Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LATIHAN PERTAMA
"Ada satu hal lagi, Ibu, aku butuh akses ke ruang bawah tanah terdalam di kediaman ini. Tempat yang dulu digunakan Duke Alistair terdahulu untuk menyimpan artefak atau bahan-bahan terlarang," ucap Jasmine Jasmine kembali menatap Nyonya Kimberly.
"Untuk apa, Jasmine?" tanya Nyonya Kimberly, mengerutkan keningnya.
Jasmine mengeluarkan secarik kertas kecil lagi dari balik saku gaunnya, kali ini berisi sketsa kasar sebuah tabung besi kecil dengan sumbu di ujungnya.
"Aku akan membuat sesuatu yang akan membuat para penyihir hitam itu menyesal karena hanya mengandalkan mantra," bisik Jasmine, tersenyum miring.
"Mereka menyebutnya sihir, aku menyebutnya reaksi kimia, dan saat itu meledak, benteng hitam mereka akan terasa seperti rumah kertas," lanjut Jasmine, dengan seringai iblis yang sangat mematikan.
Nyonya Kimberly terdiam, terpukau sekaligus ngeri melihat transformasi menantunya.
Tanpa Nyonya Kimberly ketahui, bawah yang berdiri di hadapannya adalah Bianca Kingston, jiwa yang terbangun dalam raga Jasmine, seorang pejuang yang siap menghancurkan dunia demi keluarganya.
"Aku akan memberikan kuncinya padamu besok pagi," jawab Nyonya Kimberly mantap.
"Sekarang, beristirahatlah, Jasmine, kau butuh tenaga untuk menjadi Pelatih bagi mereka semua besok," lanjut Nyonya Kimberly, berjalan keluar.
Jasmine tidak menjawab, dia hanya terus menatap keluar jendela, ke arah utara yang gelap dan bersalju, seolah-olah pandangannya bisa menembus ribuan mil hingga ke sel tempat Duke Lucas berada.
"Tunggu aku, Lucas, jangan berani-berani menutup matamu, karena istrimu tidak akan datang untuk menangis di nisanmu, tapi untuk membawamu pulang sebagai pemenang," batin Jasmine.
Malam itu berakhir dengan kesunyian yang mencekam di kediaman Alistair.
Di luar, salju terus turun, menutupi jejak-jejak sihir hitam di pinggir hutan, namun tidak bisa menutupi tekad yang sudah membatu di dalam hati Jasmine.
Di sel tahanan tempat Duke Lucas di kurung, saat ini seorang pria bertudung hitam sedang menyiksa Duke Lucas.
CETAR
CETAR
CETAR
Suara cambukan mengenai tubuh Duke Lucas.
Suara cambukan itu bergema di seluruh ruangan bawah tanah yang pengap.
Setiap hantaman ujung cambuk yang telah diolesi cairan perak, cairan racun bagi kaum serigala, mengoyak kulit punggung Duke Lucas, meninggalkan luka bakar yang berdesis dan mengeluarkan asap tipis.
"Sebentar lagi aku akan mendapatkan kekuatan mu Lucas Alistair, untuk membangkitkan Raja kegelapan, bukan hanya kekuatan mu, tapi aku akan mencabik-cabik jiwa kecil keturunan mu," ucap pria bertudung hitam itu, tertawa jahat.
Lucas menggertak gigi begitu keras hingga rahangnya terasa akan retak.
Kepalanya terkulai, rambut hitamnya yang berantakan menutupi wajahnya yang bersimbah peluh dan darah. Namun, di tengah rasa sakit yang mematikan itu, ada sesuatu yang berbeda.
Lencana perak di dalam saku jubahnya terasa hangat. Hangat yang tidak wajar.
“Jasmine...” batin Duke Lucas.
Setiap kali cambuk itu mendarat, Duke Lucas tidak lagi membayangkan kegelapan, dia membayangkan tatapan dingin istrinya di padang salju yang dia lihat di bawah alam sadar nya tadi.
Dia membayangkan sosok Jasmine yang berdiri dengan seringai mematikan.
"Kau, tidak akan pernah mendapatkannya," bisik Duke Lucas, suaranya serak namun penuh penghinaan.
"Apa kau bilang?" ucap Pria bertudung itu murka, kembali mengangkat cambuknya tinggi-tinggi, bersiap untuk serangan yang lebih fatal.
Namun, sebelum cambuk itu terayun, tangan Duke Lucas yang terikat rantai di atas kepala tiba-tiba mencengkeram besi belenggunya.
Otot-otot lengannya menegang hebat, aura biru es yang tipis mulai merambat keluar dari pori-pori kulitnya, membekukan darah yang menetes di lantai.
"Aku bilang, istriku sedang dalam perjalanan untuk menjemput ku, dan jika aku jadi kau, aku akan mulai berdoa pada dewa mana pun yang kau sembah," ucap Duke Lucas mengangkat wajahnya, matanya yang semula layu kini berkilat yang tajam.
"Mustahil! Sihir penyegel di sel ini seharusnya sudah menghancurkan mentalmu!" teriak Pria bertudung itu tersentak mundur.
"Mental Jasmine adalah mentalku sekarang," gumam Duke Lucas dengan tawa kecil yang terdengar mengerikan di kegelapan.
Pagi Harinya di Kediaman Alistair...
Fajar belum benar-benar menyingsing, langit masih berwarna biru gelap pekat ketika Jasmine sudah berdiri di tengah ruang bawah tanah kediaman Alistair.
Ruangan itu luas, tersembunyi di balik dinding batu yang tebal, dengan aroma debu dan besi yang menyengat.
Jasmine mengenakan pakaian yang sangat tidak biasa bagi seorang Duchess, yaitu celana kulit milik Lucas yang sudah Luna kecilin, sepatu bot tinggi, dan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, serta rambut panjangnya dikepang kuat di belakang kepala.
Klek.
Pintu besi terbuka, Ethan muncul membawa Lucian dan Leo yang masih tampak mengantuk, mata mereka merah karena dipaksa bangun sebelum ayam berkokok.
"Ibu... ini masih sangat pagi," rengek Leo sambil mengucek matanya.
"Kenapa kita di sini? Dingin..."
Jasmine tidak menjawab dengan kata-kata lembut, d ia mengambil sebuah ember berisi air dingin yang dicampur es dari sudut ruangan.
BYUR
"Aaakh! Dingin!" teriak Leo dan Lucian bersamaan, melompat kaget karena tersiram air es.
Rasa kantuk mereka hilang seketika, digantikan oleh keterkejutan luar biasa.
"Di medan perang, musuh tidak akan menunggu kalian mencuci muka," ucap Jasmine datar, suaranya bergema dingin di ruangan bawah tanah itu.
"Yang Mulia... eh, maksud saya, Pelatih... bukankah ini terlalu ekstrem untuk hari pertama?" tanya Ethan tertegun melihat ketegasan Jasmine.
"Ethan, kau bilang kau ksatria terbaik? Berdiri di sana! Leo, Lucian, berdiri di depan Ethan!" perintah Jasmine menoleh ke arah Ethan dengan tatapan tajam.
Kedua bocah itu, meski tubuhnya menggigil, segera patuh, mereka bisa merasakan aura ibu mereka sangat berbeda pagi ini.
Ini bukan Ibu yang akan memberikan kue hangat, ini adalah sosok yang siap menerkam.
"Mulai hari ini, kalian bukan anak-anak. Kalian adalah prajurit," ucap Jasmine, tegas.
Percayalah saat ini hati Jasmine sedang di remas, orang yang paling sakit adalah dirinya, karena harus melatih Putra kecil nya sekeras ini.
Jujur saja andai ada pilihan, Jasmine tidak ingin melakukan semua ini pada kedua Putra nya, tapi dunia luar yang sangat keras sedang menunggu mereka berdua, jika dirinya tidak melatih mereka seperti ini, tidak menutup kemungkinan, nanti mereka berdua akan memiliki nasib sama seperti Duke Lucas.
"Lucian, gunakan pendengaranmu! Tutup matamu! Aku ingin kau memberitahu Ethan ke arah mana aku akan melemparkan belati ini!" perintah Jasmine, tegas.
Jasmine mengambil lima buah belati latihan dari meja.
"Tapi Ibu-"
"Tutup matamu, Lucian!" bentak Jasmine, dingin.
Lucian segera memejamkan mata nya, dia mulai mencoba fokus, menajamkan pendengarannya, ruangan itu sunyi, hanya ada suara tetesan air dari ember tadi.
Sret
Jasmine melemparkan belati pertama dengan kecepatan tinggi, bukan ke arah Lucian, tapi ke arah target kayu di belakang Ethan.
"Kiri!" teriak Lucian.
Tuk! Belati menancap tepat di kiri.
"Bagus. Lagi!" ucap Jasmine, tersenyum puas.
Jasmine melemparkan tiga belati sekaligus dengan sudut yang berbeda.