Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan Berbalut Dendam
Aroma mahal yang bercampur dengan bau tembakau dan wangi kayu cendana yang terlalu pekat, memenuhi ruangan kerja yang luas dan megah itu. Ruangan yang berukuran hampir sama besar dengan rumah orang biasa itu, didominasi oleh warna hitam dan emas, menciptakan suasana dingin, mewah, namun menakutkan. Di salah satu sisi ruangan, terdapat jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan gedung-gedung tinggi ibu kota yang tampak kecil di bawah sana, seolah seluruh kota ini berada di bawah telapak tangan pemilik ruangan itu.
Di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni asli berwarna hitam pekat, duduk seorang pria yang keberadaannya saja sudah cukup membuat siapa pun yang ada di dekatnya merasa sesak napas.
Dewa Angkasa Buwana.
Nama yang disegani, ditakuti, dan dibisikkan dengan gemetar di setiap sudut kota Jakarta. Bagi dunia resmi, Dewa adalah pemimpin perusahaan konglomerat Buwana Group, pemilik gedung pencakar langit, saham mayoritas di berbagai bank dan properti, serta salah satu orang terkaya di Indonesia. Namun, bagi mereka yang tahu bagaimana roda dunia benar-benar berputar, Dewa Angkasa Buwana adalah Raja Kegelapan. Pemimpin sindikat mafia terbesar, penguasa pasar gelap, dan orang yang memegang kendali atas hukum-hukum tak tertulis yang mengatur sisi gelap masyarakat.
Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas dan tajam, hidung mancung, serta bibir tipis yang saat ini terkatup rapat membentuk garis lurus tanpa emosi. Namun, yang paling menakutkan adalah sepasang matanya. Mata yang berwarna hitam pekat, dingin, dan tak memiliki secercah pun rasa belas kasih. Mata itu menatap lurus ke arah sosok tua yang berdiri gemetar di hadapannya, sosok yang kini tampak sangat kecil dan tidak berdaya di bawah tatapan tajam Dewa.
Pak Hadi Zafira, ayah kandung dari Naura Aulia Zafira.
Lelaki tua itu berdiri dengan keringat dingin yang membasahi seluruh tubuhnya. Lututnya terasa lemas, dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia khawatir jantungnya akan meledak kapan saja. Di hadapannya, berdiri pula dua orang pria berbadan besar dengan wajah datar dan tangan terlipat di dada, pengawal pribadi Dewa yang dikenal kejam dan setia mati.
"Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini, Pak Hadi?"
Pak Hadi menelan ludah dengan susah payah, tangannya yang keriput saling mencengkeram erat satu sama lain di belakang punggungnya. Wajahnya yang tua tampak pucat pasi. "Sa...saya tahu, Tuan Dewa... Saya tahu perusahaan saya sudah berhutang banyak pada Anda, dan sampai saat ini saya belum mampu melunasinya. Tapi tolong beri saya waktu lagi. Saya mohon, hanya sedikit waktu lagi. Saya pasti akan membayarnya, saya berjanji."
"Waktu?" ulang Dewa pelan, nadanya masih sama tenangnya namun kini berubah menjadi sarkasme yang tajam. "Kau pikir aku punya banyak waktu untuk menunggu, Pak Hadi? Kau pikir Buwana Group adalah yayasan amal yang dengan senang hati membiarkan orang berhutang bertahun-tahun tanpa membayar sepeser pun bunga? Kau sudah meminjam hampir lima ratus miliar rupiah dariku. Lima ratus miliar. Dan apa yang kau berikan padaku? Hanya janji-janji kosong dan alasan yang sama berulang kali."
"Aku tidak sabar, Pak Hadi. Aku tidak suka menunggu. Dan aku tidak suka orang yang berutang tapi tidak bisa membayar. Kau tahu kan apa hukuman bagi orang yang berani berutang padaku lalu mengingkarinya?"
Pak Hadi mengangguk cepat, kepalanya hampir menunduk menyentuh dada. Ia tahu betul. Ia sudah mendengar banyak cerita mengerikan tentang apa yang dilakukan Dewa Angkasa Buwana pada orang-orang yang berani mengkhianatinya atau tidak mampu membayar hutang. Ada yang hilang tanpa jejak, ada yang ditemukan di pinggir sungai dengan kondisi yang tidak bisa disebutkan, ada yang harta bendanya ludes disita hingga tinggal pakaian di badan. Dewa tidak pernah main-main. Ia adalah iblis yang nyata.
"Tolong, Tuan Dewa... Saya mohon, jangan hancurkan keluarga saya. Jangan ambil semua yang saya punya. Saya akan cari jalan keluarnya, saya akan..."
"Cukup!" potong Dewa dengan suara yang sedikit meninggi, membuat Pak Hadi langsung terdiam serentak dan mundur selangkah karena kaget. Dewa kembali bersandar di kursinya, memutar batang rokok di jari-jarinya yang panjang dan kokoh. Tatapannya berubah, kini ada kilatan lain di mata hitamnya, kilatan dendam yang sudah ia simpan bertahun-tahun lamanya, kilatan kebencian yang membara dan akhirnya menemukan jalan keluarnya hari ini.
"Aku tidak akan menghancurkanmu, Pak Hadi," ucap Dewa pelan, kalimat itu membuat Pak Hadi mengangkat wajahnya penuh harap, namun harapan itu langsung musnah seketika mendengar kelanjutan kalimat Dewa. "Setidaknya... tidak dengan cara yang kau takutkan."
Dewa menjatuhkan ujung rokoknya ke dalam asbak kristal di atas meja, lalu menatap lurus ke arah lelaki tua itu dengan tatapan yang menusuk hingga ke tulang sumsum.
"Aku punya syarat. Satu syarat saja. Jika kau penuhi, maka seluruh hutangmu akan kuhapus. Semuanya lunas, bersih, dan kau bebas dari ancaman apa pun dariku atau dari siapa pun yang bekerja untukku."
Jantung Pak Hadi berdegup kencang lagi, kali ini karena rasa penasaran bercampur rasa takut yang baru. Ia tahu, tidak mungkin Dewa Angkasa Buwana memberikan penawaran semudah itu tanpa ada jebakan atau harga yang sangat mahal.
"A-apa syaratnya, Tuan Dewa? Apapun itu, saya akan usahakan."
Dewa tersenyum lagi, kali ini senyumnya terasa lebih lebar dan lebih mengerikan. Ia meraih sebuah bingkai foto yang tergeletak di sudut mejanya, bingkai yang sejak tadi ia tatap dengan penuh kebencian yang tertahan. Ia mengangkat bingkai itu, menunjukkannya pada Pak Hadi.
Di dalam foto itu, terlihat seorang wanita muda yang sangat cantik. Wajahnya bulat dengan rahang lembut, mata berwarna cokelat bening yang memancarkan kelembutan dan kepolosan, hidung mancung, serta bibir merah muda yang sedang tersenyum manis. Rambut hitam panjangnya terurai indah, membuatnya tampak seperti bidadari yang turun ke bumi.
Naura Aulia Zafira. Putri kandung Pak Hadi.
"Serahkan Naura padaku," ucap Dewa dengan suara datar, namun penuh penekanan. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya, seperti kalimat yang sudah ia persiapkan bertahun-tahun lamanya.
Pak Hadi terbelalak kaget, wajahnya yang pucat kini berubah menjadi merah padam karena keterkejutan dan rasa tidak percaya. Ia mundur selangkah lagi, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"N-no... Tidak mungkin! Naura... putri saya... Dia masih muda, dia tidak tahu apa-apa, dia gadis lugu dan polos... Tuan Dewa, tolong jangan bawa dia ke dalam dunia ini. Dia tidak pantas ada di sini. Ambil saja seluruh harta saya, ambil perusahaan saya, ambil segalanya, tapi jangan sentuh Naura!" teriak Pak Hadi, kini keberaniannya muncul karena rasa cintanya pada putri satu-satunya itu.
Dewa bangkit berdiri perlahan. Sosoknya yang tinggi besar kini tampak mengerikan di bawah cahaya lampu ruangan itu. Ia berjalan mengelilingi meja kerjanya, melangkah mendekati Pak Hadi dengan langkah yang tenang namun penuh ancaman. Setiap langkahnya terdengar berat dan berirama di atas lantai marmer. Ia berhenti tepat di hadapan lelaki tua itu, membuat Pak Hadi harus mendongak tinggi untuk menatap wajah pria yang jauh lebih muda namun jauh lebih berkuasa darinya itu.
"Kau mau bernegosiasi denganku?" bisik Dewa, tangannya yang besar dan kasar tiba-tiba mencengkeram kerah kemeja Pak Hadi, mengangkat tubuh lelaki itu sedikit hingga kakinya hampir tidak menyentuh lantai. "Kau pikir kau punya hak untuk menawar, hah? Kau orang yang berutang, Pak Hadi! Kau orang yang ada di ujung tanduk, yang nyawanya bisa kuhabiskan kapan saja aku mau! Dan satu-satunya jalan keluar yang kuberikan padamu hanyalah dia. Naura Aulia Zafira."
Nama itu diucapkan dengan penekanan yang tajam, seolah nama itu adalah kutukan baginya.
"Kau tahu kenapa aku menginginkan putrimu?" tanya Dewa, matanya menyala penuh amarah yang tertahan, amarah yang sudah ia pendam sejak sepuluh tahun lalu. "Kau pasti sudah lupa, ya? Kau pasti sudah lupa apa yang kau lakukan pada keluargaku dulu. Kau dan ayahmu... Kalian menghancurkan ayahku, kalian merampas segalanya dari kami, kalian membuat ibuku mati dalam kemiskinan dan kesedihan! Kau pikir aku lupa? Aku tidak pernah lupa satu pun tetes darah yang tumpah karena kelicikan keluargamu!"
Pak Hadi memucat habis. Ia ingat. Ia ingat betul masa lalu itu. Dulu, ayahnya bersaing ketat dengan ayah Dewa dalam dunia bisnis. Dan ya, ada hal-hal kotor yang dilakukan ayahnya dulu untuk menjatuhkan ayah Dewa hingga pria itu bangkrut dan meninggal dunia karena sakit hati. Namun, ia pikir semuanya sudah berlalu. Ia pikir masalah itu sudah selesai bertahun-tahun lalu. Ia tidak menyangka anak laki-laki yang dulu kecil dan miskin itu kini tumbuh menjadi iblis yang paling ditakuti, dan kembali datang untuk menagih segala hutang masa lalu itu.
"Jadi... ini semua... karena dendam masa lalu?" tanya Pak Hadi dengan suara parau.
Dewa melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Pak Hadi terhuyung ke belakang. Dewa tertawa dingin, suara tawanya bergema di seluruh ruangan.
"Tentu saja ini dendam! Kau pikir aku mengumpulkan kekuasaan dan kekayaan besar ini hanya untuk bersenang-senang? Tidak, Pak Hadi. Aku membangun semua ini hanya untuk satu tujuan menghancurkanmu dan segala hal yang kau sayangi. Dan aku tahu, satu-satunya hal yang paling kau sayangi, satu-satunya harta paling berharga yang kau miliki, adalah putrimu. Naura."
Dewa menatap tajam ke arah luar jendela, ke arah langit malam yang gelap.
"Aku tidak akan membunuhmu. Itu terlalu mudah dan terlalu cepat sebagai balasannya. Aku ingin kau hidup lama, hidup dengan rasa sakit melihat apa yang akan kulakukan pada putrimu yang berharga itu. Aku ingin kau melihatnya menjadi milikku sepenuhnya. Aku ingin kau melihatnya hidup di neraka yang kubuat untuknya. Karena dia adalah pembayaran paling mahal yang pantas kau berikan padaku."
Dewa kembali menatap Pak Hadi dengan tatapan yang tak bisa ditawar lagi.
"Kau akan menikahkan Naura denganku. Dalam waktu tiga hari. Di sini. Secara resmi, secara agama, dan secara hukum. Dia akan menjadi istriku. Dan mulai hari itu, dia adalah milikku. Aku yang akan menentukan nasibnya, aku yang akan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dia lakukan. Aku yang akan memegang nyawanya."
"Tidak... Dia akan hancur... Dia gadis yang lembut dan baik hati... Dia tidak pantas mendapatkan ini..." isak Pak Hadi, kini ia jatuh berlutut di lantai, air mata mulai membasahi pipi tuanya.
"Dia pantas mendapatkan ini sebagai pembayaran dosa ayahnya," potong Dewa dingin tanpa rasa belas kasihan sedikit pun. "Pikirkan baik-baik, Pak Hadi. Menikahkan Naura denganku berarti kau selamat, keluargamu selamat, nama baikmu tetap terjaga, dan kau bisa hidup tenang. Jika kau menolak... maka besok pagi kau akan bangun tanpa harta, tanpa kekuasaan, dan mungkin tanpa nyawa. Dan percayalah, jika kau mati, aku akan memastikan putrimu jatuh ke tempat yang jauh lebih buruk daripada menjadi istriku."
Ancaman itu terucap begitu saja, penuh kepastian. Dewa Angkasa Buwana tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Pak Hadi menangis dalam diam, tubuhnya gemetar hebat. Ia terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama mengerikan. Menyerahkan putri kesayangannya pada iblis itu, atau membiarkan seluruh keluarganya hancur lebur hingga ke akar-akarnya. Ia tahu betul siapa Dewa. Ia tahu apa yang mampu dilakukan pria itu. Penolakan sama saja dengan menandatangani surat kematian dirinya dan orang-orang yang ia cintai.
Dan di tengah keputusasaan itu, rasa egois dan rasa ingin selamat diri sendiri mulai menguasai hatinya. Bagaimanapun juga, ia masih ingin hidup. Ia masih ingin mempertahankan kemewahan dan nama baiknya.
"Baiklah..." suara Pak Hadi terdengar sangat lirih dan hancur. Ia menunduk dalam, tidak berani menatap mata Dewa lagi. "Saya... saya setuju. Saya akan menikahkan Naura dengan Anda."
"Bagus," ucap Dewa pelan. Ia berjalan kembali ke mejanya, mengambil selembar kertas dokumen dan pulpen, lalu melemparkannya ke arah Pak Hadi yang masih berlutut. "Tanda tangani ini. Ini surat pernyataan persetujuan. Mulai saat ini, Naura Aulia Zafira adalah tanggung jawabku. Dan ingat... jangan berani-berani memberitahunya alasan sebenarnya di balik pernikahan ini. Biarkan dia berpikir ini hanya urusan bisnis dan hutang piutang. Biarkan dia datang kepadaku dengan hati yang bersih dan penuh harapan. Karena nanti, aku sendiri yang akan menghancurkan harapan-harapan itu satu per satu."
Pak Hadi menandatangani kertas itu dengan tangan gemetar, air matanya menetes membasahi kertas putih itu. Rasanya ia baru saja menjual jiwa putrinya sendiri ke dalam neraka abadi.
"Sekarang pergilah," perintah Dewa dingin. "Dan bersiaplah. Tiga hari lagi, aku akan datang menjemput milikku."
Tiga hari lagi, Naura Aulia Zafira akan masuk ke dalam dunianya. Dunia yang penuh darah, kekerasan, kekuasaan, dan dendam. Dunia yang dingin dan kejam, tempat di mana tidak ada tempat untuk kelembutan atau cinta.
Dewa Angkasa Buwana tersenyum miring, lalu mematikan lampu ruangannya, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya sepenuhnya.
Datanglah, Naura. Permainan balas dendam kita baru saja dimulai.