Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
tantangan
Rapat berakhir satu jam kemudian.
Sebelum semua orang beranjak keluar, sang Direktur Utama berdiri.
“Oh ya,” katanya, “seperti tradisi perusahaan, malam ini akan diadakan acara penyambutan resmi untuk pengawas Direktur Operasional yang baru. Di restoran La Couronne. Saya harap semua hadir.” ucap sang direktur utama.
Beberapa direktur mengangguk antusias.
Rayya mengangkat tangan. “Papa, boleh aku izin?” tanya rayya dengan tegas.
Semua mata tertuju padanya.
“Ada apa, Rayya?” tanya sang papa yang ingin tahu alasan anaknya yang tidak ingin hadir di acara makan malam penyambutan.
“Aku harus lembur malam ini. Laporan tender harus selesai hari ini. Mungkin aku tidak bisa ikut.” jawab rayya memberikan alasan.
Ruangan hening.
Rayya menunduk sedikit, menjaga wajahnya tetap tenang. Padahal, alasan itu hanya tameng. Yang sebenarnya, ia tidak ingin duduk satu meja dengan Devan. Tidak ingin membuka luka lama yang ia simpan rapat-rapat.
Sebelum sang ayah sempat menjawab, suara lain terdengar.
Tenang. Datar. Namun menusuk.
“Acara itu memang tidak untuk semua orang.” ucap devan dengan tenang.
Rayya menoleh tajam.
Devan berdiri, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
“Biasanya,” lanjutnya, “penyambutan seperti ini dihadiri oleh orang-orang yang berani menunjukkan komitmen. Yang punya nyali.” sambung devan dengan nada menantang.
Beberapa direktur saling pandang. Ada yang tersenyum canggung, ada pula yang menahan napas.
Rayya tahu.
Itu sengaja.
Devan sedang menantangnya.
Ia menegakkan punggung, berdiri perlahan. Tatapannya terkunci pada Devan.
“Nyali?” ulang Rayya, suaranya terdengar tenang namun bergetar halus oleh amarah yang tertahan. “Aku kira keberanian diukur dari hasil kerja, bukan dari jamuan makan malam.” sambung rayya dengan penuh pengasan.
Devan tersenyum kecil. “Pendapat yang menarik. Tapi terkadang, keberanian juga tentang menghadapi masa lalu.” ucap devan seraya tersenyum tipis.
Ruangan membeku.
Rayya merasakan dadanya berdesir, antara marah dan tersinggung. Ia melangkah maju satu langkah.
“Kalau begitu,” ucapnya jelas, tegas, “aku akan datang.” sambung rayya dengan wajah yang seperti menjawab tantangan dari devan.
Semua mata membesar.
Rayya menatap Devan tanpa berkedip.
“Dan aku akan membuktikan, siapa yang sebenarnya paling punya nyali di ruangan itu.” sambung rayya.
Senyum Devan perlahan mengembang.
Bukan senyum kemenangan,
melainkan senyum seseorang yang baru saja memastikan,
bahwa permainan telah resmi dimulai.
sementara itu, Begitu kembali ke ruangannya, Rayya menutup pintu dengan keras. Dadanya berdebar kencang. Ada amarah yang mendidih, bercampur dengan sesuatu yang ia benci untuk diakui yaitu gugup.
Ia mengusap wajahnya kasar.
“Aku tidak peduli,” gumamnya. “Aku tidak peduli lagi pada Devan Yudistira.” sambungnya lagi.
Namun ingatan tidak pernah mau patuh.
Pikirannya melayang jauh ke masa SMA.
Hari itu hujan gerimis. Rayya berdiri di depan gerbang sekolah bersama Sony, pacar pertamanya. Jantungnya berbunga-bunga. Ia menunggu momen itu berhari-hari, kencan pertama mereka.
“Rayya, kamu yakin tidak di awasi?” tanya Sony ragu.
Rayya mengangguk cepat. “Tenang saja.” jawab rayya santai. Ia yakin devan tidak mengawasinya karena tadi rayya sudah memperingatkan devan ketika mereka akan turun dari mobil yang mengantar keduanya menuju sekolah.
Namun Sony menegang ketika melihat sosok yang berdiri tak jauh dari mereka, di bawah pohon, dengan ransel di punggung.
Devan.
Ia tidak mendekat. Tidak mengganggu.
Ia hanya menunggu.
“Kenapa dia terus di situ?” bisik Sony tidak nyaman.
Rayya menghampiri Devan dengan wajah merah padam. Ia berjalan cepat seperti harimau yang hendak menerkam mangsanya.
“Kamu ngapain? Pergi! Ini urusanku!” bentak rayya pada devan.
Devan menatapnya tenang. “Saya disuruh Pak Assyura memastikan kamu pulang dengan aman.” ucap devan datar.
“Aku tidak butuh kamu!” bentak Rayya. “Aku bisa jaga diriku sendiri!” sambungnya.
Devan tidak pergi.
Sony akhirnya menghela napas.
“Maaf, Ray. Aku tidak nyaman jika terus - terusan seperti ini. Aku tidak mau pacaran dengan perempuan yang selalu diawasi seperti anak kecil.” ucap sony. setelah itu ia meninggalkan rayya.
Hari itu, Rayya kehilangan pacar pertamanya.
Dan amarahnya meledak. bukan hanya pada Devan, tapi juga pada papanya. Ia sempat mogok makan.
Rayya diam.
Satu minggu penuh.
Ia tidak bicara dengan papanya.
Ia tidak menganggap Devan ada.
Namun Devan tetap di sana.
Tetap menjaga.
Tetap menjalankan perintah.
Sejak hari itu, komunikasi mereka hancur. Rayya membangun tembok dingin, dan Devan menerimanya tanpa protes.
Kini…
Pria itu kembali.
Bukan sebagai anak tukang kebun.
Bukan sebagai bayangan penjaga.
Melainkan sebagai pria berkuasa yang duduk di jajaran atas perusahaan.
Rayya menggenggam tepi meja.
“Kali ini,” bisiknya, “aku tidak akan kalah.” sambungnya.
sementara itu di tempat lain, Devan berdiri sendirian di depan jendela ruang kerjanya yang baru. Ia mengingat wajah Rayya tadi, tatapan menantang, luka lama yang belum sembuh.
Ia tahu…
pertemuan ini bukan kebetulan.
Ini adalah awal dari perang lama yang belum pernah benar-benar berakhir.