NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kereta magnetik

Kereta magnetik melaju membelah langit Neo Jakarta dengan kecepatan luar biasa.

Dari balik jendela transparan, Alya melihat gedung-gedung tinggi berubah menjadi garis-garis cahaya yang bergerak cepat. Jalur kereta melayang di atas kota seperti ular perak raksasa yang menghubungkan setiap sektor Neo Jakarta.

Ini pertama kalinya Alya menaiki transportasi secanggih itu.

Di sektor timur, kendaraan umum masih menggunakan sistem lama dan sering rusak. Sementara kereta magnetik pusat terasa seperti sesuatu dari mimpi masa kecilnya.

Suasana di dalam kereta sangat tenang.

Lampu putih lembut menyala di sepanjang lorong. Kursi-kursi berwarna abu terang tersusun rapi dengan layar hologram kecil di setiap sisi. Bahkan jendela kereta dapat menampilkan informasi digital tentang kota yang sedang mereka lewati.

Namun Alya hampir tidak memperhatikan semua itu.

Pikirannya masih dipenuhi pesan misterius yang diterimanya tadi.

Jangan percaya siapa pun di Zenith.

Kalimat itu terus terulang di kepalanya.

Siapa pengirimnya?

Dan mengapa orang itu seolah mengetahui keberangkatannya?

Alya menggenggam tas di pangkuannya lebih erat.

Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa mungkin itu hanya lelucon seseorang.

Tetapi entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang.

“Permisi, kursi ini kosong?”

Suara seseorang membuat Alya tersentak.

Seorang gadis berdiri di samping kursinya sambil tersenyum ramah. Rambutnya pendek sebahu dengan warna cokelat terang, dan matanya terlihat ceria.

“Iya… silakan,” jawab Alya cepat.

Gadis itu langsung duduk santai.

“Kamu juga siswa baru Zenith, kan?”

Alya mengangguk.

“Kok tahu?”

“Karena cuma siswa Zenith yang naik jalur khusus ini.” Gadis itu tertawa kecil. “Namaku Hana.”

“Alya.”

“Hm… Alya.” Hana tersenyum lebar. “Nama yang bagus.”

Alya sedikit lega melihat sifat Hana yang ramah.

Berbeda dengan gadis sombong di stasiun tadi.

“Kamu dari sektor mana?” tanya Hana.

“Sektor timur.”

“Serius? Jauh sekali!”

“Iya.”

“Aku dari sektor tengah. Tapi tetap saja ini pertama kalinya aku masuk Akademi Zenith.” Hana bersandar santai di kursinya. “Aku gugup setengah mati.”

Alya tertawa kecil.

“Ternyata bukan cuma aku.”

“Tentu saja bukan.” Hana menatap keluar jendela. “Zenith itu sekolah paling sulit dimasuki di negara ini.”

Alya kembali diam.

Ia masih sulit percaya dirinya benar-benar berhasil masuk ke sana.

“Orang tuamu pasti bangga,” lanjut Hana.

“Ibuku sangat bahagia.”

“Kalau ayahmu?”

Ekspresi Alya sedikit berubah.

“Beliau sudah meninggal.”

Wajah Hana langsung panik.

“Maaf! Aku tidak tahu—”

“Tidak apa-apa.”

Suasana sempat hening beberapa detik sebelum Hana tersenyum lagi.

“Kalau begitu kita harus berteman mulai sekarang.”

“Hah?”

“Biar nanti kalau ada tugas sulit, kita bisa sama-sama panik.”

Alya tidak bisa menahan tawanya.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Kereta terus melaju cepat melewati pusat Neo Jakarta.

Dari jendela, Alya melihat taman-taman melayang di antara gedung pencakar langit. Air terjun buatan mengalir dari bangunan tinggi menuju kanal transparan di bawah kota.

Semuanya terlihat begitu indah dan modern.

Namun di balik kekagumannya, Alya juga merasa asing.

Ia seperti orang kecil yang tersesat di dunia raksasa.

Tiba-tiba layar hologram di tengah kereta menyala.

“Selamat datang para siswa baru Akademi Zenith.”

Suara perempuan digital terdengar lembut memenuhi ruangan.

“Kereta akan tiba dalam tiga puluh menit. Mohon siapkan identitas dan data registrasi masing-masing.”

Beberapa siswa mulai sibuk memeriksa gelang digital mereka.

Alya ikut membuka data registrasinya.

Nama: Alya Rahman

Status: Penerima Beasiswa Penuh

Asrama: Menara Orion, Lantai 12

“Wah, kamu masuk Menara Orion?” Hana tampak terkejut.

“Memangnya kenapa?”

“Itu asrama siswa beasiswa dan ranking tinggi.”

Alya langsung gugup.

“Aku malah takut.”

Hana tertawa.

“Kamu lucu.”

Saat mereka sedang berbicara, pintu kereta terbuka di gerbong sebelah.

Beberapa siswa masuk sambil bercakap pelan.

Namun perhatian seluruh penumpang langsung tertuju pada satu orang.

Seorang pemuda tinggi berambut hitam berjalan masuk dengan ekspresi datar. Seragam hitamnya terlihat rapi sempurna. Tatapannya dingin dan tenang.

Dan anehnya, hampir semua siswa langsung diam ketika ia lewat.

“Dia…” bisik Hana pelan.

Alya ikut memperhatikan.

Pemuda itu berjalan tanpa melihat siapa pun lalu duduk sendirian di kursi dekat jendela paling belakang.

“Siapa dia?” tanya Alya.

Hana mendekatkan wajahnya sedikit.

“Itu Reno Arkan.”

Nama itu terasa familiar bagi Alya.

Lalu ia teringat.

Reno.

Nama pria misterius yang muncul di akhir malam penerimaannya.

“Tunggu…” Alya mengernyit. “Dia siswa juga?”

“Siswa paling terkenal di Zenith.”

“Kenapa?”

Hana menatap Reno hati-hati sebelum menjawab.

“Katanya dia jenius.”

“Katanya?”

“Tidak ada yang benar-benar tahu banyak tentang dia.” Hana mengecilkan suara. “Tapi nilai akademiknya sempurna. Bahkan beberapa guru kabarnya takut padanya.”

Alya kembali melihat Reno dari kejauhan.

Pemuda itu tampak tenang sambil melihat keluar jendela.

Namun ada sesuatu pada dirinya yang membuat Alya merasa aneh.

Seolah Reno menyembunyikan banyak hal.

Tiba-tiba Reno menoleh.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Jantung Alya langsung berdegup kencang.

Mata Reno tajam dan dingin seperti malam.

Namun sebelum Alya sempat bereaksi, Reno sudah memalingkan wajah lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aneh…” gumam Alya pelan.

“Apa?”

“Tidak.”

Hana memperhatikan Alya dengan bingung.

Sementara itu di kursinya, Reno diam tanpa ekspresi.

Namun layar hologram kecil di samping tangannya menampilkan data rahasia.

Nama: Alya Rahman

Status: Aktif

Level akses: Terkunci

Reno mematikan layar itu perlahan.

Ekspresinya berubah sedikit serius.

“Jadi benar dia…” bisiknya pelan.

Kereta terus melaju hingga mulai meninggalkan pusat Neo Jakarta.

Kini pemandangan di luar berubah menjadi wilayah hijau buatan dan danau teknologi yang luas. Jalur magnetik melintas di atas hutan sintetis yang sengaja dibuat untuk menjaga kualitas udara kota.

Alya terpukau melihat semuanya.

“Aku tidak pernah melihat tempat seperti ini,” katanya pelan.

“Zenith memang dibangun jauh dari pusat kota,” jawab Hana. “Katanya supaya siswa bisa fokus belajar.”

“Belajar atau dikurung?”

Hana tertawa.

“Mungkin dua-duanya.”

Beberapa menit kemudian, suara pengumuman kembali terdengar.

“Kita akan segera memasuki wilayah Akademi Zenith.”

Semua siswa langsung memperhatikan jendela.

Dan saat itulah Alya melihatnya.

Akademi Zenith.

Matanya langsung membesar.

Di tengah kawasan hijau luas berdiri kompleks bangunan futuristik yang sangat besar. Menara-menara kaca menjulang tinggi dengan cahaya biru di setiap sisinya. Jembatan transparan menghubungkan satu gedung dengan gedung lain di udara.

Di bagian tengah terdapat menara utama berbentuk lingkaran spiral raksasa yang memancarkan cahaya putih ke langit.

Tempat itu lebih terlihat seperti kota masa depan daripada sekolah.

“Ya Tuhan…” bisik Alya kagum.

Hana juga tersenyum lebar.

“Keren, kan?”

Kereta mulai melambat perlahan.

Jantung Alya kembali berdebar.

Inilah tempat yang selama ini hanya ia lihat di berita dan internet.

Tempat berkumpulnya para siswa terbaik.

Dan sekarang ia akan menjadi bagian dari sana.

Atau setidaknya mencoba bertahan di dalamnya.

Saat kereta akhirnya berhenti, pintu terbuka otomatis.

Udara sejuk langsung masuk ke dalam gerbong.

Para siswa mulai turun satu per satu.

Alya berdiri sambil menggenggam tasnya erat.

“Siap?” tanya Hana.

Alya menarik napas panjang.

“Kurasa begitu.”

Mereka melangkah keluar bersama.

Begitu kaki Alya menginjak platform Akademi Zenith, perasaan aneh langsung muncul di dadanya.

Seolah hidup lamanya benar-benar tertinggal jauh di belakang.

Namun di antara keramaian siswa baru, seseorang diam-diam memperhatikan Alya dari atas gedung utama akademi.

Seorang pria tua dengan jas hitam berdiri di depan layar hologram besar.

“Dia sudah tiba,” katanya dingin.

Di layar, wajah Alya terlihat jelas.

Seorang wanita di sampingnya bertanya pelan, “Apakah kita harus mulai mengawasinya?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Tidak.”

Tatapannya berubah tajam.

“Biarkan semuanya berjalan seperti takdir yang telah dirancang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!