NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

15. TGD.15

Kembali ke kota setelah keberhasilan proyek di desa, Shelly tidak lagi dipandang sebagai sekadar mahasiswi penerima beasiswa yang pendiam. Namanya mulai menggema di koridor fakultas. Namun, alih-alih merasa jemawa, Shelly justru merasa beban di pundaknya semakin nyata. Ia bukan lagi pejuang tunggal; ia adalah wajah dari harapan sebuah desa.

---

Semester tujuh menjadi masa yang paling krusial. Shelly mengambil mata kuliah pilihan yang sangat teknis: *Sistem Pertanian Presisi* dan *Analisis Kebijakan Agraria*. Di dalam kelas, ketika dosen membahas tentang efisiensi irigasi, Shelly bukan lagi hanya membayangkan rumus di papan tulis. Ia membayangkan wajah Pak Kardi dan sensor yang ia tanam di sudut timur sawah Bapaknya.

Suatu hari, dalam sebuah seminar besar yang dihadiri oleh praktisi pertanian nasional, Shelly diminta untuk mempresentasikan hasil proyek "Sawah Digital"-nya.

"Shel, kamu gugup?" tanya Cindy, teman sekamarnya, sambil membantu merapikan kerah kemeja Shelly di belakang panggung.

"Sedikit, Cin. Tapi aku ingat bau tanah sawah Bapak. Itu selalu membuatku tenang," jawab Shelly sambil menggenggam *flashdisk* berisi data keberhasilan panen desanya.

Saat Shelly naik ke podium, ruangan yang tadinya bising menjadi sunyi. Shelly tidak memulai presentasinya dengan grafik yang rumit. Ia memulai dengan foto tangan Bapaknya yang kasar, penuh lumpur, sedang memegang sebuah ponsel murah yang menampilkan data sensor.

"Teknologi bukan untuk menjauhkan petani dari tanahnya," ujar Shelly dengan suara lantang namun lembut. "Teknologi adalah alat agar mereka bisa mencintai tanahnya tanpa harus diperbudak oleh ketidakpastian."

Presentasi itu menjadi titik balik. Shelly tidak hanya mendapatkan nilai A, tetapi ia juga dilirik oleh sebuah lembaga riset internasional yang menawarkan pendanaan untuk mengembangkan sistem tersebut ke sepuluh desa lainnya.

Seiring dengan popularitasnya, tawaran mulai berdatangan. Sebuah perusahaan agrokimi raksasa menawari Shelly posisi sebagai *Junior Consultant* dengan gaji yang fantastis—angka yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Bapak seumur hidupnya.

Shelly duduk di taman kampus, menatap surat tawaran tersebut. Ia teringat kamarnya di asrama yang sempit, dan keinginannya untuk membelikan Bapak traktor sendiri agar Bapak tidak perlu menyewa lagi.

"Ambil saja, Shel. Itu kesempatan sekali seumur hidup," saran Dito saat mereka makan siang di kantin. "Dengan gaji itu, kamu bisa bangun rumah permanen untuk orang tuamu dalam setahun."

Shelly terdiam. Ia menelepon ke desa malam itu.

"Nduk, ada kabar apa dari kota?" suara Ibu terdengar renyah di seberang sana.

"Bu... Shelly dapat tawaran kerja di perusahaan besar. Gajinya besar sekali. Shelly bisa bangunkan rumah buat Ibu dan Bapak."

Hening sejenak. Lalu terdengar suara Bapak yang mengambil alih telepon. "Nduk, kalau rumah itu dibangun dari uang yang buat kamu nggak bisa pulang ke sawah lagi, Bapak lebih pilih tinggal di rumah kayu ini selamanya. Apa tujuanmu sekolah tinggi-tinggi, Nduk? Apa cuma buat cari angka nol di rekening, atau buat jagain tanah kita?"

Pertanyaan Bapak seperti petir yang membersihkan mendung di kepala Shelly. Ia teringat janjinya pada Tanaka-sensei dan pada anak-anak di balai desa. Jika ia bekerja di perusahaan itu, ia akan sibuk menjual produk kimia, bukan mengembangkan kemandirian organik yang ia impikan.

Esok harinya, Shelly menolak tawaran itu dengan hormat. Ia memilih untuk fokus pada skripsinya dan menjalankan proyek pengabdian masyarakat yang didanai kampus.

Malam-malam Shelly di perpustakaan menjadi lebih panjang. Ia seringkali menjadi orang terakhir yang meninggalkan laboratorium. Ia sedang menyempurnakan algoritma deteksi hama otomatis yang lebih murah dan bisa digunakan di ponsel jadul sekalipun.

"Kamu terlalu keras pada dirimu sendiri, Shel," tegur Prof. Gunawan suatu malam saat melihat Shelly tertidur di atas tumpukan jurnal.

"Saya cuma punya waktu sedikit, Prof. Musim tanam berikutnya di desa akan segera tiba. Saya ingin sistem ini sudah sempurna sebelum saya lulus."

Kegigihan Shelly membuahkan hasil. Skripsinya tidak hanya dianggap sebagai karya akademis, tetapi sebagai panduan praktis bagi petani kecil. Ia berhasil menciptakan purwarupa *Smart-Irrigation* berbasis kearifan lokal yang harganya hanya sepersepuluh dari teknologi Jepang, namun memiliki fungsi yang hampir sama.

---

Hari yang dinanti itu tiba. Universitas dipenuhi oleh wisudawan dengan toga hitam mereka. Di antara kerumunan mobil mewah dan keluarga yang tampil parlente, sebuah mobil bak terbuka yang disewa dari desa berhenti di depan gedung pertemuan.

Turunlah Bapak dengan kemeja batik pemberian Shelly—yang kini warnanya sudah sedikit pudar namun disetrika dengan sangat rapi. Ibu mengenakan kebaya sederhana dengan kain jarik kesayangannya. Si Bungsu dan Abangnya tampak canggung namun matanya berbinar melihat megahnya kampus Shelly.

Saat nama **"Shelly Anindya, S.P."** dipanggil sebagai lulusan terbaik tingkat universitas dengan predikat *Summa Cum Laude*, seluruh ruangan bertepuk tangan.

Shelly berjalan menuju podium untuk memberikan pidato kelulusan. Ia melihat Bapak dan Ibu di barisan kursi belakang. Bapak berdiri, tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, ia mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil menyeka air mata dengan sapu tangan lusuhnya.

"Keberhasilan ini," ucap Shelly di depan mikrofon, suaranya bergetar hebat. "Bukan milik saya. Keberhasilan ini milik seorang pria yang rela punggungnya terbakar matahari agar anaknya bisa duduk di ruangan ber-AC ini. Milik seorang wanita yang doanya lebih kuat dari logika mana pun. Dan milik tanah desa yang mengajarkan saya bahwa dari lumpur yang gelap, bisa tumbuh padi yang paling putih."

Setelah prosesi selesai, Shelly menghambur ke pelukan keluarganya.

"Bapak... Shelly lulus," bisiknya di dada Bapak.

Bapak memegang toga Shelly, meraba kain hitam itu dengan tangan yang kasar. "Gelar ini berat, Nduk. Bukan karena kainnya, tapi karena tanggung jawabnya. Sekarang, apa rencanamu?"

Shelly melepaskan pelukannya, menatap Bapak dengan senyum paling lebar yang pernah ia miliki. "Shelly nggak akan kerja di perusahaan besar di Jakarta, Pak. Shelly mau pulang. Shelly mau bikin koperasi di desa kita. Kita bakal punya pabrik beras sendiri, Pak. Beras dari sawah kita sendiri, dengan merek desa kita sendiri."

Ibu tersenyum sambil mengelus pundak Shelly. "Ibu sudah siapkan tempe goreng kesukaanmu di rumah. Ayo pulang, Nduk. Sawahnya sudah kangen kamu."

Sore itu, Shelly meninggalkan kota. Kali ini ia tidak membawa beban rindu yang menyakitkan, melainkan membawa ijazah yang ia anggap sebagai "sertifikat perjuangan" untuk membangun negerinya dari garis terdepan: pematang sawah.

Petualangan Shelly yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia bukan lagi mahasiswi yang belajar tentang padi, ia telah menjadi "Dewi Sri" modern bagi desanya, membawa teknologi di tangan kanan dan cinta pada tanah di tangan kiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!