Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PITA HITAM KALA SENJA
Takdir, sebuah nasib yang dimiliki semua manusia. Takdir dibagi menjadi dua. Pertama, takdir yang bisa dirubah seperti hubungan sosial atau ilmu pengetahuan. Kedua, takdir yang sudah ditetap sebelum manusia lahir, takdir yang tidak akan pernah berubah bagaimanapun caranya, takdir yang terjadi padaku sekarang, salah satu contoh takdir yang tidak bisa diubah adalah takdir kematian.
Manusia takut jika dihadapkan pada kematian. Itu hal yang wajar. Rasa takut muncul dari ketidaktauan. Beberapa manusia takut pada yang ghaib karena tidak tau harus berbuat apa jika bertemu. Sebagian besar manusia yang terancam, akan merasa takut karena tidak tau caranya bertahan diri. Hampir semua manusia akan takut jika mati tanpa tau apa yang terjadi setelahnya. Semakin manusia membayangkan dunia setelah kematian, semakin besar rasa takutnya. Manusia tidak akan pernah tau bagaimana alam berikutnya bekerja. Mereka hanya bisa berandai – andai. Banyak kisah – kisah yang menceritakan tentang alam setelah kematian, tapi tidak ada satupun manusia hidup yang bisa membuktikannya. Manusia yang sudah mati, tidak bisa mengonfirmasi kebenarannya pada yang hidup. Manusia pada dasarnya memang tercipta dengan rasa takut akan kematian.
Lalu, bagaimana jika ada seseorang yang pernah mati dihadapkan kembali pada kematian? Apakah rasa takut itu masih ada? Tidak. Tidak ada yang tau. Jika rasa takut muncul dari ketidaktauan, artinya rasa takut itu tidak pernah ada. Jika tidak pernah ada rasa takut, maka ketidaktauan adalah sesuatu yang nyata. Manusia tidak bisa terlepas dari rasa takut. Keduanya memiliki keterkaitan yang kuat. Manusia diciptakan hanya untuk merasa takut.
“Maaf! Maaf! Maaf!” Suara seorang cewek terdengar jelas dari kuping kiriku, seolah – olah dia merangkulku yang tergeletak dilantai. Perlahan – lahan kubuka pandangan yang sedikit buram. Aku melihat seorang cewek yang begitu indah bagaikan seorang bidadari yang diutus untuk menjemputku. Dia tidak bersayap, hanya saja matanya memancarkan tatapan menawan. Wajahnya sangat cantik dengan bibirnya yang begitu menggoda. Rambutnya lurus dipotong dengan gaya hime cut. Aku tau cewek itu. Dia adalah orang yang pernah kulindungi, dia juga adalah orang yang menusukku, Nadhifa. “Kenapa? Kenapa kamu lindungin dia?”
Aku juga menanyakan hal yang sama. Padahal aku sudah tau kalau semua akan jadi begini, padahal aku tau kalau hidupku akan berakhir, aku tau dan tidak kuhentikan. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa merubahnya. Semua terjadi begitu saja. Aku sadar seberapa keras pun aku menghindar, aku tidak akan bisa lepas. Aku tau seberapa besar pun berubahan yang terjadi padaku, akhir ceritanya akan selalu sama. Aku hanyalah salah satu makhluk dari banyaknya molekul yang ada didunia. Tanganku terlalu kecil untuk bisa mengubah dunia.
Yasmine yang dari tadi terdiam karena rasa takut, langsung lari ketika instingnya mulai bergerak. Nadhifa memanggil namanya untuk meminta pertolongan, tapi tidak dihiraukan. “Harusnya gak gini.” Dia menggenggam tanganku dengan tatapan penuh rasa takut. “Tolong bertahanlah! Aku akan cari bantuan.”
“Tunggu!” Kupaksakan diri untuk bicara. Kutahan tangan Nadhifa yang sempat menggenggamku. Aku mau dia bersamaku lebih lama. “Aku mau nanya.” Dia menatapku bingung, tangannya terus bergetar tanpa henti. Dia berusaha untuk bicara tapi mulutnya tertahan. Aku melihat gerakan mulutnya yang tidak mengeluarkan suara apapun. “Boleh aku tau …, alasan kamu gak nolak ancaman Yasmine?”
“Apa yang kamu pikirin?!” Nadhifa berusaha melepaskan genggaman tanganku. Dia tetap kekeh untuk berusaha mencari pertolongan. Sekali lagi, aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa menahannya. Kugenggam tangannya sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit yang tak tertahan. Kuberikan senyuman padanya karena sudah tidak bisa berkata lebih banyak. Nadhifa menatapku dengan penuh rasa kasihan, tatapannya teralihkan untuk sementara pada sebuah benda tajam yang menusuk perutku. Akhirnya dia mengerti kalau waktuku sudah tidak banyak. “Kamu yakin?” Aku mengangguk perlahan.
Saat Nadhifa bercerita soal alasan dia menerima secara paksa perintah Yasmine, dia sempat menatap kearahku dengan tatapan aneh. Dia bilang ada ancaman yang tidak bisa ditolak. Aku sama sekali tidak tau alasan dibaliknya. Aku juga tidak tau kenapa aku berusaha memikirkannya. Mungkin, karena saat dia menatapku dirumah sakit, saat dia berusaha menutupi alasannya, aku merasa aman. Aku merasa seperti dilindungi. Perasaan itu begitu kuat sampai – sampai aku tidak bisa mengabaikannya. Aku mau tau kebenaran dari Nadhifa langsung.
“Yasmine bilang, dia mau nuduh kamu yang nyuri uangnya.”
.
Hari pertama sekolah. Tidak ada seorang pun yang kukenal. Tidak ada teman dari sekolah sebelumnya ataupun teman dari sekitar rumah. Aku memang tidak punya teman. Duniaku terasa bagaikan ayam tanpa bumbu, tetap kumakan walaupun tidak terasa. Aku hanya menjalani hari – hari sekolah untuk belajar dan pulang. Aku yang tidak begitu memperdulikan masalah sosial, tentu tidak mendapatkan banyak informasi tentang salah satu kewajiban seorang murid dikelas, yaitu membayar uang kas. Saat itulah pertemuan pertama kami terjadi, Nadhifa menagih uang kas padaku.
Pertemuan kami tidak Istimewa. Hanya pertemuan biasa yang selalu terjadi antara penagih dan penunggak. Tapi, pertemuan itu terjadi setiap minggu. Selama tiga tahun. Aku selalu sekelas dengan Nadhifa. Dia juga selalu menjadi bendahara disetiap kelas. Percakapan kami yang awalnya hanya soal uang kas, mulai beralih ke percakapan sehari – hari, percakapan sehari – hari mulai berubah menjadi percakapan soal kami berdua, sampai pada akhirnya mencapai tahapan percakapan yang hanya kami berdua ketahui.
Duniaku yang hitam putih, terasa berwarna saat bersama Nadhifa. Sekolah yang kuanggap tidak penting, kini terasa berharga. Satu – satunya alasanku tetap betah sekolah meski tidak ada hal menarik adalah hanya untuk bicara dengannya. Tidak tau sejak kapan, aku mulai memperhatikan setiap gerak – geriknya ketika bertemu. Tidak tau sejak kapan, aku mulai mencari alasan untuk bisa bicara dengannya meski hanya beberapa patah kata. Aku sengaja tidak bayar uang kas hanya agar dia mengajakku bicara. Aku juga tidak tau sejak kapan, kalau aku memiliki perasaan padanya. Akhir – akhir ini aku mulai paham. Perlu waktu lama untuk orang sepertiku bisa menyadari diriku sendiri. Seharusnya aku tau, aku hanya terus – terusan berusaha tidak memikirkannya. Aku sudah jatuh cinta pada Nadhifa, sejak pertemuan pertama kami.
Alasanku tidak membela Clarissa bukan hanya sekedar rasa takut pada Yasmine. Ada alasan lain yang lebih kuat, alasan utama aku tidak mengatakan kebenaran dari kasus uang kas adalah demi Nadhifa. Sebelum pengulangan, tidak terpikirkan olehku cara menyelesaikan masalah tanpa korban. Pilihannya hanya membiarkan Clarissa tertuduh atau mengatakan kebenaran yang membuat Nadhifa disalahkan. Seperti yang sudah diketahui, pilihan pertamaku jatuh pada membiarkan Clarissa tertuduh. Sebuah pilihan yang membuatku menyesal. Aku diberi kesempatan untuk memperbaikinya.
Sekarang, aku tau kalau bukan hanya aku yang berjuang melindungi, Nadhifa juga melakukan hal yang sama. Kami sama – sama berusaha mempertahankan kedamaian. Aku selalu merasa kalau kami berada ditingkatan yang berbeda. Dia bagaikan puncak rantai sosial, sedangkan aku hanyalah tingkatan terendah dari sebuah kasta. Aku selalu takut untuk mengatakan padanya. Aku selalu berusaha berpura – pura tidak memikirkannya. Semua kulakukan hanya untuk menjaga nama baiknya. Setelah tau kalau dia berusaha tidak melibatkanku pada masalah, aku merasa setara. Aku merasa bisa menggapainya. Sekarang, untuk pertama dan terakhir kalinya aku memberanikan diri. Mengatakan sesuatu yang selama ini kupendam. Aku mungkin sedikit egois, tapi aku tetap tidak akan berhenti. Akan kusampaikan padanya meskipun dia tidak akan mengingatnya. Kalimat terakhir untuk menutup sebuah cerita dengan indah. “Aku cinta kamu, Nadhifa.”
Dingin. Tangan tidak bisa lagi kurasa. Gelap. Mataku sudah tidak sanggup untuk tetap terbuka. Padahal aku ingin bersamanya sedikit lebih lama. Padahal aku ingin bicara dengannya sedikit lebih banyak. Padahal aku ingin melihat ekspresi yang Nadhifa tunjukkan setelah mendengar pernyataan dariku. Aku ingin tau reaksi yang dia tunjukkan. Kalau saja bisa kubuka kedua mataku untuk melihatnya – Tidak. Bahkan jika hanya salah satu mataku yang bisa melihatnya, itu tidak masalah. Selama aku bisa melihat sosok dari orang tersebut, itu sudah lebih dari cukup –
“Aku juga cinta padamu, Paris!”
Suara lemah lembut yang kudengar dari terlinga kiriku, bagaikan sebuah irama terindah yang pernah kudengar. Kata – kata yang Nadhifa ucapkan memenuhi seluruh hatiku. Sekarang aku bisa tenang. Tidak ada lagi penyesalan dalam diriku. Semua sudah berjalan lebih dari yang kuharapkan. Rasa suka yang selalu kupendam akhirnya terbalaskan. Rasa bersalah yang selalu menghantuiku, sekarang sudah musnah. Aku benar – benar bersyukur atas semua yang terjadi. Mungkin, jika ada beberapa kata yang bisa kusampaikan, aku berharap mereka bisa mendengar isi hatiku.
Ayah. Maaf, kayaknya aku gak bisa datang ke pernikahan. Padahal tinggal beberapa bulan lagi. Padahal Ayah udah repot – repot ngenalin ke aku, tapi aku gak bisa datang. Maaf ya. Bukannya aku gak mau datang, aku cuman gak bisa, gak ada waktu yang tersisa. Aku cuman bisa mendoakan yang terbaik buat Ayah. Soal sepatu, aku juga minta maaf. Padahal Ayah udah repot – repot milihin yang kusuka. Padahal Ayah udah repot – repot ngebawa ke sekolah, tapi aku gak sempat makai. Seharusnya aku coba dulu sepatunya sebelum pergi ke gudang. Aku terlalu terburu – buru. Bagaimanapun, terimakasih banyak sudah menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Tanpa Ayah, aku gak pernah bisa hidup didunia.
Dimas, aku harap kamu tobat. Aku gak tau kenapa kamu ngaku soal kasus penculikanku. Aku cuman bisa berharap kalau itu adalah tanda dari perubahanmu yang mulai menjadi lebih baik. Aku harap kamu bisa memikirkan dengan sungguh – sungguh perbuatan yang sudah kamu lakukan. Terus, kalau kamu udah kembali ke dirimu yang dulu, aku harap kamu menemukan teman yang cocok. Aku harap kamu tidak lagi terjebak dalam keburukan. Aku harap kamu menemukan seorang teman yang bisa membawamu pada kebaikan. Seorang teman yang tidak akan pernah meninggalkanmu.
Clarissa. Teruslah berbuat baik. Selama kamu percaya pada dirimu, kamu pasti akan bisa meyakinkan orang lain. Kamu sebenarnya gak perlu alasan buat jadi kuat, dirimu sendiri sudah lebih dari cukup. Kamu lebih dariku dari berbagai aspek. Aku yang bisa menyelamatkanmu hanyalah sebuah kebetulan, sedangkan kebaikan yang kamu lakukan pada semua orang adalah kesengajaan. Kamu bisa terus melangkah. Tapi, kalau kamu memang perlu tempat untuk bersandar, masih ada Awan yang akan selalu bersamamu. Kalian pasti bisa melewatinya bersama.
Awan. Sahabat terbaikku. Aku senang kamu khawatirin aku meski kita harus berpisah. Aku senang kamu tetap peduli. Tapi, kamu gak perlu khawatir, kamu bisa fokus sama tujuanmu tanpa harus memikirkan yang lain. Makasih udah mau luangin waktu buat orang membosankan sepertiku. Kalau gak ada kamu, mana bisa aku lewatin hari – hari disekolah. Tidak peduli apapun yang orang pikirkan tentangmu, aku selalu menganggap kamu yang terbaik. Soal hubunganmu sama Clarissa, aku sedih loh karena kamu gak cerita. Padahal kamu selalu banyak bicara soal hal – hal lain. Tapi, kalau soal perasaanmu sendiri, kamu malah diam. Yah …, tapi aku gak berhak protes, aku cuman berharap kalian bisa sampai ke pelaminan.
Yasmine. Aku harap kamu mengingat kata – kataku. Aku harap kamu selalu menjaga temanmu. Meski perselisihan terjadi, aku harap pertemanan kalian tidak rusak. Aku harap kalian saling mendukung dalam senang maupun susah. Aku tau kalau kamu sebenarnya orang baik. Aku tau karena aku ikut memperhatikanmu saat memperhatikan Nadhifa. Kalian sering bersama. Maka dari itu, aku harap hubungan kalian akan terus menjadi teman hingga ajal memisahkan.
Terakhir. Eh! Mungkin sebelum terakhir. Bang Nanang. Maaf hampir kelupaan. Makasih ya udah nyediain tenda. Makasih juga buat saran yang diberikan. Satu lagi, aku harap kamu dapat perkerjaan tetap biar gak dikira pengangguran. Kita emang baru bertemu, tapi aku harap kamu selalu sukses.
Kali ini benar – benar terakhir. Nadhifa. Ada begitu banyak kata yang mau kuungkapkan. Ada begitu banyak kalimat yang terlintas dalam pikiranku begitu mendengar namamu. Tapi, hanya satu kalimat yang terus – terusan berputar dikepalaku. Aku mau bersamamu selamanya! Aku mau menghabiskan waktu hingga tua bersamamu. Aku mau membuat cerita terindah berdua bersamamu. Aku mau jalan – jalan, makan, dan melakukan banyak hal denganmu. Aku mau kita saling mengenal lebih jauh. Aku mau dikenalkan dengan kedua orang tuamu. Padahal, kita baru aja saling menyatakan perasaan. Padahal kita sama – sama suka. Tapi, apa selanjutnya? Kita hanya akan berpisah. Aku gak mau kamu sama yang lain. Aku gak peduli sama siapapun. Aku harap kamu terus memikirkanku. Aku harap kamu selalu jatuh cinta padaku. Aku harap kamu tidak akan pernah melupakanku. Aku harap …, aku masih diberikan kesempatan untuk hidup …. Tapi, kalau itu pilihan yang kubuat. Kamu akan menderita. Aku gak mau itu. Lebih baik kita berpisah jika kamu hanya menderita. Maka dari itu, aku harap kamu bisa menemukan penggantiku. Aku harap kamu bahagia dengan orang selain diriku. Aku harap kamu bisa menemukan cinta terbaikmu. Selamat tinggal, cinta pertama dan terakhirku. “Kamu harus bahagia.”
Tuhan, terimakasih atas kemurahan hati- Mu.