hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 27: MOHONAN DI TENGAH KEBINGUNGAN
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 27: MOHONAN DI TENGAH KEBINGUNGAN
Sudah dua minggu berlalu, dan kegiatan harianku berjalan seperti biasa. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar dan menyenangkan. Aku makin bahagia melihat adik-adikku, Dimas, Bagas, dan si kecil Fajar, makin hari makin dekat denganku. Mereka juga menunjukkan banyak kemajuan luar biasa, baik dalam hal mengaji maupun pelajaran sekolah. Setiap malam, tanpa lelah aku selalu duduk bersama mereka, mengajari, membimbing, dan meluruskan apa yang masih salah. Aku mengajari mereka dengan sabar, persis seperti dulu aku diajari orang lain, tidak pernah membentak, tidak pernah marah, cukup bicara lembut dan berulang-ulang sampai mereka benar-benar paham.
Tak hanya adik-adikku saja, anak-anak lain yang datang ke musala pun ikut merasakan hal yang sama. Di antara mereka ada anak Bu Yayik, bernama Bastian, yang sekarang duduk di kelas 5 SD. Bastian termasuk anak yang cukup sulit kalau diajar orang lain, tapi semenjak ikut belajar dan mengaji di sini, banyak sekali perubahan baik yang terlihat padanya. Dulu dia sama sekali tidak bisa membaca ayat pendek Al-Qur'an, sekarang dia sudah lancar, meski masih terbata-bata sedikit.
Sore itu, seperti biasa, setelah selesai mengajar anak-anak mengaji dan semua sudah pulang, aku berjalan sendirian menuju pulang. Belum jauh melangkah dari halaman musala, tiba-tiba ada seseorang berdiri tegak di depanku, menghadang jalanku. Aku kaget bukan main, jantungku seolah berhenti berdetak. Di depanku berdiri Bu Yayik, ibunya Bastian.
Aku langsung menunduk, tubuhku gemetar pelan. Selama ini aku tahu benar, Bu Yayik termasuk orang yang dulu ikut-ikutan membenci aku, ikut-ikutan meremehkan, dan ikut-ikutan menyebutku anak miskin atau anak gembel. Bastian pun kadang ikut jahat kalau bersama teman-temannya. Ketakutan langsung memenuhi hatiku, aku berpikir: "Aduh... ada apa lagi ini? Apa aku ada salah ya? Apa Bastian ngadu sesuatu yang enggak-enggak ke ibunya? Apa aku ada salah ngomong atau salah ngajar dia?"
Dengan hati-hati dan suara lirih, aku menyapa sambil menunduk dalam.
"Assalamualaikum, Bu Yayik..."
"Waalaikumsalam, Nak Ria..." jawab Bu Yayik pelan, suaranya berbeda sekali dari biasanya, tidak ketus, tidak tinggi, tapi lembut dan agak gemetar.
"Maaf ya Bu... apa ada salah Ria sama Ibu? Maaf banget kalau Ria ada salah apa-apa sama Ibu atau sama Bastian..." jawabku cepat, ketakutan luar biasa, pikiranku sudah kemana-mana.
Bu Yayik justru tersenyum tipis, lalu mengelus bahuku pelan.
"Maaf ya Nak, bikin kamu kaget dan takut begini. Bukan, bukan begitu maksud Ibu. Sebenarnya Ibu mau minta tolong sama kamu, Nak Ria. Boleh ya Ibu bicara sebentar?"
Aku mengangguk pelan, masih bingung dan hati-hati. "Iya Bu... silakan, ada apa ya Bu?"
Bu Yayik menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan raut wajah sedih dan cemas.
"Begini Nak, Ibu mau minta tolong sama kamu. Bisa gak kamu bantu Ibu mengajari Bastian belajar sekolah? Kamu kan tahu, Bastian itu sekarang kelas 5 SD. Nilai-nilainya itu selalu jelek sekali, rata-rata cuma dapat angka 5 terus, gak pernah naik. Ibu sama Ayahnya cemas dan takut sekali, Nak. Kami khawatir nanti pas dia masuk kelas 6, dia gak bisa lulus sekolah sama sekali, atau nilainya jelek banget. Ayahnya Bastian juga sama takutnya kayak Ibu, kami bingung harus gimana lagi."
Bu Yayik berhenti sejenak, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.
"Bastian itu susah banget kalau diajarin, Nak. Apalagi kalau diajarin sama kakak-kakaknya atau sama Ayahnya sendiri, pasti ujung-ujungnya berantem terus. Bastian gak mau dibilangin, mereka gak sabar, jadi ujungnya marah-marah semua. Tapi... semenjak dia ikut ngaji dan belajar sama kamu di sini, banyak sekali perubahan baiknya. Dulu dia gak bisa baca sama sekali, sekarang udah bisa baca ayat pendek. Kemarin malam, Abangnya nanya sama dia: 'Siapa yang ngajarin kamu baca begini?', tau apa jawab Bastian? Dia bilang: 'Sama Kak Ria. Kak Ria itu baik banget, sabar banget, gak pernah marah kalau aku salah baca atau salah jawab. Beda banget sama Abang, kalau aku salah dikit langsung dimarahin terus.' Ibu denger itu langsung terharu banget Nak, dan Ibu jadi berani minta tolong sama kamu..."
Hatiku jadi makin bingung. Di satu sisi aku kasihan sekali melihat Bu Yayik yang cemas dan sedih, aku tahu berat rasanya jadi orang tua kalau anaknya susah belajar. Tapi di sisi lain, pikiranku langsung teringat sama Bu Sila, guru Les yang membuka tempat belajar khusus di desa ini. Bu Sila itu juga orang baik, dia hidup dari mengajar anak-anak, mencari nafkah halal. Kalau aku mau mengajari Bastian, rasanya aku tidak enak hati sama Bu Sila. Takut dikira aku mau mengambil muridnya, takut dikira aku mau bersaing, padahal aku sama sekali tidak punya niat begitu. Aku percaya, kita sesama manusia harus saling menghargai dan saling mengasihi, tidak boleh saling merugikan.
Dengan hati-hati, aku menjawab Bu Yayik.
"Maaf banget ya Bu... Ria mohon maaf sekali, Ria belum bisa jawab Ibu sekarang. Ria harus pikir-pikir dulu ya Bu, mohon maaf banget ya. Nanti kalau Ria sudah ada keputusan, nanti Ria kabari Ibu, ya Bu..."
Bu Yayik menatapku lekat-lekat, matanya makin berkaca-kaca, air matanya sudah hampir menetes. Dia memegang tanganku erat sekali.
"Nak Ria... Ibu mohon banget sama kamu. Dan... maafin kami ya Nak... Selama ini kami sering ikut-ikutan benci sama kamu, sering ikut-ikutan ngomong yang enggak-enggak soal kamu... Ibu cuma ikut-ikutan saja sama orang lain, padahal Ibu gak tahu apa-apa soal kamu. Maafin ya Nak, maafin kami semua..."
Hatiku makin ruwet dan makin bingung rasanya. Aku menjawab pelan.
"Gak apa-apa kok Bu... Ria sudah lupa dan sudah maafin kok. Tapi begini Bu... Ria kan masih sekolah juga. Ini Ria ada waktu luang cuma karena lagi liburan sekolah saja. Nanti kalau sudah masuk sekolah lagi, Ria pasti sibuk dan gak ada waktu banyak lagi..."
Bu Yayik seolah tidak mau putus asa, dia menatapku memohon.
"Ya sudah kalau begitu... Nanti malam Ibu datang ke rumahmu ya Nak? Ibu mau minta izin sama Bunda kamu, sama Abang-abangmu. Sekalian Ibu mau minta maaf juga sama mereka semua ya Nak, soal sikap kami selama ini..."
Bu Yayik melepaskan tanganku, lalu berjalan pergi dengan langkah pelan, meninggalkanku yang masih terpaku diam di tempat.
"Ya Allah... apa lagi ini ya Allah..." keluhku dalam hati sambil berjalan pelan menuju rumah. "Di satu sisi, aku gak mau punya musuh, aku gak mau ada orang yang sakit hati sama aku, aku kasihan sekali sama Bu Yayik dan Bastian. Tapi di sisi lain, aku ingat sama Bu Sila, aku gak enak hati kalau sampai mengganggu rezeki orang lain. Ya Allah... hamba harus gimana ya? Hamba bingung sekali... kasih hamba jalan keluar yang paling baik dan benar ya Allah..."
Dengan perasaan campur aduk antara kasihan, bingung, dan takut salah langkah, aku melanjutkan langkah pulang, bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti malam.