Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Clara adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Clara dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Clara. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Clara di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Audit Subuh yang Kacau
Nara melangkah pincang dengan sisa tenaga yang minim, tangannya yang memegang celemek kain bergetar menahan malu sekaligus gemas. "Davika! Masuk kamar atau Mbak coret nama kamu dari daftar ahli waris koleksi tas rajut Mbak!"
"Ih, Mbak Nara sensitif banget, pasti karena efek kurang pasokan ronde dari Gus kaku!" Davika berkelit dengan lincah, memutar tubuh padat berisinya di balik meja pulau dapur sambil tertawa cekikikan gila. Kacamata bulat besarnya melorot sampai ke ujung hidung mungilnya. "Davik kan cuma mengevaluasi performa armada! Satu ronde itu tidak efisien dalam jalur distribusi biologis, tahu!"
Gus Zayyad memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk mendinginkan saraf taktisnya yang mendadak korsleting. Mengurusi draf kepabeanan internasional di Shanghai terasa jauh lebih masuk akal ketimbang berdiri di dapur rumah sendiri pada pukul lima pagi, diinterogasi oleh adik ipar berusia remaja mengenai kapasitas staminanya di atas ranjang.
"Davika," suara bariton Zayyad mengalun rendah, sarat akan tekanan dingin penguasa jalur darat yang mencoba memegang kendali situasi. "Satu ronde yang terukur... jauh lebih aman untuk keselamatan perimeter domestik daripada memaksakan performa yang bisa merusak komponen inti."
Davika tertegun sejenak, mata *green-gray* langkanya mengerjap-ngerjap, mencoba menerjemahkan bahasa analogi logistik hulu dari sang kakak ipar. Setelah tiga detik berpikir keras, wajah dewasanya langsung berbinar gila.
"Ooooh! Maksudnya Mbak Nara yang langsung tepar karena enggak kuat menahan muatan kontainer tingkat dewa dari Gus kaku?! Wah, kapasitas tangki Mbak Nara berarti harus di-upgrade!" seru Davika tanpa saringan sedikit pun, membuat volume suara ceriwisnya menggema ke seluruh penjuru lantai satu.
*Puk!*
Sebuah draf gulungan tisu dapur yang dilempar Nara akhirnya sukses mendarat tepat di atas pucuk kepala Davika, menghentikan analisis ilmiah bin ajaib dari sang detektif intelijen amatir tersebut.
...----------------...
"Aduh! Sakit tahu, Mbak!" keluh Davika sembari mengusap kepalanya, meski bibir plum-nya masih menyunggingkan cengiran kocak.
"Makanya diam, Davika! Cepat bantu Mbak siapkan air hangat untuk sarapan Bapak," omel Nara dengan wajah yang masih sewarna kepiting rebus. Ia berjalan pelan menuju kompor, mencoba menyibukkan diri agar tidak perlu menatap mata hitam kelam Gus Zayyad yang kini sedang memperhatikannya dengan sisa-sisa tatapan maskulin semalam.
Zayyad berdeham kaku, melangkah mendekati meja makan monokrom untuk menarik kursi. Di balik kemeja koko kasualnya, bahunya yang tegap terasa jauh lebih rileks. Kedegilan Davika, meski sangat menguji urat malu dan muruah pesantrennya, entah bagaimana berhasil mencairkan kecanggungan pekat yang semula menggantung di antara dirinya dan Nara pasca-peristiwa sakral di kamar tidur.
Bapak Handoko keluar dari kamar koridor timur beberapa menit kemudian, sudah rapi dengan sarung samarinda dan baju takwa, memecah ketegangan darurat di area dapur.
"Wah, pagi-pagi sudah ramai sekali di dapur. Ada apa ini?" tanya Bapak Handoko sembari tersenyum teduh, menatap putri sulungnya yang sedang mengaduk teh dengan gerakan yang agak kaku di bagian pinggang.
Sebelum Nara sempat menjawab, Davika sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti murid teladan di kelas taktik militer. "Pak! Davik baru saja melakukan audit performa malam pertama! Hasilnya "
"Davika Ovwua Mwohan !!!" potong Nara dan Gus Zayyad secara serempak, dengan intonasi yang sama-sama tegas, membuat Bapak Handoko langsung tertawa terkekeh-kekeh menyadari dinamika baru yang luar biasa kocak dari anak dan menantunya.
Di bawah langit pagi Jakarta yang mulai terang benderang, badai besar dari luar memang telah selesai dihancurkan oleh aliansi dua benua. Namun, di dalam rumah utama keluarga Mwohan, draf petualangan baru yang penuh kelucuan, kepolosan tingkat dewa, dan debaran rasa penasaran tingkat tinggi baru saja resmi dimulai.
...****************...
Bapak Handoko melangkah menuju meja makan dengan senyum yang semakin lebar, mengabaikan tatapan panik dari Nara dan wajah kaku Gus Zayyad yang sudah mirip patung porselen pajangan. Pria sepuh itu menarik kursi jati monokrom, lalu duduk dengan tenang.
"Sudah, sudah. Davika, jangan digoda terus Mbakmu. Kasihan, mukanya sudah merah begitu seperti sambal balado," lerem Bapak Handoko sambil terkekeh halus.
Davika mengerucutkan bibirnya, namun tetap bergerak gesit mengambilkan piring berisi soto ayam hangat untuk sang ayah. "Davik kan cuma mau memastikan kalau investasi masa depan keluarga kita aman, Pak. Tapi ya sudahlah, karena ada Bapak, Davik tunda dulu audit fase duanya."
Nara mengembus napas lega yang luar biasa panjang. Ia meletakkan secangkir teh manis hangat di depan Gus Zayyad dengan gerakan tangan yang masih sedikit bergetar. Saat jemari halusnya tidak sengaja bersentuhan dengan punggung tangan besar Zayyad, Nara refleks menarik tangannya kembali, memicu dehaman kaku dari sang suami.
Zayyad meraih cangkir teh tersebut, menyesapnya perlahan untuk menutupi rasa canggung yang masih tersisa di tenggorokannya. Mata hitam kelamnya melirik Nara yang kini duduk di sampingnya, tampak begitu khusyuk mengunyah sarapannya dengan kepala tertunduk. Rasa lelah istrinya akibat "satu ronde yang terukur" semalam membuat Zayyad diam-diam bertekad untuk memberikan proteksi ekstra—terutama dari gangguan verbal adiknya sendiri.
"Pak Handoko," suara bariton Zayyad mengalun, mengalihkan fokus pembicaraan ke ranah yang lebih aman. "Hari ini tim logistik hulu Al-Anwar akan mengirimkan beberapa personel untuk berjaga di perimeter luar. Meskipun Kamil sudah di Jombang, saya ingin memastikan tidak ada sisa-sisa draf manipulasi miliknya yang tertinggal di Jakarta."
Bapak Handoko mengangguk takzim, menatap menantunya dengan rasa percaya yang penuh. "Terima kasih, Gus Zayyad. Bapak serahkan urusan keamanan darat seutuhnya kepadamu. Bapak sudah tenang sekarang."
*Ting tong!*
Suara bel rumah utama yang terintegrasi dengan sistem keamanan pintar bernada *Modern Luxury* berbunyi memotong obrolan hangat di meja makan. Layar monitor kecil di dekat area pantry langsung menyala, menampilkan visual gerbang depan.
Davika yang dasarnya memiliki insting detektif intelijen amatir langsung melompat dari kursinya. "Biar Davik yang cek! Siapa tahu itu paket kiriman komponen mesin motor dua silinder yang Davik pesan minggu lalu!"
"Davika, biar tim keamanan saja yang—" Belum sempat Zayyad menyelesaikan kalimat taktisnya, tubuh mungil dengan *oversized hoodie* hitam itu sudah melesat keluar melintasi selasar marmer.
Zayyad refleks bangkit dari duduknya, postur tegapnya langsung siaga. Ia melangkah cepat menyusul sang adik ipar, diikuti Nara yang berjalan pelan di belakangnya karena pinggangnya masih terasa agak kaku.
Di depan pagar tinggi, Davika sudah berdiri di samping pos penjagaan, menerima sebuah kotak kardus berukuran sedang dari seorang kurir ojek daring. Kotak itu terbungkus rapi dengan lakban hitam pekat tanpa nama pengirim, hanya ada secarik kertas bertuliskan: **"Untuk Pengantin Baru Ter-Kaku Semesta."**
"Wah, ini bukan draf komponen mesin, Gus!" seru Davika ceriwis begitu Zayyad sampai di sampingnya dengan wajah waspada. "Lihat nih, ada tulisan buat kalian berdua. Jangan-jangan ini bom dari sisa-sisa komplotan Kamil?!"
Zayyad langsung mengambil alih kotak tersebut dengan gerakan taktis yang super hati-hati. Ia memeriksa setiap sudut kardus, memastikan tidak ada kabel atau getaran frekuensi aneh di dalamnya. Namun, begitu matanya menangkap sebuah simbol kecil berbentuk sayap elang terenkripsi di sudut bawah kertas, rahang tegasnya langsung mengendur.
"Ini bukan dari Kamil," ucap Zayyad datar, suara baritonnya kembali rileks. "Ini protokol kiriman dari langit."
"Hah? Dari langit? Mas Gara?!" cecar Davika dengan mata *green-gray* langka yang langsung melotot penasaran tingkat tinggi.
Zayyad membawa kotak itu kembali ke dalam ruang tengah, meletakkannya di atas meja kaca monokrom. Dengan menggunakan pisau saku kecil yang selalu ia bawa, Zayyad memotong lakban hitam tersebut dan membuka penutup kardus di hadapan Nara dan Davika yang sudah berkerumun seperti anak kucing kelaparan.
Begitu kotak terbuka, dahi Zayyad langsung berkerut kaku, sementara Nara menutup mulutnya menahan pekikan syok baru.
Di dalam kotak tersebut, terdapat tiga botol besar madu hitam premium khas pedalaman Beijing, satu boks ramuan herbal tradisional Tiongkok untuk stamina pria dominan, dan sebuah surat resmi dengan kop penerbangan kargo internasional bertuliskan pesan singkat dari Kapten Sagara:
..."Untuk Gus Zayyad. Saya dengar dari Hendra, perimeter malam pertama Anda berjalan terlalu tenang. Sebagai pemimpin logistik darat, pasokan energi Anda tidak boleh *under-performance*. Habiskan ini sebelum saya mendarat lagi di Jakarta. Jaga adik saya."...
Davika yang membaca surat itu dari balik bahu Zayyad langsung meledak dalam tawa cekikikan gila yang luar biasa kocak, hingga tubuh padat berisinya terguncang hebat.
"HAHAHA! Mas Gara emang kapten intelijen terbaik! Sampai tahu kalau Gus kaku cuma kuat satu ronde semalam! Nih, Gus, buruan diminum ramuannya, biar nanti malam draf ngerakit bayinya bisa langsung gas pol lima ronde tanpa rem darurat!" teriak Davika lantang, memecah keheningan pagi dengan kedegilan tingkat antariksa yang tampaknya tidak akan pernah habis di bawah atap keluarga Mwohan.
selalu bilangnya kitab😄😄😄