NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:772
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 Tanda yang Tidak Pernah Hilang

Malam di Houston terasa berbeda dari kota mana pun yang pernah Bella Shofie datangi.

Jalanan panjang terbentang seperti urat nadi kota yang kelelahan. Gelap, sunyi, dan penuh ancaman yang tidak pernah diucapkan. Tidak ada sirene yang meraung. Tidak ada patroli yang mondar-mandir mencari pembenaran. Di kota ini, hukum tidak ditegakkan dengan sumpah, melainkan dinegosiasikan dengan senjata. Setiap sudut menyimpan kesepakatan tak tertulis, dan setiap bayangan bisa berubah menjadi musuh.

Sebuah mobil hitam mewah melaju tenang di tengah jalan yang hampir kosong. Mesinnya bekerja halus, nyaris tidak bersuara, seolah memahami bahwa kebisingan hanya akan mengundang masalah.

Bella Shofie berada di balik kemudi.

Wajahnya diterangi cahaya lampu jalan yang datang dan pergi, memantul di matanya yang tajam. Tangannya mantap menggenggam setir, tetapi pikirannya jauh dari kemewahan mobil yang ia kendarai. Sejak misi di Hotel Mercure, sejak darah konglomerat itu jatuh ke lantai tanpa suara, Bella tahu satu hal dengan pasti.

Ia tidak lagi hanya pemburu.

Ia telah menjadi buruan.

Pandangan Bella melirik spion. Di sana, bayangan lampu muncul dari kejauhan. Satu mobil. Beberapa detik kemudian, bayangan lain menyusul. Dua. Jarak mereka tidak wajar. Tidak ada pengemudi biasa yang menjaga jarak sepresisi itu di jalan kosong.

Terlalu teratur.

Terlalu sengaja.

Bella tidak menambah kecepatan.

Ia justru mempertahankan laju mobilnya, seolah tidak menyadari apa pun. Di dalam dadanya, detak jantungnya tetap stabil. Ia menunggu. Dalam dunia Madam Doss, terburu-buru adalah kesalahan pertama yang paling sering membunuh.

Di Houston, tidak ada polisi yang akan menghentikan ini. Senjata bukan barang terlarang. Kekerasan adalah bahasa sehari-hari. Semua orang tahu, dan sebagian besar memilih menutup mata demi bisa tidur nyenyak.

Tiba-tiba—

BRAK.

Sesuatu menghantam kaca depan mobil Bella dengan kekuatan brutal. Retakan menjalar cepat, membelah pandangannya seperti jaring laba-laba. Suara benturan logam menggema, berat, padat, dan mematikan.

Sebuah kampak tertancap kuat di kaca.

Mobil Bella oleng. Ban mencicit saat ia menginjak rem keras. Kendaraan itu berhenti mendadak di tengah jalan, debu dan serpihan kaca berhamburan. Lampu depan menyorot lurus ke kegelapan, seolah menantangnya untuk maju.

Pintu mobil terbuka.

Bella melangkah keluar dengan tenang.

Tidak ada kepanikan di wajahnya. Tidak ada gerakan sia-sia. Seolah serangan itu sudah ia perkirakan sejak lampu pertama muncul di spion.

Di depan mobil, seorang pria berdiri dengan sikap santai. Tubuhnya besar, bahunya lebar, wajahnya keras seperti batu. Senyum tipis terukir di bibirnya, dingin dan meremehkan. Tangannya kosong, karena senjatanya kini tertancap di mobil Bella.

“Kau cepat,” katanya, suaranya berat dan tenang.

“Tapi tidak cukup cepat.”

Bella tidak menjawab.

Ia melangkah mendekat, mencengkeram gagang kampak, lalu mencabutnya dari kaca dengan satu tarikan kuat. Senjata itu berat, namun seimbang. Terasa pas di tangannya, seperti alat yang memang menunggu untuk digunakan.

Pria itu bergerak lebih dulu.

Bella melangkah menyamping, memutar tubuhnya dengan gerakan halus. Dalam satu tarikan napas, ia melemparkan kampak itu. Putaran senjata itu lurus dan presisi, memotong udara malam sebelum menghentikan langkah pria itu seketika.

Tubuh besar itu jatuh tanpa suara.

Jalan kembali sunyi.

Namun hanya sesaat.

Dari kejauhan, deru mesin lain terdengar. Kali ini lebih dari satu. Lampu-lampu mendekat dari berbagai arah. Satu demi satu mobil mewah muncul, mengelilingi area itu seperti serigala yang menemukan mangsanya. Hitam, abu-abu, biru gelap. Kendaraan mahal. Dunia bawah selalu menyukai kemewahan, seolah kekayaan bisa membersihkan darah.

Pintu-pintu terbuka hampir bersamaan.

Beberapa pria turun.

Pistol terangkat.

Senapan diarahkan.

Pisau berkilat di bawah lampu jalan.

Mereka tidak berbicara.

Mereka langsung menyerang.

Bella bergerak cepat, berlindung di balik mobilnya saat peluru menghantam aspal dan bodi kendaraan. Percikan api kecil muncul setiap kali timah panas mengenai besi. Bella menahan napas, mengingat latihan Madam Doss. Menghitung ritme tembakan. Membaca jeda. Menunggu celah.

Satu musuh mendekat terlalu dekat.

Pisau meluncur dari balik jaket Bella.

Gerakannya singkat, tepat, tanpa ragu. Pria itu jatuh sebelum sempat menarik pelatuk.

Bella berpindah posisi. Mobilnya ia jadikan perisai sekaligus senjata. Ia menyerang dari sisi gelap, muncul dan menghilang sebelum lawan sempat menyesuaikan arah tembakan. Ia menggunakan apa pun yang ada. Jarak. Bayangan. Kecepatan.

Peluru melesat, namun Bella sudah bergerak sebelum suara itu selesai menggema.

Ia menyerang satu demi satu.

Tidak panik.

Tidak ragu.

Semua teknik yang pernah dipelajarinya hidup malam itu. Latihan tangan kosong. Pergerakan balet yang membentuk keseimbangan. Tinju yang mengajarkan daya hancur. Refleks senjata yang tertanam dalam otot.

Tubuhnya bergerak tanpa perlu perintah.

Namun jumlah mereka banyak.

Dan satu di antara mereka berbeda.

Setelah yang lain tumbang atau mundur, pria terakhir melangkah maju perlahan. Ia menjatuhkan senjatanya ke tanah, sengaja, seolah ingin menantang.

“Akhirnya,” katanya.

“Aku ingin melihatmu tanpa alat.”

Bella menyimpan pisaunya.

Mereka berdiri berhadapan di tengah jalan kosong, hanya diterangi lampu mobil dan cahaya jalanan.

Pertarungan tangan kosong dimulai.

Pukulan pertama datang cepat. Bella menghindar dengan langkah ringan, tubuhnya berputar seperti tarian. Ia membalas dengan tendangan tinggi. Kakinya melayang dan menghantam kepala lawan.

Pria itu terhuyung, namun tidak jatuh.

Ia membalas dengan serangan berat. Tinju menghantam bahu Bella. Rasa sakit menjalar, namun Bella tidak berhenti. Ia membiarkan nyeri itu lewat, tidak memberi ruang untuk menguasai dirinya.

Balet menjadi pemandu.

Putaran tubuh memberi tenaga pada pukulan. Langkah kecil membuatnya selalu berada di luar jangkauan. Tendangan menyapu rendah, lalu naik cepat ke arah kepala.

Tinju dan tarian menyatu.

Pertarungan berlangsung sengit. Napas mereka berat. Aspal dipenuhi jejak langkah, noda darah, dan bayangan yang berkelindan di bawah lampu.

Akhirnya, Bella menemukan celah.

Satu gerakan memutar.

Satu pukulan terarah.

Satu tendangan terakhir.

Pria itu jatuh ke tanah dan tidak bangkit lagi.

Bella berdiri di tengah jalan yang kembali sunyi. Napasnya terengah, namun matanya tetap jernih.

Saat ia menunduk, sesuatu menarik perhatiannya.

Di pergelangan tangan kanan pria itu, terlihat tanda hitam berbentuk huruf X.

Bella membeku.

Tanda itu.

Ingatan lama menyeruak. Malam berdarah tujuh tahun lalu. Suara tembakan. Tubuh ayahnya tergeletak tak bernyawa. Dan sebuah tangan yang sempat ia lihat sebelum kegelapan menelan segalanya.

Tangan dengan tanda yang sama.

Dunia seolah berhenti berputar.

“Jadi… kalian nyata,” bisiknya.

Bella berlutut. Tangannya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang telah lama ia kubur. Amarah yang kini menemukan bentuknya.

Ia mengambil kampak yang tadi tergeletak di jalan.

Tidak ada ekspresi di wajahnya saat ia memotong tangan itu. Tidak ada teriakan. Tidak ada kebencian yang meluap.

Hanya keputusan.

Ia membungkusnya dengan plastik hitam yang diambil dari bagasi mobil. Rapi. Tenang. Seperti menyimpan bukti penting.

Setelah itu, Bella berdiri, masuk kembali ke mobil, dan menyalakan mesin.

Mobil hitam itu melaju meninggalkan jalan sunyi yang dipenuhi jejak pertarungan.

Di dalam mobil, Bella menggenggam setir dengan kuat.

Tanda X itu nyata.

Artinya satu hal. Pembunuh ayahnya bukan bayangan. Bukan sekadar masa lalu yang menghantui.

Mereka adalah bagian dari jaringan ini.

Dan sekarang, mereka tahu.

Bella Shofie tidak lagi hanya memburu kebenaran.

Ia telah menyentuh pintu yang sama.

Dan cepat atau lambat, pintu itu akan terbuka lebar.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!