Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 KEHADIRAN LAYLA
Sofia berlalu pergi seusai dia berpamitan pergi pada ibu Saba, ibu pengasuh Jabez Ezaz semenjak balita menemui suaminya di ruangan istirahatnya.
Tiba di depan jalan menuju ruangan istirahat Jabez Ezaz, langkah kaki Sofia di hadang oleh Layla.
Layla memandang dingin kepada Sofia yang berada di hadapannya lalu berkata.
"Apa kau mau menemui suamiku, selir Sofia ?"
"Ya, ampun, Layla, kau seharusnya tahu bahwa Jabez bukan hanya suamimu seorang, dia juga suamiku meski statusku hanyalah selir di harem ini."
"Lancang sekali ucapanmu itu, Sofia !"
"Kenapa kau harus marah padaku, Layla, jika pada kenyataannya seperti itu adanya kehidupan di harem ini ?"
"Kau tidak memandang status rendahmu yang hanya selir di harem ini, kau bukan siapa-siapa disini, ingat itu Sofia !"
"Apa kau bilang, Layla ? Status rendah ?"
Sofia membuang muka dengan teramat kesalnya lalu menatap tajam kepada Layla yang ada di hadapannya.
"Ya, status rendah dari seorang pelakor licik sepertimu, bisa dikatakan bahwa kau perebut suami orang yang hanya bermodalkan rasa tak tahu diri dan tak tahu malu, Sofia."
"Cukup, Layla ! Sudah cukup kau mencemoohku, dan sebaiknya aku segera pergi dari hadapanmu sekarang !"
"Tidak semudah itu pergi dariku karena aku adalah penguasa utama di harem ini maka kau tidak bisa bertindak sebebas yang kau inginkan, Sofia."
Sofia tertegun diam seraya menatap ke arah Layla, tatapan mereka saling beradu satu sama lainnya dan sama-sama tajamnya.
"Aku hanya ingin menemui suamiku, Layla..."
"Tapi aku adalah istri sahnya maka aku berhak lebih dulu menemui Jabez karena dia suamiku, Sofia."
"Hah, aku tidak mengerti cara berpikirmu itu, kenapa kau masih saja mempermasalahkan soal siapa yang berhak untuk Jabez, dan kau tahu kita sama-sama istri Jabez Ezaz, Layla."
"Sejak dulu aku tidak pernah sudi berbagi suami denganmu, Sofia bahkan aku tidak sekalipun mengijinkan Jabez memiliki selir di harem ini karena yang kalian cari hanyalah harta kekayaan suamiku."
"Kau terlalu naif, Layla !"
"Aku tidak senaif yang kau kira, Sofia, sebab aku cukup cerdas menebak isi pikiranmu yang menginginkan tahta tertinggi sebagai permaisuri di harem ini."
"Jika itu memungkinkan bagiku sebagai ratu di harem ini, apa yang bisa kau perbuat untuk menyingkirkanku, Layla ?"
"Kau ! Lancang sekali bicara seperti itu pada istri pertama tuan Jabez !"
Seorang dayang perempuan berbicara pada Sofia karena dia tak terima Layla di permalukan.
"Siapa memangnya dirimu ?"
Sofia memalingkan muka kepada dayang di samping Layla seraya menatap sinis.
"Kau ! Benar-benar, ya, hanya selir tapi kelakuanmu sungguh berani sekali pada nyonya Layla, tidakkah kau takut mati disini !"
"Apa ? Mati ?"
Sofia menoleh dingin kepada dayang perempuan sembari berucap.
"Ringan sekali kau berbicara tentang kematian seolah-olah kata mati itu cuma kiasan semata."
Sofia mencibir sinis seraya tertawa pelan, menatap tajam kepada dayang perempuan itu, dan berucap lagi.
"Lancang sekali kau dayang, berani mengancam selir tuanmu sendiri, apa kau berani mempertaruhkan nyawamu sebagai ganti atas ucapanmu itu padaku !"
Dayang perempuan tersentak kaget sehingga menundukkan pandangannya.
Layla menoleh dingin kepada dayang di sampingnya lalu berbicara kembali pada Sofia.
"Untuk apa kau menemui Jabez ?"
"Bukan urusanmu, Layla."
"Apa ?"
"Aku mau menemui Jabez itu terserah padaku kapanku aku mau, dan kau tidak berhak mengurusi urusanku itu sama sekali, Layla."
"Kau memang tidak terdidik dan tidak bisa diajak bicara, Sofia."
"Lantas apa maumu, haruskah kau akan membuatku mati seperti yang dikatakan oleh dayang kepercayaanmu itu, Layla ?"
"Disini aku lah pemegang kuasa tertinggi, seharusnya kau tidak berkata kurang ajar padaku, Sofia."
"Dan bukan urusanku juga karena aku tidak harus menaruh hormat padamu karena di harem ini status kita setara, sama-sama istri Jabez, dan seharusnya kau mengingatnya, Layla..."
Layla menatap sinis kepada Sofia, selama ini dia menganggap Sofia sebagai saingannya bahkan dia sama sekali tidak menerima kehadiran Sofia sebagai selir Jabez Ezaz.
Berbagi suami di dalam harem bukanlah keinginan terbesar Layla karena dia tidak menyukai dirinya tersaingi oleh wanita manapun juga, perselisihan ini menandakan perang kecil mulai terjadi diantara dirinya dan Sofia.
"Kalau tidak ada urusan lainnya maka aku akan menemui Jabez karena aku sudah terlalu lama menunda bertemu dengan suamiku tersayang, permisi Layla..."
Sofia memajukan langkah kakinya, hendak menuju ruangan istirahat Jabez yang tak jauh darinya dan Layla berdiri saat ini.
Tiba-tiba Layla menangkap pergelangan tangan Sofia sehingga dia berhenti melangkah.
"Apa yang kau bawa di tanganmu itu, Sofia ?"
Cepat-cepat Sofia menyembunyikan Test Pack kehamilannya dari Layla.
"Ambil benda yang ada di tangan Sofia, dayang !"
"Baik, nyonya Layla."
Dayang itu berusaha merampas Test Pack kehamilan milik Sofia yang disembunyikan dalam genggaman tangan Sofia.
"Berikan benda itu padaku, selir Sofia !"
"Tidak akan !"
"Cepat, kubilang serahkan benda yang kau sembunyikan itu, selir Sofia !"
"Tidak !"
Sofia berusaha mempertahankan dirinya dari serangan dayang perempuan yang bersikeras merampas benda miliknya berupa Test Pack hasil kehamilannya.
Namun dayang itu tidak menyerah dan terus berupaya mengambil paksa benda milik Sofia sehingga mereka saling berebut satu sama lainnya.
Layla yang tidak sabaran melihat mereka berdua saling berebut langsung turun tangan, dengan sekali gerakan cepat, dia berhasil merebut benda di tangan Sofia.
"Benda apakah ini, Sofia, kau hamil ?"
Layla memperhatikan Test Pack milik Sofia di tangannya dengan seksama.
Tampak tanda dua garis jelas di benda Test Pack kepunyaan Sofia.
Dua garis jelas yaitu satu garis kontrol dan garis tes muncul jelas menandakan kehamilan.
Layla menatap dingin kepada Sofia, sedangkan ujung bibirnya naik tipis membentuk senyuman.
"Suatu keberuntungan bagi kita semua atas kehamilanmu itu, Sofia..."
"Apa maksudmu, Layla ?"
"Sayangnya, benda ini sekarang menjadi punyaku, dan kuucapkan terima kasih padamu telah banyak membantuku, Sofia."
"Layla, apa yang kau inginkan ?"
"Tahan Sofia agar dia tidak masuk menemui Jabez, kalian mengerti !"
"Baik, nyonya Layla !"
Dua dayang kepercayaan Layla segera menahan Sofia agar dia tidak pergi kemana-mana.
Sofia memberontak keras ketika kedua tangannya di tahan oleh dua dayang perempuan yang ada di sampingnya, sedangkan Layla tertawa senang.
"Layla, kembalikan Test Pack punyaku itu padaku !"
"Jika kau menginginkan barang berharga milikmu ini kembali padamu maka rebutlah kalau kau bisa, Sofia !"
"Tidak, Layla. Kembalikan padaku kalau tidak maka aku akan berteriak keras sehingga semua orang mendengar teriakanku !"
"Coba saja, kalau kau mampu, berteriaklah sekencang mungkin dan ambil saja Test Pack ini sebab tanpa benda berharga ini, apa yang bisa kau lakukan buat membuktikan bahwa kau sedang hamil, Sofia ?"
"Kembalikan Test Pack itu padaku, Layla !"
"Tidak akan pernah, dan bermimpilah sampai kau sadar bahwa kau tidak akan pernah bisa merebut hati Jabez dariku, Sofia."
"Tidak, Layla, kembalikan Test Pack punyaku itu padaku lagi, Layla !"
Dua dayang kepercayaan Layla segera membungkam mulut Sofia yang hendak berteriak keras, sedangkan Layla hanya tertawa.
"Hahahahahahaha... !"
Layla tertawa keras dengan mimik wajah menyeramkan sembari mengayun-ayunkan benda berupa Test Pack kepunyaan Sofia yang ada di tangannya saat ini.