Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Si Tikus dan Si Monster
Sesilia Kira, gadis itu selalu percaya bahwa dunia yang paling aman adalah dunia dalam buku. Dunia yang terjilid, penuh aroma khas dari kertas dan tinta. Disana, ia bisa menjadi apapun dan siapapun. Tidak peduli tentang asal usulnya, dari keluarga kaya atau miskin, pun dari keluarga harmonis atau tidak.
Sang putri akan tetap bertemu pangerannya, tanpa pandang bulu.
Bagi gadis berkacamata itu kenyataan seringkali terlalu silau, terlalu berisik, juga terlalu menghakimi.
Namun sore itu, aroma kertas kesukaannya dikalahkan oleh aroma kemewahan yang asing bagi dirinya yang kecil dan kumuh.
"Tenang, Si. Tenang. Kamu meremas tasmu terlalu kuat. Nanti tangan kamu lecet loh, Si."
Bisik Uni, sahabat baiknya. Sore itu mereka memang berkunjung ke rumah Uni. Tanpa disangka, ternyata sahabat satu-satunya itu adalah orang yang sangat berada. Terlihat dari betapa mewahnya kediaman keluarganya, keluarga Steel.
Sesilia menelan ludah, matanya membesar sambil menatap langit-langit foyer yang begitu tinggi. Saking tingginya, suara miliknya sendiri terasa ciut. Tempat yang sama sekali tidak terlihat seperti tempat tinggal atau rumah pada umumnya, melainkan seperti sebuah istana mewah.
Lantai marmernya begitu bersih dan mengkilap, hingga gadis kecil itu dapat dengan jelas melihat pantulan dirinya sendiri yang tampak sangat berantakan. Kacamatanya sedikit miring, rambut dikucir kuda asal-asalan dan memakai kardigan rajut yang terlalu sederhana, sangat kontras dengan rumah yang ia masuki.
"Aku... aku tunggu di sini saja, Ni," cicitnya, kemudian segera menuju sofa beludru di sudut ruang tamu, tempat yang gadis itu pikir paling terpencil sehingga orang lain tidak akan menyadari keberadaannya.
Uni terkekeh gemas atas tingkah sahabatnya, "Hanya lima menit. Aku cuma mau ngambil jaket di kamarku yang ketinggalan. Dan jangan terlalu sungkan, Si. Anggap saja rumah sendiri, hehe"
Baru beberapa langkah, Uni kembali lagi pada sahabatnya.
"Si... sepupu galak aku lagi di rumah ini. Jadi, kalau kamu lihat ada cowok tinggi dengan muka galak, Jangan tatap matanya! Dia menggigit." Setelah mengatakan hal ambigu, gadis itu berbalik dan pergi.
Sesi sebenarnya sedikit takut dengan kata-kata Uni, tapi memilih diam. Segera ia mengeluarkan senjata andalannya, sebuah novel fantasi berjudul The Obsidian Kingdom.
Dalam hitungan detik, ia tenggelam dalam kisah naga dan ksatria, berharap dengan membaca, ia bisa memutar waktu secepatnya.
Tiba-tiba, udara di sekitarnya berubah.
Gadis yang fokus pada bukunya itu tidak mendengar ada langkah kaki apapun, namun ia bisa merasakan tekanan udara disekitarnya mendadak memberat. Lalu sebuah bayangan panjang menyapu halaman bukunya. Mematikan cahaya lampu gantung yang tadinya menerangi barisan kalimat itu.
Jantung Sesilia mencelos. Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat wajahnya.
Di sana, berdiri seorang pria yang tampak seperti dipahat dari bongkahan es Antartika.
Axel Steel
Pria itu mengenakan kameja hitam yang pas di tubuh tegapnya. Lengan kamejanya digulung hingga siku, menampakkan urat-urat yang terjalin indah dan kuat. Wajahnya penuh ketampanan tiada tara, Tuhan seperti membuat pria ini dengan wajah tersenyum cerah. Rahang tegas, hidung mancung dan sepasang mata kelabu yang sedang menatap gadis di depannya.
Tatapan mata Axel Steel pada Sesilia sangat tajam dan menghakimi. Lelaki itu hanya berdiri kaku. Tidak mengeluarkan suara apapun, apalagi menyapa sang gadis. Aura intimidasi menguar pekat dari tubuhnya, membuat Sesilia yang ditatapnya menciut bagaikan tikus kecil yang terperangkap.
"Orang gila mana yang memberikan izin padamu untuk duduk di sana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Axel. Suaranya rendah, serak dan mengandung getaran yang bisa membuat bulu kuduk orang yang mendengar berdiri. Jenis suara yang digunakan untuk memecat direktur perusahaan, bukan untuk menyapa gadis kecil yang berperan sebagai tamu.
"A-aku... temannya Uni. Namanku Sesilia Kira,"
jawabnya dengan suara sangat kecil, persis seperti cicitan tikus dihadapan seorang predator lapar yang siap melahapnya kapan saja.
Axel melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Mempersempit jarak dengan gadis aneh di depannya. Kini, jarak diantara mereka tersisa satu meter. Sesilia bisa mencium aroma sandalwood dan whiskey mahal yang menguar dari pria itu.
Axel menunduk, matanya melirik buku di tangan Sesilia. The Obsidian Kingdom.
"Fantasi?" ia mendengus, sebuah suara yang penuh penghinaan. "Kau membuang-buang waktumu membaca tentang naga dan sihir konyol, sementara dunia nyata bisa mengunyah dan membuangmu dalam sekali lahap. Kau, gadis kecil... benar-benar tipikal teman Uni. Kalian berdua sama-sama bodoh."
Sesilia merasakan wajahnya memanas. Kata-kata yang keluar dari mulut lelaki ini terlalu kasar dan selalu berisi penghinaan pada orang lain.
"Aku tidak bodoh," bisiknya, sementara tangannya mencengkram buku itu hingga buku-buku jarinya memutih.
"Oh?" Axel menyipitkan mata. Lelaki itu membungkuk, wajahnya kini sejajar dengan Sesilia. Sedangkan gadis itu diam bak patung. ia bisa melihat jelas detail di mata kelabu itu. Dingin, kosong dan sangat tajam.
"Lalu... kenapa kau gemetar, gadis kecil? Jika kau tidak bodoh, kau pasti sadar bahwa kau tidak pantas berada di sini. Kau merusak pemandangan ruang tamu yang indah ini."
Sesilia ingin berdiri, ia ingin lari, tapi kakinya terasa seperti terpaku ke lantai yang dingin ini. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena sedih, tapi karena rasa takut dan malu luar biasa pada pria jahat di depannya.
"Axel!! Berhenti! Jangan ganggu sahabatku!!
Suara Uni yang tiba-tiba datang memecah ketegangan. Ia berlari turun, langsung berdiri diantara Sesilia dan sepupunya yang mengerikan.
"Kenapa kau selalu bersikap seperti monster pada semua orang sih, Axel?! Uni membentak pria itu, tangannya berkacak pinggang.
Axel menegakkan tubuhnya kembali, memasukkan tangannya ke saku celana dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang tidak merundung seorang gadis tidak bersalah yang hampir menangis.
"Aku hanya menguji temanmu, sepupu kecil. Dan temanmu ini.... tidak lolos." Ucapnya datar.
Laki-laki itu melirik Sesilia untuk terakhir kalinya. Jenis tatapan yang penuh rasa muak, sebelum berbalik dan berjalan pergi tanpa kata pamit.
Langkah kakinya stabil, berat dan penuh kuasa.
"Maafkan dia, Si. Axel memang gila! Dia baru pulang dari Harvard dan sepertinya otaknya tertinggal di sana" Uni mencoba menghibur, merangkul bahu sahabatnya yang masih gemetar.
Sesilia tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung Axel yang menjauh. Gadis itu sangat membenci laki-laki bernama Axel Steel itu. Membenci bagaimana pria itu bisa membuatnya merasa begitu kecil, tidak berdaya dan tidak berharga dalam waktu hanya dua menit.
Namun, di lantai atas, di balik pilar balkon yang gelap, Axel Steel berhenti. Ia menatap lana tangannya sendiri yang sedikit berkeringat. Ada sensasi aneh yang berdenyut di dadanya, sebuah provokasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Laki-laki itu membenci kepolosan gadis itu, juga membenci caranya dalam menatap dengan mata bulat yang penuh ketakutan.
Tapi, ia juga menyadari satu hal yang membuatnya muak pada diri sendiri. Bahwa ia sangat ingin melihat tatapan ketakutan itu sekali lagi. Ingin melihat bagaimana mata itu berubah kemerahan, siap menangis saat dihina lebih jauh.
Bagi Axel Steel, cinta adalah dongeng bodoh dan tidak masuk akal, seperti buku konyol yang dibaca oleh gadis kecil tadi.
Sore itu, sang monster telah menemukan mainan baru yang sangat menarik.
bau bau bucin😍😄