Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
26. TGD.26
Pagi itu, langit di atas desa tampak sangat bersih, seolah memberikan ketenangan sebelum badai kebahagiaan melanda. Shelly, meski perutnya sudah sangat besar dan usia kehamilannya menginjak minggu ke-36, tetap keras kepala ingin meninjau gudang penyimpanan beras. Baginya, melihat butiran padi yang tersusun rapi adalah terapi ketenangan.
Arkan sudah berkali-kali melarang. "Shel, tolonglah, hari ini di rumah saja. Aku punya firasat nggak enak," pinta Arkan sambil merapikan maket di kantornya.
"Hanya sebentar, Mas. Cuma mau cek suhu *dryer*. Kalau berasnya terlalu panas, nanti pecah saat dipoles," jawab Shelly sembari memakai sepatu bot khusus ibu hamil yang didesain Arkan agar lebih empuk.
Namun, alam punya rencana lain.
---
Baru saja Shelly melangkah masuk ke area penggilingan, sebuah gelombang rasa sakit yang luar biasa menghantam pinggang bawahnya. Ia terhenti, tangannya berpegangan erat pada tiang penyangga gudang.
"Aakhh..." Shelly mengerang pelan.
"Mbak Shelly? Kenapa, Mbak?" Danu, asistennya, berlari mendekat dengan wajah pucat.
"Danu... panggil Mas Arkan. Sekarang. Dan siapkan mobil operasional!" perintah Shelly dengan napas yang mulai tersengal. Tiba-tiba, ia merasakan rembesan hangat membasahi kakinya. Air ketuban pecah.
Kepanikan seketika pecah di koperasi. Danu berlari seperti dikejar hantu menuju rumah Arkan. "Mas Arkan! Mbak Shelly! Darurat, Mas! Air ketubannya sudah banjir di gudang!"
Arkan yang sedang memegang penggaris langsung menjatuhkannya. Ia berlari secepat kilat menuju gudang tanpa alas kaki. Di kepalanya hanya ada satu nama: Shelly.
---
"Tarik napas, Shel... Buang pelan-pelan. Kayak yang kita pelajari di kelas senam hamil," ucap Arkan dengan suara gemetar saat mereka berada di dalam mobil menuju rumah sakit di kota kabupaten.
"Mas... sakit banget... Rasanya... rasanya perutku mau meledak," rintih Shelly. Ia meremas tangan Arkan begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
"Sabar, Sayang. Sebentar lagi sampai. Pak Supri, tolong injak gasnya lebih dalam lagi!" teriak Arkan pada sopir koperasi.
Sesampainya di rumah sakit, Shelly langsung dilarikan ke ruang tindakan. Dokter spesialis kandungan yang sudah memantau Shelly sejak awal langsung melakukan pemeriksaan USG darurat. Wajah dokter tersebut tampak sangat serius, namun kemudian berubah menjadi sebuah senyuman penuh keajaiban.
"Pak Arkan, sepertinya prediksi kita tentang bayi kembar dua sedikit meleset," ujar Dokter tersebut sambil menunjukkan layar monitor. "Lihat ini... satu, dua... dan ada satu lagi yang bersembunyi di balik saudaranya. **Tiga, Pak. Anda akan punya tiga bayi sekaligus.**"
Arkan hampir jatuh pingsan di samping ranjang Shelly. "Tiga, Dok? Seperti irigasi primer, sekunder, dan tersier?" gumamnya saking syoknya.
Shelly, di tengah rasa sakitnya, sempat-sempatnya tertawa lemah. "Mas... kamu malah mikirin irigasi..."
---
Proses persalinan berjalan dengan operasi caesar karena posisi bayi yang berhimpitan. Arkan menunggu di luar dengan kegelisahan yang tak terkira. Ia mondar-mandir di koridor rumah sakit, terus meraba tasbih pemberian Bapak Shelly.
Satu jam berlalu. Pintu ruang operasi terbuka.
"Selamat, Pak Arkan. Ketiganya laki-laki. Sehat, lengkap, dan suara tangisannya... wah, luar biasa kencang," ucap perawat.
Arkan masuk ke ruang pemulihan. Ia melihat Shelly terbaring lemah namun wajahnya memancarkan cahaya kebahagiaan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di sampingnya, terdapat tiga boks bayi mungil yang berjejer rapi.
Arkan mendekat, mencium kening Shelly lama sekali. "Terima kasih, Shel. Kamu hebat. Kamu pahlawan paling luar biasa yang pernah aku temui."
"Mas... lihat mereka," bisik Shelly lemah.
Arkan menatap tiga wajah mungil itu. "Aku sudah menyiapkan namanya, Shel. Sesuai dengan apa yang kita cintai."
**Arunika Bumi Anindya** (Si sulung yang lahir saat matahari terbit).
**Aksara Sawah Arkananta** (Si tengah yang akan menuliskan sejarah baru bagi desa).
**Abisatya Padi Dirgantara** (Si bungsu yang akan menjaga kesetiaan pada tanah kelahiran).
---
Kabar kelahiran bayi kembar tiga Shelly dan Arkan menyebar lebih cepat daripada berita gagal panen. Desa mendadak seperti sedang merayakan hari raya.
Pak Kardi langsung menyewa sebuah pikap penuh berisi kelapa muda dan pisang raja untuk dikirim ke rumah sakit. "Tiga! Bayangkan, tiga Bos Kecil sekaligus! Desa kita nggak akan kekurangan pemimpin!" teriak Pak Kardi bangga di balai desa.
Bapak dan Ibu Shelly datang dengan air mata bercucuran. Bapak langsung menggendong cucu pertamanya dengan tangan yang gemetar. "Nduk... dulu Bapak cuma punya kamu satu. Sekarang, Allah kasih langsung tiga pengganti buat jaga sawah ini."
---
Dua minggu setelah pulang ke rumah, "Omah Tandur" yang tadinya tenang dan puitis berubah menjadi medan tempur popok dan tangisan. Arkan, sang arsitek yang terbiasa dengan ketenangan saat menggambar, kini harus terbiasa bekerja dengan "musik latar" tangisan bayi yang bersahut-sahutan.
"Mas! Aksara pipis! Bumi haus! Padi gumoh!" teriak Shelly dari dalam kamar.
Arkan yang sedang menggambar denah balai desa langsung melompat. "Siap, Komandan! Tim evakuasi datang!"
Momen paling lucu adalah saat waktu mandi tiba. Shelly dan Arkan seperti sedang bekerja di lini perakitan pabrik.
"Oke, Mas. Mas Arkan bagian sabun, aku bagian bilas, Ibu bagian handuk!" instruksi Shelly.
"Ini lebih rumit dari bangun jembatan, Shel," keluh Arkan sambil berusaha memegang Padi yang sangat lincah di bak mandi. "Anak ini tenaganya kayak mesin traktor baru."
---
Suatu malam, saat ketiga bayi itu akhirnya tertidur lelap setelah "konser" selama tiga jam, Shelly dan Arkan duduk di teras, menatap sawah yang diterangi cahaya bulan.
"Mas," panggil Shelly, kepalanya bersandar di bahu Arkan.
"Ya, Ibu dari para Tunas?"
"Mas nyesel nggak? Hidup kita sekarang jauh dari kata estetik. Rumah berantakan, bau minyak telon di mana-mana, dan Mas jadi sering tidur kurang dari empat jam."
Arkan merangkul Shelly, mencium puncak kepalanya. "Shel, kamu tahu apa yang paling indah dari sebuah bangunan? Bukan catnya yang mahal, tapi 'ruh' di dalamnya. Rumah ini sekarang punya ruh yang luar biasa besar. Tiga nyawa itu adalah proyek terbaik yang pernah aku kerjakan seumur hidupku."
"Aku takut nggak bisa bagi waktu antara koperasi dan mereka, Mas," ucap Shelly jujur.
"Kamu lupa ya? Kita punya satu desa yang siap jadi pengasuh mereka," Arkan menunjuk ke arah rumah Pak Kardi yang lampunya masih menyala. "Tadi sore Pak Kardi bilang, dia sudah bikin tiga ayunan bambu kecil buat ditaruh di gubuk tengah sawah. Dia mau ajak cucu-cucunya 'ngantor' bareng kamu nanti kalau sudah agak besar."
Shelly tertawa kecil. "Benar juga. Mereka akan tumbuh di antara bulir padi dan garis arsitekturmu."
---
Shelly menatap ke arah sawah. Ia membayangkan beberapa tahun ke depan, akan ada tiga anak laki-laki yang berlarian di galengan sawah, mengejar capung, dan belajar mencintai tanah ini sebagaimana ia dan Arkan mencintainya.
"Kita akan ajarkan mereka, Mas," bisik Shelly. "Bumi untuk kakinya berpijak, Aksara untuk ilmunya, dan Padi untuk hatinya yang rendah hati."
Arkan mengangguk setuju. "Dan aku akan pastikan mereka punya sayap yang kuat untuk terbang setinggi mungkin, tapi selalu tahu jalan pulang ke desa ini."
Malam itu, di bawah perlindungan kayu jati "Omah Tandur" dan kesetiaan tanah desa, keluarga kecil itu memulai babak baru yang penuh tantangan namun penuh berkah. Tiga bayi kembar itu bukan hanya anak bagi Shelly dan Arkan, tapi simbol bahwa harapan yang ditanam dengan cinta akan selalu membuahkan hasil yang berlipat ganda.