Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan terbaik
Ranaya Aurora adalah seorang perancang busana cukup terkenal di kota J. Cantik, pintar dan sangat berbakat. Di usianya yang tidak muda lagi yaitu tiga puluh tahun, ia harus mendapatkan tekanan soal pernikahan dari keluarganya. Yang semula ia sangat yakin akan menikah dengan kekasih hatinya, sekarang harapan itu runtuh.
Pengkhianatan yang Miko lakukan sudah membuat luka dalam di hatinya dan membuatnya tidak ingin menikah.
"Naya, kamu gila! Hanya gara-gara lelaki tidak bertanggung jawab itu, kamu jadi seperti ini. Kamu putriku satu-satunya, mana mungkin tidak akan menikah?" cetus Ilham meradang dengan keputusan putrinya itu.
Naya tidak menanggapi papanya itu, ia sibuk mengemas barang-barang yang berhubungan dengan Miko. Bahkan, barang-barang mahal yang Miko berikan ikut serta dalam kardus itu.
"Naya ... Papa bicara sama kamu loh!"
"Papa, sudah dong. Jangan menekan Naya seperti itu. Dia baru saja di khianati, hatinya pasti sangat sakit. Hati mama saja sakit banget!" bela Suci.
"Tapi Ma ... Naya bilang tidak akan pernah menikah."
"Mama ... Papa ... Please deh, kalian itu bikin kepalaku makin pusing tauuuu ... Stop bahas-bahas pernikahan lagi, aku tidak mau membicarakan soal itu!" cetus Naya.
Kemudian Suci mendudukkan Naya dan menenangkannya. Semenjak keluar dari rumah sakit, Naya tidak pergi kemana pun, sudah tiga hari ia hanya berdiam di dalam kamar. Bahkan ada Miko datang kerumah pun, Naya tidak mau menemuinya.
"Sudah sayang ... Maafkan papamu, ya. Tidak apa-apa ..." ujar Suci.
Naya menghela nafas panjang, ia sudah memikirkan semuanya selama tiga hari ini dan keputusan putus dengan Miko adalah hal yang terbaik.
"Agh terserah kalian saja!" gerutu Ilham lalu keluar dari kamar Naya.
"Kamu jangan bersedih terus dong, memangnya gak akan pergi ke kantor lagi? udah tiga hari loh," bujuk Suci.
"Aku gak sedih kok, Ma. Hanya saja selama ini aku terlalu bodoh, tiga tahun menghabiskan waktu bersama Miko yang ternyata dia malah mengkhianatiku!" tutur Naya.
"Hmmm ... Tidak apa-apa. Masih untung kamu tahu kebusukan Miko sebelum menikah dengannya. Tuhan masih sayang padamu, jadi sekarang harus semangat lagi, ya ... Mana nih Naya yang ceria dan periang? Mama jadi sedih kalau liat kamu kayak gini," tutur Suci.
Naya menatap sendu ibunya itu lalu memeluknya dengan erat. "maafkan aku ya, Ma. Udah buat mama sedih."
Pelukan itu terlepas lalu Naya bangkit dari duduknya. "Oke ... setelah ini aku tidak akan sedih-sedihan lagi. Sudah cukup tiga hari aku meratapi pria tidak berguna itu!"
"Nah gitu dong, ini baru Naya anak mama ... Semangat ya ...."
"Teirma kasih, ya, Ma ...."
"Soal barang-barang ini, mau kamu apakan?" tunjuk Suci pada kardus besar itu.
"Akan aku kembalikan!"
"Mama akan mendukung apapun yang kamu lakukan. Mama akan selalu ada di belakangmu," ujar Suci.
Setelah pembicaraan panjang itu, Naya sudah bersiap pergi ke kantor. Dengan pakaian modisnya yang selalu elegan dan tidak terlihat seperti usia tiga puluh tahun.
"Pak ... Antarkan barang-barang di belakang ke apartemen Miko. Jangan katakan apapun, kalau dia tidak ada, simpan saja di depan pintunya!" titah Naya pada sopir pribadinya. Lalu ia turun dari mobil dan masuk ke kantornya.
Berjalan dengan elegan dan selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Karyawannya sangat mengagumi sosok atasannya itu yang selalu menjadi impian mereka.
Di balik sosoknya yang tegas dan anggun, ia mempunyai kepribadian yang baik hati sehingga banyak karyawannya yang sangat setia.
"Selamat pagi, Bu ... Kangen banget aku tiga hari tidak bertemu denganmu," ujar Rossi–asisten pribadi Naya.
"Masa? Bukannya enak kalau gak ada aku?" goda Naya.
"Iiihhh gak gitulah, Bu. Gak ada ibu malah sepi, gak ada yang nyuruh-nyuruh aku ..." jawab Rossi.
"Hmmm bohong banget deh!"
"Pokoknya hari ini aku sangat semangat untuk bekerja. Siap melayani ibu ..." ujar Rossi.
"Hmmm ... Terus itu berkas cuman mau kamu pegangin aja?" cetus Naya menatap tangan mungkil Rossi dengan tumpukan berkas.
"Hehee ... Maaf, Bu. Aku lupa ..." Rossi menyusun berkas itu di hadapan Naya. "Ini berkas-berkas yang harus ibu periksa dan ada beberapa yang tinggal tanda tangan saja."
"Bagaimana untuk pemotretan katalog baru?" tanya Naya.
"Sudah oke, bu. Tim kreatif sudah mengatur semuanya dan di jamin akan berjalan lancar," jawab Rossi.
"Jangan lupa cek kembali kesiapan model. Aku tidak mau ada kesalahan apapun dan aku tidak mau ada model yang rewel seperti waktu itu!" jelas Naya.
"Siap, bu."
Tok ... Tok ....
Pintu ruangan Naya ada yang mengetuk, lalu Rossi membuka pintunya.
"Maaf, bu. Soal fotografer untuk pemotretan lusa," ucap Nina sedikit takut.
"Ada apa?"
"Fotografer biasanya mengalami kecelakaan di rawat di rumah sakit, jadi dia tidak bisa datang. Terus saya juga sudah cari beberapa fotografer profesional lain, tapi pada penuh."
"Hmmm ... Bagus mengabarkan ini sebelum waktunya tiba. Coba kamu cari fotografer freelance di instgram, biasanya banyak yang bagus," ujar Naya.
"Baik, Bu."
"Cari yang paling bagus!" titah Naya. "Begini saja, kamu cari tiga orang dan panggil besok. Biar aku yang pilih besok!" sambungnya.
"Baik, bu." Nina keluar dari ruangan Naya setelah mendapatkan solusinya.
"Sana kamu kembali ke mejamu," titahnya pada Rossi.
"Eh bu, ibu beneran putus dengan pak Miko? Tiga hari kemarin, pak Miko selalu datang kemari mencari ibu," ungkap Rossi.
"Rossiiii ...."
"Hmmm maaf, bu. Aku hanya kepo saja. Tidak perlu di jawab, aku akan keluar sekarang!" Rossi bergegas pergi sebelum atasannya itu marah.
Naya bersandar pada kursi kerjanya itu, menghela nafas panjang mengatur perasaannya yang berantakan.
"Entah bagaimana aku akan bisa melupakan Miko?" gumannya.
Baru saja di pikirkan, orangnya tiba-tiba datang. Menerobos masuk ke ruangan Naya.
"Maaf, bu. Aku sudah mencegahnya, tapi pak Miko memaksa," ujar Rossi.
"Keluar saja, aku mau bicara berdua dengan Miko." Naya berpindah pada Sofa. Duduk dengan santai tanpa menunjukkan kepedihan hatinya.
Lalu miko duduk di samping Naya dan meraih tangannya, tapi dengan cepat Naya mengibaskan tangan Miko merasa jijik.
"Naya, kamu kenapa diamkan aku? Apa aku membuat kesalahan? Lalu kenapa barang-barang pemberianku kamu kembalikan?" tanya Miko tidak menyadari dosanya.
"Tanya pada dirimu sendiri apa kesalahanmu!"
"Kamu masih cemburu soal Shella? sudah aku jelaskan berkali-kali, dia hanya sekretarisku, kami tidak ada hubungan apa-apa selain pekerjaan!" jelas Miko membela diri.
"Tiga hari lalu aku datang ke apartemenmu untuk memberikan kejutan hari jadi kita yang ke tiga tahun. Aku mengatakan akan tidur, tapi aku diam-diam pergi ke apartemenmu dan apa yang aku dapatkan? Aku melihatmu sedang bercumbu dengan Shella di ranjang kamarmu! Apa itu yang di sebut bos dan sekretaris? Mulai sekarang, jangan pernah temui aku lagi. hubungan kita selesai!" ungkap Naya.
Penuturan Naya membuat Miko merasa tertampar. Ternyata benar waktu itu papa Naya datang mencarinya.
"Apa perlu aku tunjukkan bukti lainnya lagi perselingkuhanmu?" ujar Naya.
"Na–Naya ... Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak selingkuh, i–itu hanya khilaf saja. Maafkan aku, setelah ini aku janji akan pecat Shella, dia yang selalu menggodaku!" mohon Miko.
Naya tersenyum menyeringai. Lalu ia bangkit dari duduknya dan memanggil satpam untuk menyeret Miko keluar dari kantornya.
"Jangan pernah biarkan orang ini masuk lagi keperusahaan ini!" titah Naya.
"Siap, Bu!" angguk satpam itu.
"Naya percayalah padaku. Naya maafkan aku, jangan putuskan aku, aku sangat mencintaimu. Naya ... Lepaskan aku ..." Miko histeris.
Naya memijat kepalanya yang terasa pusing. Rasa sedihnya dan marahnya tertahan di hatinya itu, ia tidak mau orang-orang melihat kelemahannya. Lalu ia berlalu pergi.
"Mau kemana, Bu?" tanya Rossi.
"Aku mau keluar sebentar tidak perlu di temani!"
Suasana tenang yang ia butuhkan saat ini. Naya memilih taman kota untuk menumpahkan kesedihan dan kemarahannya. Duduk termenung sendirian di bangku pinggir danau buatan itu.
"Kenapa Miko jahat padaku? Kurang apa aku selama ini padanya? setidak berarti itu aku di sampingnya. Bagaimana juga aku sebodoh itu. Bodoh banget ... Bodoh ...."
Aaaaaargggghhhhhhh ....
Naya berteriak meluapkan emosinya.
Di sisi lain, Mahen bangkit dari berbaringnya. Ia memicingkan matanya mencari sumber suara yang telah membangunkannya dari mimpi indah.
"Siapa sih siang-siang begini berisik!" gerutu Mahen.
Lalu terdengar suara isakan tangis dari balik pohon besar di samping Mahen. Itu membuat bulu kuduknya berdiri.
"Siang bolong ada mbak kunti? Maaf mbak kunti ... Aku cuman numpang tidur saja ..." Bergegas bangkit dan jalan mundur menjauhi pohon itu. Karena tidak memperhatikan langkahnya, kakinya itu tersandung pada bangku yang Naya duduki sehingga membuat Mahen terjatuh ke pangkuan Naya.
Itu membuat Naya menjerit terkejut dan memukul-mukul tubuh Mahen yang dalam pangkuannya dengan tas.
"Hehhh ... Kamu ngapain? Kamu mau ngapain aku? Mau lecehin, ya ... Iya ... Nih tau rasaa ...."
Bughhh ... Bughhh ... Memukul-mukulnya tiada henti.