NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Kesokan harinya, Kedatangan Alesya di pagi hari itu selalu membawa suasana yang berbeda di rumah keluarga Wijaksana. Kiara, yang sudah rapi dengan tas kecil bergambar kartun di punggungnya, langsung berlari masuk ke dalam rumah dan memeluk kaki Andrew yang kebetulan sedang berada di ruang tengah.

​"Om Andrew! Kiara mau seharian di sini!" serunya riang.

​Alesya dan Rayyan masuk menyusul di belakang. Wajah Alesya tampak sedikit tegang, ciri khasnya jika sedang dalam mode profesional sebagai dokter.

​"Andrew, Ares, sori banget ya ganggu pagi-pagi," ujar Alesya sambil meletakkan tas keperluan Kiara. "Saudara sepupu Rayyan di luar kota ada yang kritis setelah kecelakaan, mereka minta aku yang menangani atau setidaknya mendampingi di sana. Aku dan Rayyan harus berangkat sekarang juga."

​"Nggak masalah, Kak. Kiara aman di sini," sahut Ares santai. "Ada aku, ada Mommy juga."

​"Masalahnya," Alesya melirik jam tangannya dengan cemas, "Mommy dan Papi ada acara amal sampai sore, mereka baru saja berangkat sepuluh menit lalu. Jadi di rumah ini tinggal kalian berdua."

​Andrew mengangguk pelan. "Aku bisa jaga Kiara di kantor, atau aku pulang lebih cepat."

​Alesya menatap Andrew, lalu beralih ke Ares. "Res, bukannya kamu ada jadwal syuting sampai malam?"

​Ares menepuk jidatnya. "Oh iya! Astaga, aku hampir lupa. Aku ada scene penting siang ini. Duh, gimana ya?" Ares tampak berpikir keras, lalu matanya berbinar saat sebuah ide muncul. "Eh! Gimana kalau Kiara aku titipin ke Alana aja di galerinya? Alana pasti seneng banget, dia suka anak kecil. Lagian galerinya kan tenang, Kiara bisa belajar melukis di sana."

​Mendengar nama Alana, Andrew langsung menoleh tajam. Jantungnya berdegup tidak menentu.

​"Ke Alana? Kamu yakin nggak merepotkan dia?" tanya Alesya ragu.

​"Nggak lah, Kak! Malah Alana pasti kesepian karena aku nggak bisa nemuin dia seharian ini," jawab Ares antusias. Ia langsung meraih ponselnya dan menelepon Alana. Hanya butuh beberapa detik sampai Alana setuju dengan senang hati.

​"Oke, fix! Alana bilang oke," Ares tersenyum lebar. "Tapi masalahnya... aku udah telat banget ke lokasi syuting. Kak Andrew, tolong ya? Anterin Kiara ke galerinya Alana. Sekalian jalan ke kantor lo kan?"

​Andrew terdiam. Ia merasa terjebak dalam skenario takdir yang sangat ironis. Baru saja semalam ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjauh, dan pagi ini ia justru diminta untuk mengantarkan keponakannya ke tempat wanita yang paling ingin ia hindari.

​"Andrew? Bisa kan?" tanya Alesya memastikan.

​Andrew menatap Kiara yang menatapnya dengan mata bulat penuh harap. Ia tidak punya alasan untuk menolak tanpa terlihat mencurigakan.

​"Ya," jawab Andrew pendek. "Gue yang anter."

​"Makasih ya, Kak Ndrew! Lo emang kakak terbaik," Ares menepuk bahu Andrew tanpa beban, tidak tahu bahwa tindakannya itu justru melemparkan Andrew kembali ke dalam api.

​Di Perjalanan Menuju Galeri

​Suasana di dalam mobil Andrew terasa jauh lebih ramai berkat ocehan Kiara. Anak itu tidak berhenti bercerita tentang sekolahnya, namun Andrew hanya menjawab seadanya. Pikirannya sudah melayang ke pintu galeri kayu itu.

​"Om Andrew, nanti Kiara mau lukis bunga buat Om," kata Kiara sambil menarik-narik ujung kemeja Andrew.

​"Oke, Lukis yang bagus ya, Kiara," jawab Andrew pelan.

​Saat mobil mewah itu berhenti di depan galeri Alana, Andrew melihat Alana sudah berdiri di depan pintu, menunggu mereka. Ia mengenakan kaos putih santai dengan rambut yang dicepol asal, namun di mata Andrew, ia terlihat jauh lebih nyata daripada siapa pun yang pernah ia temui.

​Andrew turun dari mobil, membukakan pintu untuk Kiara. Alana melangkah mendekat, matanya bertemu dengan mata Andrew. Ada kecanggungan yang luar biasa berat di antara mereka, sisa dari kejadian "nyaris ciuman" tempo hari.

​"Hai, Kiara!" Alana berlutut menyambut pelukan hangat gadis kecil itu. "Siap jadi pelukis hari ini?"

​"Siap, Kak Alana!"

​Alana bangkit berdiri, kini berhadapan langsung dengan Andrew. "Terima kasih sudah mengantar, Andrew. Ares bilang dia sangat sibuk hari ini."

​"Sama-sama," sahut Andrew kaku. Ia hendak langsung berbalik pergi, namun Kiara menahan tangannya.

​"Om Andrew, jangan pergi dulu! Kiara mau tunjukin sesuatu di dalam!"

​Andrew menarik napas panjang. Ia menatap Alana yang juga tampak bingung harus bersikap seperti apa.

Andrew awalnya berniat hanya menurunkan Kiara dan langsung pergi, namun tarikan tangan mungil keponakannya itu jauh lebih kuat dari logikanya. Ia akhirnya melangkah masuk ke dalam galeri yang harum aroma kopi dan cat itu.

​"Om hanya punya waktu sepuluh menit ya, Kiara. Om harus rapat," Andrew memberikan syarat, meski hatinya tahu itu adalah kebohongan untuk menenangkan dirinya sendiri.

​Alana segera menyiapkan sudut khusus untuk Kiara. Ia menggelar kain alas di lantai, menyiapkan kanvas kecil, dan palet warna-warni cerah. Kiara tampak sangat antusias, ia duduk bersila dan mulai mencelupkan kuasnya.

​"Om Andrew sini! Kak Alana, Om Andrew disuruh duduk di samping Kiara," perintah gadis kecil itu dengan nada bosan dibantah.

​Andrew terpaksa melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia duduk di lantai beralaskan kain, sementara Alana duduk di sisi lain Kiara. Pemandangan itu begitu kontras: Andrew yang kaku dan formal, Alana yang artistik dan santai, serta Kiara yang penuh tawa di antara mereka.

​"Wah, Kiara mau lukis apa?" tanya Alana lembut, jarinya mengarahkan tangan Kiara untuk mencampur warna kuning dan biru.

​"Lukis taman! Kak Alana yang buat bunganya, Kiara yang buat rumputnya, terus Om Andrew yang buat langitnya!" Kiara memberikan kuas penuh cat biru kepada Andrew.

​Andrew menerima kuas itu dengan canggung. Ia, yang biasanya memegang pena untuk menandatangani kontrak jutaan dolar, kini harus menggoreskan warna biru di atas kanvas kecil. Alana memperhatikannya sambil tersenyum kecil, senyuman tulus yang sudah lama tidak Andrew lihat.

​"Pelan-pelan, Andrew. Jangan terlalu tegang seperti sedang menulis laporan tahunan," goda Alana pelan.

​Andrew meliriknya, ada kilatan jenaka di matanya yang biasanya dingin. "Ini lebih sulit daripada laporan tahunan, Alana."

​Selama satu jam berikutnya, waktu seolah melambat. Andrew benar-benar melupakan kantornya. Mereka bertiga sibuk tertawa saat Kiara tidak sengaja mencoret pipi Andrew dengan cat hijau. Alana dengan refleks mengambil tisu basah dan mendekat untuk membersihkannya.

​Jarak mereka kembali mengikis. Tangan Alana yang lembut menyentuh rahang Andrew, mengusap noda cat itu dengan hati-hati. Andrew bisa mencium wangi tubuh Alana, dan untuk sesaat, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam momen itu. Kiara yang melihat mereka hanya terkikik.

​"Kalian kayak Papa sama Mama kalau lagi main sama Kiara," celetuk Kiara polos sambil terus melukis.

​Deg.

​Tangan Alana membeku di wajah Andrew. Keduanya terdiam, jantung mereka berpacu dalam irama yang sama. Kata-kata Kiara adalah kebenaran yang paling menyakitkan sekaligus yang paling mereka inginkan dalam angan-angan terdalam. Di galeri yang tenang ini, mereka terlihat seperti sebuah keluarga, sesuatu yang seharusnya menjadi milik Ares, bukan Andrew.

​Alana segera menarik tangannya kembali, wajahnya merona merah. Andrew berdehem, mencoba mengembalikan kewibawaannya yang sudah runtuh.

​"Ehm, Kiara... Om rasa langitnya sudah cukup biru," ucap Andrew dengan suara serak.

​"Tapi lukisannya belum selesai, Om!" rengek Kiara. "Kak Alana, Om Andrew jangan boleh berangkat kerja dulu ya?"

​Alana menatap Andrew, ada permohonan yang tak terucap di matanya. "Mungkin... Kamu mau minum kopi dulu sebelum pergi? Aku baru saja menyeduh yang baru."

​Andrew menatap arlojinya, lalu menatap Alana. "Boleh. Setelah itu saya benar-benar harus pergi."

​Saat Alana beranjak ke dapur kecil, Andrew menatap punggungnya. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak hanya mencintai wanita ini, ia juga mendambakan kehidupan sederhana seperti ini bersamanya. Kehidupan di mana ia bukan CEO, melainkan hanya seorang pria yang melukis langit bersama wanita yang ia cintai.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!