kepala yang miring ke satu sisi, mengelilingi rombongan Keluarga Gautama.
"Mereka bilang... ini adalah permainan Kagome Kagome," ujar Rachel, suaranya bergetar sedikit karena harus menahan tekanan energi yang luar biasa besar yang datang dari lingkaran hantu tersebut.
"Mereka bilang kita adalah burung di dalam sangkar. Dan mereka sedang menunggu siapa yang akan berada di belakang kita saat fajar tiba... untuk menggantikan posisi mereka di neraka ini."
"Lakukan sesuatu, Rachel! Aku tidak bisa bernapas!" desak Melissa yang mulai menangis histeris. Ia merasa dinding udara di sekitarnya semakin menyempit.
Rachel mengangkat tangannya ke udara. Ia merapal mantra pemutus dimensi dalam bahasa kuno yang membuat udara di sekelilingnya bergetar hebat hingga menciptakan gelombang kejut kecil. Mantra itu, mantra kejawen yang baru saja dibisikkan Nyai Ratu padanya.
"Albert! Barend! Bersihkan jalur di depan! Hancurkan apa pun yang menghalangi!" perintah Rachel.
Meskipun awalnya dua bocah ghaib itu takut. Namun, mereka berdua tidak ingin kehilangan Gautama Family. Mereka menyimpan dendam pada para Nihon. Malam ini, di mata mereka. Para penghuni hutan Aokigahara adalah musuh bebuyutan yang harus dikalahkan.
Kedua hantu Belanda itu melesat maju seperti peluru perak. Albert dengan kekuatan fisiknya yang besar menghantam sosok-sosok putih menyurupai bocah yang menghalangi jalan hingga hancur menjadi serpihan asap, sementara Barend menciptakan distraksi dengan jeritan astral yang memekakkan telinga para penunggu hutan.
"Ikuti aku! Jangan ada yang menoleh ke belakang, apa pun yang kalian dengar atau rasakan menyentuh bahu kalian!" teriak Rachel sambil berlari memimpin di depan.
Mereka berlari membabi buta menembus dahan-dahan tajam yang mencakar kulit dan merobek pakaian mereka.
Di depan mereka, sebuah tebing lava yang curam dan hitam muncul secara tiba-tiba dari balik kabut.
Dan di sana, di bawah sebuah pohon mati yang dipenuhi pita kuning yang berkibar tanpa angin, mereka melihat sosok yang mereka cari: Tuan Sato.
Pria itu duduk bersila dengan arloji peraknya yang masih berdetak keras di atas telapak tangannya.
Namun, saat senter Peterson menyorot wajahnya, Melissa berteriak histeris hingga jatuh terduduk. Wajah Tuan Sato tidak lagi memiliki mata.
Dari rongga matanya yang kosong dan hitam, tumbuh jamur-jamur hutan yang berwarna putih pucat, bergoyang-goyang mengikuti irama detak jam yang ganjil.
"Selamat datang..." Suara Tuan Sato terdengar bergema di dalam kepala mereka semua secara serentak, tanpa gerak bibir sedikit pun.
"Yoku kita ne..."
(Kalian sudah datang ya...)
"Selamat datang di perjamuan abadi Jukai. Di sini, tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi beban dunia. Hanya ada akar yang memelukmu erat... hingga kau menjadi bagian dari tanah ini."
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki rombongan Keluarga Gautama amblas secara bersamaan, seolah-olah bumi di bawah mereka memang sudah dipersiapkan untuk runtuh.
Rombongan itu terjatuh ke dalam sebuah lubang besar—sebuah sistem gua lava bawah tanah yang gelap, dalam, dan tersembunyi.
"AAAAAARRRRGGHHHH!"
Teriakan mereka lenyap dalam sekejap, ditelan oleh perut bumi Aokigahara yang kembali menutup permukaannya dengan lilitan akar-akar pohon yang merapat sangat cepat, seolah-olah tidak pernah ada satu pun manusia yang pernah menginjakkan kaki di sana.
Hutan itu kembali hening, hanya menyisakan suara detak jam yang kini terdengar dari bawah tanah.