NovelToon NovelToon
Aku Pergi Dan Tak Kembali

Aku Pergi Dan Tak Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7- Hujan dan pelukan itu

Hujan dan Pelukan Itu

Sejak makan siang bersama di hotel kemarin, Mona mulai merasa ada yang berbeda. Bukan pada Wira, tapi pada dirinya sendiri. Setiap kali pria itu mendekat, jantungnya jadi tidak normal.

Setiap kali Wira menatapnya terlalu lama, ia langsung salah tingkah dan yang paling parah, Ia terus memikirkan tawa kecil Wira kemarin.

“Astaga Mona, sadar!”

Mona menepuk pipinya sendiri pelan sambil mengetik laporan di depan komputer.

Mana mungkin CEO seperti Wira tertarik padanya? Mereka berbeda jauh, Wira itu kaya, tampan, berkelas. Sedangkan dirinya? Cewek biasa yang bahkan masih suka makan mie instan akhir bulan.

“Mona.” Suara berat itu membuat Mona langsung duduk tegak.

“Iya, Pak!”

Wira keluar dari ruangannya sambil mengenakan jas hitam rapi.

“Kita pergi sekarang.”

“Ke mana?” tanya Mona.

“Meeting proyek.”

“O-oh, baik.”

Mona segera mengambil tablet dan beberapa dokumen penting sebelum mengikuti Wira turun ke parkiran basement. Mobil hitam mewah milik pria itu sudah menunggu.

Seperti biasa, suasana di dalam mobil terasa canggung. Wira fokus membaca dokumen, sedangkan Mona sibuk menatap jendela sambil mencoba mengabaikan aroma parfum pria itu yang terlalu wangi, namun di tengah perjalanan, langit mendadak gelap.

BRUKKK!

Suara petir menggelegar keras.

“Astaga!”

Mona refleks memegang kursi kaget. Wira melirik sekilas dan bertanya.

“Kau takut petir?”

“Dikit…”

Baru saja selesai bicara, kilat lain menyambar diikuti suara guntur yang lebih keras.

DUARRR!

Mona langsung memekik kecil dan tanpa sadar, tangannya mencengkeram lengan Wira erat.

Hening

Mona membeku, perlahan ia menoleh dan mendapati Wira sedang melihat tangannya yang masih memeluk lengan pria itu. Wajah Mona langsung merah padam.

“S-saya refleks!”

Namun anehnya… Wira tidak melepaskan, pria itu justru berkata pelan,

“Pegang saja kalau takut.”

Deg

Jantung Mona hampir copot, ia buru-buru melepas tangan lalu memalingkan wajah ke jendela.

“Gawat…” ucap Mona panik.

“Apa?” tanya Wira.

“Tidak ada!” jawabnya cepat.

Wira menatap Mona beberapa detik sebelum kembali fokus pada dokumen, meski kali ini sudut bibirnya terlihat sedikit terangkat.

***** 

Meeting berlangsung lebih lama dari perkiraan. Saat mereka keluar dari gedung, hujan masih turun sangat deras.

“Pak, kita tunggu reda aja?” Saran Mona, namun Wira menolaknya tegas.

“Aku tidak suka menunggu.”

“Tapi hujannya deras banget…”

Wira membuka jasnya lalu berkata singkat,

“Ayo.”

“Hah?”

Belum sempat Mona protes, pria itu sudah berjalan menerobos hujan menuju parkiran sambil memayungi Mona menggunakan jasnya sendiri. Mata Mona membulat.

“Pak! Nanti Bapak basah!”

“Tidak masalah.”

“Tapi—”

“Diam dan jalan.”

Hujan turun semakin deras, angin dingin menerpa wajah mereka, namun entah kenapa, Mona justru merasa hangat. Terlalu hangat, karena jarak mereka sekarang sangat dekat.

Sangat dekat sampai Mona bisa mendengar suara napas Wira. Saat hampir sampai mobil, langkah Mona mendadak terpeleset.

“Ah!”

Tubuhnya kehilangan keseimbangan, namun sebelum jatuh, seseorang menarik pinggangnya cepat.

BRAK!

Tubuh Mona langsung menabrak dada bidang Wira.

Hening

Hujan masih turun, namun bagi Mona, dunia seolah berhenti bergerak. Tangan Wira masih melingkar di pinggangnya erat. Wajah mereka sangat dekat, terlalu dekat, Mona bahkan bisa melihat tetesan air hujan di bulu mata pria itu.

“Bisa berdiri sendiri?” tanya Wira pelan.

Mona menelan ludah gugup.

“I-iya…”

Tapi tubuhnya malah semakin lemas. Wira menatapnya lama, tatapan yang biasanya dingin kini terasa berbeda. Lebih lembut, lebih dalam dan itu membuat Mona semakin panik.

“Pak…”

Belum selesai ia bicara—

TIN!

Suara notifikasi ponsel Wira memecah suasana. Pria itu perlahan melepaskan Mona lalu mengambil ponselnya. Ekspresinya langsung berubah dingin saat membaca pesan masuk.

“Ada masalah, Pak?” tanya Mona penasaran.

Wira memasukkan kembali ponselnya tanpa menjawab.

“Ayo pulang.”

Nada suaranya kembali datar. Seolah momen tadi tidak pernah terjadi, namun justru itu yang membuat dada Mona terasa aneh.

Sepanjang perjalanan pulang, Wira lebih banyak diam, sedangkan Mona sibuk memandangi jendela mobil sambil mencoba menenangkan jantungnya yang terus berisik.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi satu hal yang pasti. Hubungannya dengan Wira Aditama perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!